
Aisyah Point of View
"Nur, Nathan mana?" Iqbal yang tiba-tiba bertanya padaku.
"Sepertinya tadi ke ruangan pak Indra lagi. Ada apa kak?"
"Ya udah, tolong nanti ini kasihkan ke Nathan. Aku mau balik dulu ya." sambil menyodorkan beberapa kertas berisi catatan.
"Siap kak, hati-hati di jalan ya."
Sekarang apa isi dari laporan ini ya? Kalimat demi kalimat kucermati dan hasilnya mengejutkan! Hadir lagi para Insectanon ke dunia ini. Alien yang pernah menyerang bumi lima puluh tahun itu dan seharusnya mereka sudah berhasil dilenyapkan. Media masa masih belum berani menayangkan berita ini, tetapi informasinya sudah menyebar ke seluruh sekolah khusus.
Aku paham sekarang kenapa kak ketua sering ke bertemu pak Indra akhir-akhir ini. Ini masalah yang berat juga kalau sampai tersebar ke telinga masyarakat. Bakal ada kekacauan yang tidak diinginkan nanti. Aku penasaran langkah apa yang kak ketua ambil untuk mengatasi hal ini.
"Nur, belum pulang?" Kehadiran kak Adrian membuatku kaget.
Mataku melirik kesana-kemari sembari membalas, "Eh, itu, aku menunggu kak ketua. I,iya... menunggu kak ketua, hehehe."
"Hmm, Aku paham kamu berusaha sebaik mungkin untuk menggantikan Rina. Jangan dipaksakan ya." kemudian Adrian duduk di mejanya.
"Tenang saja kak!" Balasku bersemangat.
"Oh iya, aku sudah mendapat nama para calon pendaftar anggota OSIS. Berhubung kamu terlalu sibuk, aku yang urus ini ya." sambil menunjukkan kertas berisi nama calon anggota OSIS.
"Siap kak, makasih lho!"
__ADS_1
Suasana sore di ruang OSIS ini benar-benar sepi. Semua sudah kembali ke rumah masing-masing. Aku berada disini bersama kak Adrian yang asik mengerjakan sesuatu. Beberapa saat kemudian, kak ketua masuk ke ruangan dan duduk ke kursinya, Lalu mengeluh sambil meletakkan kepalanya di meja.
"Aaaaaahhh! Kenapa ini harus terjadi di saat aku menjabat ketua OSIS?! Kenapa takdir begitu jahat padaku?!"
"Sabar kak sabar, ini semua ujian. Tuhan tidak memberi cobaan yang berlebih pada makhluknya kok."
"Tapi bagiku ini berlebihan!"
"Berhubung kamu disini, aku sudah dapat calon-calon penggantimu nih!" Sela Adrian.
Jonathan bangkit dari Tempat duduknya dan segera menuju ke meja Adrian. Aku disini hanya senyum saja melihat mood kak ketua berubah drastis. Sampai-sampai aku sengaja menyembunyikan laporan yang seharusnya kuberikan. Rina pasti berpikir hal yang sama.
Wajah Jonathan terlihat sebal setelah melihat nama-nama calon anggota OSIS.
"Apa?"
"Kenapa semuanya nama cewe?"
"Emang kenapa?"
Jonathan mengerutkan dahinya, "Kita tidak membuat ruang OSIS jadi Harem kan?"
"Tidak, kamu aja yang berhayal aneh-aneh. Lagian, kita kan lulus setelah itu. Jadi ruang OSIS diisi semua cewe juga tidak masalah kan?" jawab Adrian santai.
"Kamu masih sadar kalau ada Dwi di anggota kita kan?"
__ADS_1
"Tentu. Teru--"
"Coba cari calon cowo lain kek!"
Adrian mengeluarkan argumennya, "Tapi mereka semua kompeten lho. Nilai dan attitude nya bagus!"
"Haaa, kamu ini. Ada nama calon lain? Ini kan yang berdasar pilihanmu."
Adrian memberikan kertas yang berisi calon anggota OSIS yang tidak dipilihnya. Jonathan kembali ke kursinya dan membaca setiap nama di kertas itu. Ekspresi serius dan bingung bersatu di wajahnya. Kemudian Jonathan mengambil secarik kertas dan bolpoin dari lacinya dan mulai menulis sesuatu.
Beberapa menit telah terlewati dan Jonathan selesai menulis. Dia memberikan secarik kertas itu tadi ke Adrian.
"Bagaimana dengan ini? Kupikir komposisinya lebih seimbang."
"Okeee. Aku akan mencoba mengecek riwayat mereka nanti."
Jonathan lalu menoleh ke arahku, "Kamu ndak pulang Nur? Dah malam lho."
"Eh, Iya ya. Dah malem, hehehe. Aku pamit dulu deh!"
Akhirnya aku berpamitan dan pulang ke rumah, tanpa memberikan laporan yang Iqbal titipkan padaku ke kak ketua.
__ADS_1