
Aisyah's Point of View
Setelah bel pelajaran terakhir berbunyi, aku merapikan meja ku untuk segera meninggalkan kelas. Karena hari ini banyak waktu luang, jadi aku memutuskan untuk pergi ke ruang OSIS. Mungkin saja ada yang menarik disana. Kalaupun tidak, mungkin membaca novel sambil menikmati dingin nya AC sudah cukup. Kak Iqbal biasanya menaruh bebarapa novel menarik sebagai penelitiannya, atau hanya sebagai bahan bacaan. Di tengah perjalanan, aku bertemu dengan kak Adrian yang barusan meninggalkan ruang kelas nya.
"Eh kak Adrian, mau ke mana? Ke ruang OSIS juga kah?
"Iya nih, kamu juga mau kesana?"
"Iya, kebetulan aku melihat ada novel bagus di rak buku ruang OSIS. Cuman belum sempat membacanya karena sibuk. Kalau kak Adrian sendiri?"
"Diajak Iqbal main game barunya, katanya seru. Genre fighting gitu."
"Wih, asik tuh!"
"Kesana aja, katanya bisa multi-player juga. Mayan kan makin rame makin asik."
"Ok kak aku on the way kesana bareng deh."
Mendadak Adrian menyipitkan mata dan berkata, "Sepertinya tidak untuk sekarang."
"Kenapa?"
Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pundak ku, cukup mengagetkan juga. Setelah kutoleh, ternyata teman sekelas ku, Farida. Dia menemui ku untuk meminta bantuan untuk mengambil buku tulis yang sudah dinilai oleh pak Slamet, guru kimia. Apa boleh buat, aku berpamitan kepada kak Adrian dan bersama Farida pergi ke ruang guru.
Kebetulan juga pak Slamet sedang berada di mejanya sambil browsing sesuatu di laptopnya. Ketika kami mendekat ke meja pak Slamet, kulihat beliau telah menemukan laman tentang pelajaran kimia bab kesetimbangan. Mungkin saja pak Slamet mempersiapkan ujian harian, atau referensi. Semoga saja bukan untuk ujian dadakan.
Pak Slamet menyapa kami berdua dan memberi isyarat untuk membawa tumpukan buku milik kelas kami. Farida bertanya satu dua hal tentang nilai sebelum kemudian membawa tumpukan buku tersebut ke kelas.
"Untung aku tadi bertemu kamu Nur, bisa repot kalau sendirian. Bawa sedikit aja udah terasa berat."
"Kurang olahraga sih kamu, makanya gak kuat." balasku bercanda.
"Bukan kurang olahraga, emang bukunya yang berat. Kamu kan anak ekskul silat, jadi udah terbiasa bawa barang-barang berat. Aku pernah lihat latihanmu menggendong kakak kelas sambil berlari bolak-balik."
__ADS_1
"Hehehe, ketauan deh."
Setelah kembali ke ruang kelas dan menaruh buku-buku tersebut di meja guru, aku bergegas pergi ke ruang OSIS. Biarkan sisanya diurus dengan Farida dan teman kelas lainnya. Ajakan bermain game kak Adrian melayang-layang di pikiranku. Game pertarungan seperti apakah yang ditawarkan kepadaku. Dan tidak terasa langkah ku terhenti di depan ruang OSIS.
"Assalamuallaikum, permisi." sapaku sopan sambil masuk ke ruang OSIS.
"Wallaikumsalam." jawab sebagian dari mereka.
"Lah, ada kak Ketua dan Rina juga ternyata. Tidak biasanya... eh bukannya udah biasa ya? Kan Rina nempel terus ke kak Ketua mirip perangko." godaku kepada mereka.
"Kasih lem "UHU" Nur, biar makin nempel! hahaha!" sahut Iqbal dengan cepat.
"Di las aja kek nya lebih rapet." tambah Adrian.
"Ehem." Rina memberi peringatan pada kami semua.
"Waduh ngambek dia, hahaha! sini Nur dah ku siapin stick nya." ucap Adrian sambil menawarkan kursi.
Kemudian aku ikut bermain bersama kak Iqbal dan kak Adrian. Sambil sesekali mengamati kak ketua dan Rina lakukan. Kelihatannya mereka berdua serius sekali. Tapi biarlah, aku tidak mau ikut campur urusan mereka berdua, atau aku akan kena marah nya Rina. Mendadak aku ingin tahu tentang seseorang dan bertanya ke kak Iqbal.
"kak Iqbal."
"ya?" jawab Iqbal yang masih fokus dengan gamenya
"kira-kira Yunita kesini kah? Kan kak Iqbal sekelas sama dia?"
"Tadi sih aku tawarin dia untuk ke ruang OSIS, terus dia jawab 'mungkin' terus dia meninggalkanku."
"Seburuk itukah hubunganmu dengannya?"
"Dia anaknya pendiam sih, jadi susah ngajak ngomongnya. Biasanya aku sering bertemu dia di perpus, membaca beberapa novel sekaligus. Ketika aku duduk tepat di depannya, dia tidak terganggu sedikitpun, bahkan ketika aku pindah ke sebelahnya. Dia tetap asik dengan bacaannya."
"benar-benar dedikasi anak itu." sahut Adrian.
__ADS_1
"Setidaknya setiap rapat bulanan atau urusan tertentu tentang masalah OSIS, dia pasti datang. Lah kamu kan sesama cewe Nur, diajak bicara gitu gimana?"
"Yah... gimana ya..." sambil berpikir sejenak. "Dia ngeresponnya simpel banget. Cuman jawab iya dan enggak, atau geleng dan angguk kepala. Tanya aja sama Rina."
"Benar begitu Rin?" tanya Iqbal heran.
"Memang kenyataannya begitu. Tapi pekerjaan dia cukup bagus, setiap orang pasti ada sisi negatif dan positifnya. Jadi jangan terlalu di Judge berlebihan." jawab Rina.
"Mungkin sebenarnya dia hanya pemalu. Kita maklumi saja. Toh dia masih mau bersosialisasi, bahkan menjadi salah satu ketua divisi di OSIS sebagai bendahara. Jadi, tunggu tanggal mainnya sampai dia mau terbuka dengan kita." ucap Jonathan sibuk mengerjakan soal di buku biologinya.
"Hmm, tapi unik juga dia, mengajukan diri sebagai bendahara. Padahal dianya pemalu." respon Adrian.
"Justru itu kenapa aku pilih dia, berusaha menutupi kelemahannya dalam berinteraksi dengan cara bekerja yang bagus sebagai bendahara. Awalnya ku wawancarai alasan dia mengajukan diri. Dia selalu menjawab semua pertanyaanku dengan singkat." Jelas Rina.
"Selera mu unik juga Rin, hahaha." balas Iqbal.
"Aku menilai dia dari tekad kuatnya, dan cara bekerja nya. itu saja."
"Bagaimana dengan aku dan Adrian? Atau si tiang listrik anak basket? Atau si tukang peluk itu? Kita semua kan juga dari pilihanmu Rin." tanya Iqbal penasaran.
Rina mengamati kami yg sedang bermain game dengan pandangan sinis. "Jika kalian bertanya seperti itu, aku jadi ragu kalian punya niat jadi anggota OSIS atau cuman ingin gengsi."
"Hahaha, mungkin juga kita cuman cari gengsi, benar gak Rian? Kasih tau sedikit lah kenapa kamu milih kita berdua?"
"udah cukup kepo-nya, ganggu belajar saja." jawab Rina sambil memalingkan wajahnya.
"Ya elah, pelit amat, kita kan cuman pingin tau alasanmu milih kita. Setuju gak Nur? Hahaha."
"Rina, Rina. Jangan galak-galak gitu dong, kasian kak Ketu—"
"Ini tidak ada hubungannya dengan Jonathan!"
dimana situasi mulai cukup memanas, pintu ruang OSIS terbuka sekali lagi.
__ADS_1