School Life Project

School Life Project
All Hope is Lost : chapter 6


__ADS_3

--Beberapa jam sebelumnya--


"Iqbal, telpon mu berdering tuh." ucap Adrian yang sedang bersantai di lantai ruang OSIS.


"Eh? Tidak biasanya. Kira-kira dari siapa ya?" balas Iqbal yang mulai mengotak-atik ponselnya.


Iqbal membaca pesan tersebut, ternyata pesan dari ketua OSIS di Pasuruan. Dia heran kenapa bisa mendapat kontaknya dan melanjutkan membaca isi pesan tersebut. Ketua OSIS itu meminta pertolongan karena kekurangan pengendali yang dapat terbang untuk melawan Insectanon.


"Jadi, dari siapa itu?" tanya Adrian.


"Ketua OSIS dari SMA khusus Pasuruan. Dia memintaku untuk mengirim orang yang dapat terbang." jawab Iqbal lalu dia berpikir siapa yang cocok untuk tugas ini.


"Bukannya Jonathan bisa terbang? Atau mungkin Iris?"


Iqbal tidak membalas pertanyaan itu dan terus merenung.


Jonathan akhirnya tiba dari membeli... maksudnya mengambil beberapa minuman sekaligus membawa pesanan mereka. Dia melihat Iqbal sedang memikirkan sesuatu dan setelah menyadari kehadiran Jonathan, Iqbal langsung menatap tajam kepadanya.


"Ada apa?"


"Sebenarnya aku males menyuruhmu."


"Apaan sih? Ngomong yang jelas." dan Jonathan duduk sambil meletakkan bawaannya di meja. "Adrian, ada apa sebenarnya?"


"Jadi begini, Ketua OSIS SMA Pasuruan meminta Iqbal untuk membantunya menghadapi Insectanon di wilayahnya dan dia membutuhkan pengendali yang dapat terbang."


Iqbal bermonolog, "Aku justru penasaran bagaimana dia bisa mendapat kontak WU ku?"


"Kalau itu, mungkin karena tidak ada yang mengupdate informasi kita di grup WatsUp ketua OSIS se Jawa Timur. Jajaran ku seharusnya sudah dirubah ke jajarannya Amanda, sedangkan Rina yang biasanya melakukan hal itu." jelas Jonathan.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan mengirimmu kesana!" balas Iqbal dan mulai mengetik pesan.


"Kau... selalu seenaknya saja memutuskan."


"Terserah aku! Lagian aku yang ditunjuk sebagai pengganti Amanda untuk sementara! Daripada kau yang hanya kabur setelah kejadian itu." ucap Iqbal dengan nada meninggi.


Jonathan menggebrak meja itu dan berdiri kemudian membentak, "Kau pikir aku tidak menderita setelah mendengar bahwa aku membunuh Rina? Kau tau apa tentang perasaan?"


Iqbal juga berdiri dan membalasnya, "Itu karena kebodohanmu sendiri kan? Kalau kau tidak sebodoh itu, Insectanon tidak menjadi agresif dan menyerang warga! Rina tidak perlu repot-repot menyelamatkan orang bodoh sepertimu!"


Adrian mendengar cek-cok itu mulai bangun dan berusaha menenangkan mereka berdua, "Hei kalian, masalah itu jangan dibahas lagi. Padahal kalian sudah berhasil akur untuk beberapa jam tadi."


Jonathan dan Iqbal berucap bersamaan kearah Adrian, "DIAM GENDUT!"


Adrian merespon itu dengan tertawa bodoh.


"Baiklah, aku akan menerima permintaan ketua OSIS itu! Daripada aku harus bersama orang yang semena-mena ini!" dan Jonathan pergi dari ruang OSIS.


"Enyah kau, dasar pembunuh!" ucap Iqbal dan kembali duduk untuk mengurangi rasa marahnya.


"Kalian itu, masih saja bertengkar karena kematiannya Ri-"


sebuah tombak kegelapan milik Iqbal menghunus tepat di leher Adrian, "Diamlah. Biarkan aku menenangkan diri."


Adrian memegang tombak itu dengan tangan yang sudah dilapisi kristal dan menggesernya. Dia kemudian berdiri dan berucap tenang, "Sampai segitunya kah kau berusaha membungkamku? Mengancam teman sejatimu dengan sebuah senjata?"


"Jika itu bisa membuatmu diam." dan Iqbal diam sebentar.


"Baiklah, aku akan meninggalkanmu. Panggil aku jika kau butuh sesuatu." lanjut Adrian santai dan mengambil minuman dari kantung plastik yang dibawa Jonathan tadi, kemudian keluar ruangan.


Beberapa saat setelah Adrian cukup jauh dari ruangan itu, Iqbal menghela napas panjang. "Maafkan aku, Adrian, Nathan."


----------------------------------------------


Jonathan akhirnya sampai setelah memakan waktu satu setengah jam terbang. Dia mendarat disebuah Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) daerah Pasuruan. Disana sudah terlihat peperangan antar tentara, para pengendali melawan Insectanon terbang. Mereka spesies yang jarang sekali terlihat dalam penyerangan.


Spesies ini dipanggil Magia dan dibagi dalam beberapa jenis. Mereka yang berbentuk seperti lebah dengan ludah eksplosif disebut Magia Protomea. Gerakan terbang mereka lamban, namun kekuatan serang mereka sangat berbahaya. Mereka sudah menghancurkan beberapa bangunan disana. Untungnya serangan mereka masih belum menyentuh generator nya.


jenis lainnya yang mirip dengan lebah, tetapi lebih agresif dan memiliki abdomen yang ramping sekaligus panjang dengan sengat yang sudah termodifikasi agar bisa ditembakkan berkali-kali. Mereka adalah Magia Magnus. Mereka mengamankan Magia Protomea dalam melakukan penyerangan.

__ADS_1


Tidak hanya mereka, beberapa Ra Elipd dan Cere Grimlf juga mulai tampak. Mereka berdua juga mulai menyerang pembangkit listrik. para tentara dan pengendali itu dibuat kewalahan dengan serangan dari kedua arah.


"Jelas saja mereka perlu bantuan. Serangan Insectanon sudah semakin parah saja." ucap Jonathan dan mulai terbang.


Sayap api dikepakkan dan membuat sepasang pistol dikedua tangannya. Dia menuju ke arah kerumunan lebah dan tawon itu. Magia Magnus mulai menyerang Jonathan dengan peluru penyengat yang beracun. Jonathan menghindari serangan itu dan menembakkan dua peluru bersamaan. Peluru itu menyatu menjadi sebuah tombak yang berkobar, menusuk sekaligus membakar mereka.


Serangan Jonathan bisa ditahan oleh beberapa tubuh Magia Magnus sebelum menyentuh Magia Protomea. Kali ini Jonathan terbang semakin dekat sambil menembaki mereka. Timah panas yang dilayangkan Jonathan selalu saja tidak berhasil melukai Magia Protomea berkat Magia Magnus yang melindungi dengan tubuh mereka.


Jonathan berhasil mendekat dan kali ini dia menembakkan dua bola api besar. Bola api itu meledak di tengah perjalanan, membuat puluhan panah api yang siap menyerbu dan menukik tajam ke arah Magia Protomea. Selalu saja serangan itu digagalkan Magia Magnus dengan membentuk seperti perisai tubuh dan menahan serangan itu.


"Mereka ternyata sanggup menahan seranganku! Kali ini aku lebih serius!"


Jonathan mengumpulkan kekuatan apinya di ujung pistol sambil menghindari tembakan beruntun Magia Magnus. Sesekali ada yang berusaha menubruk Jonathan, tetapi Jonathan dengan mudahnya menghindari serangan itu. Kekuatan itu mulai tampak seperti bola api kecil yang semakin lama membesar.


Setelah dirasa cukup, Jonathan menembakkannya. Sebuah garis api yang meluncur cepat kearah Magia Protomea, disusul dengan ledakan dasyat dari pistol Jonathan yang membara. Ledakan itu menciptakan sepasang laser yang besar mengikuti garis api. Magia Magnus yang berusaha menahan serangan malah justru terbakar. Serangan itu akhirnya bisa menembus dan membunuh magia Protomea. Tubuh serangga itu tertembus dan meledak di udara.


Tubuh Magia Magnus yang selamat tiba-tiba menyala dan meluncur cepat ke arah generator. Jonathan berusaha mengejar mereka sambil menembakinya. Dia sadar apa yang ingin dilakukan serangga itu, yaitu bom bunuh diri. Peluru demi peluru menembus serangga itu dan membuatnya meledak diudara.


Tentara dan para pengendali berusaha menyerang serangga itu. Jumlah ratusan itu semakin lama semakin berkurang, namun tidak cukup cepat sampai tersisa beberapa ekor yang berhasil mendarat di generator dan meledakkan dirinya. Untungnya, generator itu selamat dari ledakan.


Hanya tersisa Ra Elipd dan Cere Grimlf yang menyerang lebih agresif. Mereka memaksa menerobos masuk wilayah PLTGU itu dan terus menembakkan senjata. Jonathan kali ini terbang dan menghujani para serangga itu dengan peluru api yang meledak jika tersentuh. Dengan mudahnya, dia membersihkan para serangga itu sendirian.


Para tentara dan pengendali itu bersorak bahagia, mereka berhasil mempertahankan PLTGU yang sangat krusial. Jonathan juga dihujani pujian oleh mereka karena berhasil menolong dari kekacauan tersebut. Hanya saja, sorakan itu hanya sementara, sebelum ada laporan lagi bahwa serangan lain muncul sebuah lokasi rahasia, tepatnya adalah laboratorium penelitian. Karena kondisi ini sangatlah penting, Jonathan diberitahu dimana lokasi tempat tersebut.


Jonathan kembali mengepakkan sayap apinya dan menuju lokasi yang dimaksud. Arah yang dituju yaitu kaki pegunungan Tengger. Dari kejauhan sudah tampak sejumlah Magia Protomea yang dilindungi ratusan Magia Magnus dan seekor Elg Blastea MK. Dia mulai membakar dirinya dan terbang lebih cepat.


Kobaran api ditubuhnya ditembakkan dengan cara berhenti mendadak ketika sudah sampai di lokasi tersebut. Kobaran itu melesat kearah lebah besar itu, namun seperti biasa, dihalangi oleh tawon berabdomen ramping dan panjang itu. Jonathan melihat sudah ada beberapa tentara dan pengendali membuat pertahanan untuk melindungi lab itu dari serangan Cere Grimlf. Dari sekian banyak orang dibawah itu, Jonathan mengenali satu orang yang tidak asing dan menuju kesana.


Dia mendarat tepat di sebelahnya dan langsung menyapa, "Aurel? Sedang apa kamu disini?"


Aurel sedang mengumpulkan energi untuk bersiap membuat tembakan sempat merespon, "Kak Nathan?" Kemudian Aurel menembakkan laser kegelapan itu kearah Elg Blastea MK.


"Mungkin sekarang saat yang tidak tepat untuk mengobrol." dan Jonathan kembali terbang melesat ke arah Elg Blastea MK.


"Eh? Tunggu Kak Nathan!"


Pistol api sudah bersiap ditangannya lagi dan Jonathan mulai mengumpulkan energi. Beberapa Cere Grimlf yang melihat hal itu, menyerang Jonathan dengan tembakan beruntun. Jonathan menyadari bahwa dia diserang langsung saja menyelimuti tubuhnya dengan sayap api. Timah panas Cere Grimlf itu tidak dapat menembus perisai sayap tersebut.


Dia kemudian membuka perisai apinya, dan bersiap menembak. Kedua pistolnya disatukan ditangan kanan dan tangan kirinya membuat bara api untuk menahan agar dia tidak terdorong kebelakang. Ketika pelatuknya ditekan, tembakan pistolnya membuat ledakan dasyat! Pistol itu memuntahkan semacam pilar api dengan sepasang energi api yang mengelilinginya! Bersamaan dengan itu, Elg Blastea MK juga mulai mengisi energi untuk menembakkan meriamnya.


Serangan Jonathan ternyata mendahului pengisian energi serangga besi itu dan masuk kedalam laras* meriam itu. Beberapa saat kemudian, ledakan besar terjadi dan menghancurkan kepala Elg Blastea MK. Para tentara dan pengendali itu mulai bersorak sekaligus kembali bersemangat. Musuh mereka yang tersisa adalah tiga ekor Magia Protomea yang didampingi ratusan Magia Magnus.


Jonathan mendarat lagi di dekat Aurel, "Aurel, aku butuh bantuanmu!"


"Baik! Apa yang harus kulakukan kak?" respon Aurel tegas.


"Laser kegelapanmu itu menarik! Mari lakukan serangan kombinasi!"


"Siap kak!" dan Aurel bersiap lagi dengan mengumpulkan kekuatannya.


Aurel menghadapkan tangan kanannya yang sudah terkumpul oleh kekuatan kegelapan, dibelakangnya ada Jonathan yang sedang memegang pundak dan mengalirkan kekuatan api yang kemudian bersatu di sekujur lengan kanan. Tangan kanan Aurel sekarang tampak terbakar dengan api Jonathan. Sebuah tepukan di pundak Aurel menandakan aba-aba untuk menembakkan lasernya.


Laser itu berbentuk spiral ganda yang berputar dengan ujung menyatu. Satu cabangnya berwarna ungu, satu cabangnya lagi berwarna merah. Ledakan beruntun juga terjadi disekitar laser itu. Seperti biasa, Magia Magnus menggunakan tubuhnya untuk melindungi Magia Protomea. Tetapi, tubuh mereka hangus terbakar oleh laser itu dan dengan mudahnya mencapai Magia Protomea kemudian meledak. Seluruh tubuh serangga itu terpecah sekaligus terbakar jadi abu.


Jonathan segera mungkin memadamkan api yang membakar tangan Aurel dilanjutkan meminta maaf.


"Aurel? Maafkan aku!"


Aurel yang menahan perih tangan kanannya, "Tidak apa-apa kak!"


Jonathan memanggil seseorang untuk merawat tangan kanan Aurel dan kembali bertarung diangkasa sendirian melawan dua ekor Magia Protomea. Magia Magnus yang tersisa dari Magia Protomea yang terbunuh tadi, menyebar dan berkumpul di Magia Protomea lainnya, membuat jumlah nya semakin terlihat banyak.


Jonathan bingung apa yang harus dilakukan, jika dia memaksakan kekuatan apinya, dia bisa membakar serangga-serangga itu, namun para tentara dan pengendali lain bisa terluka. Jika dia melakukan serangan serangan kecil, tidak ada dampak yang ditimbulkan dan hanya memperpanjang peperangan.


Tiba-tiba terasa gempa disekitar tempat itu, semua orang disana mulai panik. Pintu baja yang menghubungkan ke lab itu terbuka. Terlihat banyak peneliti yang keluar dan membawa laporan sekaligus beberapa kristal pengendali yang dibawa di sebuah kotak kayu yang sudah diisi jerami. Saputro dan Randi juga terlihat disana, mereka berusaha melindungi para peneliti dari suatu serangan.


Aurel yang masih dirawat dengan aliran air penyembuh oleh pengendali lain mendadak melesat kearah Saputro dan Randi.


"Kalian! Dimana Amanda?" bentak Aurel.

__ADS_1


"Cere Puroc berhasil masuk di lab dan menangkap Amanda yang dalam kondisi pingsan! Dia juga menggunakan Insectanon yang tidak pernah ada di buku untuk menyerang kami!" balas Randi panik.


Aurel tidak puas dengan penjelasan itu, "Lalu dibawa kemana Amanda?"


"Maaf, kami tidak bisa mendeteksinya karena serangan Insectanon ini." tambah Saputro yang waspada dengan Insectanon jenis baru ini.


Di pangkal lorong itu para Insectanon yang dimaksud Saputro muncul. Mereka memiliki kemampuan menggali yang setara dengan Elg Gware, hanya saja bentuk tubuhnya yang tegak dan gerakan mereka lincah, dua pasang tangan dengan empat jemari, berdiri dengan dua kaki dan sepasang sayap. Mereka tampak seperti belalang yang dimanusiakan.


Saputro melihat keadaan sekitar yang juga diserang oleh serangga terbang. Disatu sisi, dia melihat seseorang yang melayang dan bersikeras melawan serangga itu. Saputro menebak bahwa orang itu yang memenuhi permintaan tolongnya.


"Aku akan memanggil bantuan dan kita melakukan evakuasi!" ucap Saputro dilanjutkan dengan mencari tentara yang bertugas menyebarkan informasi.


Randi berusaha menahan Insectanon spesies baru itu agar tidak mengganggu para peneliti yang kabur. Tentara dan para pengendali mendengar berita yang disebarkan oleh petugas informasi dan mulai menyebar. Sebagian menggiring dan melindungi para peneliti agar sampai ke truk, sebagian yang lain menghalau serangan-serangan Insectanon.


Aurel masih merasa kesakitan dengan tangan kanannya dan tidak bisa berbuat apa-apa. Dia ingin sekali menyelamatkan Amanda dan membuatnya menangis. Randi tidak tega melihat hal itu dan menggiringnya ke tempat aman dan meminta untuk menyembuhkan tangan kanannya. Saputro menyelimuti tubuhnya dengan angin dan terbang menyusul Jonathan untuk menyapa sekaligus membantunya.


"Terima kasih telah mau menolong kami! Bantuanmu benar-benar sangat berharga!" puji Saputro.


Jonathan dibuat terkejut oleh suara itu, "I-iya, sama-sama!"


"Perkenalkan, Aku Muhammad Saputro, ketua OSIS dari SMA khusus cabang Pasuruan. Kalau--"


Jonathan masih terfokus untuk menyerang Insectanon terbang itu, "Bisakah kau membuat perkenalan ini lebih singkat? Namaku Jonathan, salam kenal!"


"Ah iya! Maafkan aku!"


Saputro memperhatikan Magia Magnus yang selalu saja menahan serangan Jonathan dan mulai ikut bertarung. Pisau-pisau angin mulai bermunculan disekitarnya dan melayang kearah para Serangga itu, serangan itu dihindari oleh mereka. Saputro menekuk tangan kanannya dan membuat gerakan menebas vertikal keatas, membuat pusaran angin yang sangat kuat dan mengacaukan posisi bertahan mereka.


Dia mengamati lagi bahwa mereka Magia Magnus masih tetap menghindar kalau diserang, namun mereka menumbalkan tubuhnya ketia Magia Protomea yang diserang. Dia kembali mendekat ke Jonathan.


"Jo... nathan ya? Aku punya sebuah ide yang bisa membuat mereka mudah diserang."


"Sungguh? katakan padaku!"


"Yang aku amati, kamu berusaha menyerang Magia Protomea kan? Aku bisa membuatkan celah yang membiarkan tembakanmu berhasil bersarang."


"Itu ide bagus, Namun--"


Tembakan sengat beracun itu melayang kearah mereka dan memaksa berpisah sesaat. Saputro langsung saja membuat pusaran angin layaknya seperti lorong dan membuat Magia Magnus kesusahan untuk terbang disekitar pusaran angin. Jonathan melihat kesempatan itu langsung mempersiapkan dua tembakan api yang melesat melewati lorong angin itu. Lorong angin Saputro itu juga mempercepat tembakan api Jonathan dan menembus Magia Protomea sekaligus membakarnya.


Kejadian itu membuat Magia Magnus berkumpul di Magia Protomea yang terakhir, jumlah mereka semakin menumpuk dan mempertebal pertahanan. Jonathan ingin memperingati suatu hal kepada Saputro, tapi selalu saja diganggu oleh tembakan beruntun mereka. Sekali lagi Saputro membuat lorong angin itu dan berhasil membuka celah, kali ini Jonathan membiarkan hal itu dan berusaha membunuh Magia Magnus terlebih dahulu, mengurangi jumlah mereka.


Saputro melihat hal itu menjadi jengkel dan mendekati Jonathan dengan perisai anginnya.


"Bisa dijelaskan kenapa kamu membiarkan seranganku begitu saja?"


Jonathan berusaha memberikan jawaban ditengah tembakan sengat itu, "Ah maaf, aku ingin mengatakan sesuatu tadi, tetapi mereka selalu memisahkan kita. Intinya, ketika tidak terlihat satupun Magia Protomea di zona perang, Magia Magnus akan melakukan bom bunuh diri kepada lawannya."


"Jadi kita harus memusnahkan mereka secara bersamaan?"


"Iya!"


Saputro berpikir apa yang akan dia lakukan selanjutnya dan pergi ke sisi di seberang. Dia melihat bahwa evakuasi sudah berhasil dan sejumlah truk itu beranjak pergi yang membuat lapangan itu kosong. Sebuah ide muncul dari benaknya dan dia mendarat tepat dibawah kerumunan serangga itu. Saputro mulai memfokuskan kekuatan dan masih berlindung di perisai anginnya.


Apa yang dilakukan orang itu? tanya Jonathan dalam hati.


Jonathan merasa tiupan angin yang semakin lama bertambah kencang. Angin itu berpusat di tubuh Saputro dan semakin melebar, membuat sebuah tornado! Jonathan berpikir sejenak sebelum memahami bahwa niat Saputro untuk membakar kawanan serangga itu. Namun ada resiko terbakarnya Saputro didalam kobaran api. Tidak ada jalan lain selain melakukan apa yang diinginkan Saputro!


Jonathan mengumpulkan kekuatannya lagi dan secepat kilat pistolnya terbakar. Kemudian dia menembakkan beberapa butir timah panas yang masuk kedalam tornado itu. Tornado itu seketika membara, layaknya pilar api yang menyala-nyala dan berputar. Tornado api itu berhasil membakar kawanan Magia Magnus secara perlahan dan mengurangi jumlahnya, sebelum akhirnya membakar Magnus Protomea.


Setelah Jonathan yakin bahwa serangga itu telah matang sempurna, dia segera memadamkan tornado api itu. Dia mendapati Saputro yang mengalami luka bakar disekujur tubuh, sebagian besar pakaiannya terbakar, bahkan rambutnya.


"SAPUTRO!" teriak Jonathan yang melesat ke lokasi Saputro yang roboh.


"Ternya-ta, pa-nas ju-juga di da-lam."


---------------------------------------------------


Laras : atau bisa disebut barrel*. Bagian memanjang dari sebuah senjata tempat melintasnya peluru.

__ADS_1


 


 


__ADS_2