School Life Project

School Life Project
Gagak Hitam : chapter 7


__ADS_3

Iqbal's Point of View


 


Kami berkolaborasi melawan wanita mantan dari ketua geng "Doa Iboe". Geng yang selalu di ketuai oleh wanita. Element wanita tersebut sepertinya cahaya, dilihat dari pola serangan yang selalu menembakkan anak panah yang menikuk tajam ke arah kami. Setiap anak panah itu menyentuh apapun, langsung meledak seketika, dan membuat kilauan cahaya yang cukup membutakan. Serangan beruntun wanita tersebut membuat ku tidak bisa mendekatinya. Wanita itu setiap selesai menembakkan anak panahnya, selalu menghindar cukup jauh dan gerakannya bagaikan kilat.


Wanita itu menembakkan anak panah raksasa ke arah sang kakek. Kakek itu menahannya dengan pedang besarnya, tetapi malah terpental cukup jauh karena ledakan anak panahnya. Sedangkan aku menutup mataku karena kilauan cahayanya membutakan. Tanpa kusadari setelah aku membuka mataku, hujan anak panah cahaya sudah berada di atas kepala. Aku putuskan untuk membuka ruang dimensi, dan bersembunyi disana. Aku bisa merasakan ledakan yang beruntun diluar ruang dimensiku.


"Kalian para pengguna ruang dimensi memang menyusahkan! Selalu berlindung dari serangan dengan mudah." Keluh wanita sambil menunggu salah satu dari kami muncul.


Aku mencoba mencari frekuensi ruang dimensi kakek tersebut, mungkin aku bisa membuat strategi melawan wanita yang selalu menyerang dengan kilauan cahaya.


"Ayolah! Tampakanlah diri kalian! Kalau tidak, kuledakkan daerah sekitar Bunderan Aloha ini!" Ucap wanita tersebut sambil mulai menarik busur panah dan mengarahkan ke Hypermart.


Aku merasakan frekuensi kekuatan kakek tersebut. Dan akhirnya aku bisa bertemu di dalam ruang dimensi. Kakek itu terkejut mendengar suaraku. Karena element kami memang sama, hanya beda tipe. Menyamakan frekuensi ruang dimensi memang sudah wajar dilakukan.


"Kakek! Bagaimana ini?" tanyaku panik.


"Dia mengancam menghancurkan sesuatu ya?" ucap kakek tersebut juga kebingungan mengatasi hal ini. "Anak muda, bisakah kamu mengajak dia bermain sebentar, aku akan memikirkan strategi." Lanjutnya.


Ragu dengan perkataan beliau, "Semoga kakek tidak bercanda dengan hal ini!" Aku muncul ke permukaan, dan langsung melempar kapak besarku.


Wanita itu dengan mudah nya menghindar hanya dengan melangkah kesamping dan mengarahkan tembakannya ke ruang dimensiku. Aku sesegera mungkin keluar dari ruang dimensi, dan mencoba kabur dari anak panah yang mengejarku. Aku benar-benar terjebak dan hanya bisa kabur kesana kemari. Setiap kali kudekati wanita itu dan menebaskan kapakku, dia dengan anggunnya menghindari seranganku dan kemudian menyapaku dengan tembakan panahnya.


Karena frekuensi ruang dimensiku sudah sama dengan kakek yang daritadi masih sembunyi, aku mencoba bertanya kepada kakek tersebut.


"Bagaimana ini kek? Sudah dapat ide? Capek tau menghindar terus!" Ucapku sambil bernafas terengah-engah.


"Ini sebenarnya simpel." Jawab sang kakek. "Aku akan menangkapnya dengan kekuatan gravitasiku, kemudian kamu menebasnya. Sepengamatanku, kamu menyerap stamina mereka setelah berhasil tertebas. Apa aku benar?"

__ADS_1


"Iya, aku hanya malas membelah mereka secara fisik. Itu mengerikan sekaligus menjijikkan!" Jawabku merinding. "Kenapa tidak kakek lakukan daritadi?" lanjutku heran.


"Masalahnya, ketika kakek membuat wilayah gravitasi, itu membuat kakek tidak bisa bergerak bebas. Serangan ini harus dikoordinasikan dengan tepat dan parahnya, kamu juga akan terkena efek gravitasiku." Jelas kakek itu.


"Oh, gampang!" Ucapku sambil memukul telapak tanganku. "Aku akan gunakan trik yang sama untuk mengurangi dampak gravitasi kakek. Mungkin gerakanku menjadi cukup lamban karena gravitasinya, tapi setidaknya aku bisa mendekatinya. Baiklah! aku akan memancingnya sampai dia tidak sadar." Lanjutku dan keluar dari ruang dimensi.


Diluar ruang dimensi, sudah banyak lubang-lubang bekas ledakan di segala penjuru. 'tukang aspal bakal kerepotan membenahi ini semua' pikirku sambil melakukan serangan mendadak ke wanita tersebut.


"Hai anak muda, bisakah kau lebih serius?!" ucap wanita itu geram. "Aku sudah membuang waktu cukup lama bersama kalian! Jangan bermain sembunyi-sembunyian seperti itu. Membosankan tau!"


"Sabar buk, sabar." Jawabku santai sambil membuat beberapa tebasan kuat kearahnya. "Namanya juga bertarung, hahaha!"


Aku menghantamkan kapakku ke tanah, dan membuat guncangan yang cukup kuat membuat wanita tersebut loncat tinggi. Setelah dia mendarat di dekat kolam sebelah Bunderan Aloha. Kakek itu muncul dari ruang dimensinya dan sudah bersiap menggunakan wilayah kegelapannya.


Wanita itu sadar akan kemunculan kakek tersebut. Tapi naas, dia sudah terperangkap dalam wilayah kegelapan yang cukup luas. Wanita tersebut berusaha untuk memanah kakek tersebut, tapi sesegera mungkin kuhalangi.


Kekuatan gravitasi kakek itu ternyata cukup ampuh juga menahan wanita itu. Kemudian aku membuat beberapa kapak besar dan melemparnya berbaris ke arah wanita itu. Satu persatu kapak kubuat pijakan yang semakin lama tarikan gravitasinya semakin kuat. Wanita tersebut semakin memberontak dan menghujani panah ke kakek tersebut.


Awalnya wanita itu panik, karena dipikir akan terbelah menjadi dua. Setelah dia sadar tidak terbunuh, dia melanjutkan menembakkan panahnya. Tapi yang dia tidak sadari, mendadak pandangan wanita itu kabur, busur panahnya lenyap, diapun roboh layaknya orang kelelahan, dan pingsan.


Kakek tersebut mengakhiri wilayah kegelapannya. Tubuhku yang terasa sangat berat tadi, terasa ringan kembali, rasanya yang habis ditindih gajah, sekarang menjadi seringan bulu bebek.


"Kita berhasil kek!" ucapku kegirangan sambil mengamati wanita tersebut pingsan.


"Bagus anak muda." Jawab kakek tersebut santai dan berjalan mendekati wanita itu. "Sekali lagi maafkan aku, nyonya muda."


Kemudian kakek itu meletakkan tangannya di tanah, membuat wilayah kegelapan sekali lagi, orang-orang yang terperangkap di ruang kegelapannya muncul ke permukaan. Setelah kuamati, memang benar orang-orang yang kusebut seperti para warga, polisi, dan murid-murid saja yang dilepaskan. Anggota geng Gagak Hitam tidak dimunculkan. Setelah itu aku berterima kasih kepada kakek dan mulai membangunkan mereka satu persatu.


"Halo, Iqbal disini, ada orang?"

__ADS_1


"Iqbal! kau selamat?" tanya sesorang dari earphone ku yang sudah kunyalakan kembali


"Kan sudah kukatakan, aku tau apa yang harus aku lakukan, hahaha!" Ucapku sombong.


"Bagaimana dengan kondisi disana?"


"Sudah aman terkendali, serangan geng Gagak Hitam sudah di netralisir."


"Baiklah, setelah itu kalian bebas untuk beristirahat, sisanya serahkan kepada yang lain. Kerja bagus Iqbal!"


"hahaha, Siap ketua!"


Aku mengamati ketua geng Jawi Sakti sedang bercakap-cakap dengan aparat disana. Mungkin mereka ingin membantu merestorasi kondisi Bunderan Aloha yang sudah hancur lebur ini. Wanita mantan geng Doa Iboe diminta oleh kakek tersebut dengan alasan merawatnya.


Teman-teman dari SMA Hangtuah pun juga bingung setelah tertidur cukup lama dalam wilayah kegelapan. Yang mereka ingat adalah tubuh mereka terasa amat berat, layaknya tertindih gunung, lalu perlahan semua pandangan kabur dan gelap.


"Kak Iqbal!" Sapa adik kelas ku.


"Ya?" sambil aku menoleh ke arah sumber suara tersebut.


"Kita pulang nih?" tanya adik kelasku.


"Sementara ini tidak dulu." Jawabku santai sambil duduk di tenda penyelamat.


"He, kenapa?" tanya adik kelasku heran.


"Di pusat kota pasti, PASTI ada keributan. Sementara kamu dan teman-teman lain disini saja." Kemudian merebahkan tubuhku. "Cepat atau lambat, informasi ini akan terdengar di telinga ketua geng Gagak Hitam. Dia pasti sudah menyadari hal ini, dan mengepung sekolah kita." Jelasku santai.


"Bukannya kita seharusnya menolong mereka?"

__ADS_1


"Mereka bisa menjaga diri mereka sendiri, aku percaya itu. Sekarang istirahatlah disini, sampai di pusat kota menjadi cukup aman." kemudian aku terlelap karena kelelahan.


__ADS_2