School Life Project

School Life Project
End of the World : Finale


__ADS_3

Aisyah Point of View


"Tak kusangka, Kak Iqbal ternyata ringan juga."


Kak Iqbal sepertinya tidak bisa meresponku. Dia teramat malu kugendong dipunggung seperti ini. Latihanku selama di ekskul pencak silat benar-benar membuahkan hasil. Kami berjalan menyusuri lubang dinding yang ditunjuk oleh Kak Iqbal sebelumnya. Dengan kekuatan cahaya, kan kumusnah-- maksudku memberikan penerangan.


Kuciptakan bola cahaya yang mengambang beberapa senti di depan dan berfungsi seperti lampu sorot. Bagian lain bola cahaya itu bersinar redup dan membuat lingkungan sekitar kami menjadi lebih terang. Berjalan perlahan dan penuh waspada, aku berharap cahayaku tidak membuat perhatian para serangga itu.


Kak Iqbal akhirnya bersuara setelah terbungkam beberapa menit, "Nur, sekali lagi terima kasih ya."


Aku menjawabnya tanpa menoleh ke Kak Iqbal, "Iya kak, sama-sama! Kita sesama manusia kan memang seharusnya saling tolong-menolong!"


"Benar juga sih." dan Kak Iqbal kembali membisu. "Sebenarnya ada sesuatu yang--"


Kalimat Kak Iqbal terputus oleh suara gemuruh dan mengguncang terowongan ini. Guncangannya cukup kuat dan meruntuhkan batuan di atap terowongan. Aku berusaha menyeimbangkan badan agar tidak jatuh. Sekian menit terlewati dan guncangan tersebut berangsur-angsur melemah dan mereda. Untung saja gempa kecil tadi tidak menutup jalan kami.


"Firasatku mengatakan akan ada hal yang menyusahkan setelah ini." ucap Kak Iqbal yang menoleh kebelakang.


"Ketika itu terjadi, Aisyah sanggup kok berlari sambil menggendong Kak Iqbal!" jawabku semangat.


"Hahaha, kau memang bisa diandalkan dalam situasi seperti ini!"


Kami lanjutkan perjalanan di terowongan ini. Sampai di suatu persimpangan dan membuat kami kebingungan untuk memilih jalan.


"Nur, bisa kamu kuatkan lagi pencahayaanmu?"


"Tentu saja, tapi bukannya itu beresiko?"


"Sebentar saja kok."


Aku mememjamkan mata dan berfokus untuk membuat cahaya yang lebih terang. Entah apa yang dilakukan Kak Iqbal dengan pencahayaan ini.


"Bagaimana kak?"


Kak Iqbal masih belum merespon pertanyaanku. Bola cahaya didepanku terlalu terang untuk dilihat secara langsung. Beberapa saat kemudian, Kak Iqbal menepuk pundakku dan berkata "Oke, kamu bisa meredupkan bola cahayanya." Bola cahaya itu mulai kuredupkan dan aku kembali membuka mata. Penasaran dengan apa yang dilakukan, aku bertanya kepada Kak Iqbal.


"Tadi kakak ngapain? Sampai harus minta penerangan tambahan?"


"Aku mengamati jejak Elg Gware yang menggali persimpangan ini. Siapa tahu salah satu dari jalan ini bisa mengarahkan kita keluar."


"Terus, lajur mana yang kita ambil?"


"Sebelah kiri terdapat galian yang mereka buat lebih besar. Berarti mereka membutuhkan banyak personel untuk menembus bungker sektor lain. Sedangkan di sebelah kanan terowongannya lebih kecil. Mereka pasti membuat itu untuk bersatu dengan grup yang lain."


"Jadi kita memilih yang mana?"


"Kupikir arah kiri bisa mengantarkan kita mendekat ke pintu keluar, karena kita kembali ke arah bungker."


"Oke!"


Aku yakin pilihan Kak Iqbal pasti sudah dipikirkan dengan matang. Aku mengarah ke lajur yang dipilih oleh Kak Iqbal. Terowongan ini memang lebih besar dari sebelumnya. Bekas-bekas galian oleh cakar mereka masih terlihat jelas. Aku mulai untuk berjalan lagi.


Ditengah perjalanan, goncangan susulan terjadi lagi. Kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Kak Iqbal dengan kekuatan sisa, membuat semacam dinding untuk melindungi kami dari jatuhnya bebatuan dari atap. Semakin lama goncangan itu semakin parah dan melongsorkan atap galian dan menutup akses didepan. Lalu goncangan itu berhenti.


"EH? Kita terjebak! Padahal tinggal sedikit lagi!" ucapku dan berusaha positif, padahal aslinya didepan tidak terlihat apapun. "Bagaimana ini Kak?"


Kak Iqbal tidak merespon pertanyaanku. Dia bahkan meminta untuk diturunkan. Aku turuti permintaannya. Kak Iqbal sekarang melihat jalan dibelakang kami. Ada sesuatu hal yang menarik perhatiannya.


"Kak, ada apa?"


Dia masih belum merespon. Aku memutuskan untuk mengamati apapun itu yang membuat Kak Iqbal menjadi terdiam seperti ini.

__ADS_1


"Hei ka--"


"Psst, tenanglah sebentar Nur."


Oke, ini benar-benar menjengkelkan. Kak Iqbal membuatku semakin penasaran apa yang diamatinya daritadi. Bola cahayaku tadi kuarahkan kebelakang, terlebih lagi kulayang kan menyusuri terowongan belakang kami. Bola cahaya tadi terbang dengan cepat dan tidak ada apapun disana.


"Tidak ada apapun disana kak. Apa sih yang kakak khawatirkan?"


"Kau bisa lihat sendiri." sambil dia menunjuk kearah bola cahayaku.


Bola cahayaku, lenyap? Bukan, sepertinya ada yang menyerang dan menghancurkan bola itu. Aku dan Kak Iqbal mulai waspada terhadap apapun itu yang datang kemari. Di belakang kami, terdapat gundukan batu yang memblokir jalan keluar. Di depan kami, terdapat apapun itu yang mulai mengintai kami. Fix, kami benar-benar dalam kondisi darurat!


Sekali lagi aku membuat bola cahaya untuk menerangi sekitar kami, tetapi tidak seterang sebelumnya. Aku mempersiapkan cabang cahaya dan memasang kuda-kuda. Kak Iqbal menoleh kepadaku sebentar kemudian kembali memandang pangkal terowongan gelap itu. Apapun itu yang akan datang, aku harus bersiap.


"Kau berpikir hal yang sama denganku?"


"Maksud kakak?"


"Hal yang kita selalu pertanyakan itu. Sekarang berada didepan kita!"


Tidak mungkin! Cere Puroc? Disaat seperti ini? Tidak, tidak, tidak, TIDAK! Spesies itu adalah hal terakhir yang tidak ingin kujumpai, apalagi dalam kondisi seperti ini. Mendengar kemunculannya saja sudah berhasil membuat badanku merinding, kakiku mulai bergetar, dan keringat dingin bercucuran. Nyali bertarungku seketika menciut dan rasanya aku ingin kabur dari sini.


Benar saja, dari kejauhan tampak dua pasang mata merah yang mengerikan. Tatapannya yang tajam bisa terasa biarpun kami masih saling berjauhan. Langkah kakinya memang tidak terdengar jelas, namun serangga itu semakin lama semakin mendekat. Aku berniat untuk langsung menyerang tanpa pikir panjang, tapi Kak Iqbal menjulurkan tangannya seraya melarangku.


"Aku tahu kamu ketakutan, Nur. Tapi jangan bertindak gegabah. Tenanglah."


Tenang? Kak Iqbal kalau bercanda keterlaluan! Mana mungkin aku bisa tenang setelah mendengar kalau alien ini datang. Namun apa yang dikatakan Kak Iqbal ada benarnya. Sikap positifku terasa hilang sejenak daritadi. Aku mengambil napas panjang dan menghembuskannya. Kulakukan itu berulang-ulang untuk bisa menenangkan diri.


(Bahasa sudah diterjemahkan) "Kalian manusia bumi memang merepotkan ya!"


Suara apa ini dan darimana asalnya? Jelas sekali ini bukan suara Kak Iqbal. Sebaiknya kutanyakan langsung untuk memastikannya.


"Kak Iqbal, kakak mengatakan sesuatu?"


Jika Kak Iqbal berbicara seperti itu, jelas bukan dia yang bersuara. Aku tidak tau apa yang terjadi dan dua pasang mata itu mulai menampakkan tubuhnya. Seekor serangga besar berbadan tegak dengan tubuh bawah yang memanjang seperti makhluk mitologi centaur, berdiri dengan tiga pasang kaki.  sepasang tangannya bersilang, sedangkan sepasang lagi dalam kondisi rileks.


Sekali lagi aku mendengar suara itu.


"Kenapa kalian mahkluk lemah selalu berhasil melawan kami?"


Suara itu terdengar seperti suara desisan. Aku dan Kak Iqbal dibuat kebingungan dengan suara ini. Adakah arti dari desisan tersebut? Anehnya lagi, suara itu bukan dari mulutnya, tetapi langsung terdengar seperti sebuah bisikan yang masuk kedalam telinga. Seperti kamu sedang berbicara dalam hati.


"Kalian akan kuampuni jika berhasil menghiburku." Suara desis itu terdengar lagi dalam hati.


Salah satu tangannya bergerak ke pergelangan tangan lainnya, mengoperasikan suatu benda. Beberapa saat, muncul gambar yang melayang di udara layaknya proyektor. Gambar itu kemudian terealisasi menjadi sebuah kristal. Aku tidak asing melihat bentuk dan warna kristal itu. Apakah itu kristal pengendali? Mereka juga memilikinya? Bagaimana bisa?


Kemudian alien itu mengambil kristal tersebut dan melemparkannya kepada kami. Entah kenapa kami malah menangkap kristal itu tanpa berpikir dua kali. Kak Iqbal melihat kristal yang ditangkapnya kemudian menatap mahkluk bermata empat itu.


Kak Iqbal menoleh kepadaku perlahan. "Aku pikir dia ingin sebuah hiburan."


Apa maksud dari perkataan Kak Iqbal? Hiburan macam apa yang diharapkan alien itu dari kami berdua? Melawak seperti stand-up comedy? Melakukan gerakan akrobatik? Kulihat keseriusan di wajah Kak Iqbal sambil menggenggam erat kristal pengendali itu. Mungkinkah hiburan yang dimaksud adalah bertarung melawannya?


"Dia ingin mencoba kekuatan kita dengan kristal pengendali ini."


Kita berdua melawan serangga ini? Tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan sekarang. Aku dengan mudah kabur melewati serangga ini, tetapi bagaimana dengan Kak Iqbal? Setelah mengkonsumsi kristal pengendali dan mengembalikan kekuatannya, Kak Iqbal mungkin bisa kabur dengan ruang dimensinya. Sepertinya itu ide yang bagus.


Aku berbisik pelan kepada Kak Iqbal, "Kak, aku punya ide! Bagaimana kalau setelah kita menggunakan kristal ini, kita kabur? Kita tidak mungkin melawannya biarpun berdua."


"Justru itu yang kuragukan, bagaimana jika kristal ini sudah dicampur sesuatu sehingga tubuh kita keracunan ketika berada jauh darinya atau hal lain? Dia memberikan kristal ini dengan sebuah alasan tersembunyi kan?"


Benar juga apa yang dikatakan Kak Iqbal. Kita juga tidak bisa mengkonsumsi kristal ini semudah itu. Siapa tahu kristal yang diberikan oleh serangga itu memiliki efek samping yang dapat membunuh kita? Bagaimana jika dia mengontrol sesuatu setelah kita menggunakan kristal ini? Aku jadi ikutan bingung!

__ADS_1


Cere Puroc itu mulai menggerakkan ke empat tangannya, melakukan gerakan meremas berulang-ulang. Iqbal mulai panik dengan gerakan itu, "Hei Nur, sebaiknya kita menuruti apa yang dia mau sebelum serangga itu marah."


Aku mengangguk, "Ba-baiklah."


Kristal itu kami taruh di dada masing-masing dan dengan mudahnya terserap kedalam tubuh. Kurasakan aliran kekuatan yang meningkat drastis dan membuatku merasa bersemangat. Kak Iqbal juga terlihat demikian, padahal tadinya dia loyo seperti terkena anemia. Aku tidak merasakan sesuatu yang ganjil dengan kekuatan kristal ini. Berharap saja tidak ada efek samping untuk beberapa waktu kedepan.


Kak Iqbal yang sudah kembali bersemangat, langsung menciptakan kapak kegelapannya dengan kondisi transparan seperti biasa. Cabang ku yang tadi redup sekarang bersinar lebih cerah. Cere Puroc itu melipat sepasang tangannya lagi. Sepasang tangan satunya lagi sudah bersiap untuk menerima serangan kami.


"Aku akan membuatnya melemah seperti biasa, kamu bisa menyerangnya dengan leluasa setelah itu." ucap Kak Iqbal dan mulai mengambil kuda-kuda.


Aku mengangguk lagi dan menunggu aba-aba dari Kak Iqbal. Dia membuka serangannya dengan menghantam kapaknya secara vertikal secara cepat. Cere Puroc itu dengan santainya menggeserkan tubuh besarnya itu untuk menghindar. Tak hanya berhenti disitu, Kak Iqbal langsung saja mengayunkan kapaknya dengan cepat dan membuat tebasan melebar ke arah serangga itu. Namun serangga itu meloncat kebelakang dan sekali lagi berhasil menghindari serangan.


"Badan sebesar itu tapi dia bergerak lincah sekali!" keluh Kak Iqbal.


Serangan pembuka Kak Iqbal tidak berhasil dan sekarang giliranku. Mengincar kakinya mungkin bisa membuat alien itu berkurang pergerakannya. Aku melompat cepat kearahnya dan tepat berada di sebelah kanan alien itu. Kubuat tebasan cahaya yang menukik ke salah satu kakinya. Dengan jarak sedekat itu seharusnya dia tidak bisa menghindar. Tetapi dia berhasil menghindari serangan cepatku.


Aku melanjutkan seranganku dengan tusukan beruntun yang berharap dapat melukai kulit yang terlihat keras itu. Tak diduga, dia menangkap cabangku dengan mudah dan terpaksa aku melepaskan senjata dan loncat menjauh. Tidak lupa dengan ledakan cahaya untuk membutakan matanya. Ketika sukses mendarat, aku membuat cabang cahaya lagi.


Cere Puroc menutupi matanya karena silau. Kilatan cahaya benar-benar efektif melawan serangga. Kak Iqbal yang melihat peluang itu langsung mengayunkan kapaknya sekali lagi. Anehnya, kapak transparan itu terhenti oleh tangan Cere Puroc. Alien itu menahan serangan Kak Iqbal tanpa melihat darimana arah serangannya datang!


Kak Iqbal dan Aku mengambil jarak yang cukup jauh, mendekat ke reruntuhan batu dibelakang. Dia terheran-heran dan mengamati kapak transparannya.


"Tidak mungkin serangga itu menahan kapakku! Kapak ini seharusnya bisa menembus apapun!"


Kak Iqbal mencoba mencelupkan senjatanya itu ke tanah dan dengan mudah menembusnya. Dia semakin heran dan bingung ada apa dengan kekuatannya. Apakah serangga itu terlalu kuat sampai senjata Kak Iqbal berhasil ditahan dengan mudahnya, bahkan tanpa melihat?


Kondisi Cere Puroc itu mulai pulih. Efek kilauan cahaya yang kubuat sepertinya sudah habis. Sebelum alien itu menoleh kemari, Kak Iqbal secepat mungkin merubah kapaknya menjadi tombak yang panjang dan segera menusuknya dari jauh. Sekali lagi serangan itu tertahan di tangannya dan membuat Kak Iqbal kembali melongo atas kejadian itu.


Aku berusaha menahan tawa melihat ekspresi Kak Iqbal yang lucu itu karena sekarang waktunya serius. Kak Iqbal melenyapkan tombaknya dan giliranku sekali lagi untuk menyerang. Aku bergerak cepat mendekatinya dan bergerak secara acak disekitar untuk membingungkannya. Serangga itu berdiri dengan tenang tanpa menolehkan kepalanya sedikitpun. Sesaat kemudian, serangan menusuk cepat dari udara yang kutujukan pada punggungnya dan alien itu memutar seluruh tubuhnya, menangkap lagi cabang cahayaku dengan bonus layangan tinju yang tidak kusadari.


Tinju itu bersarang tepat di wajah, tepatnya di pipi dan membuatku terpental sampai menabrak dinding terowongan dengan keras. Cabang yang ditangkapnya dengan mudah dilenyapkan.


Kak Iqbal langsung berlari kearahku, "Nur!" Dia berusaha menggotongku dan membantuku berdiri. "Kamu tidak apa-apa?"


"Te-tenang saja Kak! Ini masih belum seberapa kok!"


Biarpun aku mengucapkan itu, tapi rasanya rahangku retak. Kenapa aku bisa tidak menyadari serangannya padahal aku secepat ini? Aku bisa melakukan hindaran biarpun kondisi melayang, tapi pukulannya lebih cepat dari gerakanku. Wajar saja seranganku dideteksi dengan mudah olehnya.


Kak Iqbal mulai menampakkan ketakutannya, "Kalau begini terus, kita hanya seperti samsak hidup baginya!"


"Bagaimana kalau kita serang dia bersamaan?"


Kak Iqbal mengangguk pasrah dan kemudian melepaskanku. Kak Iqbal menciptakan kapaknya dengan atribut padat dan membuat ruang dimensi dibawah alien itu untuk serangan susulan. Aku yang berhasil berdiri dan kembali ke posisi kuda-kuda, sekali lagi meloncat dan bergerak acak disekitarnya. Kak Iqbal melemparkan kapak tersebut dan menggunakan ruang dimensi alien itu untuk menghunuskan puluhan tombak. Gerakan acak yang kuperagakan itu kututup dengan tebasan cahaya vertikal dengan puluhan cabang yang melayang kearahnya dan menghasilkan ledakan.


Ledakan itu menimbulkan asap tebal yang menutupi Cere Puroc dan sekaligus menggetarkan terowongan. Aku harap tidak terjadi longsor susulan. Asap yang menutupi Cere Puroc itu berangsur-angsur berkurang dan kami bisa melihat hasil serangan yang kami buat. Kapak yang dilempar Kak Iqbal dipegang dengan santainya, puluhan tombak itu tidak satupun yang berhasil menembusnya, ledakan cabang cahayaku dan tebasan cahaya tadi tidak menggores kulitnya yang masih terlihat mengkilat.


Sepertinya ada yang salah dengan makhluk ini! Dia terlalu kuat! Siapapun yang berhasil mencatat kekuatannya di buku sejarah pasti belum pernah melawan Cere Puroc secara langsung! Aku dan Kak Iqbal mulai gemetaran. Kekalahan kami jelas sudah didepan mata, serangan kami tidak berhasil membuat luka ataupun menggoresnya.


Tiba-tiba suara desisan itu terdengar lagi dalam hati, "Inikah kekuatan yang kalian bangga-banggakan? Kalian manusia bumi masih terlalu awal untuk melawan kami!"


Suara desisan itu terdengar keras dibagian akhir. Aku masih bingung apa arti dibalik desisan itu. Daripada memikirkan hal itu, sebaiknya aku fokus terhadap Cere Puroc yang sudah berada tepat didepanku. Satu pukulan hangat menyapa perutku dan berhasil membuatku muntah darah. Rasa sakitnya membuatku bertekuk lutut bahkan sampai berbaring di tanah.


Kulihat juga Kak Iqbal yang dengan mudahnya dilontarkan seperti sebuah kapas yang tertiup angin dan menabrak bongkahan batu itu. Untungnya tumpukan batu itu tidak memendam Kak Iqbal dan sepertinya Kak Iqbal dibuat pingsan oleh serangan itu. Cere Puroc itu kembali lagi kearahku dan mengangkat sekaligus mencekikku.


Suara desis itu terdengar lagi, "Aku akan mengakhiri hidup--"


Terdengar suara gemuruh dari arah bongkahan batu itu yang secara spontan bergerak memisah, seperti terbelah. Tembakan timah panas melesat kencang dari celah yang terbuat di bongkahan batu itu kearah Cere Puroc tetapi dengan mudahnya ditangkap. Peluru itu terbuat dari api dan membakar tangan Cere Puroc, namun kulihat dari ekspresi wajahnya, dia tampak tidak kesakitan.


"Aisyah! Iqbal!"


Ah, suara itu... suara yang daritadi kuharapkan akhirnya datang!

__ADS_1


 


 


__ADS_2