
"KAK NATHAN!"
Suara teriakan cewe itu terdengar jelas di setiap sudut posko perawatan. Tempat itu penuh dengan pengendali dan tentara yang terluka sehabis berperang. Cewe itu ditemani oleh dua orang lain yang membantu mencari dimana tempat Jonathan di rawat.
"Jangan berisik, Iris. Mereka butuh istirahat." ucap Iqbal sambil melihat kesana-kemari.
Iris terdiam dan mulai melakukan pencarian, dibantu Iqbal dan Aisyah. Sesampainya di lokasi, terlihat Adrian yang asik bermain ponsel duduk disebelah tempat tidur Jonathan. Sebenarnya bukan sedang asik, tetapi bingung karena tidak ada sinyal.
"Kak Nathan! Kakak tidak apa-apa kan? Kenapa harus melakukan hal bodoh seperti itu?"
Entah kenapa mata Iris mulai berkaca-kaca. Aisyah yang menyadari hal itu langsung memeluknya. Iqbal hanya berdiri di sebelah kasur dan menatap Jonathan yang sepertinya terlihat sehat.
"Kau tidak berlebihan kan?" Iqbal menatap Jonathan dengan sinis.
"Jika kau yang berada diposisiku, mungkin aku akan bertanya hal yang sama." canda Jonathan.
Adrian berusaha membela. "Iqbal, sudahlah. Biarkan dia istirahat. Dia sudah berusaha sebaik mungkin."
"Tetap saja itu hal bodoh. Sok jadi pahlawan dengan menahan ledakan sekuat itu. Akhir-akhirnya, seluruh kota masih tetap hancur." lanjut iqbal.
"Iqbal, hentikan!" bentak Aisyah. "Kupikir dengan mengajakmu, Kak Ketua bisa sedikit lega. Tapi kau hanya mengganggunya!"
Iqbal tidak peduli dengan ucapan Aisyah lalu pergi meninggalkan mereka. Adrian hanya geleng-geleng kepala. Kedua sahabatnya bertengkar, tapi dia tidak bisa melakukan apapun.
"Nur, tolong maafkan satu temanku yang lagi bad mood itu ya."
"Mau sampai kapan kebencian kak Iqbal terhadap Kak Ketua akan dilanjutkan? Separah itukah kak Adrian?"
__ADS_1
"Aku... juga tidak paham."
"Daripada memikirkan itu, sekarang tolong tenangkan Iris dulu. Dia masih menangis, aku tidak kuat melihat cewe menangis." sahut Jonathan.
Di satu sisi, Aurel mewakilkan Jonathan untuk rapat tentang apa yang dilakukan berikutnya. Sang kapten menyatakan bahwa semua serangan ini masih belum semuanya, masih ada serangan lanjutan yang belum mereka keluarkan. Namun demikian, kerusakan yang diderita kota Sidoarjo sudah terlalu parah. Untungnya warga masih aman berada di pengungsian. Cepat atau lambat, alien itu akan kembali menyerang warga.
Sang kapten juga mulai menjelaskan beberapa alien yang menyerang. Serangan dari roket raksasa diawal peperangan itu didominasi oleh spesies Ra. Terdapat tiga jenis yang termasuk spesies Ra, yaitu Ra Sik, ra Savia, dan ra Fugel. Sedangkan spesies Elg yang diturunkan adalah Blastea, tapi seharusnya ukuran Elg Blastea tidak sebesar itu.
Ra Sik, adalah serangga dengan tubuh horizontal dan memiliki enam kaki. Memiliki dua capit besar secara horizontal juga. Ra Sik adalah senjata utama yang sering digunakan oleh Insectanon untuk melakukan invasi, karena perkembang-biakannya yang cepat dan masif. Sebagian besar hidup Ra Sik berada di dalam telur dengan kondisi nimfa. Setelah mereka keluar dari telur, mereka dengan cepat menuju dewasa dan siap digunakan.
Ra Savia memiliki morfologi yang beda dengan Ra Sik, dia berbentuk tegak dengan dua pasang kaki yang membentuk seperti penyangga, memiliki sepasang tangan dan kepala seperti capung. Berkat kaki bercabang empatnya itu, Ra Savia menjadi lincah dan dengan mudah mendaki apapun. Keunikan lainnya adalah, ludah cairan hijau yang diketahui beracun. Racun ini membantu Ra Sik untuk mencerna makanan, tapi jika kena mahkluk lain, kulit mereka akan terinfeksi dan gatal teramat sangat bahkan sampai bernanah.
Ra Fugel sejatinya mirip seperti Ra Savia, hanya perbedaannya dia memiliki sayap, jenis ludah dengan sifat korosif, hanya memiliki sepasang kaki, dan kepala yang lonjong tanpa mata. Mereka melihat menggunakan Echo-Location, tehnik yang sama seperti yang digunakan pada kelelawar pada malam hari. Ra Fugel tidak terlalu lincah dibanding kedua spesies Ra lainnya, namun pertahanan tubuhnya lebih kuat.
Sang kapten masih memiliki beberapa info tentang spesies lain, tetapi sekali lagi diganggu oleh orang yang keluar dari tirai belakang. Setelah cukup lama berbisik, Sang kapten memberi isyarat untuk mengadakan ronda malam. Ada kemungkinan Insectanon spesies Elg dan Cere akan menyerang, karena mereka adalah serangga Nocturnal. Detail selanjutnya akan menyusul.
Sesampainya di ruang OSIS, Iqbal dan Amanda sudah menunggu untuk mendengar inti dari rapat tadi. Aurel menjelaskan dengan semangat apa yang dia dengar tadi. Sampai pada kesimpulan tentang wajib meronda malam ini.
Iqbal dan Amanda mencerna apa yang mereka barusan dengar. Seketika itu juga Iqbal menoleh ke Amanda, "Aku benci mengatakan hal ini, tapi kau harus ikut denganku."
Sosok anggun Amanda tetiba pecah dan dia menjadi malu, "A-ada apa kak?"
Tatapan tajam nan jantan Iqbal terlihat, "Ada hal yang perlu kulakukan denganmu."
"Kak Iqbal...." sahut Aurel dengan jijik, "Nada bicaramu negatif."
Iqbal ternyata salah tingkah, "Ehem, maaf... maksudku aku perlu bantuanmu."
__ADS_1
"Apa itu?" Amanda kembali ke sosok tenangnya.
Iqbal meminta tolong kepada Amanda untuk mencarikan denah bungker di seluruh area Sidoarjo kota. Dia mengkhawatirkan tentang spesies Elg dan Cere yang berkemungkinan akan menyerang. Beberapa warga juga sudah masuk ke ruang bawah tanah tersebut. Memang benar dibawah kota Sidoarjo terdapat bungker yang terkoneksi satu dengan lainnya yang dibuat untuk berjaga-jaga, dan kebetulan ayah Amanda adalah salah satu orang yang mengerjakan proyek tersebut.
Ruang bawah tanah ini memiliki sistem mengunci secara otomatis jika ada hal yang membahayakan. Pengendalian manual dan sistem pengamat sudah diberikan kepada para militer. Iqbal ragu jika tempat aman para warga akan menjadi kuburan masal. Amanda mengatakan untuk tidak berpikir berlebihan. Diluar pondasi pelindung itu sudah dipasangi sensor jika ada sesuatu yang membahayakan, maka kontrol pusat akan segera mendapat peringatan.
"Aku akan bicara kepada si kapten kalau begitu, Amanda ayo ikut. Aurel, tolong sampaikan ini ke Jonathan dan yang lain." kemudian Iqbal dan Amanda pergi keluar ruang OSIS.
"Oke!" balas Aurel semangat.
Aurel sekarang pergi ke posko perawatan. Aurel membutuhkan waktu untuk menemukan tempat istirahat Jonathan. Untung saja dia bertemu Adrian yang sedang berkeliling. Adrian menunjukkan tempat dimana Jonathan istirahat. Dia didampingi Aisyah dan Iris.
"Kak Aisyah,kak Nathan, Iris, met malem!" sapa Aurel.
"Oh, Aurel. Bagaimana rapatnya tadi? Apa respon Iqbal dan Amanda?" tanya Aisyah
Sebelum Aisyah, Iris dan Iqbal ke posko untuk menjenguk Jonathan, Iqbal sudah mengatakan kepada Aisyah akan menggantikan posisi Jonathan untuk sementara dan menunjuk Amanda juga Aurel untuk menolongnya. Tapi, berkat kebenciannya yang masih belum reda, Iqbal akhirnya mengacau ketika menjenguk dan memutuskan untuk kembali ke ruang OSIS.
Aurel menjelaskan perihal yang dia dengar di rapat tadi, dan respon Iqbal dan Amanda. Aisyah terkejut mendengar hal itu dan kemudian pergi karena suatu alasan. Iris dan Jonathan dibuat bengong dengan perilaku Aisyah.
"Tenang lah kak! Sekarang kakak istirahat dulu. Masih ada hari esok!" ucap Aurel sambil menunjukkan kepalan tangannya.
"Aku tidak yakin esok hari akan lebih cerah." balas Jonathan sambil melihat kedua tangannya.
__ADS_1