School Life Project

School Life Project
All Hope is Lost : Chapter 5


__ADS_3

"Sepertinya itu ketua geng Bola Djiwa beserta anggotanya." ucap sang sopir.


Geng Bola Djiwa sedang melawan Insectanon yang ingin memperlamban truk yang dikendarai oleh Amanda dan Aurel. Entah apa yang membuat Insectanon berusaha mengagalkan rencana itu. Mereka selalu saja menampakkan diri disepanjang perjalanan.


Salah satu Cere Grimlf mengincar truk itu dan mulai menembakinya. Ketua geng yang menyadari hal itu langsung menebas tangan Cere Grimlf dengan pedang kegelapannya yang besar, membuat tangannya putus. Lalu serangga itu berganti target ke ketua geng itu.


Serangan demi serangan selalu mengincar nyawa Amanda. Kali ini puluhan Elg Divida menampakkan diri di angkasa dan membawa kantung yang berisi telur Ra Sik. Kantung itu dijatuhkan bersamaan dengan menetasnya Ra Sik. Serangan dadakan itu mengganggu sang sopir dalam mengendarai, Tetapi dia berhasil mengendalikannya lagi dan menambah akselerasi.


Sekarang datang bantuan dari ketua geng Doa Iboe, Wanita itu terbang dengan sayap cahaya dan menembaki para Ra Sik dengan panah cahaya. Sedangkan para anggotanya melontarkan serangan untuk menjatuhkan Elg Divida.


Tiba-tiba terdengar suara yang mendarat di atap truk itu. Para tentara yang berada di belakang truk memulai menembakinya. Tetapi terdengar suara orang diantara suara keras tembakan itu.


"HEI HEI! INI AKU, IQBAL! BUKAN SERANGGA SIALAN ITU!"


Iqbal mendapat hujatan karena mengagetkan para tentara itu. Iqbal hanya ingin menengok kondisi adik kelas kesayangannya. Dia mendengar ada kekacauan di kota Surabaya dan merambat ke Sidoarjo. Sang kapten di kontrol pusat kota Sidoarjo juga memberikan perintah untuk mengawal sebuah kendaraan khusus yang akan melintasi kabupaten Sidoarjo.


"Aku akan menjaga kalian sampai akhir perjalanan!" ucap Iqbal dan duduk diatas atap truk itu.


Kendaraan itu melaju cepat dan melintasi kota Sidoarjo dengan damai. Setiap lampu merah diterobos agar segera sampai tujuan, kendaraan lain yang beroperasi juga dipaksa untuk memberikan jalan. Mereka akhirnya sampai di salah satu tempat ikonik di kota Sidoarjo, lumpur lapindo. Aroma lumpur tersebut masih terasa menyengat di kondisi pagi hari ini.


Terlihat dari kejauhan para Ra Elipd menembakkan beberapa meriamnya untuk menghentikan truk. Akhirnya Iqbal yang daritadi merasa bosan menjadi bersemangat, dia meloncat dan menahan meriam-meriam tersebut. Tebasan demi tebasan dia lakukan dan peluru meriam itu meledak diangkasa.


"Kita berpisah disini Amanda, Aurel! Semoga kalian selamat sampai tujuan!"


Entah ucapan Iqbal itu terdengar ke dalam mobil yang disertai suara meriam yang meledak itu. Iqbal dibantu dengan anggota geng Semar Mendem, geng yang menguasai kecamatan Tanggulangin. Mereka membantu karena berusaha melindungi wilayahnya, bukan karena adanya perintah. Sama seperti geng-geng sebelumnya.


Truk itu akhirnya keluar lagi dari medan perang dan berkendara dengan aman. Sesampainya mereka diperbatasan kabupaten Pasuruan, mereka disambut  oleh ketua OSIS dan wakilnya yang sudah berjaga disana, lalu mengawal sampai lokasi yang dimaksud. Perjalanan itu sudah memakan waktu sekitar 5 jam dan Amanda masih dalam kondisi pingsan.


"Akhirnya sampai juga!" ucap sang sopir yang mulai melambankan laju truk.


Truk itu berhenti di pinggir jalan. Amanda digotong oleh salah satu tentara ditemani oleh Aurel menuju ke dalam hutan. Awalnya Aurel ragu dengan tempat ini, hanya terlihat pohon-pohon tinggi dan ketika dia menoleh kebelakang, truk dan jalan raya itu sudah tidak terlihat. Jalan setapak ini juga jarang digunakan. Ketua OSIS dan wakilnya terlihat melintasi hutan itu diatas kepalanya kemudian mendarat di suatu tempat.


Sesaat kemudian, mulailah terlihat sebuah tempat yang luas dan banyak tenda berdiri disana. Para tentara dan pengendali berlalu-lalang menjaga tempat ini. Ketua OSIS bersama wakilnya itu datang dan menyapa Aurel.


"Kalian yang diutus untuk melakukan percobaan ini ya? Perkenalkan namaku Muhammad Saputro dan ini wakil ku, Randi Darkosoegondo."


"Salam kenal, Aku Aurel Cindrakasih dan yang digendong tentara itu, Amanda Laksana. Aku hanya menemani Amanda."


"Jadi begitu. Sekarang kalian beristirahatlah sejenak. Mereka sedang melakukan persiapan di dalam lab. Mari kuantar ke tenda kalian."


Saputro mengantar keduanya ke tenda istirahat mereka, sedangkan Randi mempersiapkan jamuan. Di tenda itu sudah terdapat sebuah sofa, sepasang kursi dan sebuah meja, diatas meja tersebut terdapat beberapa roti dan air minum. Amanda ditidurkan disofa itu, sedangkan Aurel duduk si seberang sofa itu dan mulai memakan apa yang sudah disediakan. Dia sudah menahan lapar semenjak di hotel tadi.


"Maaf kami tidak bisa memberikan yang terbaik." ucap Randi.


Aurel mengunyah roti itu dengan cepat dan menelannya, kemudian membalas ucapan itu, "Tidak apa-apa! Aku senang akhirnya bisa sarapan." Hampir saja dia tersedak dan meneguk air putih beberapa kali.


Randi yang melihat kondisi itu merasa bersalah, "Tenanglah sedikit, Aurel! Aku tidak memaksamu untuk berbicara. Nikmatilah sarapanmu, aku akan meninggalkan kalian berdua."


Aurel membalas itu dengan mengangguk karena mulutnya yang masih penuh air minum, setelah itu dia menelannya. Perutnya sudah tidak terasa perih lagi dan dia terasa puas, biarpun masih tetap khawatir karena Amanda masih belum siuman. Disaat seperti ini, dia bingung apa yang harus dilakukan.


Jemari Amanda tiba-tiba saja bergerak. Aurel yang mengamati hal itu langsung berusaha membangunkannya.


"Amanda! Bangunlah Amanda!"


Dia mengguncang tubuh Amanda sekali lagi, berharap bisa bangkit dari tidurnya. Amanda membuka matanya perlahan dan menatap Aurel dengan kondisi yang masih kelelahan.


"A-Aurel? Di mana ki-ta?"

__ADS_1


Aurel membantu Amanda untuk duduk.


"Kita sudah sampai di lab itu." dan Aurel mengambil roti untuk diberikan ke Amanda.


"Begitukah?"


Kepala Amanda masih terasa pusing dan berat setelah kecelakaan itu, kemudian dia bersandar di tubuh Aurel.


"Amanda? Jangan kembali pingsan lagi!" kata Aurel panik.


"Tenanglah, aku hanya setengah mengantuk."


"Kalau begitu, Mungkin sarapan bisa membuatmu terbangun." dan Aurel memberikan sepotong roti.


Amanda memakan roti itu dengan anggun dan masih bersandar di tubuh Aurel. Dia juga memandang situasi diluar tenda yang ramai oleh tentara dan para pengendali, sesekali mendengar dialog antar mereka. Suasana panas yang terasa menyengat biarpun mereka berdua didalam tenda.


"Aurel, terima kasih." ucapnya setelah menelan roti tersebut.


Aurel terkejut dengan ucapan itu yang entah darimana dan membalasnya dengan tenang, "Terima kasih kembali, Amanda."


Setelah terdiam sejenak, Amanda melanjutkan perkataannya, "Terkadang, apa yang dikatakan kak Iqbal ada benarnya. Kalau saja bumi ini tidak pernah diserang oleh Insectanon, kita bisa hidup damai tanpa perang."


Aurel tidak bisa membalas pernyataan itu.


"Mungkin saja, ini adalah takdir yang sudah diatur Tuhan. Atau malah, Mereka membiarkan kita terlantar seperti ini? Kalaupun bumi ini hancur dan manusia musnah, tidak ada bedanya untuk Mereka kan? Itupun kalau Tuhan ada."


Pertanyaan itu semakin membuat Aurel bingung meresponnya, "Amanda...."


Amanda menyadari kebingungan Aurel itu, "Oh, maaf Aurel. Aku sepertinya tertular kebiasaan mengeluhnya kak Iqbal."


Amanda hanya tertawa kecil, meskipun dia masih merasa muak dengan semua ini dan ingin semuanya segera berakhir. Dia menggantungkan kepercayaannya kepada teman setianya. Teman yang selalu berhasil menghiburnya ketika sedih dan senang jika melakukan sesuatu dengannya.


Saputro datang untuk menjenguk mereka berdua, sekaligus memberi tahu bahwa persiapan untuk mengunduh kristal itu sudah selesai.


"Apa kamu yakin sudah siap untuk melakukan pengunduhan? Atau mungkin kamu perlu istirahat lebih lama?"


Amanda menjawab tegas, "Aku sudah siap."


"Baiklah kalau begitu. Kepada Aurel, maafkan kami. Lab ini tertutup untuk orang luar dan hanya orang yang berkepentingan saja yang boleh kedalam." lanjut Saputro.


"Setidaknya aku bisa mengantarnya sampai pintu masuk kan?"


"Tentu saja."


Aurel percaya kepada Amanda kalau dia sudah sanggup menerima hal itu. Sebaliknya, Amanda juga yakin bahwa Aurel akan kembali menolongnya ketika ada apa-apa. Saputro mengantar mereka berdua ke tebing diseberang lapangan itu. Disana sudah terlihat Randi dan petugas penjaga lab.


Pintu besi yang besar terlihat jelas biarpun warna dan teksturnya tersamarkan di tebing jika dilihat dari jauh. Randi dan petugas itu memisah di pinggir pintu itu. Mereka berdua mengakses sesuatu dibalik tebing itu. Sebuah scanner bersama lubang kunci muncul dihadapan mereka dan mulai mengoperasikan benda itu. Dengan sebuah aba-aba, kunci yang mereka gunakan diputar bersamaan. Lalu pintu besi itu mulai terbuka perlahan.


"Mari, silahkan masuk." ajak Saputro kepada Amanda.


Amanda menoleh ke Aurel, "Ini tidak akan lama, tunggulah sebentar."


Aurel membalasnya dengan mengangguk kecil.


Randi, Saputro dan Amanda dikawal penjaga pintu itu masuk dan meninggalkan Aurel sendirian diluar. Aurel memutuskan untuk kembali ketenda dan beristirahat disana sembari menenangkan rasa khawatirnya. Dia juga terkadang bosan menunggu dan jalan-jalan disekitar lapangan itu.


Lorong besar itu berakhir dengan sebuah lift. Saputro dan Randi mengakses tombol identifikasi dan setelah itu pintu lift terbuka. Mereka masuk kedalamnya dan lift itu mulai turun. Beberapa saat kemudian dan lift itu berhenti. Pintu lift itu terbuka dan mereka keluar dari sana, mendapati penampakan laboratorium yang canggih.

__ADS_1


Berbagai macam penelitian yang berfokus pada kristal pengendalian ada disana, beberapa jenis Insectanon juga terlihat sebagai penelitian untuk mencari titik lemah, kekuatan unik, ataupun hanya mengamati tubuh biologis mereka. Mereka akhirnya sampai di ruang uji coba yang sudah disiapkan oleh para peneliti.


Salah satu peneliti mendatangi Saputro untuk melapor, "Persiapan untuk pengunduhan kristal sudah siap dan bisa dilakukan kapanpun!"


Saputro kemudian menghadap ke Amanda, "Kalau begitu Amanda, bisakah kamu ikut mereka?"


"Baik." balas Amanda tenang.


Amanda diantar oleh peneliti wanita ke suatu ruangan dan diberikan sebuah baju renang khusus yang sudah disiapkan. Baju renang ini didesain untuk menutup tubuh Amanda secara sempurna, kecuali tangan, kaki dan kepalanya. Dia harus menggunakan pakaian ini tanpa menggunakan pakaian dalamnya agar alat pendeteksi yang sudah terpasang bisa bekerja dengan normal.


Amanda memakai pakaian itu tanpa berpikir dua kali, dan setelah itu dia dibawa ke sebuah kotak kaca yang telah berisi air. Dia dipersilahkan untuk masuk dan memakai alat napas, sedangkan sang peneliti itu mulai memasang alat pendeteksi kondisi tubuh. Sang peneliti lainnya membawa kristal pengendali itu dan memberikan kepada Amanda, kemudian memberikan instruksi untuk memeluk kristal itu didadanya.


Randi melihat kondisi persiapan ini diruang pengamat menjadi ragu dan bertanya kepada Saputro, "Apakah harus seketat ini hanya untuk menginstal kristal pengendali itu?"


Saputro membalasnya dengan tenang dan tetap terfokus pada Amanda, "Persiapan ini sudah dilakukan oleh negara besar lainnya, dan kemungkinan selamat mereka sebesar 87,63%. Hanya saja kris--"


"Maksudmu, ada kemungkinan percobaan ini bisa membunuhnya?" potong Randi.


"Iya, terlepas dari kondisi kristal itu berhasil diunduh atau tidak. Dari laporan yang pernah kubaca dari negara Prancis, kristal itu berhasil diunduh, namun pengunduhnya meninggal. Di negara lain, kristal itu gagal untuk diunduh, namun pengunduhnya selamat." jelas Saputro dan dia memandangi Amanda dengan serius, "Dengan kondisi Amanda setelah pingsan seperti itu. Aku ragu." lanjutnya.


"Lalu, kenapa kau tidak melarangnya?"


"Ini adalah permintaan cewe itu, aku bisa melihat jelas dimata nya. Dia sebenarnya menolak hal ini, namun suatu hal telah memaksa cewe itu untuk menerimanya. Jadi dari awal, dia sudah ada tekad. Karena itulah, aku yakin dia pasti berhasil."


Randi kembali menatap Amanda, "Semoga saja prediksimu benar."


Para peneliti itu sudah saling memberikan instruksi dan memberitahukan bahwa persiapan kepada Amanda telah usai dan akan melakukan percobaan. Seperti petunjuk pengunduhan kristal pengendali pada umumnya, Amanda memejamkan matanya dan memeluk erat kristal itu. Dia membayangkan dua elemen yang sudah disebutkan oleh sang peneliti tadi, yaitu air dan angin.


Kristal itu mulai melebur perlahan dan memasuki tubuhnya. Detak jantung Amanda mulai meningkat, aliran darah semakin deras dan terjadi kenaikan suhu tubuh. Tubuhnya terlihat kejang-kejang ringan, menahan rasa sakit diseluruh tubuhnya. Amanda bernapas teramat cepat, kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan.


"Pengunduhan kristal berhasil mencapai 20%!" ucap salah satu peneliti bagian pengamat.


"Kondisinya masih stabil dengan peningkatan suhu tubuh menjadi 36 derajat selsius dan napas yang cepat! Detak Jantungnya meningkat sebesar 175 BPM!" imbuh peneliti lainnya.


Peneliti itu terus mengawasi setiap perubahan yang terjadi di tubuh Amanda.


"Pengunduhan kristal berhasil mencapai angka 80% dan akan melakukan mutasi!"


Permutasian dua inti elemen itu terjadi diawali dengan peleburan keduanya menjadi satu dan menciptakan ledakan kecil ditubuh Amanda, menghasilkan serpihan energi. Serpihan energi itu masuk ke pembuluh darah tersebar cepat ke dalam tubuh. Setiap sel didalam tubuh mulai merasakan adanya serangan dan mengaktifkan sel darah putih sekaligus sel pertahanan tubuh lainnya. Sel darah putih itu dirasuki serpihan energi tersebut sampai masuk ke nukleus dan mulai merubah tatanan DNA juga RNA.


Sel lain juga mulai diserang serpihan energi, dan mulai melakukan perubahan didalam DNA juga RNA nya. Hal itu membuat tubuh Amanda berguncang lebih kuat, detak jantungnya semakin kencang dan napasnya yang tidak teratur. Rasa sakit itu terasa di sekujur tubuh Amanda.


"Pengunduhan kristal 100% telah terunduh! Proses mutasi masih terus berlanjut!"


"Mutasi sudah mencapai angka 50%!"


Air disekitar tubuh Amanda terlihat berguncang kuat dan membuat pusaran air. Tiupan angin muncul dari arah Amanda dan mulai berputar disekitarnya. Kedua elemen itu mulai saling berputar bersama membuat sebuah perlindungan.


"Mutasi mencapai angka 90%!"


Kondisi tubuh Amanda sudah mulai menurun, detak jantung berkurang, napasnya memanjang, suhu tubuhnya kembali mendingin. Kesadarannya berangsur-angsur hilang.


"Mutasi telah 100% berhasil!"


Ucapan peneliti itu menghakhiri proses pengunduhan kristal. Namun Saputro dan Randi masih belum merasa lega. Mereka berdua masih menunggu pulihnya Amanda. Beberapa kondisi dilaporkan bahwa Amanda selamat, tetapi dia jatuh pingsan. Pelindung angin dan air tadi yang dibuat Amanda sudah kembali reda. Amanda segera ditolong oleh peneliti dan dibawa ke ruang lain untuk dirawat.


"Aku bisa membuat laporan tentang ini dengan lega." ucap Saputro.

__ADS_1


__ADS_2