School Life Project

School Life Project
End of the World : chapter 7


__ADS_3

Aisyah Point of View


--Beberapa waktu sebelumnya--


Mendengar berita yang dibawa Aurel, Aku terkejut dan segera meninggalkan teman-teman. Berlari secepat mungkin ke salah satu bungker sektor 17. Seingatku disana ada Kak Rosa yang membantu sekaligus mengawasi warga dari ancaman Elg Gware. Dia petarung yang menggunakan kekuatan ledakan angin, akan berbahaya jika dia bertarung di tempat sempit.


Sektor 17 berada di seberang sekolah, berjarak 1 kilometer. Dari posisiku sekarang yang masih di dekat kontrol pusat, itu hal yang mudah. Kecepatan lari yang kuimbuhi pengendalian cahaya merubahku menjadi secepat kilat. Hanya butuh waktu beberapa detik untuk sampai disana. Mungkin orang lain akan melihat sekelebat cahaya yang lewat dan membuat mereka merinding, apalagi di malam hari seperti ini.


Akhirnya aku sampai disana dan melapor pada tentara untuk membantu keamanan sektor 17 ini. Mereka mengidentifikasiku sebentar dan kemudian memperbolehkan masuk. Disini banyak warga yang sedang beristirahat, beribadah dan berdoa, ataupun yang melakukan kegiatan lainnya. Para pengendali lain juga membaur.


Aku akhirnya bertemu Kak Rosa berdiri di tengah pintu penyekat sektor 17, menghubungkan dengan sektor lainnya. Dia sedang mendengarkan sesuatu dari alat komunikasinya dan kemudian kusapa.


"Kak Rosa!"


Kak Rosa mengakhiri hubungan dengan alat komunikasi dan menoleh kepadaku.


"Nur? Sejak kapan?"


"Barusan sampai, hehehe."


"Bukannya kamu sedang menjaga Jonathan dan yang lain disana? Kenapa kemari?"


"Aurel memberi tahu--"


Tiba-tiba suara alaram berbunyi, tempat kami berpijak mendadak bergetar. Terdengar suara yang keras dari salah satu tempat warga beristirahat, disusul oleh jeritan ketakutan.


"Mereka datang!" ucap Kak Rosa yang bergegas menuju ke lokasi kejadian.


Aku mengangguk dan mengikuti Kak Rosa dan melihat beberapa Elg Gware berkeliaran kesana kemari, mengayunkan cakarnya untuk mencabik apapun didepanya. Para pengendali berusaha menghalau mereka dan menjauhkan kerumunan Elg Gware dari warga. Sudah ada beberapa warga yang terbunuh dan tubuhnya terpotong beberapa bagian untuk mereka makan.


Tanpa pikir panjang, kubuat cabang cahayaku dan langsung menyayat mereka satu persatu tanpa ampun, seperti yang mereka lakukan pada warga sebelumnya. Beberapa serangga itu berhasil kubunuh dan membuat yang lain memfokuskan pandangannya kepadaku.


"Biar aku urus ini! Kalian cepat evakuasi para warga!" ucapku yang sudah bersiap untuk mengeluarkan jurus lain. "Kak Rosa juga, sebaiknya membantu evakuasi!"


"Hati-hati Nur, kamu tahu apa yang kamu hadapi kan?"


"Tenang saja kak! Aku tidak hanya belajar untuk ujian sekolah saja, hehehe!"


Kak Rosa dan yang lain mulai menggiring warga keluar dari bungker. Beberapa diantara mereka juga ada yang masih tinggal untuk menghambat Elg Gware untuk mendekati warga. Sedangkan aku menahan sebagian besar kerumunan mereka yang masih terus muncul dari lubang dinding tersebut.


"Bismillah."


Kemudian kuucapkan doa dalam hati agar berhasil selamat dari kekacauan ini. Lalu aku menekuk kedua kaki dan mengambil kuda-kuda. Menyilangkan kedua tangan didepan, dan maju kearah mereka. Kuhindari ayunan cakar mereka sekaligus kupotong dengan cepat, gerakan zig-zag dan menukik adalah kebiasaan bertarungku.


Kusayat mereka satu persatu, membuat satu serangan menusuk yang kuat dan menembus mereka. Membuat serangan berputar dan membuat sebuah piringan cahaya untuk membelah mereka. Kemudian maju lagi dan melakukan tusukan beruntun ditutup dengan satu tusukan kuat yang terbuat dari cahaya dan menembus mereka seperti sate.


Namun serangan terakhirku gagal, tusukan sate cahayaku seperti terpental. Mereka berhasil mengeraskan kulitnya. Aku melompat kebelakang dan menusukkan cabangku ke tanah ketika mendarat, membuat jarum cahaya dari bawah tubuh alien itu. Tetap saja gagal, jarum cahayaku hanya terpental tanpa melukainya.


Kerasnya tubuh mereka membuatku heran. Dari apa yang kupelajari, tidak ada satupun kekuatan pengendali yang berhasil menembus kulit kerasnya. Tidak ada satupun... berarti selain kekuatan pengendali bisa menembus kulitnya. Aku tidak yakin dengan metode yang kupikir secara spontan, tapi setidaknya bisa dicoba.


"Hei kamu! Para warga sudah berhasil dievakuasi! Kontrol pusat akan segera mengisolasi tempat ini!" teriak salah satu pengendali.

__ADS_1


Sepertinya Pertarunganku berhenti disini dan sebaiknya lebih memilih untuk kabur.


"Baik! Aku segera kesana! Tutup mata kalian!"


Entah mereka mendengar teriakanku apa tidak, lalu aku membentuk cabang cahayaku tadi menjadi bola dan meledakkan didepan para serangga. Ledakan cahaya itu seperti bom yang membutakan sesaat, bagi serangga itu sangat mengganggu dan membuat mereka kebingungan. Setelah itu aku berlari secepat cahaya dan muncul tepat diantara dua pengendali itu.


"Oke, sekarang kalian bisa menutup gerbangnya!"


Suaraku sepertinya mengejutkan mereka berdua. Mungkin karena suaraku yang lucu, hehe. Mungkin juga tidak. Salah satu dari mereka menghubungi kontrol pusat untuk mulai menutup dinding penyekatnya. Elg Gware yang berhasil mengembalikan pandangannya berusaha mengejar, Tapi salah satu pengendali membuat lantai disekitar serangga itu menjadi licin dan membuatnya kesusahan berlari dan terpeleset. Hal itu membuatku tertawa kecil.


Mendadak, terdengar suara di alat komunikasiku. "Nur! Iqbal mengunci dirinya di sektor 15. Bisakah kamu menemuinya?"


Sektor 15? Sektor 17 seingatku berhubungan dengan sektor 15 secara langsung tanpa melewati sektor 16. Anehnya juga, kenapa Iqbal bisa berada disana? Suara yang kudengar adalah suara Kak Adrian. Aku terdiam sejenak dan berpikir. Seberapa cepat aku bisa ke sektor 15 dengan menghindari serangan Elg Gware itu.


Dinding penyekat mulai bergerak untuk menutup. Aku menyadarkan lamunanku dan langsung loncat masuk, membuat ledakan terang lagi untuk membutakan. Dua pengendali itu terkejut dengan tingkahku dan salah satunya membuat dinding es untuk menahan dinding penyekat.


"APA YANG KAU LAKUKAN? CEPAT KEMBALI!"


Aku hanya menghela napas, menoleh kepada mereka dengan senyuman termanisku, "Kalian pergilah tanpaku. Ada yang harus kulakukan."


Kekuatan Tier II jelas tidak sanggup menahan dinding penyekat yang semakin lama meremukkan es yang dibuatnya.


"JANGAN SOK PAHLAWAN!" teriak satunya.


Aku tidak mempedulikan kedua orang itu dan mulai mencari jalan ke arah sektor 15. Kedua orang itu terlihat menghubungi kontrol pusat untuk bernegosiasi dan menahan dinding penyekat. Tapi, semakin lama dinding itu semakin tertutup rapat. Kemudian aku mencoba menghubungi Kak Adrian. Sialnya, mendadak sinyalnya menjadi buruk dan aku tidak bisa menghubunginya.


Aku berlari secepat kilat sambil menghindari kawanan serangga itu dengan sesekali menyerangnya. Seranganku hanya terpantul ataupun tertahan. Menyerang cakarnya pun juga sia-sia, karena sudah tidak bisa dipotong lagi. Aku hanya bisa menghindari mereka sekarang.


Tak kusangka dinding penyekat sektor 17 dan 15 sudah tertutup rapat. Seharusnya masih ada beberapa detik dari penyekat utama sebelum penyekat dinding lainnya tertutup. Kecuali... sektor 15 juga diserang bersamaan dengan sektor 17. Dengan begitu, pintu penyekat ini sudah tertutup sebelum aku menyadarinya.


"Heh, kembali lagi ke kerumunan Elg Gware deh." ucapku menghibur diri. "Kira-kira ada jalan lain untuk kesana kah?"


Elg Gware menggali tanah kan? Jika mereka menyerang ke sektor lain secara bersamaan, maka bekas galian mereka ada kemungkinan bisa digunakan untuk akses ke sektor 15. Aku bisa saja melewati mereka dengan mudah. Sesaat juga aku mengingat sesuatu, yaitu spesies Cere. Aku tidak melihat mereka daritadi.


Aurel menyebutkan nama itu juga kalau tidak salah. Dari sekian jenis Cere yang kuingat, Cere Puroc adalah yang paling tepat untuk kondisi seperti ini. Kalau begitu ini menjadi penyelamatan yang berisiko. Entah apa yang kupikirkan tadi ketika masuk kembali ke sektor 17 ini. Hehehe, dasar bodoh aku ini.


"Sepertinya aku terlalu lama monolog disini." dan aku mulai mendengar suara langkah Elg Gware yang mengejarku tadi.


Anehnya mereka yang mengejarku tidak sebanyak tadi. Mungkin mereka sebagian sedang pesta makan di zona tengah? Memakan tubuh-tubuh manusia yang berhasil mereka potong tadi. Tetiba merasa geli, jijik dan mual ketika memikirkannya. Bagi mereka itu makanan lezat, tapi bagiku, itu adalah penduduk yang gagal kulindungi.


Menyesal? pastinya. Aku hanya tidak mau tertekan oleh hal semacam itu dan membuatku hilang fokus, seperti Kak Iqbal dan Kak Ketua. Aku berusaha berpikir positif terus, dan hanya dengan itulah aku akan terus hidup. Tak terasa, mereka sudah berada dekat denganku.


Aku membuat energi cahaya dan mengalirkannya ke seluruh tubuh. Tubuhku terasa ringan aku bisa bergerak lebih cepat dari biasanya. Aku menghindari mereka layaknya sedang parkur. Melompati mereka, bersliding dibawah tubuh mereka, menghindari ayunan cakarnya dengan sigap dan terus berlari menuju lubang yang mereka buat.


Seperti dugaanku, mereka sedang menyantap daging lezat yang tergeletak tanpa nyawa itu. Aku berusaha memalingkan pandangan ke mereka dan masuk ke lubang galian. Tempat ini begitu gelap tanpa ada penerangan kecuali cahaya dari tubuhku. Aku berusaha waspada jika ada Cere Puroc yang mendadak menyerang dan mulai menebak kemana arah galian Elg Gware yang menuju sektor 15.


Melewati persimpangan pertama, kedua, dan ketiga dengan asal tebak. Aku melihat sebuah cahaya diujung salah satu lorong. Kutambah akselerasi untuk segera keluar dari tempat itu. Aku berada di zona tengah suatu sektor. Terlihat lagi bangkai manusia yang terpotong-potong, kali ini juga bersama potongan tubuh Elg Gware. Dari bekas lukanya, aku bisa menebak kalau aku berada di sektor 15, dimana Kak Iqbal berusaha menahan alien itu sendirian.


"Kak Iqbal keren deh! Berani melawan mereka sendirian!" ucapku kagum melihat semua kejadian disekitar.


Suaraku terdengar oleh seseorang, "Siapa itu?"

__ADS_1


"Kak Iqbal? Kak Iqbal, dimana kak? Ini aku kak, Aisyah."


Suara langkah terdengar dari kejauhan, datangnya dari tempat tidak adanya mayat. Dia berjalan perlahan dengan memegangi tembok.


"Nur? itu kamu?"


Aku langsung saja mendekati Kak Iqbal yang terlihat kesusahan untuk berdiri dan segera menyuruhnya duduk. Dari pengamatanku, Kak Iqbal sepertinya kelelahan teramat sangat. Aku ikut duduk di depannya dengan bersila.


"Makasih lho Nur! Kupikir kisah hidupku akan berakhir disini."


"Hehehe, tenang kak! Ada Aisyah yang siap menolong! Kakak keren banget lho!"


Kak Iqbal memalingkan wajahnya, "Heh, keren apanya.... Ini akibat kebodohanku saja."


"Tapi kak, sudah berhasil menolong warga untuk dievakuasi, bukannya itu keren?"


"Tetap saja masih ada korban jiwa. Sudahlah! Tidak perlu menghiburku sejauh itu."


"Eh! Kenapa sih?"


Kak Iqbal menghiraukan pertanyaanku dan mulai bertanya balik, "Satu hal yang kuherankan, kenapa kamu bisa tahu aku disini?"


"Karena Kak Adrian menghubungiku tadi. Kata Kak Adri--"


Dengan cepat Kak Iqbal memotongku dan tersontak, "Adrian? Berarti alat komunikasinya masih bekerja?"


"Kalau di zona isolasi seperti sekarang, sepertinya tidak. Aisyah sudah mencobanya."


Kak Iqbal menghembuskan nafas panjang, "Kalau begitu, pertolonganmu jadi sia-sia."


"Mungkin, hehehe. Jadi kita berdua terjebak disini?"


"Tidak juga." Kak Iqbal kemudian mengamatiku dengan sekilas, "Sepertinya kamu masih punya banyak stamina untuk selalu ceria."


"Iya dong kak! Bukan Aisyah kalau tidak ceria!"


"Baguslah kalau begitu, mungkin kamu bisa keluar dari sini dan memberi tahu yang lain."


"Eh, ada jalan keluar?"


Kak Iqbal menunjuk lorong lain yang digali oleh Elg Gware, "Itu ada lorong lain bekas galian mereka. Mungkin saja itu bisa mengarahkan kamu ke pintu keluar. Yang jelas, alien-alien itu masih mencari mangsa."


"Terus Kak Iqbal gimana?"


"Aku sendiri kerepotan untuk berjalan. Entah kenapa tubuhku terasa lemah hari ini. Kamu tidak merasa seperti itu juga?"


Melemah? Sepertinya aku juga merasakan hal itu. Aku melihat cabang cahayaku memendek beberapa milimeter. Kekuatan cahayaku juga terasa tidak berkilau seperti biasanya.


"Mungkin iya juga kak." Kemudian aku berdiri, memutar pergelangan pundak dan melakukan beberapa peregangan. "Kakak lupa ya aku ada di ekskul apa?" lanjutku dengan semangat.


"Heh, tentu saja tidak. Hanya saja, tidak kusangka kau akan melakukannya."

__ADS_1


__ADS_2