
"Akhir nya ketemu juga, mau kabur dari tanggung jawab ya?" tanya Rina dengan nada tenang sambil melipat kedua tangan nya sambil mendekati seseorang yang sedang bersantai di atap. Cowo itu tiduran di lantai sambil memandangi langit biru berawan dan menikmati angin yang berhembus lembut.
"Ah, maaf, aku hanya ingin refreshing sebentar, pikiran ku lagi penat." Jawab Jonathan.
"Tapi setidaknya kau memberi tahu salah satu dari kita kalau kau ingin istirahat, kan aku jadi kerepotan mencari mu. Kau juga, kenapa ditanyain nggak njawab? kalau ada perlu begini gimana?" Tanya Rina sambil menoleh ke salah satu cewe yang bersandar di pintu masuk atap.
"Hehe, maaf, tapi kak Ketua memaksaku agar tidak memberi tahu lokasi nya kepada yang lain. apa boleh buat, aku hanya bisa menuruti nya." Jawab Aisyah santai.
"Kalian berdua ini, selalu bersikap santai, kalau ada apa-apa bagaimana?" Balas Rina tenang sambil menghela nafas.
Jonathan memutuskan untuk bangun dari rebahannnya dan merespon Rina, "Sudah, sudah. Jadi, ada masalah apa sampai kau mencari ku?"
Rina memposisikan kacamatanya dan mulai membaca kertas yang dia pegang, "Ada laporan dari warga lagi tentang tambak mereka yang dirusak oleh sekelompok orang di daerah Gebang. Tapi kali ini bukan anak-anak sekolah, tapi orang dewasa, bagaimana menurut mu?"
Ekspresi wajah Jonathan menjadi datar setelah mendengar itu."Bukannya itu masalah klasik antara juragan tambak satu dengan lainnya? Seharusnya kita tidak perlu ikut campur tentang masalah ini. Kecuali dengan urusan anak sekolah yang jahil. Kenapa tidak kau tolak saja?" Jawabnya sambil mendekat ke Rina.
__ADS_1
"Sebenarnya aku sudah berusaha menolak nya, tapi setelah aku membaca laporannya, aku jadi ragu untuk memutuskan apakah akan membantu atau tidak."
"Tidak biasanya kamu bicara seperti itu, memang seberapa besar masalah yang ditimbulkan orang-orang itu?"
"Kau akan mengerti sendiri setelah membaca laporannya." Rina kemudian memberikan kertas tersebut kepada Jonathan.
"Baiklah, kau menang. Aku akan balik ke ruang OSIS untuk membaca laporannya. Aisyah, titip belikan cemilan ya. Laper."
"Siap kak ketua. Rina, titip juga kah?" tanya Aisyah yang bersiap meninggalkan atap sekolah.
"Duh, dingin banget responnya. Susah dapet pacar lho" canda Aisyah.
"Biarin." balas Rina sinis.
Aisyah meninggalkan mereka terlebih dahulu menuju ke kantin, Sedangkan Rina dan Jonathan berjalan bersama untuk kembali ke ruang OSIS. Hari-hari sibuk Jonathan dimulai lagi dengan lembaran-lembaran yang tidak seharusnya dia terima. Tetapi sumpah yang diucapkan sebagai "anak pembawa berkah" memaksanya untuk menjadi pengawas masyarakat.
__ADS_1
Perjalanan mereka menuju ke ruang OSIS sangatlah tenang, tanpa ada orbrolan yang membuat Jonathan tidak betah. Jonathan akhirnya membuka suara.
"He-hebat sekali kamu bisa menemukan aku di atas atap. Memang sudah mencari dimana saja?"
Rina hanya diam dan menghiraukan pertanyaan tersebut.
Jonathan hanya menggaruk kepalanya dan berusaha memancing Rina untuk berbicara.
"Ri-rina, kamu tahu cemilan yang sedang viral? Aku dengar ada yang membuat mie berbentuk donat. Kira-kira enak ga ya?"
Rina berhenti sejenak. Jonathan berhasil membuat suasana dingin itu pecah.
"Entahlah." jawab Rina yang kemudian kembali berjalan.
Keyakinan Jonathan mendadak runtuh setelah mendengar jawaban super singkat itu. "Eeeehhh.... Ayolah. Tidak ada respon yang lebih baik kah?"
__ADS_1
Akhirnya Jonathan menyerah karena Rina tidak merespon setelah itu.