
--Beberapa jam sebelumnya--
Terdengar suara berdering dari ponsel Amanda. Dia mengangkat telpon itu dengan segera. Setelah perbincangan yang cukup lama, Ekspresinya yang tenang berubah menjadi terkejut biarpun intonasi suara masih tetap sama. Iqbal dan Aurel mengamati hal itu mulai curiga terhadap sesuatu.
Amanda menghakhiri perbincangan dengan seseorang di telpon itu dan Iqbal langsung bertanya, "Ada apa?"
"Besok aku akan dijemput seseorang untuk melakukan pertemuan dengan ayah disalah satu hotel di Surabaya. Mereka meminta tolong kepada ketua OSIS dari Surabaya dan wakilnya untuk mengawal, namun mereka sedang tugas dan terpaksa harus menundanya sampai besok." jawab Amanda.
"Lalu, kenapa wajahmu seperti terkejut tadi?" tambah Aurel.
"Mereka... ingin menggunakan aku untuk percobaan teknologi kristal yang baru. Aku tahu ayah memang terlibat dalam pendanaan penelitian tersebut, tapi...."
Aurel melihat kegelisahan Amanda dan berusaha menenangkannya, "Tenang saja! Aku dan kak Iqbal akan ikut bersamamu! Kalau ada apa-apa, kami bisa menolong!" dan dia menghadap ke Iqbal duduk didepan komputernya, "ya kan kak?" lanjutnya.
"Yah, kalian sudah menganggapku sebagai penasihat. Mau apa lagi." respon Iqbal santai.
Kondisi di ruang OSIS pagi itu kembali menjadi damai dan mereka melanjutkan kegiatan paginya.
--Saat ini--
Hari menjelang sore, sudah saatnya para pengendali itu, termasuk Jonathan, Iris dan Adrian untuk pulang dan beristirahat. Misi mereka hari ini telah sukses dan mulai berpamitan. Truk militer disediakan oleh angkatan udara untuk mengantar mereka pulang. Di perjalanan pulang, Iris penasaran dengan siapa sosok Indira yang bisa membuat sifat tenang Jonathan berubah seratus delapan puluh derajat.
"Hal itu ya, aku harus cerita darimana ya?" Jonathan berpikir sejenak. Iris memandangi Jonathan dengan tatapan harap-harap cemas. "Mungkin ketika aku dan Rina--"
Ingatan Jonathan tentang Rina menghentikan dialognya dan menumbuhkan rasa sakit yang mendalam. Iris tidak sengaja mengorek luka lama Jonathan dan langsung meminta maaf.
Setetes air mata muncul dan langsung diusap oleh Jonathan, "Tidak apa-apa, Iris. Aku hanya masih belum bisa melepas ingatanku padanya." dilanjutkan dengan menepuk wajahnya. "Akan kulanjutkan ceritaku."
Pertemuan dua insan, yaitu Jonathan dan Indira terjadi saat mereka masih SMP. Kejadian itu akibat mutasi kerja ayah angkat Jonathan secara mendadak dan harus berpisah dengan keluarga Rina yang juga kebetulan terjadi mutasi kerja. Kedua keluarga itu sebenarnya sudah menjadi tetangga dekat. Berkat hal itu, keluarganya Jonathan bertempat tinggal di Surabaya, sedangkan Keluarganya Rina berada di Solo.
Jonathan kesusahan bergaul dengan teman sekelasnya karena selama ini dia selalu bergantung dengan Rina. Akhirnya dia menjadi penyendiri untuk beberapa minggu kedepan. Indira kebetulan juga sekelas yang sudah terpilih menjadi ketua kelas berusaha merubah sikap Jonathan yang selalu menjauhi teman-temannya.
"Hei, Jo! Mau sampai kapan kamu begini terus? Kita ini temen SMP tau!"
Jonathan tidak mau merespon ucapan Indira dan kabur keluar.
"Indira, jangan terlalu keras kepadanya. Dia hanya butuh penyesuaian saja." ucap salah satu temannya.
"Memang butuh berapa lama lagi? ini sudah 3 bulan terlewati dan dia tetap saja seperti itu!" balas Indira. "Aku sebagai ketua kelas akan membuatnya sadar!"
Indira keluar kelas dan melacak langkah Jonathan sebelum jam istirahat selesai. Setelah berkeliling sekolah, Dia akhirnya bertemu dengan Jonathan yang duduk di belakang gudang sekolah.
"Akhirnya ketemu juga, bocah api!"
"Jangan ganggu aku! Biarkan aku sendiri!"
Indira semakin kesal dengan perilaku itu dan mengangkat tubuh Jonathan, "Kau pikir akan berapa lama lagi bertingkah seperti anak kecil? KAU SUDAH SMP, BODOH!"
Jonathan meronta-ronta untuk melepaskan diri, "Biarin, apa urusanmu?"
Indira yang kebetulan hanya berdua dengan Jonathan, melayangkan tinju ke wajah cengeng itu.
"Jika kamu berhasil melawanku, aku tidak akan mengganggumu lagi! Tapi jangan berharap kamu menang ya jika tingkahmu masih seperti itu!" tantang Indira dan melepaskan cengkramannya.
Jonathan merasa kesakitan dengan tinju tersebut dan mulai memunculkan api di tangannya. Dia menyerang Indira dengan meluncurkan bola api. Namun gerakan Jonathan mudah sekali dibaca olehnya dan dihindari dengan mudah. Indira membalas serangannya dengan tinju api dan mengenai bagian wajah lain Jonathan.
"Segitu saja dan sekarang kamu mau menangis? Kamu COWO kan? DASAR CENGENG!" Indira terus memprovokasi Jonathan.
Sadar dengan hinaan itu, dia menahan sekuat tenaga untuk tidak menangis.
Bel pertanda waktu istirahat habis telah berbunyi. Indira kembali menantang Jonathan yang berdiri kaku, "Akan kuhabisi kau kalau kamu tidak kembali ke kelas! KAU DENGAR ITU?" dan dia meninggalkannya mematung disana.
Sekian waktu terlewati dan akhirnya jam pulang sekolah. Jonathan masih belum kembali ke kelas, sang guru bertanya-tanya kemanakah Jonathan dan ingin bertanya kepada Indira sebagai ketua kelas. Indira berpura-pura tidak tahu.
__ADS_1
Setelah sang guru keluar kelas dan cukup jauh, Indira mengancam teman sekelasnya, "Awas saja kalau salah satu dari kalian mengadu ke guru! Aku melakukan ini untuk merubah kebiasaan buruk Jo, jangan salah sangka!" dan meninggalkan ruangan.
Dia kembali lagi ke gudang belakang sekolah. Namun Jonathan sudah tidak ada disana.
"Cih! Tidak ada yang pernah berhasil kabur dariku! Akan kutemukan kau, bocah cengeng!"
Sekali lagi dia berlari mengelilingi sekolahan, mencari ke setiap sudut. Indira mendatangi lokasi yang memungkinkan untuk bersembunyi, dari kantin, atap sekolah, sampai toilet cowo. Sekali lagi sebuah pengingat, bahwa Indira itu cewe. Dia mulai menebak suatu lokasi yang berbahaya, yaitu ruang bimbingan konseling. Siapa tahu dia mengadu kesana dan besoknya Indira akan kena marah.
Kali ini Indira menyerah dan melanjutkan hal itu esok hari, perasaannya juga bingung untuk menghadapi amukan guru BK jika Jonathan memang benar mengadu. Keesokan harinya, Indira melihatnya kembali masuk sekolah, tetapi dia tidak masuk kelas. Dia jadi heran sendiri apa yang direncanakan Jonathan.
Selama pelajaran berlangsung Indira masih was-was dengan guru BK yang bisa datang setiap saat. Tapi hal itu tidak pernah terjadi. Dia sedikit lega bahwa tidak ada satupun yang melapor kepada para guru. Indira bertanya kepada teman-teman apakah ada yang melihat keberadaan Jonathan, tidak ada satupun yang melihatnya biarpun Jonathan pergi kesekolah setiap harinya.
Seminggu setelah kejadian itu, tepatnya di hari sabtu, dimana mata pelajaran difokuskan untuk kegiatan ekskul dan pelatihan pengendalian, Jonathan menampakkan dirinya. Kali ini dia lebih berani. Awalnya Jonathan diserang sejumlah pertanyaan oleh guru olahraga, namun dia berhasil membuat alasan yang masuk akal.
Setelah itu Jonathan terang-terangan menantang Indira untuk duel.
"Bocah ini... mulai bertingkah lagi. Aku terima tantanganmu!" jawab Indira bergembira.
Pertarungan sengit antara sesama pengendali api berlangsung, serangan demi serangan saling mereka keluarkan. Tidak peduli apakah itu membahayakan atau tidak, yang mereka lakukan itu semata-mata hanya demi bersenang-senang.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua kelelahan setelah mengeluarkan kemampuannya.
"Kemana saja kau bocah? Aku berjanji akan menghajarmu kalau kau tidak masuk kelas kan? dan hal itu sudah kutepati sekarang!" ucap Indira bersemangat.
"Aku melakukan persiapan untuk menerima itu, dasar cewe tomboy! Tidak mungkin aku pasrah menerima bully an mu!" balas Jonathan dengan antusias.
----------------------------------
"Dan dari situlah awal kami berteman dekat." tutup Jonathan.
Iris bertepuk tangan mendengar cerita itu, dia tidak menyangka bahwa seorang OSIS seperti dia punya kenangan yang unik terhadap seseorang. Iris kemudian mulai penasaran tentang hubungan Rina dan Jonathan, tapi dia berusaha menahannya karena itu bisa menyakiti perasaannya. Dia akhirnya mencerna cerita tadi, dan mengingat suatu hal.
"Eh iya Kak Nathan, baru sadar ternyata kita juga satu SMP lho dulu! SMP Negeri 11 Surabaya kan? "
"Iya, SMP Negeri 11.... Serius? Kok aku tidak tahu?"
Perbincangan mereka berakhir ketika sampai di SMA Kartika Raya dan berpisah untuk beristirahat. Adrian terburu-buru berpamitan kepada Jonathan dan Iris karena ada suatu hal yang harus dilakukan, sedangkan panggilan dari sang kapten untuk pertemuan dan evaluasi sudah menunggu Jonathan. Iris berpamitan dan meninggalkan Jonathan.
Ahli komunikasi berhasil menterjemahkan sebagian bahasa Insectanon dan mempersiapkan langkah selanjutnya. Mereka akan menyerang salah satu pabrik pembuat kristal beberapa hari kedepan. Karena itulah, sekali lagi dibuka pendaftaran para relawan untuk membantu. Tentu saja Jonathan mendaftar, hanya saja kalau menyarankan yang lain dia masih ragu dan akhirnya menunggu esok hari.
Keesokan harinya, Jonathan dan Adrian bertemu di ruang OSIS yang kebetulan kosong. Biasanya ada Amanda, Aurel dan orang yang dihindari Jonathan. Terkadang dia rindu dengan suasan di ruang OSIS yang damai seperti ini. Sialnya, suasana tenang itu berlangsung singkat sebelum gangguan lain muncul. Sebuah limosin parkir di depan sekolah.
Ditambah lagi sudah ada seseorang yang mengetuk pintu ruang OSIS itu. Jonathan membuka pintu dan kaget dengan apa yang dapati.
"Hee! Elu lagi? Ngapain kesini?"
"Kenapa? Situ kangen?" goda Indira.
"Ogah! Balik sana!" sahut Jonathan.
Indira merespon hal itu dengan tertawa, sedangkan Jonathan menyesal telah membukakan pintu untuknya. Setelah puas dengan tertawanya, Indira mulai menjelaskan kehadirannya kesini, dia dan wakilnya akan menjemput ketua OSIS SMA Kartika Raya. Awalnya dia heran kenapa Jonathan perlu di jemput seperti anak kecil. Jonathan menjelaskan bahwa dia sudah tidak menjabat lagi sebagai ketua OSIS.
Dia jadi merasa bodoh dan malu sendiri, dia bertanya kepada Surya untuk verifikasi, dan ternyata dibenarkan. Indira jadi bertanya-tanya siapa ketua OSIS baru ini karena informasi yang dia dapat tidak terlalu jelas. Jonathan menjelaskan bahwa ketua OSIS baru ini adalah anak dari CEO dari salah satu korporasi besar.
Penjelasan singkat itu terpotong ketika Aurel menyapa mereka semua yang berjalan bersama Amanda.
"Jadi... Ini ketua OSIS barunya?" tanya Indira dengan memandangi Amanda secara menyeluruh.
"Iya, itu aku." jawab Amanda tegas.
"Jo, ini benar pilihanmu?"
"Dia yang kucalonkan, tapi orang lain yang memilihnya."
__ADS_1
Amanda merasa tersinggung dengan sikap tersebut, "Kalau ada yang salah, ucapkan saja!"
Indira semakin yakin setelah melihat perilakunya dan menyuruh Surya untuk mengantarkan Amanda bersama Aurel ke limosin yang menunggunya, sedangkan Indira tinggal sejenak demi berdialog dengan Jonathan setelah jarak mereka cukup jauh.
Jonathan mengawalinya dengan sebuah pertanyaan, "Memang ada yang salah?"
"Cewe semacam itu, seharusnya tidak pantas untuk menduduki jabatan ketua OSIS kan? Kenapa malah kamu calonkan dia?"
"Kamu hanya melihat dia dari luarnya saja. Menurutku dia cocok sebagai pemimpin, terlihat sekali auranya. Ya kan Adrian?"
"Hei, jangan sangkut-pautkan aku dalam pembicaraan yang tidak jelas ini."
Indira berpikir sejenak dan melanjutkan perbincangan, "Aku harap juga begitu. Entah kenapa aku merasa risih dengan sikapnya yang... terkesan dipaksakan."
"Aku dengar dia akan menggantikan ayahnya dan mewarisi jabatan tersebut. Wajar saja jika dia berperilaku seperti itu. Yah, aku tidak suka ikut campur dengan urusan orang lain sih. Memang ada hal apa yang mengganggumu sampai seperti itu?"
"Sekilas tadi aku melihat... sebuah kebencian yang membuta terhadap sesuatu. Ketidak peduliannya terhadap hal itu membuat dia berpikir "semuanya sama saja", seperti itu." jelas Indira.
"Aku kagum dengan kemampuan cenayangmu, atau kau hanya asal tebak saja." Dia kemudian mendorong Indira keluar dari ruang OSIS, "Sekarang keluar dari sini dan selesaikan tugasmu. Sudah cukup aku mendengar ocehan gaje mu!."
"He-hei, aku belu--"
Jonathan menutup pintu ruang OSIS secepat mungkin dan membiarkan Indira mematung diluar. Sesaat kemudian, Indira memutuskan untuk kembali mengawal cewe itu dengan berat hati.
"Dia sukanya bicara yang aneh-aneh." keluh Jonathan dan duduk di salah satu kursi. Dia sudah tidak layak untuk duduk di kursi ketua OSIS.
"Tapi, Indira juga ada benarnya kok." tambah Adrian.
"Oh, ayolah! Indira itu orangnya suka ngelantur dan tidak suka dengan hal-hal seperti itu! Jangan kamu termakan omongannya juga."
"Jangan salah sangka, ucapan Indira membuatku tersadar akan sesuatu."
"Ah! Sudah, sudah! Hentikan! Aku tidak suka membicarakan sifat orang dari belakang seperti ini!" Jonathan bangkit dari kursinya dan pergi meninggalkan ruang OSIS.
Adrian membiarkan Jonathan pergi begitu saja. Apa juga alasan untuk menahannya? Dia lalu duduk di salah satu kursi dan mulai berpikir. Adrian mengingat-ingat beberapa informasi yang dia baca sebelumnya tentang Amanda dan mencocokkan dengan dialog Indira tadi. Jika benar begitu, maka Amanda bisa melakukan suatu hal tanpa mempedulikan apa yang dia hadapi.
Tiba-tiba sebuah ruang dimensi terbuka dan Iqbal muncul dari dalam.
"Kenapa kamu disini?" tanya Iqbal yang menutup ruang dimensinya.
Adrian juga bertanya balik, "Aku juga bertanya hal yang sama."
--------------------------------
Di lain tempat, Jonathan memutuskan untuk mengunjungi dan mengamati setiap ruang kelas yang ada. Ruang kelas itu sebagian besar telah beralih fungsi menjadi tempat istirahat warga yang mengungsi. Sebagian besar mereka hanya beristirahat ataupun berbincang dengan yang lain. Anak-anak kecil terkadang bermain saling kejar di lorong kelas dan Jonathan menyapa anak-anak itu.
Sesampainya di lantai dasar, Jonathan melihat seseorang yang sudah lama tidak dilihatnya. Orang itu berjarak cukup jauh dari tempatnya berdiri dan Jonathan berpikir untuk mengikuti. Dia berjalan ke arah perpustakaan dan memasukinya. Jonathan segera menyusul dan ikut masuk ke ruang tersebut. Ruang Perpustakaan itu sepi dan sunyi, seperti tidak ada orang yang pernah kemari.
"Aneh, Kemana dia?"
Jonathan mencari orang itu di sekitar rak buku, melewati celahnya satu persatu. Sesampainya dicelah rak buku terakhir, dia tidak menemukan orang itu. Dia kembali lagi ke ruang tengah sambil menggaruk-garuk kepalanya. Sebenarnya orang itu pergi kemana? Dia keluar untuk mengecek sesuatu di pintu masuk. Seperti yang dia duga, hanya ada sepatunya.
"Kak Ketua? Tumben main ke perpus?" Sapa Aisyah dari kejauhan.
"Sesekali saja sih." jawab Jonathan sambil membuang muka.
Aisyah memeluk beberapa buku yang sudah ia baca sebelumnya dan ingin mengembalikan ke perpustakaan.
"Ada apa kak, kok wajahnya terlihat pucat?"
"Ti-tidak! Tidak ada apa-apa kok!" Jonathan terdiam sejenak dan membiarkan Aisyah masuk kedalam ruang perpustakaan. Dia mengamati Aisyah yang membawa beberapa buku dan mengembalikannya ke rak yang sesuai.
"Sip!" ucap Aisyah setelah meletakkan semua buku yang dia pinjam. "Kalau Kak Ketua masih ada perlu disini, Aisyah tinggal dulu ya." lanjutnya dan melewati Jonathan.
__ADS_1