
Aisyah's Point of View
"Wah, sepertinya menarik. Ada apa ini?" sapa cewe misterius ini.
"Wih, kak Rosa, silahkan-silahkan. Ini lagi ngobrol-ngobrol aja kok." balasku.
"Aku dengar suara Rinrin dari luar tadi. Tentang ap—"
Dengan cepat Rina merespon, "kak, tolong jangan bahas itu."
"Yah...." sesal kak Rosa yang masih penasaran. "Kalau kalian bertiga sedang apa?" lanjut kak Rosa berjalan mendekatiku dan mengamati.
"Ini game fighting baru kak, barusan aku beli dan instal. Mau joinan kah? Aku cariin stik tambahan." jawab Iqbal yang tidak bisa melepaskan fokus ke game.
"Boleh-boleh." kemudian mengamati ke arah lainnya. "Nathan dan Rinrin, kalian belajar disini? tidak merasa terganggu kah?"
"Aku hanya mengajari Nathan mengerjakan soal-soal saja. Nilai eksak nya yang mulai menurun membuatku khawatir." Balas Rina yang fokus membaca buku pelajaran.
"Seorang wakil yang peduli dengan ketuanya, benar-benar patut dicontoh. hahaha." canda Iqbal lagi.
"Atau mungkin...." ucapku penasaran sekaligus menggoda.
Dengan cepat Rina merespon datar, "Tidak."
__ADS_1
"Sudah Nur, jangan gangguin mereka belajar. Daripada kena semprot lagi, hahaha!" Jawab Iqbal yang mulai beranjak untuk mencari stik tambahan untuk Rosa.
Setelah Iqbal menemukan stick tambahan, kami bermain berempat bersama dan kak ketua dengan Rina melanjutkan belajarnya. Tapi hari ini memang cukup berbeda. Biasanya kami hanya berkumpul di ruang OSIS ketika ada dokumen atau laporan yang perlu diurus, atau ketika mengadakan rapat bulanan. Seperti ada suatu dorongan yang membuat kami berkumpul disini. Bahkan untuk seorang kak Rosa.
Kakak kelas yang dipilih Rina sebagai penghubung ekskul dengan OSIS karena sehari-harinya yang berada di dunia olahraga. Kemampuan olahraganya benar-benar diincar semua anak ekskul, biarpun kak Rosa sudah berada dalam anggota ekskul lari. Kak Rosa yang cukup tinggi dari rata-rata anak kelas tiga juga memiliki pesona sendiri bagi adik kelas. Cuman kebiasaannya sebagai "tukang peluk" terkadang mengganggu.
"Kak Rosa, gak biasanya kesini. Ada angin apa kok bisa kepikiran ke ruang OSIS?" tanya Adrian.
"Hmm... entahlah. Setelah jogging, tiba-tiba ingin ngadem di ruang OSIS." Kak Rosa masih terfokus dengan gamenya.
"Owh pantes, kenapa kok ada bau keringat." canda Iqbal.
Rosa hanya tertawa kecil kemudian dia teringat sesuatu, "Oh iya, tadi aku ketemu Yunyun sama Cakra."
"Yunyun mengarah ke perpus seperti biasanya. Sempat kuajak ke ruang OSIS, dia hanya menjawab 'mungkin'. Setelah itu dia lanjut ke arah perpus."
"Hahaha, tadi di kelas aku juga sudah mengajaknya, responnya juga sama. Mungkin aku perlu memancing dia supaya kesini dengan membawa beberapa novel. Setiap aku ketemu dia di perpus, dia selalu membaca novel." tambah Iqbal.
"Ide bagus tuh, kak Iqbal. Lumayan buat ngeramaikan ruang OSIS kalau nganggur begini." responku.
"Lah dianya sendiri palingan cuman baca novel, tetep aja sepi dong. Hahaha!"
"Yah, setidaknya nambah orang lah. Yunita juga masih ngerespon kok kalau ditanya sesuatu."
__ADS_1
"Hahaha, baiklah. Aku coba nanti."
"Oh iya, terus kak Cakra gimana ceritanya? Latian basket lagi?" tanyaku kepada kak Rosa.
"Iya, katanya buat persiapan untuk pertandingan antar sekolah bulan depan dan berhubung pelatihnya sedang halangan hadir. Jadi dia yang menggantikan. Kalau ada waktu luang dia mungkin berkunjung disini."
"Aww, jadwalnya cukup padat juga ya, tapi untung dia cuman bagian konsumsi, dan biasanya juga diserahkan ke anak buahnya kalau urusan memilih menu. Dia hanya membuat keputusan final."
"Jangan salah sangka dulu Nur. Cakra ternyata bisa memasak. Aku pernah melihatnya membawa bekal ke sekolah. Masakan yang dibuatnya terlihat lezat dan dihias dengan cukup menarik."
"Sungguh?" tanyaku sambil terkagum-kagum.
Rina tiba-tiba buka suara, "Sebenarnya aku memilih kak Cakra sebagai sie konsumsi karena dia memiliki kemampuan untuk menentukan mana makanan yang cocok untuk acara tertentu. Memang kuakui, pilihannya selalu pas dan tidak membuat budget bengkak juga. Seperti rapat dengan seluruh ketua ekskul kemarin."
"Iya juga sih, cemilannya terlihat lezat dan kupikir bakal mahal nih. Eh setelah dia memberikan laporannya, murah juga." balasku.
"Yah, kalah lagi! Jangan main royokan lah!" ucap Adrian yang terlihat mulai marah karena kekalahannya.
"Lu aja yang gak bisa main Rian, hahaha!" ejek Iqbal.
"Hey Nathan, kalau sudah selesai belajar privat sama bu guru Rina, sini ikutan main. Aku tadi nemu stik lebih." ucap Iqbal seraya menoleh ke Nathan.
Akhirnya kami terus bermain sampai tidak terasa menunjukkan pukul 4 sore. Kak Iqbal memutuskan untuk pulang duluan karena ingat ada sesuatu yang perlu dikerjakan untuk ekskulnya. Karena kak Iqbal yang memiliki game nya pulang, aku, kak Adrian dan kak Rosa akhirnya ikut untuk meninggalkan ruangan.
__ADS_1