School Life Project

School Life Project
Dark Past : finale


__ADS_3

Jonathan Point of View


--Beberapa waktu sebelumnya--


Aku mendapat pesan ditengah-tengah pertarunganku dengan Insectanon. "Jonathan, maaf kami tidak bisa ke lokasimu, ada penyerangan di tempat lain. Nia juga mengatakan ada desa lain didekatmu mungkin jadi target selanjutnya."


SIAL! Jika saja aku tidak ceroboh waktu itu, ini semua tidak terjadi!


Rasa sesal ini daritadi mengganggu konsentrasiku. Aku benci diriku yang sekarang ini! Jika saja saat itu aku dapat menahan rasa ingin tahuku, semua ini tidak terjadi. Warga yang seharusnya kulindungi malah menjadi korban. Aku benar-benar idiot!


Setelah membaca pesan dari Adrian, aku berpesan kepada Rina dan Iris untuk membereskan dan mengamankan warga. Seketika itu aku mengepakkan sayap apiku, dan terbang mencari desa lain yang terinvasi. Tidak lama kemudian aku menemukan desa di kejauhan.


Apa yang kulihat disini benar-benar bencana. Sebagian Insectanon sudah memakan sebagian tubuh warga. Mayat tercecer dimana-mana. Tidak ada suara teriakan minta tolong ataupun lainnya. Warga di desa ini sudah tewas semua, tak ada yang tersisa. Insectanon yang melihatku langsung menyerang.


Marah, benci, sedih, kujadikan satu dengan tembakan pistol api dan menembus alien itu, yang kemudian membakarnya menjadi abu. Aku berteriak sekuat tenaga tanda penyesalan, tubuhku terbakar seluruhnya, sayap api kemudian berkembang, juga mataku yang memunculkan api. Aku habisi para Insectanon yang ada dengan tembakan beruntun ke arahnya.


Satu demi satu mereka terbakar hangus, begitu juga dengan rumah warga. Apapun yang dilewati peluruku pasti akan terbakar tanpa bekas dan abunya bertebaran. Perasaan campur aduk ini tak bisa kubendung lagi. Sekali lagi aku mengaum sangat keras sampai tercipta pilar api raksasa disekitarku.


Panasnya pilar api ini membakar dan menghanguskan semua yang berada disekitarnya. Hawa panas yang terpancar juga memanggang rumah dan pepohonan sekitar. Dalam waktu singkat, semuanya sudah lenyap tanpa sisa.


Aku sudah tidak bisa memaafkan diriku ini. Berdiri tegak dengan kondisi terbakar di tengah pilar, aku kehilangan kesadaran. Yang ada dibenakku sekarang hanyalah penyesalan. Penyesalan karena kecerobohan, kebodohan, dan rasa ingin tahuku yang membuat semua ini terjadi.


Beberapa saat kemudian, kesadaranku mulai kembali karena sebuah teriakan yang samar-samar. Disaat seperti ini, suara teriakan itu seperti mengingatku pada seseorang. Seseorang yang selalu dekat padaku. Seseorang yang selalu perhatian kepadaku. Seseorang yang selalu membantuku.


"Ri-Rina?" ucapku pelan.


"Ri-Rina?!" ucapku lebih keras.


Akupun berteriak "RINA!!!" dan kesadaranku mulai kembali.

__ADS_1


"Ah... pilar api apa ini?! kuat sekali! sejak kapan aku membuatnya?! Aku harus memadamkannya atau akan memakan korban tambahan!"


Satu hal yang bisa kulakukan untuk memadamkan pilar ini adalah menyerap kekuatannya dengan kedua tanganku, dan membuang energi nya ke angkasa. Aku meregangkan kedua telapak tangan kedepan dan mengambil kuda-kuda. Aku menyerap apiku sendiri dan mengumpulkan sebanyak mungkin.


Panas pilar itu masih belum kukendalikan, tetapi suhunya sudah mulai berkurang. Aku tarik salah satu tanganku dan mulai memfokuskan ke tangan lainnya. Bola api kecil mulai muncul diantara tangan ku. Semakin lama, semakin membesar dan panas. Disatu sisi, ukuran pilar itu sudah mulai berkurang.


Bola api itu tak terasa sudah sebesar melon. Aku berusaha mengkompres ukurannya agar mudah melemparnya. Lalu aku sadar bahwa pilar api ini sudah dalam kendaliku. Dengan mudahnya kulenyapkan pilar api yang berwarna-warni ini. Bola api yang terkompres ternyata masih memiliki ukuran yang sama.


Tanganku kiriku yang membawa bola api kuhadapkan ke angkasa, sedangkan tangan kanan untuk menahan efek ledakan yang ditimbulkan. Sebelum aku melakukan itu, aku melihat sekitar jika saja suara samar itu tadi adalah suara Rina.


Setelah aku yakin bahwa tidak ada siapapun, aku menembakkan bola api itu. Layaknya menembak meriam, aku tertekan dengan dorongan tembakan itu sampai terjatuh. Tangan kiriku menghantam tanah terlebih dahulu dan membuat cedera. Sepertinya tulangku retak disekujur tangan.


Kupaksa untuk segera bangun dan pergi mencari pertolongan. Aku terkejut setelah menyadari betapa hancurnya daerah sekitar sini. Tanah hangus dimana-mana, masih ada sisa api yang menyala. Tidak ada pepohonan sampai berjarak puluhan meter. Pepohonan di kejauhan juga menghitam karena terbakar.


Disaat itu juga aku melihat ada beberapa orang yang sedang beristirahat. Mungkinkah itu teman-teman? Apakah Rina juga disana juga? Aku memutuskan untuk kesana dengan langkah menyeret dan menahan rasa sakit tangan kiriku.


"Teman-teman! kalian tidak apa-apa?" teriakku yang masih jauh.


"Pak... ada apa ini? kena--"


Pak Budi, tidak, ayahku meneteskan air matanya sambil mengusap-usap rambutku. Aku tidak tahu maksud beliau melakukan ini. Apa serangan alien itu terlalu parah sampai semuanya terkapar seperti ini? Adrian yang kukenal sebagai orang paling durable juga bisa seperti ini?


"Ayah...."


Beliau masih menatapku dengan berkaca-kaca. Daripada mengurusi hal itu, kenapa aku tidak melihat Rina? Aku amati sekitar diantara pepohonan, biasanya dia selalu sok cool ketika berhadapan denganku. Apapun masalahnya. Tapi kali ini berbeda, aku berkeliling di sekitar dan entah kenapa berharap Rina memarahiku karena aku meninggalkannya bersama Iris tadi.


Aku berkeliling sambil memanggil Rina. Namun, tak ada balasan yang terdengar. Adrian dan Dwi mulai ikut bangun dan melihatku. Ada apa ini? kenapa semuanya melihatku dengan pandangan sedih? lalu apa yang terjadi pada Rina?


"Jonathan...." ucap Adrian lirih.

__ADS_1


"Adrian, Dimana Rina? Tadi dia bersama Iris kan? apakah kamu tahu?"


"Rina, dia sudah...."


"Sudah?"


Dengan cepat pak Budi menyela, "Rina sudah tidak disini lagi Nathan."


"Maksud ayah?"


"Dia, mengorbankan nyawanya untuk menyadarkanmu di dalam pilar api itu." jawab pak Budi tenang.


"Ayah tidak bercanda kan? pilar api itu membakar Rina? bagaimana bisa?" tanyaku melototi ayah dan Adrian.


Adrian menjelaskan detail semuanya. Mulai dari aku membuat pilar api, ide penyelamatan konyol, sampai Rina yang tidak kembali bersamaku. Setelah mendengar semua itu, aku hanya berdiri tertunduk. Terdiam bisu, pikiranku kosong, tatapanku hampa. Aku tidak tahu harus berbuat apa setelah ini.


Rina selalu menolongku disaat seperti ini. Dia pasti membantuku dan menyemangati ketika aku down. Dia selalu berhasil membuat mood ku kembali. Sekarang, Rina sudah tiada. Disaat ini aku ingat dengan perkataannya disaat kita masih kecil.


"Kamu itu! Cowo itu gak boleh cengeng!" sambil memukul punggung ku lumayan keras. "Jangan terlalu lama menyesal! Kuatkan dirimu! Karena masa depan itu masih terus datang!" kemudian dia tersenyum manis.


Kuatkan dirimu... mungkin itu kalimat yang cocok untukku sekarang. Kutampar wajahku sendiri sekali, dua kali, dan sangat keras untuk membuatku tersadar. Aku akan melanjutkan hidupku Rina. Terima kasih telah menyelamatkanku.


Adrian dan pak Budi khawatir jika aku akan meledak seperti sebelumnya. mereka sudah mulai mengambil jarak dan mendekat ke Iris dan Nia yang mulai terbangun.


"Ayah, Adrian... tenang saja. Aku akan mengendalikan emosiku lebih baik lagi. Aku tidak akan mengulangi itu." ucapku menghibur.


Iris menyadari kehadiranku tanpa Rina, "Kak Nathan, dimana kak Rina?" Aku hanya membisu.


Kemudian terdengar suara berdering dari saku Nia. Telpon dari Ketua OSIS Nia. Dia mengabarkan kalau bala bantuan sudah datang dan menyebar ke setiap wilayah pedesaan. Nia berdialog sebentar dengan ketuanya sebelum menutup telpon.

__ADS_1


Kami memutuskan untuk kembali ke penginapan dan beristirahat.


__ADS_2