School Life Project

School Life Project
Gagak Hitam : chapter 6


__ADS_3

Adrian's Point of View


Tidak biasanya aku mendapat giliran untuk cerita. Biasanya para pemeran utama. Baiklah kita mulai saja.


Jam tiga dini hari. Suasana kota Sidoarjo masih damai dan sunyi, Tetapi tidak bagiku. Hari sabtu ini adalah hari yang sangat berbeda dari sabtu biasanya. Rasa tegang dan takut menghantuiku. 'kenapa harus ada kejadian seperti ini?' pikirku sambil duduk merenung melihat keluar jendela dari lantai dua.


Terkadang aku melamun melihati angin yang menerpa pepohonan yang cukup rimbun membuat dedaunan menari-nari, melihat keindahan bulan yang ditemani oleh bintang, atau sesekali menepuk nyamuk yang sudah haus akan kasih sayang. Yang kulakukan sekarang hanya menunggu sang surya menampakkan diri, dan berharap tidak ada kejadian yang tidak terduga. Suara detak jam dindingku terasa sangat keras di kesunyian ini. Tiap detiknya membuat pikiranku semakin merinding.


Oke oke, kita akhiri drama di pagi hari ini. Setelah aku sholat subuh dan berdoa kepada Tuhan, aku bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Tidak lupa aku berpamitan kepada orang tua dan saudaraku. "berlindunglah di tempat aman." pesanku kepada mereka, dan mereka membalas "kamu juga hati-hati ya nak." Orangtuaku memang masih memiliki kemampuan pengendalian, tapi tidak sekuat aku, maupun kakak ceweku dan adik cowoku. Kemudian aku bergegas ke sekolah.


Jam masih menunjukkan pukul enam pagi. Tapi aku sudah berada di depan sekolah yang cukup sepi, karena memang sedang diliburkan. Beberapa saat kemudian, aku melihat Jonathan yang terbang dengan sayap apinya dan mendarat di depan pintu masuk sekolah, sedangkan Rina berjalan santai melewati gerbang sekolah.


"Nathan, Rina, selamat pagi." Sapaku tenang sambil duduk di kursi yang kubuat dari tanah pengendalianku


"Oh Adrian, selamat pagi." Sapa Jonathan dan memadamkan sayap apinya. Sedangkan Rina hanya melambaikan tangannya dan melewati aku. "Bagaimana dengan yang lain?"


"Beberapa sudah langsung ke posisi masing-masing. Teman-teman yang ikut anggotaku juga sudah kusebar di beberapa titik, untuk mengamati pergerakan geng Gagak Hitam."


"Baiklah, jadi kita sekarang punya waktu cukup lama, sampai geng Gagak Hitam sadar akan keikut-sertaan para murid sekolah dan juga polisi. Semoga peperangan ini cepat selesai."


"Aku juga berharap begitu."


Aku dan Jonathan masuk ke gedung sekolah dan pergi ke ruang OSIS, sedangkan Rina pergi entah kemana. Dengan alat komunikasi jarak jauh dan juga ponsel, kami menghubungi setiap anggota untuk mengkonfirmasi posisi mereka. Strategi Jonathan adalah melakukan serangan mendadak ketika geng Gagak Hitam menyerang para geng besar di setiap wilayah.


Untuk membuat rencana tidak terlihat oleh kedua geng, Jonathan sudah berkolaborasi dengan para murid dan polisi di sekitar titik rawan untuk menjaga warga yang memang disengaja untuk melakukan kesibukan di pagi hari. Dengan ini, para geng akan tetap berperang tanpa ada rasa curiga.


Seketika terdengar suara dari alat komunikasi yang menempel di telingaku "halo, halo, Rusa satu ke markas, Rusa satu ke markas, ganti."


"Markas ke Rusa satu, Iqbal ada apa?"


"Sepertinya aku melihat kontak geng "Jawi Sakti" sudah berada di posisi. Keliatannya itu salah satu scout mereka sedang mengamati kalau ada anggota geng Gagak Hitam yang muncul."


"Baiklah, terus awasi mereka. Markas keluar."


Iqbal's Point of View


"Roger!" Jawabku semangat sambil terkikih.


"Kak Iqbal ih, suka iseng." Ucap salah satu adik kelasku


"Hahaha! Kebanyakan main game perang nih, jadi ingin mencoba berkata seperti itu. Untung Adrian mengerti. Sementara ini kita menunggu sampai mereka mulai menyerang satu sama lain. Setiap warga yang kesusahan kabur dari zona perang harus cepat kita bantu, Oke?"


"Siap kak!"


Aku dan beberapa anggota sudah siap di sekitar Bunderan Aloha yang akan menjadi medan perang antara geng Jawi Sakti dan Gagak Hitam. Karena daerah ini adalah wilayah perbatasan kedua geng tersebut. Tempat ini masih dilalui warga untuk kegiatan pagi mereka. Setelah cukup lama mengawasi, muncul tembakan api ke arah Hypermart Large. Aku dan beberapa anggotaku segera bersiap diposisi sambil tetap sembunyi di sekitar pom bensin.


"Serangan dari Gagak Hitam sudah dimulai. Kalian semua bersiaplah." Ucapku mengingatkan mereka, para murid dari sekolah lain, dan anggotaku. Para polisi juga sudah bersiap disana dan juga sudah mengambil tindakan untuk menyuruh warga berlindung ke tempat aman, juga mengisolasi daerah tersebut. Geng Gagak Hitam tidak peduli dengan sirine para polisi tersebut, karena jumlah mereka yang cukup banyak dan kemudian menembakkan berbagai macam element kesegala arah, untuk memancing kerusuhan dan amarah geng Jawi Sakti.


Merasa wilayahnya sudah dijamah, geng Jawi Sakti akhirnya memunculkan dirinya, langsung beserta ketua mereka. Berpenampilan cukup tua, dengan semua rambut sudah memutih, dan menggunakan kaos oblong putih polos dan celana coklat pendek. "Hei kakek tua! Sudah uzur begitu masih memimpin geng yang cukup besar! Kenapa kau tidak mati saja dan digantikan oleh yang lebih muda?!" salah satu anggota geng Gagak Hitam mulai menghina.


Kakek tua itu tidak menghiraukan cercaan mereka, dan langsung memberi isyarat untuk segera menyerang mereka. Seketika gerombolan itu saling beradu kesaktian, melempar setiap element mereka. Ledakan api, hembusan angin yang kencang, sesekali kilauan cahaya yang cukup terang menyilaukan, dan gempa dimana-mana. Aspal jalan pun menjadi retak dan hancur, pepohonan terbakar, bangunan disekitar porak-poranda.


"Kak, bagaimana ini? Ini sudah parah lho." Tanya adik kelasku panik.


"Tunggu, tunggu sebentar lagi, sekolah Hangtuah belum kasih aba-aba. Disini kita hanya membantu, jadi tidak bisa semena-mena." Ucapku sambil memegangi earphone di telingaku, menunggu perintah selanjutnya.

__ADS_1


"Yah." ucap adik kelasku sesal.


Sekolah Hangtuah adalah salah satu sekolah SMA terdekat dengan zona peperangan, dan wewenang penuh tentang strategi ini dipegang oleh ketua OSIS mereka. Aku hanya bisa menunggu sampai mereka memberikan isyarat untuk menyerang, sambil menyelamatkan warga ke tempat aman.


Beberapa anggota geng Jawi Sakti mulai tumbang. Kaki dan tangan mereka patah, ada yang terbakar dari tangan sampai pundak, luka sayat di sekujur tubuh, Bahkan bersimpah darah. Ketua geng Jawi Sakti itu masih berdiri dan mengamati para anggotanya dibantai. Semakin lama semakin kewalahan mereka dengan serangan geng Gagak Hitam.


"Baiklah, seluruh anggota yang berada disekitar. Serang!" ucap ketua OSIS dari SMA Hangtuah.


"Oke, itu isyaratnya, teman-teman, habisi mereka! Target kalian, lumpuhkan geng Gagak Hitam!" perintahku kepada anggotaku.


"siap!" jawab mereka kompak.


Aku bersama adik kelasku muncul dari persembunyianku di pom bensin, tepat di tengah-tengah kerumunan geng Gagak Hitam. Pertama kusuruh adik kelasku untuk menembakkan cahaya silau untuk mengejutkan mereka, kemudian aku menyerang mereka satu persatu dengan kapak besar yang kubuat dari kegelapan. Dengan semangat, ku tebas mereka bersamaan, satu per satu mereka mulai roboh. Kapak ku hanya menembus mereka tanpa melukainya, tetapi menyerap energi mereka, membuat mereka merasakan kelelahan yang teramat sangat.


Serangan murid dari SMA Hangtuah juga cukup membuat panik kedua geng, dan membuat ketua geng Jawi Sakti menunjukkan kekuatannya. Dengan menepuk tanah dengan kedua tangannya, dia membuat wilayah kegelapan yang cukup luas. Aku dan adik kelasku sesegera mungkin mencari tempat tinggi. Orang-orang yang terperangkap di wilayah kegelapan itu kesusahan bergerak. Badan mereka mulai terasa amat sangat berat sampai mereka terjatuh.


"kegelapan tipe gravitasi? Tak kusangka ada orang yang bisa menggunakannya seluas ini hanya dari kekuatan kristal!"


"Kakek tersebut cukup mengerikan juga ya. Apa yang harus kita lakukan kak?"


"Jika dibiarkan, para murid dan orang lain bisa dibunuh dengan tekanan gravitasinya. Aku akan mengecohnya."


"Tapi kak--"


"Tenang. Sesama kegelapan itu seimbang, hanya beda di tipenya. Hahaha!" ucapku menghibur diri.


Ku buka ruang dimensi diatas kepalaku dan memasukinya. Dengan mengukur jarak antara posisiku diluar tadi dengan kakek tersebut, aku melemparkan kapakku dan membuka gerbang keluar ruang dimensi untuk membuat serangan kejutan. Namun sial, dia menyadari gerbang yang kubuka, dan menghindar. Wilayah kegelapannya masih ada, tapi kelihatannya tekanan gravitasinya tidak separah tadi. Aku kesusahan mendekati kakek tersebut, karena setiap dia mendarat, dia membuat wilayah gelap lagi disekitarnya.


"Sial, bagaimana ini? Kakek tersebut lincah juga. Memang benar pepatah mengatakan 'jangan nilai buku dari sampulnya'. Padahal tadi dia berjalan saja bungkuk. Apa yang harus aku lakukan?"


"Hoi kek! kami bukan musuhmu, tapi berniat menolongmu." Ucapku panik setelah melihat kondisi tersebut.


"Jika begitu, kenapa kamu menyerangku tadi anak muda?" jawabnya santai.


"Karena kamu juga menyerang orang lain selain Gagak Hitam."


"Bagiku semua sama saja, tidak kalian, para bocah ingusan yang sok menjadi pahlawan, atau geng Gagak Hitam sialan itu. Semuanya sombong."


"Waduh, repot ini." gumamku. "Baiklah kek, aku menantangmu! Jika aku menang, lepaskan para murid, anggotamu sendiri, para warga dan polisi." Aku mencoba bernegosiasi.


"Apa untungnya jika aku menang anak muda?" tanya balik kakek tersebut.


"Hmm, apa ya? Kamu mendapat wilayahmu lagi, dan kami berjanji tidak akan mengganggumu." Kemudian aku menambahkan dengan suara lebih pelan, "kecuali jika kamu melanggar sih."


"Aku dengar itu anak muda." Jawab kakek tersebut santai. "Mungkin aku akan mengajukan beberapa permintaan setelah aku mengalahkanmu. berlebihan atau tidak, kalian harus mematuhinya!" kakek itu menantang balik.


Tanpa pikir panjang aku menjawab "Baik, akan ku terima tantanganmu!"


"Awas kalau kau sampai kalah Iqbal, nyawa mereka ada di tanganmu." Ucap Jonathan dari earphone ku.


"Eh, masih nyambung ya? Kupikir udah disconnected. Hahaha!" Jawabku santai. "Tenang saja Nathan, aku tahu apa yang kulakukan." Lanjutku.


Dengan pandanganku yang tajam terhadap kakek tersebut, aku menyerang dia dengan berhati-hati. Kakek tersebut menghindar cukup lincah dari tebasan vertikal kapakku. Mendadak disekitarku sudah ada bola kegelapan yang kemudian meledak, lantas aku menjatuhkan diri ke ruang dimensi yang kubuka dibawah kakiku, dan muncul dari tempat lain. Di lain pihak, kakek tersebut berdiri tegak dengan membusungkan dadanya.


"Ini kakek apa bukan sih? Kok otot-ototnya masih terlihat jelas." Pikirku dalam hati sambil melihat kakek tersebut masih terlihat bugar, bahkan sixpack.

__ADS_1


"Sini anak muda, mari bertarung jantan!" Ucap kakek tersebut dengan mengeluarkan pedang yang cukup besar.


"Wow, Wow!" ucapku terpesona melihat pedang besar muncul dari bayangannya. "Kupikir hanya gravitasi saja, ternyata mau beradu kekuatan juga. Baiklah kek, akan kulayani!" Lanjutku dengan menopang kapak besar tadi di pundak.


Dalam hitungan detik, kami berdua saling mendekat, dengan mengayunkan senjata masing-masing. Kapak dan pedang tersebut berbenturan cukup keras, membuat suara yang cukup memekikkan telinga.


Sambil menahan serangan kakek tersebut, aku mencoba menyerap element kegelapannya, sedangkan kakek tersebut malah membuat bola gravitasi di sekitarku untuk bersiap diledakkan. DHUAR! Ledakan bola gravitasi itu membuatku terpental cukup jauh, sedangkan kakek itu mendekatiku cukup cepat dan menebas secara vertikal ke arahku.


Aku melempar kapak besarku untuk menahan tebasan kakek itu dan masuk kedalam ruang dimensiku. Aku berusaha mengambil jarak dari kakek tersebut. Kemudian aku muncul dari sisi yang berlawanan dari kakek tersebut, tapi aku tidak sadar terjebak dalam wilayah kegelapan yang berada tepat di tempat aku membuka ruang dimensi.


"Sejak kapan wilayah nya sampai disini, apa dia bisa menyadari aku membuka ruang dimensi?" pikirku sambil berusaha kabur dari gravitasi yang semakin menguat.


"Kelihatannya kemampuanmu hanya sampai disini anak muda." Ucap kakek tersebut sambil bersiap menebasku dari jauh.


"Hei, hei! Aku belum selesai kek." Sambil berusaha menggerakkan kakiku yang sudah terlahap beberapa senti di wilayah kegelapannya.


Ketika aku sudah merasakan kakiku bisa terlepas dari gravitasinya, aku membuat kapak besarku lagi, dan menebaskan secara vertikal, membuat goncangan yang cukup kuat, sehingga aku terlepas total dari wilayah itu. Aku menggunakan kapakku sebagai pijakan, sedangkan kakek itu hanya melihatku dengan pandangan tenang.


"Kamu sudah paham triknya anak muda, bagus." Puji kakek tersebut dengan senyum kecut.


"Hahaha! kakek bisa saja." Ucapku tenang. "Untung saja kekuatan kita sama, jadi aku masih bisa melemahkan efek gravitasinya."


Ditengah-tengah obrolanku dengan kakek tersebut. Tak disangka-sangka, ada serangan dari arah yang tidak terduga. Beberapa panah cahaya meluncur ke arah kami. Kakek tersebut hanya menahan serangan tersebut dengan pedang besar kegelapannya. Sedangkan aku loncat menjauh dari arah serangan.


"Maaf, maaf. Sepertinya aku terlambat pesta." Suara lembut muncul dari gedung resto yang berada di bunderan Aloha.


"Kupikir ada orang iseng, ternyata wakil dari ketua geng Gagak Hitam." Jawab kakek tersebut. "Tidak mungkin kalian datang hanya dengan membawa pasukan lemah untuk menyerang wilayahku."


"Hahaha! Itu benar kek, hanya orang bodoh yang menyuruh menyerang suatu wilayah geng, apalagi geng terkenal dan besar seperti milik anda hanya dengan orang-orang lemah seperti yang sudah kau lahap tadi." Jawab suara lembut yang semakin terlihat jelas penampilannya.


"Sudah lama sekali, nyonya muda. Penguasa geng besar di daerah Candi." Ucap kakek itu.


"Hehehe. tak kusangka kita akan bertemu di medan perang ini." Ucap wanita yang menggunakan pakaian daster panjang berwarna hitam dengan motif bunga, sedangkan bagian bawah disobek cukup panjang. Di punggungnya terdapat gambar kepala burung gagak.


"Padahal aku sudah berjanji tidak akan menyerang wilayahmu. Tapi apa daya, sebagian besar wilayahku telah direbut oleh "Dia", dan akupun akhirnya jatuh ke genggamannya. Mau tidak mau sebagai bawahan, aku harus menurutinya."


"Tidak apa-apa nyonya muda. Aku pun hanya berlindung di wilayahku, tanpa menolong geng mu disaat kesusahan." Jawab kakek tersebut sambil merunduk, kelihatannya dia menyesal.


"Sudahlah kek, yang berlalu biarlah berlalu." Ucap wanita itu. "Yang jelas sekarang, apakah engkau mau bergabung atau mempertahankan wilayah itu dengan nyawamu sebagai taruhannya?" lanjutnya.


"Aku sudah kenal dekat dengan ketua geng Gagak Hitam terdahulu, dia orang yang cukup ramah, dan baik hati. Kami membuat aliansi untuk membuat kota Sidoarjo ini aman dan tentram. Tapi setelah mendengar semua ini, aku memang terkejut."


"Yah, akupun juga sedikit ragu akan hal ini. Tapi posisiku pada saat itu berada di tim yang kalah, akhirnya aku menyerahkan wilayahku, dan membantu mereka."


'Waduh, mereka pada curhat masalah mereka nih. Apalah daya ku sebagai anak sekolah yang cuman bisa menonton. Bodo amat lah' gumamku sedikit kesal.


"Tapi maaf, nyonya muda! Mungkin aku cukup egois dan keras kepala, bahkan sempat menutup mata tentang kondisimu pada saat itu. Sekarang aku tetap akan melindungi wilayah ku, apapun yang terjadi!" Sambil kakek itu membuat pedang besar di kedua tangannya.


"Aku menghargai keputusanmu." Jawab wanita tersebut dengan membuat cahaya dari tangannya dan mengayunkan ke bawah. Cahaya tersebut membentuk sebuat busur panah.


"Anak muda! bagaimana jika kita ubah perjanjian kita?" tanya kakek itu. "Jika kamu mau menolongku, akan kubebaskan orang-orang yang kau sebut tadi. bagaimana?"


"Anak-anak dari sekolah khusus itu ya? Aku penasaran juga seperti apa kekuatan mereka sampai harus di bedakan dari orang-orang yang mengkonsumsi kristal." Ucap wanita itu sambil melihatku yang berdiri di ganggang kapak.


"Siap kek! Aku juga tidak minta lebih kok. Cukup bebaskan mereka saja. sisanya kita debatkan lagi. Hahaha!" Jawabku yang sudah bersiap memasang kuda-kuda.

__ADS_1


__ADS_2