School Life Project

School Life Project
Dark Past : chapter 2


__ADS_3

Rina Point of View


"Jadi Rina? kenapa kita yang sedang liburan kenaikan kelas ini berada di gedung olahraga?" tanya Adrian yang kebingunan.


"Anggap saja kita sedang melakukan sparing. kau tahu kan Jonathan sibuk dengan kegiatan OSIS nya sampai jarang berolahraga."


Jonathan membalas dengan malas, "Ehh, kenap--"


"Tidak ada tawar-menawar! Ikuti perintahku, atau kuhukum kamu!" potongku tegas. "Kalian juga, jangan dibuat enteng! Tunjukkan kemampuan kalian!"


dengan semangat yang acak, mereka semua bersorak. Di awal latihan, Nathan berpasangan dengan Adrian. sedangkan Iqbal melawan Aisyah. Kak Rosa dan Yunita menonton di pinggir. Sebenarnya aku juga ingin bertanding, tapi mengamati Nathan adalah prioritas. Aku juga bisa melihat keunikan ruang dimensi Yunita yang dapat membuatku melihat Nathan dan Adrian dari luar ruang dimensi.


Mereka berdua seperti sebuah siluet di ruangan ini. Pertarungan keduanya terlihat jelas biarpun seperti kekurangan cahaya, semuanya remang. Padahal tempat ini terang. Kekuatan mereka berdua seimbang. Nathan dengan tembakan api beruntun, dan Adrian dengan tinju tanah yang kuat.


Namun, kekhawatiranku mulai memuncak ketika melihat siluet Nathan terlihat terengah-engah. Nathan mulai kehilangan konsetrasi pada pertarungan. Adrian menghentikan serangannya ketika melihat Nathan roboh. Aku menyuruh Yunita untuk segera mengeluarkan mereka berdua dan mendatangi Nathan.

__ADS_1


Nafas Nathan yang tidak karuan, keringat dan bekas tanah mengotori setiap tubuh dan pakaiannya. tidak terkecuali luka tergores. Aku menyuruh Adrian untuk segera mengangkatnya ke matras di pinggir ruangan yang sudah kusiapkan sebelumnya. Aku ingin memarahi Adrian karena melukai Nathanku, tapi keselamatan Nathan adalah yang paling penting.


Kak Rosa mencoba menolong dengan menghembuskan pengendalian angin penyembuhnya. Beberapa saat kemudian, Nathan akhirnya siuman. Perasaan senang sekaligus khawatir bercampur dan membuat mataku berkaca-kaca. Ah sial! aku ingin memeluknya! Tapi akan memalukan jika didepan teman lainnya.


Yunita menyadari sesuatu kemudian mengembalikan Iqbal dan Aisyah dari ruang dimensi. Mereka sepertinya kelihatan kewalahan satu sama lain, tapi wajah bahagia mereka membuatnya seperti itu sudah biasa. Di satu sisi suara teriakan keras muncul dari pintu masuk gedung olahraga.


"Kalian ya! Sudah dibilang untuk tidak datang ke sekolah, malah dilanggar!" Teriak pak Budi.


Kami semua menoleh dan kaget dengan kehadiran pak Budi.


Aku tak sempat menjawab pertanyaan Aisyah karena shok dengan kehadiran pak Budi.


"Segera kalian tinggalkan kegiatan kalian dan kembali kerumah! Dan Rina! setelah ini pergi ke ruang OSIS!" lanjut pak Budi.


Kami hanya menurut dan segera meninggalkan gedung. Adrian menggotong Nathan ditemani kak Rosa untuk pergi ke ruang UKS dengan alasan merawatnya. Aku bisa melihat ada ketakutan di balik muka marah Beliau. Kira-kira apa yang membuat beliau menyembunyikan ketakutannya?

__ADS_1


Sesampainya di ruang OSIS, pak Budi menceramahiku habis-habisan tanpa aku bisa memberi pembelaan. Aku membiarkan setiap ocehannya hanya terlintas di telingaku, karena kekhawatiranku tentang apa yang dibicarakan Iqbal beberapa hari lalu. Setelah beliau puas memarahiku, aku minta maaf dan segera pergi dari ruangan itu menuju ke UKS. Semoga saja aku masih sempat menjenguk Nathanku.


Pintu UKS kubuka dan kutemui ruangan itu kosong. Aku terlambat... Kalau saja pak Budi bisa mempercepat ceramahnya tadi, aku masih-- Aku merasakan sesuatu yang aneh, seperti ada sesuatu yang bergerak disekitarku. Mungkinkah itu? kalau benar itu "mereka"... ini benar-benar membahayakan.


Aku mengirim pesan ke Adrian untuk tanya dimana lokasinya sekarang sambil mengamati keadaan sekitar. Beberapa saat kemudian, Adrian membalas pesanku dan mengatakan bahwa dia membawa Nathan langsung ke kosnya. Adrian juga merasakan hal yang tidak enak di UKS sebelumnya. Aku akan mencoba melacak kehadiran "mereka". Kalau dibiarkan, bisa membahayakan orang lain.


Dengan meledakkan hawa dingin di sekitar ruangan, aku bisa merasakan kalau ada makhluk hidup di sekitarku sembari membuat rapier es untuk melakukan serangan. Detik demi detik. Aku tidak merasakan apapun kecuali kehadiran seseorang yang kupikir itu adalah pak Budi yang khawatir dengan kondisi Nathan. Sepertinya beliau menyadari kalau aku ada disini! Tapi aku harus melacak "makhluk" itu!


Segera mungkin aku kabur lewat jendela dan menutupnya kembali sebelum pak Budi memasuki ruangan. Untung saja ruang UKS berada di lantai dasar. Karena hawa dingin itu masih disana, pak Budi mengecek keluar jendela untuk mengamati kalau aku masih di sekitar sekolah. Sedangkan aku bersembunyi di sisi tembok lainnya. Sesaat kemudian aku merasakan "makhluk" itu berada di hawa dinginku.


A-apa yang harus kulakukan? Pak Budi akan terancam kalau begini! Tapi beliau juga akan marah melihatku masih di wilayah sekolah.


"Makhluk" itu semakin lama mendekati pak Budi dan siap untuk menyerangnya. Daripada harus jatuh korban, aku menampakkan diri dan segera ke arah beliau. Aku terkejut melihat pak Budi membawa tombak api yang diujungnya adalah alien itu. Beliau yang menyadari kehadiranku menoleh kearahku tanpa bicara apapun.


Suasana canggung dan panik ini membuatku mematung. "Jangan cerita pada siapapun apa yang kamu lihat hari ini." ucap beliau samar-samar di balik kaca itu. Aku hanya menganggukkan kepala dan hanya mengamati beliau pergi. Kali ini, aku benar-benar kebingungan dalam satu hari ini. Terlalu banyak hal yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2