
Jonathan's Point of View
Nama ku Jonathan, aku menjabat sebagai ketua OSIS di sekolah khusus yang dibangun oleh pemerintah. Sekolah ini di khususkan untuk menampung siswa-siswi yang memiliki kemampuan unik, yaitu mengendalikan element¸ seperti api, angin, air, tanah, kegelapan dan cahaya. Ini semua akibat dari sebuah invasi 50 tahun lalu. Serangan alien serangga raksasa yang sangat brutal, di saat bumi ini masih belum menyadari keberadaan alien.
Sistem pertahanan kami tidak mampu mengatasi serangan tersebut dan cepat atau lambat, semua wilayah sudah hancur. Ketika semua harapan sirna, ada bantuan yang tak terduga dari alien lain yang mau membantu kami melawan balik. setelah Bumi direbut kembali, Mereka memberikan ilmu pengetahuan juga informasi tentang kehidupan diluar planet kami. sebuah kristal misterius pengendali element diberikan kepada kami sebagai bentuk pertahanan dimasa depan. dan lahirlah istilah "School Life Project" untuk mengendalikan dan mengawasi para mengguna element.
Beberapa anak yang mendapat "berkah" tersebut terkadang usil terhadap masyarakat. Itulah sebabnya pemerintah membuat sekolah khusus sekaligus untuk mengontrol dan mengawasi perilaku anak-anak tersebut, setidaknya 1 sekolah berdiri di setiap kabupaten. Di sekolah khusus ini, aku dipilih menjadi menjadi ketua OSIS karena kemampuanku dalam mengendalikan api yang cukup unik, atau mungkin kupikir seperti itu. Aku bisa menciptakan api dalam berbagai warna dan tingkat panas yang berbeda-beda layaknya seperti kembang api.
Para guru tidak pernah memberi tahu alasan kenapa aku terpilih menjadi ketua OSIS. Biarpun nilai akademi ku dianggap rata-rata, tapi tetap aku yang terpilih menjadi ketua. Kalaupun aku boleh memilih, Rina atau Aisyah lebih cocok menjadi ketua. Rina Melodia, cewe yang cerdas dalam akademi, nilainya selalu berada di ranking 1 atau 2, bersaing dengan Aisyah. dia juga menjabat sebagai ketua ekskul musik kla--
"Monolog terus aja, dah sampai ruang OSIS nih! Risih tau dengerin kamu ngomong sendiri! Lagian ngapain sih ngomong sendiri gak jelas kayak gitu?!" bentak Rina sembari menunjuk ruang OSIS di depannya.
"Eeeh, maaf! lagian dari atap ke ruang OSIS lumayan jauh. Jadi—" jawab ku panik.
"Ya tapi gak usah ngomong sendiri gitu, aku ngeliat nya jadi eneg tau!" kemudian mereka berdua masuk ke ruangan itu.
"Iya, iya. By the way, kok ruangan ini sepi. Perasaan aku tinggal nih ruangan ramai deh."
"Mungkin urusannya dah kelar semua. Gak seperti kamu, malah kabur, susah dicariin pula! Itu laporannya aku taruh di meja mu, baca sana!" sambil menunjuk sebuah meja besar di dekat jendela.
"oke." jawabku santai sambil mengarahkan langkah ke meja yang diatasnya terletak beberapa kertas.
Yah, terkadang mawar yang indah pun juga memiliki duri, terkadang asiknya bermain api hingga lupa bahwa itu dapat membakarmu. Sifat galak dan sok bossy benar-benar mengganggu ku. Dia jarang sekali menunjukkan sifat tersebut kecuali dengan ku dan anggota OSIS lainnya.
Apa mungkin pengaruh dari kemampuan pengendaliannya, yaitu es? Terkadang dia bisa dingin, bukan hanya dari kemampuannya, tapi juga sifat dan perilakunya. Tapi apa boleh buat, dia menjabat sebagai wakil ku. Aku hanya bisa menerimanya dengan pasrah.
__ADS_1
"Hmm." gungamku setelah membaca seluruh laporan tadi.
"Jadi, bagaimana? Apa jawaban mu?"
"Ya, tolak saja. Sudah kuduga ini memang diluar urusan kita, kita tidak sepatutnya ikut campur dalam politik ini."
Rina kaget dengan jawabanku, "Kau yakin? Apa kau sudah membaca semua laporannya?"
"Ya, ini akal-akalan mereka saja untuk memanfaatkan kemampuan kita agar salah satu pesaing jatuh dan membuat yang lain sukses. Politik murahan seperti ini sudah dapat kubaca dengan mudah. Merusak tambak sendiri, kemudian melaporkannya ke kita seperti ada orang yang mengusili usaha mereka. Kalau kita membantu, kita malah mematikan usaha orang lain. Bukannya itu malah jadi repot?"
"Baiklah jika itu jawabanmu, Aku akan bilang ke Ardian untuk mengurus surat penolakan." dilanjut dengan Rina mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan ke Adrian.
Bingung dengan respon tenang Rina, "Kau tidak protes atau apa?"
"Aku percaya kamu." jawab Rina singkat.
"Sepertinya hari ini cuman itu yang sampai mejamu, apa kau perlu nambah laporan lagi? Aku bisa carikan. Ada beberapa lagi yang masih menumpuk di meja Aisyah jika--"
"Ah... tidak, tidak usah." potongku dengan cepat. "Cukup ini dulu aja hari ini, kesibukan hari ini cukup melelahkan untuk kalian semua. Termasuk aku."
"Baiklah, aku akan bertemu dengan Ardian, dan jangan lupa besok ada meeting bulanan. Laporannya udah aku kasih ke Aisyah, kamu bisa memintanya ke dia." sambil mengambil kertas yang sudah kubaca tadi dan meletakkan ke meja lainya.
"Oh oke."
Rina meninggalkan ruang OSIS dan kemudian aku menghela nafas, sepertinya beban pikiran sudah terlalu berat. "hah, kenapa menjadi ketua OSIS menyebalkan seperti ini?" pikir ku. aku kemudian berdiri dari kursi, dan membuka jendela, angin sepoi tiba-tiba menerpa tubuh nya. Sambil menikmati sejuknya angin, aku melihat-lihat pemandangan dari sekolah yang berdiri megah dari ruang OSIS di lantai tiga. mengamati beberapa anak bermain futsal.
__ADS_1
Di saat aku berpikir untuk ikut bermain futsal, tiba-tiba pintu ruangan terbuka, dan masuklah seorang cewe dengan menggunakan hijab putih, tidak lain dan tidak bukan adalah Aisyah Nur Cahya. Cewe murah senyum yang selalu easy going dan bisa berpikir tenang di setiap masalah. Cewe ini juga rival tidak resminya Rina. dalam hal akademis, nilai mereka selalu bersa—
"Melamun apa kak?" tanya Aisyah sopan
"woah!!"
"Hehehe. Ini pesenan mu kak ketua, cemilan donat mie. Kebetulan tadi kok ada ramai-ramai di kantin, ternyata pada rebutan donat mie." sambil memberikan bungkusan plastik berwana putih.
"Owh, cemilan viral di internet itu ya." sedari menerima bungkus plastik tersebut. "Makasih lho Nur, kamu emang terbaik deh!"
Dengan bangga Aisyah menjawab, "Iya dunk, Sapa lagi, aku gitu lho!"
"Oh iya, Rina menitipkan laporan buat meeting besok di kamu ya?"
"Iya kak, bentar aku ambilin."
"Nanti taruh aja di meja ku, nanti pas pulang sekolah biar ku ambil. Aku mau joinan ama anak-anak futsal, biar ga penat nih otak!"
"Siap kak!" jawab Aisyah semangat.
"Bentar-bentar. Kenapa sih kamu manggil aku kalau bukan kak, ya ketua? Panggil aja Jon atau Nathan kan bisa?"
"Hmm. Gak ada alasan tertentu sih, asik aja." sambil tersenyum manis
"Ya udah aku pergi dulu, makasih cemilannya." kemudian aku meninggalkan ruang OSIS
__ADS_1
"ok kak, semangat ya!"