
Rina Point of View
Aku benar-benar bingung apa yang harus kukatakan kepada Nathan! Aku senang sih dia tidak terluka atau apapun, rasa kekhawatiranku juga sudah terpuaskan setelah menamparnya. Tapi setelah ini, aku bingung harus ngomong apa ke dia? Dia juga mematung sepertiku. AH! Tuhan tolong aku! apa yang harus kulakukan?!
Aku memberanikan diri menatap wajah Nathan yang kebingungan sekaligus panik. Nathan yang seketika itu memelukku tanpa alasan. Eh... sejak kapan aku mengeluarkan air mata?
"Maaf, Rina. Maaf telah membuatmu khawatir seperti ini. Aku benar-benar ceroboh hari ini." ucap Nathan lembut.
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Yang kulakukan hanya menangis dipelukannya. Emosiku teraduk-aduk saat ini. Tetapi, pelukan hangat Nathan membuatku berangsur-angsur menjadi tenang. Kepanikanku sudah mulai memudar. Aku tahu Nathan melakukan hal tersebut untuk keperluan investigasi.
"Hei... Rina, kamu tidak apa-apa?"
Mendadak aku menjauh dari Nathan. Tidak tahu kenapa berpelukan dengan Nathan membuatku malu. Padahal aku sendiri adalah kekasihnya, biarpun tidak resmi sih. Tapi kalau dipeluk terlalu lama, rasanya memalukan. Setelah membersihkan wajahku dari tangisan cengeng ala anak bayi. Aku berusaha untuk terlihat tegar.
AH sial! bodo amat dengan ucapan pak Indra tentang kebaikan Nathan. Aku ingin jujur dengan perasaanku.
"Ah, Nathan.... a-aku. aku ingin me-meminta maaf se-sebelumnya."
"Hmm? Tidak biasanya kamu gagap seperti itu? meminta maaf karena apa?"
"NATHAN! AKU MINTA MAAF KARENA SELALU DINGIN PADAMU!"
"Woah, woah!" Nathan kemudian terdiam sesaat, bingung menanggapi teriakan seperti itu. "Aku percaya pasti ada suatu alasan dibalik itu semua kan?" balasnya santai.
"I-iya... ka-kamu be-benar." ucapku sambil tersipu malu.
"Apapun alasannya, kamu pasti tahu itu yang terbaik. Sudah lah.... Aku juga sudah terbiasa dengan sikap--"
"TE-tetapi...."
"Hei Rina, hari sudah semakin larut. Bagaimana kalau kita kembali ke penginapan dahulu? Kamu pasti kelelahan setelah mengeluarkan kekuatan sebanyak itu."
Aku hanya pasrah tanpa mengatakan apapun ketika Nathan menggendongku seperti seorang putri kerajaan. Nathan mengepakkan sayap apinya dan terbang membawaku kembali ke penginapan. Diluar lobi, pak Budi menyambut kehadiran kami berdua dan menyuruh untuk segera beristirahat. Pertemuan untuk membahas tentang investigasi hari ini ditunda dulu.
Pagi hari disaat kami akan memulai pertemuan, cewe perwakilan SMA Malang tersebut datang berkunjung. Tetapi beda dari awal kita bertemu, perilaku tenangnya tidak terlihat sama sekali. Justru kepanikan yang terpancar dari perilakunya.
"MEREKA MULAI MENYERANG DESA!" teriak Nia sambil terengah-engah.
Kami semua terkejut dan menanyakan dimana serangan itu berlangsung. Nia memberikan arah ke salah satu desa di dekat kaki gunung. Aku, Nathan dan Iris segera bergegas menuju kesana, Sedangkan sisanya akan menyusul. Sesampainya disana, keadaan desa sudah porak-poranda dihancurkan oleh para alien tersebut.
Sebagian warga yang menggunakan kristal pengendali berusaha melawan alien tersebut. Kekuatan kristal pengendali memang tidak sekuat kami yang dari lahir sudah memiliki pengendalian. Akibatnya, banyak warga yang terluka.
para alien ini juga menggunakan kristal pengendali seperti kami. Aku heran bagaimana mereka mendapatkannya. Terlebih lagi, ekspresi wajah Nathan yang terlihat menyesal seketika mendengar serbuan ini. Aku dan Iris berusaha melindungi dan menyelamatkan warga dari amukan alien itu, sedangkan Nathan menghalau alien lainnya.
Hawa panas Nathan semakin lama semakin terasa. Kekuatan apinya tidak seperti biasa, panasnya terasa menyengat biarpun kami berada jauh. Setelah kami berdua sukses untuk mengevakuasi penduduk sekitar, kami membantu Nathan untuk membunuh sisa Insectanon yang berada disekitar.
Di tengah pertempuran, Nathan mendapat pesan dari Adrian bahwa ada serangan lain. Mendadak hawa panas itu semakin membakar kulitku. Iris juga terlihat menahan hawa panas Nathan.
"Nathan! ada apa denganmu? Apimu terlalu panas!" peringatku.
Nathan tidak membalas pertanyaanku. "Rina,Iris, bisakah kalian mengurus alien yang disini? aku akan ke desa lainnya." ucapnya tanpa menoleh ke salah satu dari kami.
"Tunggu, Nath--"
Nathan melesat bagaikan peluru menuju udara. Hempasan apinya membakar wilayah sekitar. Ini aneh sekali, karena Nathan tidak pernah sepanas itu. Aku ingin sesegera mungkin mengejar Nathan pergi, tapi alien ini menghalangiku. Kuputuskan untuk melakukan serangan kombinasi dengan Iris.
Badai es yang kuciptakan dengan pusaran tornado Iris membuat para alien itu melambat. Iris membuat pisau angin di pusaran tornadonya untuk memotong setiap alien yang berada dalam jangkauan. Iris dengan gerakan tangannya mengarahkan tornado itu bergerak melintasi para alien yang membeku karena badai es ku.
__ADS_1
Aku sudah tidak peduli dengan dampak yang ditimbulkan oleh kekuatan kami, karena untuk mempersingkat waktu. Tiba-tiba suara ledakan yang keras terdengar, disusul hembusan panas dan gempa kecil. Api ini... ini api Nathan! Apa yang terjadi?
Aku membuat dinding es dan Iris dengan hembusan angin untuk melindungi warga dari hawa panas yang membakar kulit. Lalu aku mengajak Iris untuk kepusat ledakan itu dengan kekuatan Iris dalam mengendalikan angin membuat kami terbang. Dari kejauhan aku melihat pilar api yang tinggi dengan berbagai warna. Tidak salah lagi, itu api Nathan!
"Kak Rina, panasnya membuat angin yang kukendalikan ikutan panas! Kita tidak bisa mendekat lebih dari ini." keluh Iris.
Tetapi jarak yang harus ditempuh masih jauh. Aku melihat lingkungan sekitar Nathan sudah terbakar hangus. Tidak ada pepohonan satupun di sekitar pilar apinya. Kami memutuskan mendarat dan menempuhnya berjalan kaki. Kubuat dinding es untuk mengurangi hawa panas menyengat ini sampai ke titik dimana dinding esku mulai meleleh.
Di sekitar pepohonan yang terbakar, aku melihat ada dinding batu... bukan, itu kristal. Dinding kristal hanya bisa dibuat oleh pengendali tanah, dan orang itu adalah Adrian. Dia melambaikan tangannya dan mengajak kami berkumpul. Disitu juga ada pak Budi, Nia dan Dwi.
"Sepertinya, Jonathan tidak bisa mengontrol emosinya." Ucap pak Budi. "Ini seperti kejadian dimana ketika Jonathan lahir." lanjutnya sesal.
"Maksud bapak?" tanyaku.
"Ada sebuah berita yang sengaja kami, para pengurus proyek kehidupan sekolah, tentang kelahiran Jonathan. Kekuatan api nya pada saat itu tidak terkendali dan membakar gedung rumah sakit. Membunuh semua yang ada didalam dan sekitarnya, termasuk orang tua Jonathan."
I-itu, itu bercanda kan? Aku tidak pernah dengar berita itu! Orangtuaku juga tidak pernah.... Tapi dulu ketika dia masuk SD aku melihat dia bersama orang tuanya.
"Pada saat api mereda, tidak ada yang tersisa dari kebakaran itu. Hanya seorang bayi dengan tangisannya. Setelah melakukan karantina terhadap bayi tersebut. Aku ditunjuk sebagai orang tua angkat untuk membesarkan Jonathan."
"Jadi... selama ini, Nathan tidak pernah tahu tentang masa lalunya pak?" tanyaku menatap tajam pak Budi.
"Semua tentang masa lalu dan kehidupan orang tuanya kami segel untuk menjaga agar kejadian itu tidak mempengaruhi tumbuh kembangnya."
Aku tidak membayangkan bagaimana jika Nathan sampai tahu kalau orang tua aslinya terbunuh oleh tangannya sendiri dengan asas ketidak-sengajaan....
"Ah... maaf atas celotehku ini. sekarang bagaimana kita bisa menghentikan Jonathan?"
"Rina, seberapa kuat dinding es mu menahan hawa panas itu?" tanya Adrian.
"Sekarang, satu-satunya orang yang dapat dipercaya Jonathan untuk menenangkan perasaannya adalah kamu Rina." respon Adrian dengan mengedipkan satu mata.
Be-betul juga sih, aku kan kekasih tidak resminya.
Akupun menjadi gagap, "La-lalu, a-apa ya-yang ha-harus kula-la-kukan?"
Adrian menoleh ke arah Nia, "Nia, kamu pengendali element apa?"
"Saya pengendali cahaya."
"Aduh... sepertinya hanya kita berempat, Aku, Dwi, Iris dan kamu Rina." Adrian kaget mendengar dinding kristalnya mulai retak.
"Dan waktu kita tidak banyak lagi. Iris, keluarkan kemampuan penyembuhanmu padaku, Nia dan pak Budi, kalian bisa memanipulasi pengendalian kalian dalam bentuk energi dan memberikannya padaku. Dwi akan membantu mengkatalis es Rina untuk mempermudah mendekati Jonathan. Sedangkan aku akan membelah hawa panasnya dengan dinding kristal." Jelas Adrian.
Sepertinya itu ide bagus, biarpun dalam prakteknya, kemungkinan berhasil kecil. Tidak ada salahnya dicoba. Adrian memulai memfokusnya kekuatan pengendalian dan membuat dinding kristal yang ternyata berada dekat dengan pilar api Nathan. Hanya dalam hitungan detik, dinding itu hancur.
"Gagal kah rencanamu Adrian?" tanyaku.
"Tidak, aku hanya mencobanya tadi." jawab Adrian pede.
"Tapi, dinding kristalmu...."
"Tenang saja, ini pasti berhasil!"
Sekali lagi Adrian membuat dinding kristal di dekat pilar api. Berbeda dari sebelumnya, Adrian membuat beberapa lapis sekaligus untuk memperkuat. Biarpun lapisan luar pasti tergerus sangat cepat, Adrian menambalnya secepat mungkin. Hawa panas yang terpancar ke arah kami berkurang signifikan.
Iris mulai melakukan penyembuhan kepada Adrian, sedangkan pak Budi dan Nia mentransfer energinya. Dwi sendiri sebagai pengendali air melapisi perisai es yang kubuat dan sesegera mungkin kubekukan. Aku juga memaksakan pengendalian es ku untuk menuju titik terdingin, yaitu nol mutlak. Rekor yang pernah kulakukan dulu pada saat SMP adalah minus dua ratus derajat selsius.
__ADS_1
Aku berlari dengan cepat kearah Nathan, tapi semakin lama aku tertekan dengan hawa panasnya dan membuatku berjalan. Aku bisa melihat wilayah disekitarku hangus terbakar dan masih merah menyala. Bahkan tanah yang kupijak sekarang ini terasa panas. Aku harap sepatu yang sudah kulapisi es ini tidak ikut meleleh.
Aliran air dari Dwi semakin lama semakin berkurang karena menguap. Perlahan tekanan hawa panasnya semakin terasa biarpun di depan sana ada dinding kristal Adrian yang selalu terkikis. Sampai akhirnya aku berada di dinding kristal. Satu kesalahan saja, Aku terpanggang dalam hitungan detik tanpa sisa.
"Nathan!" teriakku.
"Nathan!!" teriakku sekali lagi.
"NATHAAAAN!!!" teriakku lebih kencang.
"JOOONAAATHAAAN!!!" teriakku sampai tenggorokanku sakit.
"NATHAN!! SADAR LAH!! KEMBALI KE DIRIMU SEBELUMNYA!!"
Pilar api itu mulai mengecil. Hawa panasnya semakin berkurang di balik dinding kristal.
"NATHAN! INI AKU, RINA!!"
"AKU INI TEMAN MASA KECIL MU!!"
"AKU ORANG YANG SELALU DISAMPINGMU!!"
"AKU ORANG YANG MEMBANTUMU DI KALA KAMU SENANG DAN SEDIH!!"
"AKU ORANG YANG DAPAT KAMU ANDALKAN!!"
Sesaat aku mengambil nafas, dan melanjutkan teriakanku.
"MAAFKAN AKU DIKALA AKU MENYAKITIMU!!"
"MAAFKAN AKU JIKA MEMPERLAKUKANMU DENGAN BURUK!!"
MAAFKANLAH AKU JIKA TIDAK SENGAJA MENYINGGUNGMU!!"
Entah kenapa aku berteriak-teriak seperti ini sambil menangis.
"KEMBALILAH NATHAN!!"
"KEMBALILAH KE SEDIA KALA!!"
"AKU KANGEN MELIHAT SENYUMMU!!"
"AKU KANGEN MELIHAT KEKONYOLANMU BERSAMA TEMAN LAINNYA!!"
"AKU... AKU... AKU MENCINTAIMU JONATHAAAAN!!"
Aku kehabisan nafas setelah mengucapkan semua itu. Oksigen ditubuhku berkurang drastis membuat konsentrasiku terhadap perisai es memudar. Lapisan dinding kristal Adrian juga menipis. Hawa panas itu mulai terasa di kulitku dan terasa perih. Suplai air dari Dwi sudah tidak dapat menjangkau posisi ku sekarang.
Tidak Rina, jangan sampai roboh! Jangan menyerah! Nathan menunggumu untuk diselamatkan!
Perisai es dan dinding kristal berada di ambang kehancuran. Aku berusaha untuk menarik nafas sedalam-dalamnya untuk satu teriakan terakhir. Dengan lantang dan keras, ku ucapkan kalimat terakhir.
"JOOONAAATHAAAN!!!! AKU MENCINTAIMU!!!!
Disaat itu juga, perisai es ku meleleh total, dinding kristal juga terlalu tipis untuk menahan hawa panas. Aku bisa merasakan baju, kulit, dan rambutku mulai terbakar. Rasa perih ini masih bisa ku tahan dengan pengendalian es ku yang tinggal sedikit.
Inikah akhirnya? Inikah rasanya terbakar oleh api orang yang kucintai? Apakah takdirku akan berakhir disini?
__ADS_1