Sang Ajudan

Sang Ajudan
Sakit Yang Tak Tahu


__ADS_3

Telat Up bukan berarti lelet ya...


Author juga punya kesibukan pribadi...!!!


.


.


.


.


.


.


"Bu, ada Tamu. " Ucap Yuna.


"Siapa? " Tanya Adela.


"Katanya keluarga nya Ibu. " Jawab Yuna.


Dengan membawa perut yang kini sudah semakin terlihat di usia kandungan 5 bulan, Adela berjalan menuju ruang tamu.


Mata Adela terbelalak kaget saat melihat sang Ayah dengan kursi roda nya tanpa bergerak.


"Astagfirullah, Ayah. Kenapa nggak bilang kalau Ayah sakit? " Tanya Adela panik.


"Maaf mba Adela, kami bertiga mengantar Bapak karena Bapak sakit keras. Dan Bapak tidak mau merepotkan Mba Adela, dan maaf ponsel Bapak hilang saat itu ada Mila datang minta uang mungkin ponsel nya di ambil, jadi kamu bawa kemari. " Jawab Pak Usman, pria yang mengantarkan Pak Syarif.


"Terima kasih Pak, sudah antar Ayah saya kemari. Memang kami hanya chat an saja kemarin, itu pun minggu lalu dan bilang sedang sakit. Ternyata sekarang tidak bisa apa - apa. " Ucap Adela.


"Bapak seperti nya stroke, dan sebenarnya kemarin Mila dan Ibu Sukma kembali lagi ke rumah. Dan sempat mengurus Pak Syarif. "


"Loh bukan nya sidah bercerai, kenapa mereka kembali? Dan Ayah tidak pernah cerita apa - apa. "


"Maaf mba, kami juga tidak tahu. Hanya tahu Pak Syarif terbaring tidak berdaya dan disana tidak ada siapa - siapa saya memutuskan untuk bawa kemari. "


"Sekali lagi saya terima kasih, dan pasti Bapak - bapak capek istirahat dulu nanti akan disiapkan makanan. "


"Aduh Mba Adela, makasih jadi merepotkan."


"Nggak merepotkan. "


****


Raiz mengantar Pak Usman dan kedua teman nya sampai di halaman rumah Dinas, beberapa buah tangan pun di bawakan untuk mereka dan uang jajan.


"Pak Bupati terima kasih banyak. "


"Kami yang harus terima kasih, dan maaf hanya bisa memberikan yang tak seberapa."


"Ini juga sangat berlebihan."


"Sudah nggak apa - apa, hati - hati di jalan."


Setelah kepulangan Pak Usman dan kedua teman nya, Raiz menghampiri Adela yang sedang duduk berhadapan dengan Ayah nya.

__ADS_1


"Yank, sebaiknya Ayah kita bawa ke rumah sakit. Biar di rawat saja sementara disana, bila membaik nanti berobat jalan. " Ucap Raiz.


"Iya Mas, dan lihat tangan Ayah banyak lebam. "


Raiz memeriksa kedua tangan Pak Syarif yang banyak penuh luka lebam, dan langsung mengangkat kaos yang di kenakan Pak Syarif.


"Yank, Ayah kamu rupanya kena kekerasan fisik. "


Adela melihat di punggung banyak luka lebam, dan ada yang baru, ada pula yang sudah mengering.


"Ibu tega sama Ayah. " Ucap Adela emosi.


"Jangan dulu menuduh, kita nggak ada bukti. Dan Ayah juga sulit untuk di ajak bicara. "


"Tapi ini nggak bisa di biarkan Mas. "


"Iya, Mas tahu. Tapi jangan asal menuduh. Tahu sendiri Ibu tiri kamu dan adik tiri kamu itu bagaimana. "


"Ya sudah, sekarang kita cepat bawa ke rumah sakit. " Ucap Adela.


*******


Adela mengusap perutnya sambil melihat Dokter tengah menangani Ayahnya, Raiz yang mengurus segala administrasi rumah sakit.


"Yank, sudah beres tinggal masuk kamar. "


"Mas, ponsel Mila tadi saya coba hubungi di reject. "


"Buat apa kamu hubungi dia? "


"Mau minta penjelasan masalah Ayah. "


*****


"Gimana keadaan mertua kamu? Tanya Pak Kusumo.


" Sudah terlihat ada sedikit perubahan, saat Dokter memberikan obat pada Ayah. " Jawab Raiz.


"Stroke ya? "


"Iya, dari dulu juga memang sudah ada penyakit. "


"Raiz, ini barang kali kamu makan. Tadi Adela sudah Ibu kirimkan makanan juga. " Ucap Ibu Nuri sambil membuka rantang nya.


"Terima kasih bu. " Ucap Raiz.


"Pak Syarif, makan bubur nggak? Ibu buatkan juga. "


"Makan bu, tapi yang dari rumah sakit saja belum di makan."


"Oh, di makan Pak bubur nya. " Ucap Ibu Nuri.


Pak Syarif hanya menggelengkan kepalanya dengan mulut yang miring dan telapak tangan yang selalu menggenggam.


" Ayah, kalau ingin sesuatu Raiz malam ini tidur di rumah sakit. Adela pulang karena kasihan sedang hamil. "


Pak Syarif mengangguk kan kepalanya dan berusaha untuk tersenyum namun tak bisa.

__ADS_1


"Kamu nanti harus sewa perawat, untuk mengurisi mertua kamu. " Ucap Pak Kusumo.


"Iya Ayah, untuk. tinggal di sana juga nggak mungkin. "


******


"Kamu handle dulu Sony, saya menemani mertua dulu di rumah sakit.


" Siap, oh iya. nanti ada pertemuan Praja, kapan siapnya? "


"Besok juga bisa, siapkan saja pertemuan nya. Karena saya kosong untuk besok. "


"Baik Pak, saya akan kirim segera informasinya. " Ucap Sony.


"Andi nanti siapkan saja semuanya." Ucap Sony.


"Siap Pak. " Ucap Andi.


Setelah kepergian Andi dan Sony, Raiz menemui Adela yang sedang berada di depan meja makan.


"Sarapan sama apa Yank? " Tanya Raiz sambil mengecup pucuk kepalanya.


"Susu Mas sama Roti. " Jawab Adela.


"Sudah nggak mual lagi kan? "


"Sudah nggak kok. "


"Yang anteng sayang. " Ucap Raiz sambil mengusap perut Adela.


"Mas, sekarang saya minta kegiatan di jarangi ya.. sudah nggak kuat. "


"Iya nggak apa - apa, kamu juga usia 5 bulan besar banget. Jangan - jangan anak kita kembar Yank. "


"Amin, nanti kita cek ya mas."


"Iya sayang, Mas juga penasaran. Dari awal sih nggak terlihat ada dua kantung. Sekarang kan sudah besar. "


"Iya, nanti cek lagi. "


*****


Adela meluruskan kedua kaki nya di sofa rumah sakit, sedangkan Raiz menyuapi mertuanya.


Pak Syarif lahap makan bubur yang di suapi Raiz, dan kondisi nya pun sedikit ada perubahan.


"Mas, Ayah kapan pulang? "


"Kan baru dua hari Yank, maksimal seminggu."


"Nanti Ayah tinggal di rumah dinas atau di rumah Mas? "


"Di rumah Mas saja, disana nanti ada perawat kan Ibu di rumah hanya berdua sama Mang Jafar. "


"Maaf kan Adela ya Ayah, tahu - tahu Ayah sudah begini. "


Pak Syarif tersenyum dan menganggukkan kepala nya, dengan beranjak dari duduk Adela menghampiri Ayah nya dan memeluk nya.

__ADS_1


"Adela sayang Ayah. "


Raiz tersenyum dan mengusap punggung Adela, terlihat ada setetes air mata yang keluar dari sudut kedua mata Pak Syarif.


__ADS_2