School Life Project

School Life Project
End of the World : chapter 3


__ADS_3

--Beberapa Hari setelah itu--


Suasana Senin pagi hari ini berbeda dari biasanya. Hari yang selalu diawali dengan kebisingan menjadi sepi, bahkan suara burung yang pergi untuk mencari makan bisa terdengar jelas. Sang awan masih menyelimuti permukaan bumi dan membuat pagi ini menjadi gelap. Udara dingin masih bisa dirasakan.


Tidak untuk SMA Kartika Raya, banyak sekali orang yang berkumpul disana. Bukan murid sekolah yang terlihat, melainkan penduduk sekitar yang ditemani dengan tentara. Sekolah tersebut dijadikan sebagai salah satu tempat pengungsian. Sedangkan para pengendali sudah menyebar ke seluruh wilayah di Sidoarjo untuk bersiap.


Jonathan dan Adrian yang duduk di atas Monumen Sidoarjo menunggu perintah selanjutnya dari kemiliteran. Mereka ditugaskan untuk menahan serangan yang bisa mengancam tempat pengungsian. Disekitar monumen itu juga terlihat beberapa tentara dan pengendali lainnya yang sedang berpatroli.


"Kenapa wajahmu bisa sebahagia itu?" tanya Jonathan yang risih melihat perilaku Adrian.


Adrian daritadi hanya senyam-senyum tanpa sebab. "Santailah sedikit Jonathan. Jangan terlalu dipikirkan tentang peperangan ini. " Balasnya.


"Aku tahu, tapi tidak sesantai kamu, mengayun-ayunkan kaki seperti itu di ketinggian."


Adrian kemudian tertawa seperti biasanya.


"Sepertinya, mereka akan segera datang. Aku turun duluan ya."


Adrian terjun bebas dari atas Monumen Sidoarjo dan mendarat tanpa merusaknya. Dia kemudian berjalan-jalan disekitar monumen tersebut. Sedangkan Jonathan hanya bisa melepas nafas panjang. Tiba-tiba alat komunikasi yang menempel di telinganya bersuara.


"Mereka datang. Bersiaplah untuk melawan. Komandan akan membunyikan sirine."


Benar saja, setelah Jonathan mendengar suara itu, sirine yang panjang terdengar dimana-mana. Jonathan berdiri dan mulai mengembangkan sayap apinya. Dia melihat ada yang bersinar di sela-sela mendungnya awan. Semakin lama semakin jelas benda bersinar itu.


Tidak hanya satu, tapi banyak sinar-sinar lain yang bermunculan dan membelah awan. Terlihat wujud asli dari sinar itu, yaitu seperti roket raksasa yang berbentuk balok dengan ukiran misterius. Salah satu roket itu menghantam tanah dan menghancurkan bangunan disekitarnya. Tetapi anehnya, roket raksasa itu tidak meledak dan berdiri tegak.


Sesaat kemudian, benda itu terbuka perlahan dan munculah para Insectanon yang dengan beringasnya berlarian memakan dan menghancurkan apapun yang ada didepan mata. Jumlah yang muncul dari roket itu tidak sedikit, ratusan atau bahkan ribuan. Beberapa dari mereka mulai mengarah ke tempat pengungsian.


Adrian sudah mempersiapkan meriam besar dari pengendalian tanahnya dan mengarahkan ke udara. Ditembakkannya meriam tersebut bertubi-tubi. Peluru yang melayang itu lalu pecah, menjadi beberapa serpihan kristal tajam yang siap menghujani Insectanon tersebut. Para serangga itu tidak peduli dengan hujan kristal yang dibuat Adrian dan terus maju.


Para pengendali lainnya juga sudah mulai maju ke garis depan untuk menahan serangan. Biarpun mereka tidak sekuat siswa-siswi sekolah khusus, namun mereka menunjukkan kebolehan mereka. Tentara juga ikut membantu dengan menembaki alien itu dari jauh.


Jonathan akhirnya ikut bergabung dan mulai terbang diatas serangga itu, dia membuat pistol api di kedua tangannya dan mulai menembak. Setiap peluru yang ditembakkan meledak dan membakar alien tersebut. Dia terus melakukan itu sambil terbang mengarah ke roket raksasa.


Di dekat roket itu terlihat seorang berdiri si salah satu papan iklan besar. Seorang wanita dengan daster hitam dan motif bunga, di punggungnya terdapat kepala burung gagak yang disilang. Jonathan mendarat di atas papan iklan itu.


"Terima kasih mau menolong kami, ketua dari geng 'Doa Iboe'. Kami sangat menghargai pertolongan anda." ucap Jonathan sopan.


"Tidak perlu basa-basi seperti itu anak muda. Mereka berani menyerang wilayahku, mereka harus berani menerima konsekuensinya." balas wanita itu.

__ADS_1


Beberapa Insectanon menyadari kedua orang itu dan mulai memakan tiang penyangga papan reklame itu. Jonathan dan wanita itu kembali terbang dan melayang di udara. Papan iklan itupun roboh dan seketika terlahap oleh kerumunan Insectanon.


Wanita itu bengong melihat apa yang terjadi, "Ganas juga mereka. Kupikir buku sejarah itu lebay dalam membuat cerita."


"Yah, mereka menulis berdasarkan fakta. Tak kusangka mengerikan juga kalau melihat didepan mata seperti ini." tambah Jonathan.


Insectanon berjenis lain muncul dari roket itu, mereka memanjat roket itu dan mulai menembakkan cairan hijau dengan cepat. Cairan itu berhasil dihindari oleh keduanya.


"Jenis lainnya?" Ucap wanita itu. "Sepertinya aku harus banyak membaca setelah ini."


Jonathan hanya menggaruk-garuk kepalanya. Sebenarnya Jenis Insectanon sudah dijelaskan cukup detail di buku-buku.


"Hei nak, kau mau bengong terus atau membantuku menghancurkan benda ini?" Teriak wanita itu.


"Ba-baiklah."


Wanita itu ke sisi seberang roket itu dengan menciptakan hujan panah disetiap perjalanannya. Panah cahanya itu juga meledak ketika berkontak dengan sesuatu. Jonathan memfokuskan kekuatannya di pistol, menghadapkannya ke celah roket yang terbuka itu dan menembakkan peluru api besar.


Wanita itu meregangkan tangannya, kemudian mengayunkan tangan kanannya dan berpose layaknya pemanah. Alhasil, sebuah panah dan busur cahaya muncul di tangannya. Dia mengumpulkan kekuatan dan berfokus pada celah yang terbuka itu. Sesaat kemudian, Dia menembakkan panah itu, diikuti dengan panah lain yang muncul dari belakang.


Kedua serangan itu dilakukan secara bersamaan dan menghasilkan ledakan dasyat didalam  roket tersebut. Insectanon yang masih didalam roket tersebut berhamburan keluar. Roket itu masih berdiri dengan kokoh, namun sudah tidak memunculkan Insectanon lagi.


Jonathan memperhatikan Insectanon yang masih berkerliaran disekitar roket tersebut dan menghabisinya. Dia terbang mendekati kerumunan alien itu dan mengepakkan sayap api nya dengan cepat, membuat hembusan hawa panas. Kepakan beruntun itu diakhiri dengan satu kepakan kuat dan menciptakan pilar api yang bergerak menjauhi Jonathan.


Pilar itu melayangkan alien sekaligus membakarnya. Mayatnya yang terlempar oleh pilar itu berjatuhan dan hangus. Tidak berhenti disitu, Jonathan juga memfokuskan kekuatan di kedua pistol dan membuatnya membara. Lalu dia mendarat ditengah kerumunan itu dengan cepat, meledakkan api disekitar untuk membuat zona aman dan juga membakar Insectanon disekitarnya.


Insectanon lainnya berhenti sesaat dan memfokuskan serangan ke arah Jonathan. Dengan cekatan, Jonathan menembak ke segala arah. Peluru yang ditembakkan itu terlampau panas sehingga mudah sekali menembus tubuh alien tersebut. Sayap apinya yang panas membuat alien itu kesusahan mendekati Jonathan.


Serangan tiba-tiba dari serangga yang menyemprotkan cairan hijau membuat Jonathan terkejut dan berusaha menghindarinya. Dia menembakkan pistolnya secara beruntun ke asal cairan itu. Jonathan juga terbang kearah asal cairan itu dengan terus menembak. Sampailah dia di kerumunan serangga yang sudah bersiap menembakkan cairan itu.


Seketika dia terbang keatas, mengisi pistolnya kembali dengan kekuatannya, dan menembakkan dua bola api besar kearah mereka. Ledakan yang ditimbulkan sangatlah besar dan dapat membakar apapun yang tercakup. Jonathan mengamati keadaan sekitar dan tetap waspada dengan cairan hijau tersebut. Tiba-tiba terdengar lagi suara dari alat komunikasinya. Kali ini dengan suara yang dikenal Jonathan.


"Kak ketua. Aku akan membantumu."


Suara itu adalah suara dari Aisyah. Terlihat dari kejauhan sebuah sorotan cahaya yang menyilaukan. Sesekali menjadi terang dan redup. Kilatan cahaya itu datang semakin dekat dan cepat. Beberapa saat kilatan itu lenyap, lalu sebuah garis lurus berkilau mengarah ke Jonathan. Aisyah terlihat di ujung garis berkilau itu. Dia kemudian melakukan gerakan berputar, membuat cincin cahaya yang kemudian melebar dan memotong semua yang disekitarnya.


Aisyah menutup gerakan itu dengan meloncat tinggi dan membuat cincin itu terbang keatas. Dia meloncat kearah Jonathan dan menyapanya.


"Hai kak!" ditambah dengan senyum polosnya.

__ADS_1


Tanpa menunggu respon dari Jonathan, Aisyah menjatuhkan diri dan menyerap cincin cahaya itu, disatukan dengan cabang cahaya. Kedua tanganya disilangkan sampai dia mendarat dengan sempurna ditanah. Setelah mendarat sempurna dengan kedua kakinya, Aisyah langsung masuk ke mode kuda-kuda dan menebaskan kedua cabang itu. Gelombang cahaya tercipta dan memotong setiap alien yang dilewatinya menjadi dua.


Jonathan melihat keadaan sekitar lagi, sebagian besar alien yang berada di sekitar roket itu berhasil dibunuh. Dia akhirnya mendarat disebelah Aisyah.


Aisyah merasakan hawa panas yang menyengat, dia menjauh sedikit. "Aw aw aw, panas kak."


"Ah maaf." dan Jonathan memadamkan sayap apinya. "Kondisi disana bagaimana?" lanjutnya.


"Daerah Kahuripan sudah berhasil diamankan. Aku berhasil menghancurkan roket itu sebelum jatuh ke tanah, hehehe." Jawab Aisyah bangga. "Biarpun begitu, Insectanon yang selamat membuat kekacauan dan harus kubereskan."


"Kekuatanmu memang terlampau kuat." Puji Jonathan.


Aisyah tersipu malu dengan mudahnya. "Ah, tidak juga. Aku masih kalah lho ama Kak Ketua, hehe."


"Kalau yang lain?"


"Iris sudah cukup berkontribusi disana bersama para pengendali lainnya. Akhirnya aku meminta izin untuk pergi ke pos lain yang terdekat, kebetulan di wilayah Kak Ketua sedang kerepotan."


"Sebenarnya Adrian sendiri sudah cukup kuat menahan serangga itu supaya tidak mendekat ke tempat pengungsian. Karena itu kutinggal dia dan mencoba untuk melihat lebih dekat roket tersebut." Jonathan menoleh ke roket balok raksasa itu. "Tak kusangka ukurannya sebesar ini dan membawa ribuan insectanon."


"Kudengar mereka juga meluncurkan roket itu ke tempat yang padat penduduk. Jadi seharusnya daerah pinggiran tidak terserang."


"Kalau begitu bagus, ada zona aman untuk para penduduk yang tidak ikut berperang. Kita bisa mengurangi resikonya jatuh korban."


"Tapi, kita harus tetap waspada terhadap insectanon yang ahli menggali. Siapa tahu mereka melakukan serangan dadakan ke zona tersebut. Belum lagi yang berjenis parasit seperti kejadian geng Gagak Hitam tersebut."


"Gagak Hitam ya? Semenjak Widya gugur, geng tersebut bubar. Ketua sebelumnya ternyata dibunuh oleh Widya. Para wakil sebagian besar telah dilemahkan kekuatan pengendaliannya dan berakhir menjadi tahta kosong tanpa pengganti. Geng besar lainnya kembali mendapatkan wilayahnya dan berkuasa seperti sedia kala."


"Hoo."


"Itulah kenapa geng lainnya senantiasa membantu berperang, disatu sisi untuk menjaga wilayah kekuasaan mereka juga. Eh, kok jadi ngelantur."


"Tidak apa-apa kak, biar pembaca tahu."


Jonathan tidak merespon ucapan itu, "Aku akan kembali ke posku, kamu ikut?" dan kemudian membuat sayap apinya lagi.


"Maaf kak, sepertinya aku harus kembali ke pos."


 

__ADS_1


 


__ADS_2