
Yang tidak suka sama karya saya bisa skip, karya saya memang kebanyakan sad, bila nggak kuat atau nggak suka nggak usah komentar tak sedap di baca. Cukup unfollow, dan untuk gaya bahasa memang ini gaya bahasa saya, ciri khas saya...!!!
Ngerti kan sekarang, bagi yang ngerti saja..!!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mas, terima kasih untuk semua nya. Maaf kalau saya tak sempurna dulu. Saya harus melakukan ini untuk mereka yang memerlukan. Saya tak pernah jujur, bahwa saya akan mengalami kelumpuhan total suatu saat nanti, sakit saya ini akan mengakibatkan saya meninggal.
Aneurisma otak, gejala penyakit nya. Namun sesakit saya semakin terasa makin hari rasanya sakit dan kebanyakan meninggal dunia. Saya hanya ingin memberikan sesuatu yang indah untuk yang membutuhkan bila semua nya masih bisa berguna.Jantung saya akan terus berdetak di tubuh wanita yang sangat dicintai anak kamu, maaf Mas kalau saya selalu membuat kamu kecewa.
Pak Kusumo meremas tulisan tangan Ibu Laila, kedua matanya memerah saat setelah membaca tulisan tangan terakhirnya.
"Saya semakin membenci kamu Adela, saya semakin benci sama kamu..!!! " Ucap Pak Kusumo sambil berteriak.
Sedangkan Raiz duduk berjongkok dengan menutup kedua wajah nya dengan telapak. tangan nya. Tangisan terdengar pelan bagi siapa yang mendengar nya, begitu pun Ibu Nuri menangis saat tahu yang mendonorkan jantung untuk Adela adalah Ibu Laila.
Pintu operasi pun di buka, Raiz, Sony dan Ibu Laila segera berdiri. Dokter satu persatu menatap ketiga nya lantas tersenyum.
"Alhamdulillah, operasi nya berjalan lancar. Dan Pasien pun kini bisa hidup dengan jantung baru nya. "
Raiz semakin terisak dan tak bisa mengucapkan apa - apa, saat itu sebuah blankar keluar dan terlihat tubuh Ibu Laila yang sudah kaku tertutup rapat oleh selimut.
"Mamah... .!!! " Raiz memeluk tubuh Ibu Laila, dan membuka selimut yang menutupi wajah Ibu Laila.
Wajah nya tampak tersenyum, Raiz mencium kedua pipi Ibu Laila.
"Mamah, hiks.. hiks.. hiks.. Mamah...!!! " Raiz semakin berteriak menangis hingga Sony mendekap tubuh Raiz dari belakang.
__ADS_1
"Kamu harus ikhlas, Tante sudah bahagia disana. " Ucap Sony.
"Kenapa harus Mamah, saya sayang Mamah. Walau Mamah bukan Ibu kandung Raiz, saya akan tetap menganggap Mamah tetap wanita yang melahirkan saya. "
Bagai tamparan kecil, Ibu Nuri memegang dadanya namun tetap tersenyum sambil mengusap kepala Raiz.
"Mamah...!!! "
*****
Raiz turun langsung keliang lahat, dan mengadzani jenazah Ibu Laila. Tangisan Raiz kembali saat tubuh Ibu Laila rata tertutup tanah, tanpa henti Raiz terus memanggilnya hingga para pelayat pun ikut merasakan bagaimana kehilangan nya.
Bupati Pakis yang selalu terlihat ceria dan tegas sekarang terlihat rapuh sambil terus memeluk nisan yang bertuliskan nama Mamah nya.
Pak Kusumo di balik kacamata hitam nya, hanya diam menatap makam istri nya . Dan tidak ada yang tahu bahwa dirinya sebenarnya menangis.
"Terima kasih Mah, terima kasih. Surga untuk Mamah disana, Raiz sangat berterima kasih untuk mamah. "
Pak Kusumo langsung beranjak pergi tapi tidak dengan Raiz yang masih tetap setia di depan makam mamah nya.
"Kita pulang, Adela pasti sudah sadar. Kita sudah lama meninggalkan nya. "Ucap Sony.
" Pergi duluan saja ke rumah sakit, saya masih ingin disini. " Ucap Raiz.
"Katakan pada nya, nanti saya akan menemuinya. "
*****
Adela membuka matanya melihat sekeliling hanya ada sosok Ayah nya yang tengah tertidur. Rasa berbeda yang Adela rasakan, dengan jantung dan detak yang berbeda pula.
"Ayah." Panggil Adela.
"Adela." Ucap Pak Syarif langsung mendekat.
"Mas Raiz mana? " Tanya Adela.
"Suami kamu, sedang berduka. " Jawab Pak. Syarif.
"Berduka? "
"Mertua wanita kamu meninggal dunia. "
"Inalilahi wainnailaihi rojiun. "
__ADS_1
"Raiz tadi mengabari Ayah, malam sampai rumah sakit. "
"Ayah, siapa yang mendonorkan jantung untuk Adela? "
"Ayah tidak tahu, nanti kamu tanyakan sendiri sama suami kamu. "
*****
Raiz dengan pelan masuk kamar rawat Adela, sedangkan Pak Syarif beristirahat di rumah Raiz di antar oleh sopir pribadi nya.
Adela membuka matanya saat melihat suaminya telah datang.
"Mas." Ucap Pelan Adela.
Dengan mata berkaca - kaca Raiz segera memeluk tubuh Adela dan kembali menangis.
"Saya akan memeluk tubuh ini bila rindu Mamah, hanya detak jantung ini yang Raiz akan selalu dengar. Dan bila rindu, Raiz akan memeluk tubuh Adela. Terima kasih Mah, telah membuat Adela kembali hidup sempurna. "
"Mas, maksud kamu? "
Raiz melepas kan peluk an nya hingga Raiz mengusap matanya yang terkena air mata.
"Ada detak jantung Mamah di dalam tubuh kamu. " Ucap Raiz.
"Mamah!! " Ucap Adela kaget.
"Iya, Mamah yang mendonorkan jantung nya."
"Ya Allah Mamah. " Ucap Adela pun yang menangis
"Mamah tulus memberikan jantung nya untuk kamu."
Deg
.
.
.
.
.
__ADS_1