Sang Ajudan

Sang Ajudan
Rasa


__ADS_3

"Sony." Ucap Anita saat membukakan pintu kamar rawat.


"Kata Raiz anak kamu sakit? " Ucap Sony.


"Iya, masuk. "


Sony berjalan ke arah putri Anita, yang masih beberapa bulan. Gadis kecil itu tampak tidur sangat pulas, dengan selang infus dan alat medis yang menempel di tubuh nya.


"Apakah jantung nya harus transplantasi seperti Adela? "


"Jantung nya bolong, jadi harus rutin. Dan operasi pun nanti kalau sudah besar. "


"Ayahnya bagaimana? "


"Ayahnya tidak tanggung jawab, mungkin ini karma saya dia kembali pada mantan istrinya." Ucal Anita sedih.


"Hanya Maura yang saya miliki, hanya dia yang menemani saya. Keluarga sudah jauh, dan sakit pun tak ada yang peduli sama Maura. " Ucap Anita terisak.


"Kamu harus sabar, pasti akan indah suatu saat nanti. "


"Saya hanya fokus pada Maura, saat ini saya merasakan jatuh bangun sendiri. Dan saya sudah tidak memikirkan pernikahan dan suami. Mau Anwar mati atau bagaimana saya sudah tidak peduli. "


"Bolehkah saya menjalankan sunah nya dengan menikahi kamu? "


Anita menatap ke arah Sony dan lantas tersenyum, berbeda dengan Sony yang menatap Anita dengan serius.


"Hiburan kamu itu nggak lucu. "


"Saya serius, rasa ini sejak lama. Dan baru bisa saya ungkap kam sekarang, saya ingin mengajak kamu serius. "


"Sudahlah lah Sony, kamu tiba - tiba bicara begitu. "


"Dulu sampai sekarang saya mencintai kamu, hanya dulu kamu miliki sahabat saya. Dan saat ini, saya ingin ungkap kan isi hati saya. Maura akan menjadi anak saya, boleh kah saya meminang kamu? " Ucap Sony.


"Saya belum berpikir ke arah sana, untuk menerima seorang pria begitu saja. Jadi saya mohon, jangan meminta jawaban sekarang. "

__ADS_1


"Baik, saya tunggu jawaban nya. "


******


"Gimana, Arumi sama Dewa rewel nggak? " Tanya Adela saat pulang dari rumah sakit.


"Nggak bu, Arumi nggak rewel. " Ucap Nina banyak sister Arumi.


"Mungkin Dewa kangen mamah nya, dia nggak tidur - tidur tadi malam. " Ucap Ela baby sister Dewa.


"Oh iya, Dewa kangen mamah sayang. " Adela mengambil alih Dewa dari gendongan Ela.


Sedang kan Areta di bawa Tia Baby sister Areta, untuk di baringkan di tempat tidur.Dewa menangis mungkin merasakan kesal pada Mamah nya, tangisan nya diam saat tangan nya membelai pipi Dewa.


"Dewa marah ya sama Mamah hemm.. Mamah habis menemani Kakak Areta sayang. "


"Tadi dengar Dewa nangis? " Tanya Raiz.


"Dewa marah seperti nya, tadi tak gendong langsung nangis pas di elus malah diam. " Jawab Adela.


"Dewa marah ya sama Mamah. " Ucap Raiz.


"Nggak boleh ngomong Papah nya. "Ucap Adela.


" Oh.. maaf sayang, maaf ya. "Ucap Raiz.


******


" Katanya belum bisa kasih jawaban. " Ucap Sony.


"Kamu semuanya kan jujur bilang begitu? " Ucap Raiz.


"Iya, saya berkata jujur sesuai apa yang saya rasakan sejak dulu. Saya pun mengerti, dia juga masih sakit hatinya, tidak mudah membentuk hati yang sudah patah. " Ucap Sony.


"Semoga Anita cepat menjawab ungkapan perasaan kamu. "

__ADS_1


*****


"Jadi Sony sudah jujur? " Tanya Adela saat bersama berbaring di atas tempat tidur dengan saling berpelukan.


"Iya, Sony sudah jujur tapi Anita belum kasih jawaban. " Jawab Raiz.


"Perasaan Mas bagaimana kalau mereka jadi satu? "


"Ya nggak gimana - mana, walau dia mantan istri Mas nggak ada rasa gimana gitu. "


"Yakin? "


"Yakin, Mas sudah nggak punya rasa. "


"Tapi menikah sama Sahabat sendiri loh, dan bakalan bertemu saat tertentu. "


"Ya enjoy, Mas sudah nggak mikir ke arah sana. "


"Saya takutnya CLBK. "


"Ya Allah sayang, masa CLBK. Ya nggak lah, masa CLBK sih, kamu itu di bilang jangan suka terlalu jauh , otak kamu bisa rusak. "


"Takut saja, berpisah nya Mas kan karena saya. "


"Sudah Yank, jangan pernah ingat itu. Mungkin kita ini memang ditakdirkan seperti ini, bagaimana kita menjadi satu. "


"Anita kan seperti kena karma, takut terbawa Mas. "


"Sudahlah, jangan berpikir terlalu jauh ke arah sana. Cerita Anita sama kamu itu berbeda, jadi nggak akan pernah ada karma datang. "


Raiz langsung mengunci mulut Adela agar tidak bicara lagi, dengan mencium bibir Adela secara rakus, hingga mendorong pelan tubuh Raiz.


"Sesak tahu. " Ucap Adela kesal.


"Habis kamu bicara terus, biar diam Mas cium kamu. " Raiz tak memberikan jeda untuk Adela, sehingga Adela pun membalas nya.

__ADS_1


Hingga kegiatan mereka berlanjut pada kegiatan panas, Raiz mematikan lampu tidur hingga suasana gelap penyatuan tubuh yang berbeda pun menjadi satu.


Hanya terdengar suara merdu yang pelan dari kedua mulut mereka saat penyatuan terjadi, dan bersama mencapai puncak apa yang telah di rasakan.


__ADS_2