School Life Project

School Life Project
All Hope is Lost : Finale


__ADS_3

--Beberapa jam sebelumnya--


"Amanda, maafkan ayah yang telah memaksamu ikut percobaan ini."


"Tidak apa-apa ayah. Sebagai penerusmu, aku akan melakukan apapun!" balas Amanda tegas.


Ayah amanda berbicara lesu, "Aku harap, kekuatan ini bukan hanya untuk melindungimu, namun juga melindungi orang-orang disekitarmu. Sudah banyak orang-orang yang tidak berdosa, terbunuh dalam peperangan ini."


Amanda kemudian penasaran dengan sesuatu, "Bagaimana dengan ibu?"


"...."


Amanda berusaha meyakinkan ayahnya, "Ibu pasti selamat kan, ayah?"


"Aku percaya hal itu, Amanda. Aku sudah mengerahkan sebuah tim untuk mencari beliau. Namun--"


Amanda memotong percakapan itu dengan tatapan serius dan bersemangat, "Ingat pesan ibu, jangan berhenti berharap dan teruslah berusaha."


"Amanda... kamu memang lebih mirip ibumu." ucap sang ayah dengan mengelus kepala Amanda.


--Saat ini--


Cere Puroc mengamati tubuh Jonathan yang terbaring di pasir itu, bekas sayatan berdarah yang berada di sekujur tubuh depan, seluruh pakaiannya telah robek, kobaran apinya telah kembali padam. Namun dia masih bernapas biarpun sudah tidak sadarkan diri. Serangan tadi seharusnya tidak membuat Jonathan terbunuh, atau itu yang dipikirkan Cere Puroc.


Suatu hal yang menarik perhatian Cere Puroc dan memaksanya menoleh ke suatu arah, tepatnya ke arah kandang dimana Amanda ditahan. Ledakan angin yang disusul pusaran angin besar membuatnya menjadi waspada. Kandang itu berhasil dipecah dari dalam oleh Amanda dan serpihannya terbang kemana-mana.


Amanda sekarang melayang di udara, kedua tangannya membawa kekuatan angin dan air yang saling mengorbit. Perisai angin muncul dan melindungi tubuhnya. Tatapan Amanda yang begitu tajam terhadap Cere Puroc. Kebencian sekaligus amarah terhadap Insectanon membuat Amanda kehilangan kendali tubuhnya dan mulai menyerang.


Bola-bola angin diciptakan dan dilemparkan kearah serangga itu secara masif. Sekalinya bola itu tertahan sesuatu, bola tersebut meledak dan membuat pusaran angin kuat yang sanggup memotong apapun yang tercakup. Serangan itu sekali lagi tidak berdampak di tubuh Cere Puroc.


Serangan berikutnya berupa semprotan air bertekanan tinggi yang meliuk-liuk layaknya seekor ular, mengejar serangga itu. Sebuah ayunan katana dilakukan serangga itu untuk menghalau sekaligus menghancurkan bentukan air tersebut dan memutuskan untuk mendekati Amanda.


Sayatan dilakukan oleh alien itu dan tertahan oleh perisai angin Amanda. Dia kemudian disapa oleh bola-bola angin yang muncul disekitar dan menyerbu. Gerakan lincahnya berhasil menghindari serangan tersebut dan serangga itu kembali mengambil jarak. Tetapi, sebelum dia sempat menyentuh darat, serangan susulan Amanda kembali berdatangan.


Kali ini kombinasi antara bola air dan angin yang mengarah ke serangga itu, membentuk tombak dengan gerakan spiral. Tombak lain tercipta di sekitar Amanda yang melayang cepat dan mengejar. Serangga itu berusaha menangkis serangan tersebut. Ketika tombak anginnya terkena kontak dengan katananya, ledakan pusaran angin terjadi dan menyayat apapun didalamnya. Sedangkan jika tombak air yang ditangkis, ledakan cipratan air terjadi dan cipratannya menjadi runcing, kembali mengejar sang target.


Serangan itu terus diulang dan membuat Cere Puroc kewalahan. Dia memutuskan untuk membuat tebasan bersilang kuat dari kedua katana. Gelombang anginnya berhasil menghalau tombak-tombak tersebut dan menghancurkan mereka. Hembusan itu juga berhasil membuat Amanda goyah dan menghentikan serangan beruntunnya.


Mereka berdua berhenti sejenak untuk mempersiapkan strategi serangan berikutnya. Amanda sekarang melayang lebih tinggi dan membuat tombak angin raksasa. Serangan itu disusul dengan tebasan angin yang muncul secara acak dari perisai anginnya. Lalu Amanda juga melayang menuju ke Cere Puroc dengan terus menciptakan tebasan angin sekaligus tembakan air bertekanan tinggi. Serangan tersebut tidak terlalu berpengaruh terhadap kulitnya yang keras.


Tombak angin raksasa itu dihentikan dengan mudah oleh Cere Puroc. Dia mengadu serangan itu dengan menusuk ujung tombak tersebut menggunakan ujung katana. Tornado besar terjadi di lautan pasir itu, mengaduk dan memotong apapun yang ada didalamnya seperti blender. Cere Puroc yang masih melayang di udara karena tornado itu mulai berfokus pada salah satu katananya, kemudian melakukan tebasan berputar melawan arah pusaran tornado itu.


Tornado itu perlahan lenyap dan serangga itu mendarat. Kembali lagi serangga itu mengamati kejutan apalagi yang akan dikeluarkan oleh Amanda, sebelum sebuah pilar cahaya turun dari langit dan meledak. Ledakan itu menyilaukan kedua belah pihak dan membuat mereka berhenti menyerang.


"Sepertinya kita terlambat!" ucap Randi yang sedang terbang dan akhirnya sampai di medan perang. "Dan Amanda sudah berhasil mengendalikan kekuatannya."


"Eh? Itu Amanda?" Tanya Iqbal yang melihat sebuah perisai angin melayang mengelilingi seseorang.


"Memangnya siapa lagi?" balas Adrian.


Randi mencoba mendekati Amanda dan menyapa, tetapi dia diacuhkan dan Amanda kembali menyerang Cere Puroc. Randi memutuskan untuk mendarat dan menemui Iqbal juga Adrian.


"Amanda sepertinya lepas kendali dengan kekuatannya." kata Randi setelah mengamati kondisi Amanda sejenak.


Iqbal kembali penasaran, "Memang bisa seperti itu?"

__ADS_1


"Aku sudah melihat yang lebih parah daripada ini." sahut Adrian santai. "Daripada kagum melihat hal itu, kita harus menghalau Amanda agar menjauh dari Cere Puroc! Iqbal, aku butuh bantuanmu!" lanjutnya dan mulai membuat kuda-kuda.


"EH? Apa yang harus kulakukan?"


"Gunakan serangan '5L' mu! Itu akan membuat Amanda kehabisan tenaga!"


"Apaan lagi '5L' ini? Lalu bagaimana aku bisa mendekat ke Amanda yang terbang seperti itu?"


Adrian mengedipkan salah satu matanya, "Tunggu aba-abaku!"


Randi heran dengan apa yang direncanakan kedua orang itu, setidaknya dia paham dengan strategi "menghalau" ini. Sekali lagi Randi membuat pilar cahaya dan mengacaukan Cere Puroc dan Amanda di seberang, membuat mereka saling mengambil jarak.


Adrian melihat kesempatan ini dan memberi aba-aba yang tidak dimengerti Iqbal. Dia menghentakkan kakinya ketanah dan meluncurkan Iqbal ke angkasa. Ekspresi kaget disambung panik Iqbal yang terlontar itu mendadak berubah menjadi serius ketika mendekati Amanda. Kapak besar Iqbal tercipta dan sesegera mungkin ditebaskan menembus perisai angin sekaligus tubuh Amanda. Kemudian Iqbal terjun bebas.


Amanda tidak merasa tebasan itu sama sekali, tetapi seketika perisai anginnya padam dan mulai kehilangan kekuatannya kemudian jatuh. Randi menciptakan sayap cahaya dan mulai terbang, berusaha menangkap Amanda yang jatuh tersebut. Sedangkan Iqbal memadatkan kapaknya dan menghantamkan ke tanah, mengurangi efek tarikan gravitasi dengan membanting kapak dan melontarkan diri ke udara sejenak.


Setelah mereka semua mendarat dengan selamat, Randi penasaran dengan sesuatu.


"Kenapa aku tidak melihat dia? Si pengendali api itu?"


Adrian dan Iqbal bertanya-tanya, siapakah si pengendali api ini? Apakah yang dimaksud adalah Jonathan? Randi menjelaskan bahwa ada orang lain disini terlebih dahulu sebelum mereka yang berusaha menyelamatkan Amanda. Iqbal mengingat sesuatu tentang menyuruh Jonathan pergi ke Pasuruan untuk menolong ketua OSIS disini.


Iqbal menoleh ke Adrian dengan segera, "Adrian, bisa kamu menggunakan gelombang seismik mu untuk melacak Jonathan disekitar sini?"


Adrian menghentakkan kakinya untuk membuat gelombang seismik. Sayang getaran tersebut teralihkan dengan gemuruh dibawah tanah dan membuat Adrian tidak bisa mendeteksi apapun. Namun, gemuruh yang dideteksi Adrian menandakan bahwa Gunung Bromo sebentar lagi akan meletus. Iqbal dan Adrian memutuskan untuk mencari disekitar. Randi membawa Amanda untuk pergi dari lokasi.


Cere Puroc di sisi lain medan perang mengamati mereka yang terlihat mencari sesuatu. Dia tahu apa yang sebenarnya mereka cari, yaitu tubuh temannya yang terluka tadi. Gunung Bromo sudah mulai mengeluarkan asap belerang dan bersiap meletus. Cere Puroc menemukan bangkai Jonathan yang sudah tersayat-sayat juga terpotong. Bagian tubuhnya tercecer di segala tempat akibat tornado tadi.


Dia melewati tubuh itu dan segera pergi dari lokasi sebelum ledakan Gunung Bromo menutupi pandangannya. Di lain sisi, Iqbal dan Adrian berhasil menemukan potongan jenazah Jonathan di tengah gemuruh gempa itu. Adrian membuat semacam peti dari tanah untuk memunguti potongan tubuh Jonathan itu. Keduanya berusaha menahan rasa sedih dan mencari potongan tubuh yang lain.


Satu demi satu potongan jenazah itu berhasil ditemukan semua dan mereka secepat mungkin pergi dari sana. Beberapa saat kemudian, Gunung Bromo meletus dan menyebarkan debu vulkanik. Gempa dari gunung itu juga dirasakan hampir seluruh wilayah Kabupaten Pasuruan. Untungnya hal itu tidak berlangsung parah dan hanya sesaat.


Amanda sudah kembali ke kursi ketua OSIS nya setelah siuman dari pingsan yang selalu menjangkitnya dan mulai bertugas resmi sebagai pengganti Jonathan, dibantu Aurel yang memiliki luka bakar disekujur tangan kanannya. Aurel tidak memperdulikan penampilan tangannya itu dan menganggapnya itu sebagai kenangan dari Jonathan.


Sekarang gantian Iqbal yang suka merenung di atap sekolah. Dia masih terlihat menyesal telah menyuruh Jonathan pergi menolong OSIS di Pasuruan. Adrian sesekali mengunjungi temannya yang galau itu dan berusaha menghiburnya. Entah berhasil atau tidak, Adrian berusaha untuk tidak mengulangi hal yang sama seperti pasca kematian Rina.


Pemakaman Jonathan bagi yang mengenalnya masih terasa berat. Tetapi kehidupan di dalam peperangan melawan Insectanon ini masih belum selesai. Kehadiran Cere Puroc juga semakin jarang disebut di media masa. Kondisi di sekitar SMA Kartika Raya sudah kembali kondusif dan perbaikan serta pembangunan kembali intensif.


Hanya saja, beberapa kali Insectanon masih menyerang lokasi penting seperti markas kemiliteran, laboratorium penelitian, pembangkit listrik, atau pabrik pembuatan kristal. Serangan mereka masih tetap seperti sedang mencoba sesuatu. Ketika mereka kalah, mereka mundur.


Amanda mulai berkolaborasi dengan sang kapten untuk meninjau apa yang sedang direncanakan Insectanon sebenarnya. Mereka saling memberi informasi dan laporan terkini. Sampai suatu hari sebuah laporan yang dibawa Aurel dari sang kapten untuk Amanda. Sang kapten menjelaskan bahwa pihak militer sebenarnya menyembunyikan sebuah senjata mutakhir untuk melawan pesawat induk Insectanon yang mengorbit bumi.


Senjata itu masih dalam tahap pengembangan dan kerahasiaannya harus terjaga ketat. Alasan dibalik penyerangan-penyerangan di lokasi yang dimaksud itu agar produksi dan penelitian dapat memperlamban kondisi penyempurnaan senjata tersebut. Dari seluruh negara di dunia ini, hanya empat negara adi daya yang berhasil menyempurnakan senjata ini dan meminta tolong negara lain untuk menyediakan sumber energi.


--------------------------------------------


"Jadi, sementara ini kita hanya bisa bertahan dari serangan mereka sampai senjata itu sempurna?" tanya Iqbal.


"Iya." jawab Amanda singkat.


"Dari pengamatanku, serangan mereka sekarang lebih terorganisir dan memiliki keberhasilan sangat besar. Insectanon spesies lain juga turut bermunculan." tambah Iqbal.


Aurel bertanya, "Spesies lain?"


"Iya, seperti spesies magia yang tidak muncul di peperangan sebelumnya namun sudah teridentifikasi berkat informasi dari alien baik yang dulu pernah menolong kita. Masih ada spesies lain yang belum tampak, semisal Ru, Lethi, dan Zix. Semoga saja ketiga spesies itu tidak muncul dan merepotkan." jelas Iqbal.

__ADS_1


Amanda berdiri dari kursinya dan berkata, "Baiklah kalau begitu. Rapat hari ini cukup sampai disini saja."


Aurel dan Iqbal meninggalkan ruang OSIS untuk beristirahat sejenak. Iqbal mengajak Aurel untuk keluar mencari makan. Sesekali Iqbal memandangi tangan bekas terbakarnya Aurel itu.


"Kenapa kamu tidak menyembuhkan tanganmu itu?"


"Ah, ini." Aurel mengamati dan mengelus tangan kanannya. "Aku hanya... masih belum rela. Hehe, maaf kalau aku aneh."


"Kupikir Jonathan akan mengatakan hal sama jika melihat tanganmu seperti itu." lanjut Iqbal yang merasa iba. "Dia tidak betah melihat seorang cewe bersedih ataupun punya bekas luka, apalagi yang mencolok seperti punyamu."


"Ya, mungkin aku akan menyembuhkan bekas luka ini ketika perang usai."


Obrolan ringan mereka terhenti ketika Iqbal melihat seorang misterius lagi.


"Aurel, tunggu sebentar." Iqbal kemudian berlari ke persimpangan ujung lorong.


Di ujung lorong tersebut Iqbal tidak melihat orang itu lagi. Sekali lagi dia behasil menghilang dari pandangan Iqbal. Dia sadar siapa orang itu, tapi kenapa harus kabur setiap kali ingin disapa. Aurel yang merasa ditinggal lalu mengejar Iqbal. Dia juga melihat orang tadi.


"Siapa tadi kak?"


"Dia teman sekelasku. Tapi entah kenapa dia tidak pernah menampakkan dirinya lagi semenjak kematian Rina." jelas Iqbal sambil menyipitkan matanya dan mengamati sekitar.


"Pengendali kegelapan juga?"


"Iya. Aku rasa dia mengamati kita dari ruang dimensinya yang unik itu. Aku ingin mengobrol beberapa hal dengannya, tapi dia selalu berhasil menghindar."


Iqbal akhirnya menyerah dan kembali melanjutkan mencari makan bersama Aurel. Mereka menuruni tangga menuju ke lantai dasar. Mereka berdua bertemu Adrian yang sedang mengobrol dengan Iris.


"Yo!" sapa Iqbal.


Iris melambaikan tangannya sedangkan Adrian hanya memutar tubuh.


Iqbal mulai dengan pertanyaan isengnya, "Tidak biasanya kalian berdua? Jangan-jangan...."


Wajah Iris mulai memerah, "Ti-tidak kok!"


"Kami hanya sedang memperiapkan peperangan besok. Sang kapten mencari relawan lagi." jelas Adrian.


"Tuh, Santuy aja Iris, Hahaha!" sahut Iqbal.


Iris membuang muka dan menyembunyikan wajah memerahnya.


Adrian berganti tanya "Kalau kalian?"


"Hanya ingin mencari makan, mencari apa membeli ya? Hahaha." jawab Iqbal.


"Bisa dianggap mengambil sih, peraturan pemerintah masih berlaku kok." tambah Aurel.


"Hahaha, iya ya. Mengambil lebih tepat sih. Ya sudah, kami duluan ya."


Iqbal mengajak Aurel untuk melanjutkan perjalanannya dan meninggalkan Adrian juga Iris. Nuansa damai ini terkadang membuat mereka lupa bahwa mereka masih dalam kondisi berperang. Namun, tertekan karena peperangan juga bisa membuat seseorang menjadi setres dan penat.


Sore hari ini mulai menjelang gelap. Lampu kota mulai dinyalakan. Suasana kota masih sepi dengan para militer dan pengendali yang berpatroli. Pembangunan dan perbaikan hanya dilakukan ketika matahari menampakkan dirinya agar tidak terjadi serangan dadakan dari Insectanon. Cadangan makanan di minimarket juga sudah menipis. Mereka terpaksa menunggu kiriman makanan dari tempat lain atau mencari minimarket yang terletak lebih jauh.


Bungker di bawah kota Sidoarjo juga mulai digunakan kembali biarpun beberapa masih ada yang trauma karena sanak keluarganya terbunuh disini. Penduduk yang kehilangan rumahnya sementara harus tinggal disini sampai waktu yang tidak ditentukan.

__ADS_1


 


 


__ADS_2