
"Jika saja cewe itu tidak ngomong yang aneh-aneh... tidak bakal seperti ini." Iqbal menghembuskan nafas panjang. "Hoi, Jonathan... masih sadar?"
'Sadar bagaimana? Aku shock berat karena telah mengingatkanku tentang kematian Rina dan kau dengan santainya bertanya aku masih sadar?' ucap Jonathan dalam hati dan masih dalam keadaan mematung.
"Silahkan kamu mematung selama yang kau inginkan, Tetapi dengarkan aku. Aku mendapat bocoran informasi dari Pak Budi mengenai 'proyek kehidupan sekolah' ini. Kita, anak-anak pembawa "berkah" ini, tidak lain adalah tikus percobaan. Mereka menguji seberapa jauh kekuatan kristal didalam tubuh, kemudian mengklafisikasikan berdasar kemampuan."
Jonathan semakin tidak bisa merespon ucapan Iqbal. 'Tikus percobaan? Kita? Yang benar saja! Bagi mereka kita hanya sebuah senjata? Kita juga manusia yang masih bisa berpikir normal'
"Awalnya mereka membuat ini seperti sebuah berkah, padahal aslinya mereka mendata setiap kelahiran yang berhasil dari orang tua yang memiliki pengendali yang sudah di injeksi oleh kekuatan kristal. Lalu mereka mengukur seberapa jauh kekuatan tersebut dan diklasifikasikan dengan istilah 'Tier'."
Jonathan akhirnya sadar kembali karena kata Tier yang pernah dia dengar sebelumnya di suatu tempat. "Tier? maksudnya?"
"Anggap saja itu seperti sebuah tingkatan kekuatan. dimana Tier I adalah yang paling lemah, dan Tier IV adalah yang paling unik dalam pengendalian elemen. Pak Budi bahkan punya daftar lengkap Tier murid di seluruh kabupaten sidoarjo. Aku berhasil membujuk beliau untuk meminta daftar untuk sekolah ini, dan aku terdaftar sebagai Tier III dengan keunikan untuk melemahkan lawan"
Jonathan semakin penasaran dengan daftar tersebut. "Bagaimana dengan yang lain?"
Iqbal membuat ruang dimensi di lantai dan mengambil laporan itu. Kemudian menyodorkannya ke Jonathan. "Kau bisa baca sendiri."
Jonathan membaca daftar tersebut dengan teliti. Dia fokuskan mencari nama-nama anggota OSIS seperti Adrian, Aisyah, dan juga Rina. Adrian dituliskan disana sebagai Tier III dengan keunikan mengendalikan kristal. Aisyah disebutkan memiliki Tier IV dengan keunikan kecepatan yang melebihi manusia normal.
Tier Rina sudah ditebak oleh Jonathan, yaitu Tier IV dengan keunikan manipulasi total terhadap zat cair dan suhu lingkungan yang berada disekitarnya. Kemudian dia mencari namanya sendiri, anehnya tidak ada dalam daftar tersebut.
"Aneh, aku tidak melihat namaku disini."
"Sungguh? Aku sepertinya melihat namamu di daftar ini." Iqbal merebut daftar itu dari Jonathan dan membolak-baliknya. Beberapa saat berlalu, dan Iqbal tidak menemukan nama Jonathan sama sekali. Iqbal menatap Jonathan sebentar, kemudian mencari lagi di daftar itu.
__ADS_1
Terdengar suara om-om dari kejauhan, tepatnya dari pintu masuk atap.
"Apa kamu tidak paham dengan yang namanya rahasia, Iqbal?"
"Pak, Pak Budi!" Iqbal kaget dan langsung menyembunyikan daftar itu dibelakangnya.
"Ayah... bisa dijelaskan apa maksud semua ini? apa benar kita, anak-anak pembawa berkah ini hanyalah tikus percobaan?" Tanya Jonathan dengan mengepalkan kedua tangannya erat-erat.
"Iqbal sudah menjelaskan bukan? Memang benar kalau 'proyek kehidupan sekolah' sendiri adalah salah satu bentuk sistem pertahanan bumi. Sejatinya, kalian adalah senjata biologis. Namun kalian masih bisa hidup tanpa menggunakan kekuatan tersebut." Jelas Pak Budi tegas.
Kepalan tangan Jonathan terbakar dengan api biru, kemudian membentuk menjadi pistol dan sesegera mungkin ditembakkan ke arah ayah angkatnya itu. Dengan sigap Pak Budi mengangkis timah panas itu dengan tombak apinya yang secara instan muncul dari tangannya.
"Nathan, Tenanglah... apa kau ingin membakar sekolah ini?" Ucap Iqbal yang mulai risih dengan hawa panas Jonathan.
Jonathan tersadar dengan ucapan itu dan langsung melenyapkan apinya. Dia sudah berjanji untuk tidak hilang kendali semenjak itu. Dia tidak ingin mengulang kejadian yang sama.
"Lalu, kenapa aku tidak terdapat di daftar Tier yang kalian buat?"
"Karena kekuatanmu yang terlalu kuat. Kami tidak bisa memberikan Tier kepadamu karena perbedaan yang terlalu jauh. Akhirnya kami memutuskan untuk menjuluki kalian sebagai Mutant. Kekuatan pengendalianmu sudah memutasi DNA normal manusia. Tidak hanya kamu, ada enam anak lainnya yang sudah diidentifikasi sebagai mutan."
"Enam?"
"Iya, Enam anak lainnya seluruh penjuru dunia. Kami sangat ketat mengawasi tumbuh kembang mereka, jangan sampai mereka menggunakan kekuatan pengendalian itu untuk sesuatu yang jahat. Termasuk kau, Nathan."
Jonathan masih tidak terima dengan semua penjelasan ayah angkatnya tersebut, tapi semakin dia berusaha menolak, semakin dia tidak bisa mengelak. Semua fakta yang dia dengar seperti candaan orang bodoh dan tidak masuk akal.
__ADS_1
"Dan kau, Iqbal... menerima semua kenyataan ini dengan mudah?" tanya Jonathan ke Iqbal yang berdiri membelakanginya.
"Mereka tidak menyuruh kita untuk berperang kan? Kecuali untuk kondisi darurat seperti sekarang." balas Iqbal tanpa menoleh.
Jonathan berusaha menerima itu semua dengan pikiran tenang. Pak Budi meminta daftar itu lagi karena sudah melanggar janji, yaitu tidak memberikan kepada Jonathan. Iqbal pasrah memberikan daftar itu.
"Ingat, informasi ini seharusnya tidak boleh bocor. Cukup kalian berdua yang tahu. Kupikir dengan memberikan informasi ini kepada Iqbal, rasa sesalku sedikit berkurang." Pak Budi kemudian meninggalkan mereka berdua.
Beberapa saat kemudian, ponsel Iqbal berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Amanda yang mengabarkan bahwa daftar para relawan sudah terkumpul. Iqbal mengajak Jonathan kembali ke ruang OSIS, tetapi ditolaknya. Jonathan ingin merenung di atap sambil mencerna hal-hal tersebut.
Iqbal tidak bisa memaksanya dan meninggalkan dia di atap. Di perjalanan menuju ruang OSIS, orang yang berbaris tadi sudah pergi. Anggota OSIS lainnya juga sebagian besar sudah istirahat atau pulang ke rumah masing-masing. Amanda dan Aurel menunggu Iqbal sambil berbincang-bincang di kelas.
"Kok lama sekali kak, ada apa ya?" tanya Aurel yang menyadari Iqbal masuk ke ruang OSIS.
Iqbal menjawab tenang, "Tidak ada sih."
Aurel menyipitkan mata dan memandangi Iqbal dengan serius, "Kalau tidak ada, tidak mungkin selama ini kan kak."
Iqbal tidak peduli dengan ucapan tersebut dan langsung fokus ke Amanda yang memanggilnya tadi untuk memlihat cacatan yang dimaksud. Setelah dibaca sebentar, Iqbal berpamitan dan segera memberikan catatan ini ke Pak Indra untuk segera menambah jatah kristal yang dikirim.
"Nda, kamu tidak penasaran ada apa dengan kak Iq--"
"Aku tidak suka mencampuri masalah orang lain." potong Amanda cepat dan dia bangkit dari tempat duduk. "Aku mau pulang dulu." lanjutnya.
"Hoo, oke." Respon Aurel yang masih ragu dengan perkataan Amanda.
__ADS_1