School Life Project

School Life Project
Dark Past : chapter 1


__ADS_3

Rina Point of View


"Ingat ya Rina! Apapun alasannya, kamu tidak boleh membuat Nathan melakukan kegiatan fisik berlebihan!" tegas pak Budi.


'Yaya, terserahlah' ucapku dalam hati.


Kemudian aku pamit dari ruangan pak Budi dan kembali ke ruang OSIS. aku masih terpikir oleh perkataan beliau terkait sesuatu yang sengaja disembunyikan bahkan oleh para guru sekalipun. Tak terasa aku sudah berada di depan ruang OSIS dan pintu masuknya terbuka lebar. Ada apa ini?


Apa mungkin ini ulah mereka berdua lagi yang lupa mengunci ruangan? Dasar.... Kumasuki ruangan itu, dan kemudian menutupnya. Aku mencari dokumen tentang laporan terkait sebelum angkatanku masuk ke sekolah ini atau bahkan lebih jauh dari itu, yaitu ketika kami masih kecil.


Dari semua dokumen yang kubaca, tidak ada satupun kejadian yang menurutku terkait dengan hal di sembunyikan para guru. Mungkin aku perlu membobol ruangan kepala sekolah untuk mencari info. Tapi, apa harus separah itu rasa ingin tahu ku?


Sebaiknya aku menyerah untuk sementara karena Nathan sudah hadir disini. Seperti biasa aku membantunya belajar. Lebih tepatnya, memaksa belajar. Nilainya yang masih pas-pasan membuatku khawatir. Lagipula, dia kan ketua OSIS.


Nathan kebingungan melihat meja tengah yang terisi oleh tumpukan laporan dari lemari. Tanpa basa-basi aku suruh Nathan untuk membantuku membereskan dokumen itu. Setelah itu dilanjut dengan belajar dan aku menjadi gurunya. Ah... senangnya melihat wajah serius Nathan. hatiku menjadi berdebar-debar.

__ADS_1


Lamunanku terpecah ketika ponsel ku berdering. Siapa sih ganggu orang--  Iqbal ingin bertemu denganku di atap sekolah? Tidak biasanya. Setelah mengecek isi pesan di ponselku, aku bergegas meninggalkan Nathan dengan tumpukan bukunya dan mengarah ke atap sekolah. Sesampainya disana. Iqbal dengan wajah seriusnya menatapku.


"Rina, ada hal yang mau kusampaikan--"


"Kalau kau ingin menyatakan cinta, aku sudah punya Nathan." balasku cepat.


"Ahaha, langsung ditolak.... tapi bukan itu yang ingin kukatakan." ucap Iqbal dengan senyuman memaksa.


"Lalu?"


"Bukannya kita dilarang membicarakan hal itu?"


"Aku tahu, tapi baru-baru ini desas-desus tentang mereka mulai kembali. Beberapa hari sebelumnya aku mendapat laporan dari sekolah khusus cabang Malang. Ada salah satu desa yang--"


"Kenapa tidak mereka saja yang mengurusnya? Lagian itu wilayah mereka."

__ADS_1


"Justru itu Rina, mereka meminta pertolongan dari wilayah yang dekat dengan perbatasan. Mereka kehabisan personel."


"Apa sekolah khusus dari Pandaan tidak merespon?"


"Mereka juga sibuk untuk mengurus persoalaan mereka." ucap Iqbal sambil melirik ke arah lain.


"Kalau begitu, buat alasan yang sama. Enak saja kita--"


"Sudah kuduga kamu menolaknya mentah-mentah. Tapi, keputusan tertinggi kan dari Nathan?" ucap Iqbal menyeringai.


Si-sial! aku lupa. kalau Nathan mendengar ini, dia pasti menerimanya tanpa berpikir dua kali.


"Ti-tidak a-akan kubiarkan berita i-ini sampai ke telinga Nathan!" kemudian aku kabur kembali ke ruangan OSIS. Dari kejauhan aku mendengar teriakan Iqbal, "Cepat atau lambat, laporan itu akan datang dengan sendirinya, hahaha!"


Cepat atau lambat ya? berarti masalah ini tidak bisa dihindari. Aku harus mempersiapkan sesuatu, terutama untuk Nathan. Sekembalinya aku ke ruang OSIS. Nathanku tertidur pulas dengan tugas yang kuberikan sudah selesai, sebagian. Disatu sisi aku ingin membentaknya, tapi ini kesempatan langka untuk menikmati wajah tidurnya.

__ADS_1


Apa boleh buat, kubiarkan Nathan tidur sesaat.


__ADS_2