
Kalian ini niat buat cerita gak sih?!
Tapi pak, Yunita kan juga pemeran utama di cerita ini, dia per-
Kita ini sedang kejar tayang! Kalau Yunita yang narasi, malah gak nyambung!
Iya deh pak, iya deh.
Ada yang ngomongin saya?
Ahh, tidak Yun, tidak. Silahkan kembali ke kegiatan anda seperti biasa.
Jonathan Point of View
Hari pemilihan ketua OSIS telah usai. Pemenangnya adalah Amanda, sedangkan Aurel sebagai wakilnya. Sebenarnya itu bagus sih, karena Amanda punya aura yang cocok sebagai ketua. Aurel menerima jabatannya dengan suka cita. Sepertinya dia hanya mengejar gelar OSIS saja.
__ADS_1
Biarpun begitu, Serah terima jabatan masih belum dilakukan. Jadi aku masih berstatus sebagai ketua OSIS. Struktur anggotaku juga belum semuanya kuganti. Sengaja kulakukan semua ini untuk mengawasi kerja mereka. Karena aku tidak mau mereka kerepotan dengan apa yang akan terjadi dalam waktu dekat. Mereka tidak tahu-menahu tentang kemunculan Insectanon.
Aku beri mereka laporan-laporan yang biasa, yang berhubungan dengan Insectanon akan kupisahkan. Dengan begini, aku bisa fokus membuat langkah apa saja ketika hari itu dimulai. Amanda bertanya kepadaku apakah dia boleh memilih anggota diluar dari daftar calon anggota yang sudah tercantum. Aku sih bilang yes aja, toh dia penggantiku nanti.
Kekhawatiranku muncul ketika ada berita dari sekolah khusus di Papua diserang oleh Insectanon. Semakin hari, penyerangan Insectanon semakin tersebar di seluruh wilayah Indonesia, terutama di daerah pinggiran. Anehnya, media massa masih belum berani menayangkan berita tersebut.
Sampai suatu pagi, daerah desa Tlocor, melaporkan serangan Insectanon. Aku perintahkan Iqbal, Nur, dan Iris untuk memberikan pertolongan. Amanda beserta anggotanya ingin membantu, tapi kularang. Aku takut kalau ada serangan di wilayah lain dan kita tidak ada orang untuk dikirim kesana.
Setelah misi penyelamatan selesai dan ketiga orang itu kembali di sore hari, Iqbal tergesa-gesa menemuiku dan mengajakku bertemu di atap sekolah. Maaf kalau ini terdengar homo, tapi Iqbal ingin bicara empat mata denganku. Kupenuhi ajakannya dan bertemu dia di atap.
"Jadi ada apa?" tanyaku tanpa basa-basi.
"Tes? maksudnya?"
"Mereka mencoba sistem pertahanan kita, karena mereka kabur setelah beberapa saat kami serang balik."
__ADS_1
"Bagaimana kamu yakin tentang itu?"
"Di salah satu laporan yang kudapat dari anggotaku, mereka memasang sesuatu seperti radio pemancar di dalam gua mau--"
"Radio pemancar di dalam gua? Kalau begitu, mereka berusaha memanggil bala bantuan untuk menyerang bumi lagi?"
"Kupikir juga seperti itu. Apa yang akan kau lakukan? Cewe baru itu juga harus mengetahui ini."
"Iya, aku paham."
Tubuh ini merinding jika membayangkan peperangan lima puluh tahun itu akan terulang kembali. Korban akan berjatuhan sekali lagi, kehancuran dimana-mana, dan parahnya lagi, tidak ada bantuan dari alien baik itu. Semuanya tergantung dari seberapa kuat pertahanan bumi ini dan kami, anak-anak pembawa berkah.
Aku kemudian memanggil Amanda untuk pergi ke atap juga. Tidak tahu kenapa, tempat ini selalu difungsikan untuk rapat tertutup. Setelah kehadiran Amanda, aku dan Iqbal menjelaskan masalah yang akan datang dan meminta pendapat. Perbincangan kami berakhir dengan sebuah keputusan yang masih diperdebatkan. Aku peringati Amanda agar ini jangan disebar ke anggotanya.
Cepat atau lambat, apa yang mereka sebut dengan "hari kiamat" akan segera datang, lagi.
__ADS_1