
Suasana kota Sidoarjo malam ini terasa tenang dan sunyi. Reruntuhan kota sementara ini dibiarkan terbengkelai. Beberapa orang dari para pengendali dan militer terlihat berpatroli. Sebagian orang juga mengambil beberapa makanan dan minuman di mini market yang hancur. Setelah mengambil secukupnya, warga tersebut ada yang kembali ke pemukiman, ada juga yang kembali ke bungker.
Iqbal dan Amanda berhasil menemui sang kapten dan berbincang tentang Elg yang ahli dalam menggali. Mereka saling memberikan pendapat tentang bagaimana melindungi bungker itu karena sensor hanya mendeteksi guncangan yang dekat. Sedangkan, jenis Elg ini bisa menggali tanah tanpa membuat guncangan.
Teknologi pengamat gempa normal tidak bisa mendeteksi getaran yang dibuat Elg ini. Iqbal menyarankan untuk membuat gelombang seismik sebagai alat deteksi dari para pengendali tanah. Sang kapten menyetujui hal itu, tapi kebanyakan pengendali tanah tidak bisa melakukan hal itu dengan mudah. Kemampuan deteksi seperti itu hanya bisa diraih oleh pemilik Tier III keatas.
Kristal pengendali hanya bisa memberikan kekuatan setara Tier I dan II, sedangkan Tier diatas itu hanya bisa diraih dengan mutasi genetik natural. Lebih tepatnya, itu hanya bisa dilakukan ketika seorang bayi lahir dari salah satu maupun kedua orang tuanya yang sudah mengkonsumsi kristal pengendali.
Iqbal meminta daftar murid-murid pembawa "berkah" kepada sang kapten. Awalnya sang kapten kaget darimana Iqbal tahu kalau mereka punya salinan daftar tersebut. Iqbal mengatakan bahwa dia hanya asal tebak saja. Jika benar dugaan Iqbal, ada beberapa anak yang sudah melampaui Tier II, salah satunya Adrian. Sambil sang kapten mencatat murid yang memiliki Tier III dan diatasnya, Iqbal menghubungi Adrian dengan alat komunikasinya.
"A-Adrian? bisa kau mendengarku?"
Bukan Adrian yang menjawab, namun suara lain yang menjawab.
"Sepertinya Adrian masih di tenda perawatan. Ada apa kak Iqbal?" jawab Aisyah.
"Nur, Bisakah kamu menyuruh Adrian ke kontrol pusat? Aku perlu bantuannya."
"Maaf kak, aku tidak bersama Adrian sekarang, aku ada keperluan lain." dan Aisyah langsung mematikan alat komunikasinya.
"Nur? Halo, Nur?"
"Ada apa kak?" tanya Amanda.
"Apa gegara aku menghina Jonathan tadi ya, Nur jadi mengabaikanku? Amanda bisakah kamu memanggil Adrian?
"Baik kak." lalu Amanda bergegas pergi.
Beberapa saat kemudian, salah satu operator datang ke sang kapten dengan tergesa-gesa.
"Pak lapor! Keadaan darurat! Bungker sektor 15 terjadi penyerangan!"
Iqbal dan sang kapten mendengar hal itu kaget bersamaan, "APA?"
"Bungker sektor 23 juga berhasil dibobol!" lanjut operator lain yang menyusul.
__ADS_1
"Baik, aku akan kesana segera!"
"Aku akan membantu sektor 15 pak!" ujar Iqbal yang kemudian berlari meninggalkan tenda kontrol pusat.
Bungker sektor 15 yang pintu masuknya kebetulan dekat dengan tenda kontrol pusat. Iqbal bergegas kesana. Sesampainya disana, banyak warga yang berhamburan keluar dan tentara membantu evakuasi. Iqbal menerobos masuk keramaian itu dengan ruang dimensinya. Semakin masuk kedalam, semakin terdengar jeritan warga karena Insectanon berhasil membuat lubang di dinding bungker.
"Halo kontrol pusat? Aku sudah di lokasi! Aku akan menahan serangga sialan ini dan bersiaplah untuk menutup gerbang pembatas!" ucap Iqbal yang dilanjutkan dengan menghembuskan nafas panjang. "Tak kusangka aku akan bersikap ceroboh seperti Jonathan."
Iqbal membuat kapak kegelapannya tetapi tidak terlalu besar seperti biasanya. Dia membuatnya lebih padat agar bisa membunuh serangga itu. Jika hanya membuatnya kelelahan, mereka dapat bangkit seketika. Iqbal membanting kapak itu tepat di antara Insectanon dan warga yang berusaha kabur.
Guncangannya membuat Insectanon berhenti sejenak dan mengamati. Iqbal berhasil membuat jarak antara keduanya dan menyuruh para warga untuk segera kabur sebelum tempat ini diisolasi. Iqbal tidak menyangka tempat ini sudah terkontaminasi Elg Gware dengan jumlah yang banyak.
Iqbal menyeringai kecut, "Tak akan kubiarkan kalian lolos dari tebasan kapak ku!" ucapnya sambil mulai mengayun-ayunkan kapak itu.
Alat komunikasi mulai bersuara, "Warga sudah berhasil dievakuasi dan kami akan menutup gerbang pembatas! Apa kamu masih ingin tetap tinggal?"
"Iya, akan kuhabisi serangga sialan ini!" jawab Iqbal yang bersemangat dan langsung memutus kontak kemudian menyerang.
"Kembalilah dengan selamat." ucap salah satu operator yang sudah tidak didengar Iqbal.
Gerbang pembatas mulai tertutup perlahan sampai akhirnya tertutup sempurna. Iqbal yang mendengar bahwa gerbang tersebut tertutup sempurna kemudian memulai serangannya dengan tebasan horizontal dan menyayat Elg Gware seperti orang memotong rumput. Tebasan itu kuat dan cepat, kemudian bentuk kapak itu dirubah seperti sebuah tombak. Iqbal menarik tombak itu sejenak, mengumpulkan kekuatannya, dan maju menerobos kawanan Elg Gware.
Napas Iqbal mulai terengah-engah, "Tak kusangka mereka secepat itu mengeraskan kulitnya!"
Iqbal berusaha memikirkan langkah selanjutnya untuk menyerang. Yang membuat dia heran, kenapa cepat sekali kehabisan napas. Padahal dia hanya melakukan serangan yang masih belum destruktif. Lamunan Iqbal pecah seketika dengan kedatangan gelombang Elg Gware yang lain.
Iqbal berusaha tegar dan menunjuk kawanan Elg Gware, "Aku harus... membalaskan dendamku! Karena kalian, kehidupan damaiku terenggut! Dan yang paling parah adalah... KALIAN YANG MEMBUATKU KEHILANGAN SESEORANG YANG KUCINTAI!"
Tombak kegelapan itu dirubah kembali menjadi kapak dan segera mungkin dihantamkannya ke tanah. Tercipta sebuah zona kegelapan disekitar kapak itu dan muncul tombak kegelapan yang menusuk apapun diatasnya. Zona kegelapan itu bergerak maju, menusuk tubuh bagian bawah Elg Gware yang lemah. Serangan Iqbal harus cepat sebelum mereka berhasil mengeraskan kulitnya lagi.
Kapak itu sekarang ditebaskan secara vertikal keatas, membuat gelombang kegelapan yang dengan mudahnya memotong Elg Gware yang dilintasinya. Elg Gware kembali lagi berhasil mengeraskan kulitnya dan maju. Gelombang kegelapan Iqbal dengan mudahnya tertahan dan lenyap. Iqbal yang melihat itu kemudian loncat dan membanting kapaknya sekali lagi ke arah salah satu Elg Gware.
Dengan cepat dia menghapus properti padat kapaknya dan membuatnya menembus serangga itu. Tercipta gelombang kegelapan disekitar kapak itu dan melewati serangga lainnya. Seketika mereka roboh dan kehilangan minat menyerang. Sayangnya, kulit mereka masih tetap keras, sehingga Iqbal tidak dapat membunuhnya.
"SIAL! Kalau begini terus mereka tidak bisa kuhabisi!" keluh Iqbal yang ikut jatuh dan duduk bersila mengamati Insectanon. Iqbal melihat kedua telapak tangannya, "Kenapa juga tubuhku cepat kelelahan?"
__ADS_1
Beberapa alien yang berhasil dilumpuhkan Iqbal mulai bangkit perlahan, beberapa masih ada yang kembali roboh dan kesusahan berdiri.
Iqbal menyadari kejadian itu dan kaget, "Secepat itu? Ini kekuatan ku yang melemah atau regenerasi mereka yang cepat?"
Iqbal semakin heran dan bingung dengan kondisinya yang perlahan melemah. Kalaupun dia berniat kabur, serangga ini masih bisa menembus dinding lain dengan mudah dan melewati gerbang pembatas. Iqbal tidak menyangka akan membutuhkan bantuan untuk mengurus alien ini. Dia mencoba berkomunikasi, sialnya tidak ada sinyal. Iqbal akhirnya duduk pasrah ditengah kerumunan Elg Gware itu.
"Sepertinya ada sesuatu yang terlewat." pikir iqbal sambil mengamati para serangga berusaha berdiri. "Aku tidak melihat satupun Cere. Kemana mereka?" lanjutnya dengan berusaha berdiri.
Dia mengamati secara seksama lingkungan disekitarnya. Dinding beton yang retak, pipa-pipa yang patah, tiang penyangga hancur, para serangga yang berusaha bangkit, dan beberapa potong bangkai akibat serangan Iqbal sebelumnya. Sekarang dia memfokuskan pandangannya ke bangkai tersebut, tapi apa yang dicarinya tidak ditemukan.
Para serangga itu akhirnya berhasil memulihkan diri. Mereka masih sedikit kesusahan untuk berdiri, tetapi mereka mulai melancarkan serangannya dengan kedua capit yang menyerupai cakar untuk menggali. Iqbal menyadari serangan itu dan segera membuat ruang dimensi untuk menghindari sekaligus bersembunyi untuk sementara.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Kabur bukan pilihan. Kalaupun menyerang, sekarang kondisi mereka sudah agresif dan kekuatanku hanya bisa melemahkan saja. Belum lagi spesies Cere tidak terlihat daritadi. Kalau aku bertarung membabi-buta, sama saja bunuh diri. Aku harus pikirkan cara lain."
Iqbal mencoba lagi menggunakan alat komunikasinya, berharap ada sinyal dan meminta pertolongan. Semakin lama, penciptaan ruang dimensinya mulai melemah, dan dia mulai kehabisan napas.
"Ayolah! Kenapa tidak ada sinyal? Padahal tadi lancar jaya!" Iqbal mulai panik.
Ruang dimensi itu semakin mengecil, dan memaksa Iqbal keluar. Beruntung Insectanon sudah tidak ada ditempat itu. Terdapat bekas lubang baru di dinding bungker. Mereka menggali keluar dan melanjutkan menyerang tempat lain.
Iqbal bersyukur nyawanya tidak melayang hari ini. Namun dia tidak bisa bersantai-santai disini, dia harus mencari jalan keluar. Jika mengikuti lubang baru yang dibuat Elg Gware, Iqbal tidak ada bedanya dengan pergi ke kandang singa. Gerbang pemisah itu juga tebal dan kuat, tidak mungkin Iqbal mendobraknya.
Akhirnya Iqbal memutuskan untuk mengeksplorasi bungker ini. Pipa penyalur oksigen masih tersambung dan kipas angin masih menyala, membuat Iqbal tidak khawatir dengan bernapas. Iqbal mengikuti jejak dari bangkai hasil pembunuhan sadis yang dilakukan sebelumnya. Beberapa waktu kemudian, dia menemukan lubang yang digunakan Elg Gware di awal penyerangan.
"Mereka dengan mudah menghancurkan dinding itu? Sekuat apa cakar mereka coba?" Iqbal bergumam sendiri dan melanjutkan perjalanannya.
Sesaat kemudian tercium bau anyir dan beberapa bagian tubuh manusia. Iqbal mematung sesaat karena kaget. Alien itu berhasil memakan sebagian warga dan masih ada beberapa tubuh lagi yang terlihat di sekitar. Iqbal mencoba mengidentifikasi siapa tahu ada yang dia kenal dan berjalan perlahan menyelusuri.
Suasana tenang itu membuat Iqbal merinding. Nyawa manusia yang tercabut sia-sia seperti ini bukannya membuat roh mereka tidak tenang ya? Tiba-tiba terdengar suara keras yang sekali lagi mengejutkan Iqbal. Dia sudah bersiap dengan kapak ditangan kanan nya. Kalaupun hantu, dia bisa sedikit tenang, kalau yang lain dia harus bersiap bertarung lagi.
"A-ada o-rang disa-sana?"
Suara itu terdengar lirih dan terputus-putus. Iqbal langsung saja menuju asal suara itu. Dia berpikir kalau masih ada warga yang terjebak disini bisa diselamatkan. Langkahnya terhenti ketika dia menemukan orang itu tergeletak dan masih bernapas.
"Syukurlah! Kupikir disini hanya sekumpulan potongan mayat manusia saja!"
__ADS_1