
Adrian's Point of View
"Baik, terima kasih laporannya. Nanti lebih detailnya tolong dikirim ya!" Jawabku sambil mencentang kertas laporanku.
"Siap kak Adrian!" Balas suara cewe anggota tim Iqbal dan menutup panggilanku.
"Serangan di daerah perbatasan Waru dan Gedangan sudah berhasil ditahan. Wakil geng Gagak Hitam sudah berhasil dikalahkan. Laporan mendetailnya nanti menyusul!" Ucapku ke Jonathan
"Bagus! lalu ada kabar dari tim Cakra atau Aisyah?" tanya Jonathan.
"Sebentar, biar ku cek." Sambil mengganti frekuensi di earphone ku. "Halo, anggotanya kak Cakra, bagaimana kondisi disana?"
"Halo, iya, kondisi disini cukup parah. Tapi wakil geng Gagak Hitam sudah dikalahkan. Sekarang kak Cakra beserta geng Bola Djiwa menolong orang tua geng Gustiaji." Jawab seorang cowo anggota tim Cakra.
"Oke, terima kasih atas laporannya. Detailnya tolong dikirim juga." Ujar ku sambil mencatat sebagian informasi tadi di kertas.
"Siap kak!" dan kemudian menutup panggilan.
"Sepertinya penyerangan di Wonoayu juga sudah dimenangkan. Sekarang Cakra ikut bergabung dengan geng Bola Djiwa untuk menolong orang tua geng Gustiaji."
"Hmm, sepertinya ada sesuatu yang terjadi disana. Tapi biarlah laporan yang menjelaskan padaku pokok permasalahannya. Berarti sekarang tinggal tim Aisyah. Rina, bagaimana?"
"Masih belum ada respon. Sepertinya mereka sedang bertarung disana."
"Lalu, pertemuanmu dengan pak Hamdan tadi gimana?" tanyaku kepada Nathan.
"Beliau setuju akan membantu dengan personelnya. Pak Hamdan akan melakukan serangan kejutan ketika ketua geng Gagak Hitam mulai menyerang."
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang di hari sabtu ini. Kami sekarang hanya menunggu sampai ketua geng Gagak Hitam terganggu dengan campur tangan kami dan mulai menyerang sekolah SMA Kartika Raya.
Rina sudah mendapatkan laporan dari anggota tim Aisyah. Serangan di danau lumpur Lapindo berhasil digagalkan oleh gabungan tim Aisyah dan sekolah SMA sekitar juga wakil geng Semar Mendem. Sebentar lagi semua berita kekalahan geng Gagak Hitam akan menyeret keluar ketuanya.
Sekarang jam sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Laporan tentang munculnya ketua geng Gagak Hitam beserta anggota membuat kami turun dari ruang OSIS ke gerbang sekolah. Aku, Jonathan, Rina, Yunita, dan beberapa murid-murid sekolah SMA Kartika Raya sudah mulai berkumpul.
Kami semua mulai berbaris rapi dan bersiap-siap untuk melawan geng tersebut yang jumlahnya beberapa kali lipat dari jumlah kami. Jonathan maju ke depan barisan untuk memberikan pidato.
"Baiklah semuanya, dengar! Aku ucapkan terima kasih kepada kalian yang mau meluangkan waktunya untuk datang ke sekolah. Ini adalah kondisi yang sebenarnya bukan urusan kita sebagai anak sekolah, tapi kita berbeda! Kita adalah anak-anak pembawa "berkah"! Kita telah disumpah untuk melindungi negara ini dari segala jenis kekacauan, termasuk perang geng ini! Akan kuingatkan bahwa geng Gagak Hitam ini telah mengacaukan kota Sidoarjo, merusak fasilitas umum, membunuh warga yang tidak berdosa, merampok harta benda dan semua itu mereka lakukan untuk kepentingan mereka sendiri."
Para murid mulai bersorak semangat.
"Kita tidak bisa diam saja melihat kekacauan ini dan harus sesegera mungkin mengakhirinya! Kalian mungkin berpikir kenapa tidak diserahkan saja kepada polisi. Para polisi ini sudah tidak ditakuti lagi oleh mereka! Mereka tidak segan-segan membunuh tanpa sebuah alasan! Itulah sebabnya kita akan melawan balik mereka, dan mengembalikan kedamaian di kota Sidoarjo ini sekali lagi! Tunjukkan bahwa kalian lebih kuat, berani, dan berbahaya daripada mereka!"
Semua murid yang mendengarnya mulai bersorak. Aku hanya bisa bertepuk tangan setelah mendengar pidato tersebut. tak kusangka seseorang yang biasanya bermalas-malasan bisa membuat pidato seperti ini.
Selang beberapa menit setelah pidato itu selesai, geng Gagak Hitam sudah berada di depan gerbang sekolah kami dengan ketuanya di depan barisan. Orang itu cukup tinggi, layaknya pemain basket dengan ikat kepala berwana hitam. Tubuhnya dipenuhi otot seperti body builder. Bajunya bergambar kepala gagak. Celana jeans hitam dengan rantai perak di sakunya dan tanpa alas kaki.
Jonathan's Point of View
"Akhirnya kau datang juga, perusuh kota!" ucapku tegas.
"Kalian yang perusuh! Sudah kuduga kalian pasti akan ikut campur urusan kami!"
"Karena itulah kalian harus segera dihentikan!"
"SMA Kartika Raya, sekolah yang langsung dibiayai oleh pemerintahan ya? Nama itu akan semakin terkenal karena akan hancur setelah ini!" ucap ketua geng itu. "Aku, Widya, ketua geng Gagak Hitam akan memusnahkan kalian, anak-anak pembawa 'berkah' sialan!"
"Dan aku, Jonathan, akan menghentikanmu!"
"Heh!" Widya menyeringai, "SERANG!"
Teriakan Widya membuat geng Gagak Hitam bergerak serentak, memulai serangannya kepada kami. Aku juga memberi isyarat kepada teman-temanku agar mulai untuk menyerang. Seketika itu juga tembok gerbang sekolah hancur untuk membuat ruang bertarung menjadi lebih luas.
"Aduu...."ucapku sambil menepok wajah. "Adrian, bisa kamu urus itu nanti?"
"Iya, iyaa...." jawab Adrian datar. "Mereka terlalu bersemangat."
Setelah kejadian itu aku langsung membuat pistol apiku, kemudian bersama Rina dan Adrian menembus kerumunan tersebut menuju ke Widya yang hanya berdiri sambil menyilangkan tangannya. Tiba-tiba muncul dua orang di depan Widya sembari menyilangkan pedang es dan api. Kami mendadak berhenti dan mengamati mereka.
"Kau pikir kak Widya tidak punya wakil lain yang menjaganya karena menyerang wilayah lain?" ucap salah satu orang pemegang pedang es itu.
"Kami disini akan setia melindungi kak Widya." Ucap satunya lagi.
"Ini akan merepotkan. Rina, kau pilih lawan yang mana?" tanyaku kepada Rina yang sedang menciptakan busur biolanya.
"Aku akan mengurus cewe pemegang pedang es tersebut." balas Rina.
"Kalau begitu aku akan melawan cowo pemegang pedang api itu." Sahut Adrian.
Akupun menembakkan peluru api berwana hijau dan biru. Beberapa detik sebelum ditangkis oleh kedua wakilnya, peluru tersebut meledak dan membuat mereka terpisah, sedangkan Widya masih berdiri disana.
"Segitu saja kemampuan mu bocah api?" hina Widya. "Tunjukan serangan terbaikmu!" tantangnya sambil menujukku.
__ADS_1
"Sepertinya kita berpisah disini. kawan-kawan, semoga berhasil." dan aku langsung menyapa Widya dengan beberapa tembakan api.
"Element mu hanya satu dan berani melawanku?" ucap cewe tersebut.
Cewe itupun membuat bola angin di tangan kirinya. menutupi tubuhnya dengan tanah, dan setelah beberapa saat, tanah itu membentuk seperti baju zirah lengkap dengan helm pelindung. Lalu dia mengobarkan api di seluruh tubuhnya.
"Bagaimana, Keren bukan?" ujar cewe itu menyombongkan diri.
"Kamu pikir aku takut?" balas Rina datar dan merubah busur biolanya menjadi pedang rapier. senjata khas para pemain anggar. "Bagiku, quality lebih baik dari quantity!"
"Mari kita buktikan!"
Disatu sisi, Adrian sudah mulai berhadapan dengan cowo itu. Setiap gerakan pukulan Adrian membuat tanah terangkat dan mengarah ke cowo itu. Setelah cowo itu berhasil menghindar beberapa kali, dia membuat pedang cahaya di tangan satunya.
"Kelihatannya adikku sudah mulai serius. Kalau begitu aku juga."
"Api dan cahaya?" tanya Adrian sambil menaikkan alis "Kamu juga pemilik multi element?"
Tanpa menggubris pertanyaan Adrian, cowo tersebut mulai menutupi tubuhnya dengan tanah juga. Dan selang beberapa saat, tanah tersebut menjadi baju zirah yang terlihat kuat dan keras. Lalu muncul aura kegelapan dari tubuhnya.
"Ternyata kakak-adik itu sama saja." Ucap Adrian yang mulai memfokuskan kekuatan tanah di kedua tangannya. "Kalau begitu aku juga akan serius." dan kemudian memukul kedua tangannya.
-----------------------------
Widya daritadi hanya menghindari setiap serangan yang kuarahkan kepadanya. Peluru api berwarna biru, tebasan api hijau, dan bola api kuning selalu dihindarinya sambil loncat kebelakang. Sepertinya dia membimbingku ke suatu tempat. Sampai akhirnya aku dan dia berdiri tepat di depan monumen Jayandaru.
"Kupikir apimu biasa saja, ternyata unik juga. Sebaiknya kamu jadi badut saja, atau pedagang kembang api setelah lulus sekolah, karena apimu warna-warni!" Kemudian Widya tertawa terbahak-bahak.
"Setidaknya kalau ada hari raya atau tahun baru, aku tidak perlu beli kembang api." Balasku santai sambil menyipitkan mata.
Setelah Widya puas dengan tertawanya, mendadak wajahnya menjadi serius. "Tapi sayang, semua ini akan segera berakhir."
Dia mengambil posisi kuda-kuda, membuka kaki nya cukup lebar sampai pahanya membetuk garis lurus. Kedua tangannya mengepal sekuat tenaga dan diletakkan sejajar pinggangnya. Aku merasakan sebuah aura yang cukup kuat datang dari arahnya. Kusiapkan perisai dan dinding api kalau-kalau dia meloncat ke arahku.
Setelah kuamati cukup lama, sebuah bola api muncul di atas belakang kepalanya, kemudian setelah bergeser sedikit, muncul bola air, setelah itu, bola angin, tanah, cahaya dan diakhiri dengan kegelapan. Bola-bola element tersebut membentuk lingkaran di belakang tubuhnya. Aku hanya bisa terbelalak kaget sekaligus kagum. "ini orang mengendalikan 6 element? Yang benar saja." Pikirku.
"hey bocah! Jangan melamun, atau kau akan mati!"
Setelah itu, tangannya bergeser ke sebelah kiri, dan mengambil posisi seperti memegang pedang besar yang siap ditebaskan melingkar. Seketika muncul gagang pedang cahaya di tangannya, dan mulai dihempaskan secepat kilat. Aku seketika tersadar dan langsung loncat dan terbang. Aku melihat jangkauan pedangnya bahkan masih terlalu jauh dari posisiku, tapi aku merasakan sesuatu yang bergetar setelah Widya menebaskan pedangnya itu.
Benar saja, kulihat beberapa pohon tiba-tiba terpotong jadi dua bagian. Tidak hanya itu, bangunan disekitarnya juga ikut terpotong, tiang-tiang listrik, lampu jalanan dan yang paling parah, monumen Jayandaru juga ikut terpotong. Padahal kalau dihitung, jarak antara Widya dan monumen itu masih ada 30 meter, sedangkan pedangnya hanya sepanjang 3 meter.
Aku mulai panik dan memanggil Yunita dengan earphoneku.
"Yunita! Dimana kamu? Cepat culik aku dan orang ini ke dimensimu, culik juga Rina dan Adrian bersama lawannya!"
Beberapa saat kemudian sebuah gerbang dimensi kegelapan muncul, tapi gerbang itu bergerak sangat cepat dan melahap kami berdua tanpa sadar.
"Ruang dimensi?! Sejak kapan?" ucap Widya sambil mengamati sekitar. "Biarlah, setidaknya aku bisa bertarung dengan lebih leluasa, benar kan bocah?" dilanjutkan dengan tertawa.
"Ini lebih baik daripada kamu membuat kerusakan lebih parah lagi diluar." Jawabku sambil menggaruk kepala.
Setelah selesai tertawanya, Widya bersama pedang cahayanya tadi meluncur bersama kearahku. Aku melontarkan timah panas sebanyak mungkin, tapi Widya tidak bergeming dan terus mengarah kepadaku. Setelah cukup dekat jarak Widya denganku, dia menebaskan pedang itu sekuat tenaga, aku yang menahan serangan itu langsung terpental jauh dan terhenti di tembok batas ruang dimensi.
"Sial! Orang ini bukan hanya element nya banyak, tapi kekuatan fisiknya juga gila!" Ucapku sambil memegangi lengan kananku yang kesakitan.
"Bocah ingusan! masih bisa bertarung?" tanya Widya dari kejauhan sambil menopang pedangnya di pundaknya.
"Ini belum seberapa kok." Kemudian aku mendarat di trotoar. "Aku masih memiliki beberapa kejutan untukmu."
"Begitu? Kupikir hanya sampai situ saja kemampuanmu. Kalau begitu segera tunjukkan!" Tantang Widya yang mulai memutar bola element dibelakangnya.
"Bersiaplah!"
Aku membakar tubuhku sendiri, api yang membara ini cukup besar. Aku memfokuskan semua kekuatan di kedua tanganku. Lalu menggenggamnya sekuat tenaga, dan meledakkannya. Alhasil, api yang hanya membara biasa menjadi lebih panas, dan lebih terfokus layaknya api yang digunakan untuk mengelas. Muncul sayap api yang mulai mengibaskan panasnya, dan kedua mataku mengeluarkan api seperti layaknya iblis.
"Wah, wah, transformasi? Sayang aku tidak bisa melakukan itu." Ucap Widya santai yang masih melayang di udara. "Mari kita lihat seberapa jauh kekuatanmu itu!"
Widya mengumpulkan bola element yang berputar tadi di tangannya. Semua element tadi bercampur menjadi satu dan membentuk bola energi hitam dengan bola-bola kecil mengorbit. Setelah itu Widya melemparkan bola itu ke arahku yang masih dalam kondisi transformasi.
Aku tidak bergerak untuk menghindarinya, tetapi aku menahannya dengan membuka telapak tanganku. Rasanya seperti menahan buah durian yang dilempar sangat kuat. Tanganku sampai mati rasa. Kucoba untuk meraih energi itu, dan berhasil kukendalikan sebentar. Dengan gerakan berputar melawan arah lemparan sebelumnya, kubalikkan serangan Widya.
"Makan ini!" teriakku sambil melempar balik.
"Hmm?"
Widya yang cukup terkejut melihat serangannya kembali langsung ambil posisi bertahan dengan pedangnya. Bola energi kemudian meledak setelah menyentuh pedang Widya dan tercipta tornado api dasyat beserta bongkahan batu dan es yang ikut berputar. Di saat itu aku juga terbang mengarah ke Widya dan menembus tornado itu.
Kuletakkan telapak tangan kiriku di pedang tersebut dan membakar bersama pemiliknya. Kutingkatkan panasnya dengan semburan api dari tangan kananku. Ditambah lagi kondisi tornado api yang mulai mengeluarkan beberapa pisau angin secara acak. Sesaat kemudian aku mendengar suara tawa.
"Hehehe! hahaha!" ucap Widya yang masih dalam kobaran api. "Kau pikir ini panas?"
__ADS_1
"Memangnya tidak?" jawabku heran sambil memperkuat semburan api.
"Kau benar-benar bodoh ya!" balas Widya yang kemudian mengelakku dan mengambil jarak.
"Kuakui membalikkan seranganku memang cukup bagus. Tapi seranganmu masih belum ada apa-apanya!" Sambil Widya menunjukku dengan pedangnya.
"Aku sendiri juga heran sih, bahkan bajumu tidak terbakar sedikitpun."
"Hahahaha!" tawa Widya yang cukup keras sambil mendongak keatas. "Kau bocah yang menarik juga! Tapi sayang ini akan segera berakhir."
"Kau sudah mengucapkan itu tadi di awal!" Balasku sambil mengingat-ingat beberapa dialog sebelumnya.
Tanpa merespon balik, Widya menebaskan pedangnya sangat cepat. Gelombang energi pun bermunculan ke arahku. Aku menghindar kesana-kemari sembari mencari celah dari serangannya. Hempasan terakhir Widya membuat gelombang energi sangat besar dan berbentuk silang. 'ini saatnya' pikirku yang melihat ada peluang menyerang.
Kutahan tebasan silang itu tepat di tengah dengan kedua telapak tanganku. Sayap apiku berkibas dengan cukup cepat untuk membuat momentum. Kutarik tangan kananku dan mengumpulkan energi api. setelah kurasa cukup, kupukul tebasan itu dengan kuat dan hancur. Widya yang sadar akan itu langsung menutupi tubuhnya dengan pedang.
Aku melesat kearah Widya yang sudah dalam posisi bertahan itu. Kupukul keras bilah pedangnya dan membuat ledakan angin melingkar. Kulihat Widya menyeringai karena berhasil menahan seranganku. Dengan secepat kilat aku membuat bola api dan kugenggam lalu kutinjukan lewat tangan kiriku. Seketika itu gelombang api layaknya tombak menembus pedang dan lengan atas Widya.
Bekas luka itu kemudian membakar semua tubuh bagian kanan Widya dan membuat dia membuka pertahanannya. Kusatukan tanganku diatas dan memukul Widya sekuat tenaga tepat di kepalanya. Widya melesat jatuh ke aspal jalan dan membuat retakan yang dalam. Aku kemudian mendarat di samping Widya yang masih terkapar, kelihatannya dia pingsan.
"Heh... heh... heh...." napasku yang terengah-engah sambil menahan rasa sakit karena seluruh tubuhku masih terbakar. "Kelihatannya dia sudah sekarat."
Bagian kanan tubuh Widya yang tadi terbakar sudah padam, dan mulai tampak bekas lukanya.
"Yunita, kamu boleh mengeluarkan kami sekarang. Widya sudah kukalahkan." Ucapku sambil berusaha memadamkan kobaran api di tubuhku.
Tidak lama kemudian, gerbang ruang dimensi muncul dari kiri ku dan bergerak berlawanan arah. Membuatku dan Widya keluar dari ruang dimensi.
"Woah! Kok ramai?" kulihat sekitarku yang ramai akan beberapa mobil polisi dan ambulan. Disana juga para polisi memborgol beberapa anggota geng Gagak Hitam, sedangkan petugas ambulan menolong teman-teman yang terluka.
"Jonathan!" kudengar suara Rina dari kerumunan itu. Rina kemudian berlari kearahku disusul dengan Adrian yang berjalan kaki dengan santai.
"Rina, Adrian! Kalian tidak apa-apa?" tanyaku yang masih memegangi lengan tangan kanan yang terluka.
Tanpa basa-basi Rina langsung memelukku. "Syukurlah kamu selamat!"
"Ehem, ehem! Enaknya dipeluk cewe setelah bertarung." Goda Adrian sambil melipat tangannya.
"Maaf ya, ini harus terjadi di depan matamu." Ucapku yang sebenarnya juga kebingungan.
"Itu sudah pantas kamu dapatkan setelah melawan ketua geng Gagak Hitam. Ya kan, Rina?"
Rina tidak mengubris pertanyaan Adrian dan masih memelukku dengan erat.
"He-hei Rina, mau berapa lama kamu meluk aku?"
Rina kemudian melepaskan pelukannya dan mundur beberapa langkah. Rina mengamatiku dari ujung kaki sampai pangkal rambut. Setelah itu mengangguk-angguk seraya semuanya masih dalam kondisi selamat.
"Pertarunganmu yang paling lama tau!" tiba-tiba Rina membentakku.
"Sungguh?"
"Iya, aku dan Adrian sempat khawatir jika kamu kalah oleh ketua geng itu! Apalagi setelah dia memotong monumen Jayandaru itu!" Ucap Rina yang meletakkan kedua tangannya dipinggang sambil melototiku dengan tajam.
"Tapi kan ada Yunita. Aku bisa minta tolong dia jika ada apa-apa." Balasku santai.
"Tetap saja! Membuat wanita khawatir itu tidak baik!" Rina kembali memarahiku.
"Kalian berdua ini." Adrian menghela nafas.
Disaat itu pula, tubuh Widya tiba-tiba bergetar tidak karuan dan mulai bergeliat-liat. Dipunggungnya seperti ada gundukan daging yang menonjol. Aku yang menyadari hal tersebut segera menyuruh Rina dan Adrian bersiaga. Tonjolan itu pecah dan menampakkan seekor binatang seperti serangga bersisik.
"Ti-ti-tidak mungkin!? Itu parasit?" ucapku yang terkejut melihat kejadian itu.
"Bukannya seharusnya mereka sudah binasa?" lanjut Adrian.
Parasit itu kemudian mengeluarkan kakinya yang cukup panjang dan memeluk Widya dari belakang. Parasit itu juga menjulurkan semacam tentakel dari mulutnya dan menusuk ke arah telinga Widya. Seketika itu Widya menjerit kesakitan teramat sangat, dan setelah jeritan itu dia terdiam. Widya bergerak bangkit dan berdiri dalam posisi bungkuk.
"Kau memikirkan seperti apa yang kupikirkan, Nathan?" ucap Adrian sambil memandangiku.
Kubalas dengan mengangguk dan tetap memperhatikan Widya.
"Rina! Cepat bekukan seluruh tubuhnya!" perintahku ke Rina.
Orang-orang disekitar mulai mengamati kami berempat dengan kaget dan heran. Rina masih memfokuskan element es nya sedangkan Widya mendadak berdiri tegak dan mulai menyerang kami dengan tentakel yang keluar dari serangga tersebut. diujung tentakel-tentakel itu ada element api yang membara, pedang es, tombak tanah, dan pisau angin. Aku dan Adrian berusaha melindungi Rina yang menjadi target serang tentakel itu.
Setelah selesai mengumpulkan energi yang cukup, Rina mengarahkan telapak tangannya ke arah Widya. Seketika itu tubuhnya mulai membeku perlahan dari ujung kaki. Beberapa saat kemudian Widya sudah membeku sempurna. Tapi tidak dengan parasit itu, tentakelnya yang membeku itu kembali bergerak dan menyerang kami biarpun gerakannya tidak secepat awal karena Rina masih berusaha membekukan total.
Dengan bantuan Adrian, aku mendekati Widya dan mengarah ke punggungnya. Ku fokuskan kobaran api di tanganku dan berusaha membakarnya. Parasit itu mencuit-cuit kesakitan, gerakan tentakelnya pun juga menjadi acak. Ketika apiku sudah bisa menembus kulit bersisiknya, aku meledakkan api ku dari dalam tubuh parasit itu dan dalam sekejap, parasit itu hangus dan tentakelnya mulai berjatuhan. Diikuti juga dengan tubuh Widya yang roboh kembali ke aspal jalan.
Kemudian suasana disini mendadak hening.
__ADS_1