School Life Project

School Life Project
Tamu tak Diundang : chapter 1


__ADS_3

"Kak ketua, segera ke ruang pak Indra! Ada hal penting yang perlu dibicarakan!" dan Nur menutup telponnya.


Jonathan langsung menuju ruang kepsek. Padahal sedang menikmati suasana di kamar mandi. Tolong jangan berpikir aneh-aneh ya. Dia hanya mengorganisir pemikiran yang tertumpuk terlalu banyak di otaknya. Jonathan masih mencari solusi untuk masalah ini.


Sesampainya di ruang kepsek, Jonathan juga melihat Amanda yang sudah menunggu bersama pak Indra. Kemudian mereka melakukan rapat tertutup. Informasi yang dikirim pak Budi beberapa hari lalu membuat pak Indra terkejut. Kapal perang angkasa dari Bumi kalah melawan pesawat induk Insectanon.


Data yang diterima dari pangkalan di bulan melaporkan, kedatangan mereka tidak bisa ditunda. Mau tidak mau, peperangan seperti dahulu akan terjadi lagi. Tentara dan pembawa berkah sudah diberikan perintah untuk bersiap berperang dan memprioritaskan keselamatan warga. Tidak hanya itu, Alien yang sudah lama bersembunyi mulai keluar dan menyerang.


Jonathan dan Amanda diharapkan pak Indra untuk bekerja sama untuk melindungi warga ketika ini terjadi. Mereka berdua mengeluarkan keringat dingin setelah mendengar itu semua, tapi mereka berdua tegas menjawab bahwa mereka akan setia melindungi warga.


Mereka berdua berpamitan dan meninggalkan ruang kepsek. Mereka bingung akan berbuat apa. Berita ini datang tak terduga.


"Bagaimana menurut kakak?" tanya amanda tanpa menoleh ke Jonathan. "Apa kita akan mati?" lanjutnya dengan suara ketakutan.

__ADS_1


Tubuh Amanda masih gemetaran mendengar semua itu. Kehidupan sekolah yang dia dambakan, impian dia untuk menggantikan ayahnya, akan segera berakhir. Kota yang dia cintai akan hancur, kenangan indah akan terhapuskan.


"Amanda, tenanglah." Jonathan berusaha menghibur.


"Bagaimana aku bisa tenang kak? Kami ingin menikmati masa muda kami dengan belajar, dan hidup bahagia! Bukan perang konyol seperti ini!"


Teriakan Amanda terdengar ke sebagian murid disekitar. Keanggunan Amanda hancur. Setelah teriakan itu, air matanya tidak dapat dibendung. Sedangkan Jonathan panik karena bukan rasa iba yang dia terima, justru pandangan jijik dari murid disekitar. Mereka pikir Jonathan mengganggu Amanda.


Tidak lama kemudian, Aurel, wakil dari Amanda datang dan memeluknya dari belakang. Dia membimbing Amanda untuk pergi dari situ, dan mengedipkan satu mata ke Jonathan seraya mengatakan, "Biar aku yang urus ini kak!" diimbuhi senyum lebar. Jonathan hanya berdiri mematung disana. Tidak tahu apa yang harus dilakukan.


"Kak Nathan!" sapa Iris dari kejauhan.


Jonathan tidak menghiraukan sapaan itu dan terus berjalan ke ruang OSIS. Kesal dengan perilakunya, Iris berlari dan menabraknya. Merasa ada yang menyerangnya, Jonathan spontan menghindari tabrakan Iris. Iris tidak memperhitungkan bahwa Jonathan akan menghindarinya, namun dia berhasil menyeimbangkan diri dan tidak terjatuh.

__ADS_1


"Oh Iris, halo." sapa Jonathan datar.


"Ih! Kakak pikir aku ini telepon? Pakai halo halo segala!"


"Maaf, aku sedang banyak pikiran. ada apa?"


"Kak Adrian mencarimu. Katanya bertemu di tempat biasa."


"Ah, oke. Terima kasih Iris."


Tanpa berpamitan, Jonathan bergegas menuju "tempat biasa" itu.


"Ih, sebel deh!" ucap Iris sambil menghentak-hentakkan kakinya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2