School Life Project

School Life Project
Kepo : chapter 1


__ADS_3

Jonathan's Point of View


Bel pertanda selesai pelajaran terakhir telah berbunyi. Setelah pak guru menata kembali laptopnya kedalam tas dan keluar kelas, para murid pun ikut berhamburan keluar. Aku juga keluar dari kelas dan mengarah ke ruang OSIS. Pukul 1 siang ini, kulihat ruang OSIS masih sepi. Akhirnya aku memutuskan untuk duduk di di kursi ku setelah aku mengambil buku komik dari rak.


Mungkin juga karena hari ini tidak ada jadwal pertemuan atau sejenisnya, jadi ruangan menjadi tenang dan damai. Tidak lama kemudian, munculah seseorang dari balik pintu masuk ruangan.


"Met siang semuanya!!!" sapa Iqbal dengan ceria.


"Oh, Iqbal." jawabku santai kemudian kembali membaca komik


"Lah cuman ketua? Yang lain pada kemana?" sambil mengamati ruangan.


"Kurang tau juga, mungkin karena tidak ada kegiatan OSIS. Jadi mereka tidak kesini."


"Hmm, ya udah, balik juga ah."


"Lah?" ucap ku sambil kebingungan.


"Bercanda, aku dah janjian ama Adrian mau main game, mau ikutan?" ajak Iqbal sambil meletakkan tas nya di lantai dan menyalakan komputer yang biasa dia pakai mengerjakan tugas.


"Kalau udah ramai aja deh, mau lanjut baca komik."


Iqbal Prasetya. Salah satu anggota OSIS yang mengurusi dokumentasi, sekaligus ketua dari ekskul jurnalistik. Cowo satu ini memang suka memunculkan joke-joke receh, atau kadang hanya dia sendiri yang paham. Dia selalu membawa tas kecil berisi kamera bermerk "Connan" yang bersanding dengan tas sekolahnya. Sifatnya yang nyantai dan suka asal bicara. Apalagi kalau sudah ketemu sama teman dekatnya.


"By the way, tidak biasanya si Rina tidak bersamamu. Biasanya kan kalian ber-duaan kemana-mana, ada masalah?" sembari memutarkan kursi yang dia duduki dan mengarahkan menghadapku.


"Masalah? Enggak juga. Dia bilang kepadaku untuk menunggu di ruang OSIS, katanya mau membantu ku dalam belajar sih. Sekarang dia pergi ke ruang musik sebentar, untuk membuat jadwal latihan."


"Memang dia seperti itu ya, selalu mengekor dan ngatur-ngatur?"

__ADS_1


"Bisa dibilang seperti itu. Sikapnya yang selalu nempel ke aku sudah dari dulu, mungkin sejak TK."


"Selama itu?" Iqbal kaget. "Emang gimana sejarahnya?"


Bruak!! Tiba-tiba suara keras muncul dari pintu yang dibuka paksa oleh Rina. Dengan nafas yang panjang dan melotot kepada kami, kemungkinan dia mendengar percapakan kami dari luar kemudian memutus perbincangan kami sesegera mungkin


"Tidak baik membicarakan seseorang dari belakang, kalian paham kan?!" ucap Rina sambil mengerutkan jidatnya dan berjalan menuju kepadaku.


Kaget, Iqbal pun mendadak duduk dengan tegak dan berkata "Eh!!! Rina!! Aku tidak bermaksud--"


"Iqbal kan cuman penasaran, seharusnya tidak masalah kan?" balas ku kepada Rina dengan tenang.


Rina memukul meja dengan kedua tangannya sambil tersipu malu, tapi tertutupi dengan melontarkan pandangan tajam kepadaku. "Mungkin bagimu tidak masalah, tapi itu masalah bagiku!" ucapnya dengan nada meninggi membuatku tidak bisa membalas kata-katanya.


merasa kondisi sudah tidak kondusif, Iqbal berkata, "Apa boleh buat, suasana memanas. Lanjut nge-game lagi dah."


"Eh iya Rina, katanya tadi kamu mau membantu ku belajar. Memang kita mau belajar apa?"


"Aku lihat nilai-nilai eksak mu mulai menurun, kamu itu ketua OSIS bukan sih?!"


"Eh, jadi ketua OSIS sendiri juga bukan kemauan ku, tapi para guru yang memilihku. Jadi jangan salahkan aku. Mereka juga tidak mau memberikan alasan maupun petunjuk kenapa aku dipilih. Aku berusaha menolak waktu itu, tapi mereka tetap memaksaku."


"Tapi kalau nilai mu menurun seperti itu, itu juga membuat citramu buruk! Mereka memilihmu karena ada alasan tertentu, bahkan aku dan Aisyah sebagai calon terkuat pun gugur. Jadi sebagai balasannya aku sebagai wakil mu harus mengawasimu!"


"Dan sebagai teman masa kecilnya, jangan lupa." sindir Iqbal yang fokus dengan game nya.


"Iqbal, diam!!" ucap Rina meninggikan suaranya lagi.


"Yes ma'am!!"

__ADS_1


"Yah, mungkin kamu ada benarnya juga, tidak mungkin para guru mengorbankan kandidat terbaik hanya untuk anak yang tidak memiliki potensi sepertiku. Tapi, kenapa harus aku?"


"Kamu memiliki potensi, tapi kamu hanya malas melatihnya! Mereka juga sudah tahu keakraban kita, maka dari itu aku dipilih sebagai wakilmu. Tidak lain dan tidak bukan untuk membimbing mu."


Akupun menghela nafas dan berpikir sejenak. 'Aku? Potensi? Yang benar saja? Aku hanya bocah normal pengendali api yang tidak memiliki hal yang mencolok, bagaimana mereka bisa bicara seperti itu?' Aku mencoba mengingat-ingat sesuatu di masa lalu ku. Mungkin disana terdapat sebuah cerita atau yang para guru sebut sebagai "potensi". Setiap kali aku berusaha mengingatnya, kepalaku mendadak terasa pusing.


Kulihat Rina mengeluarkan beberapa buku pelajaran dari tasnya yang memang terlihat berat pada saat dia masuk ruangan tadi. Setelah kuamati, ternyata buku-buku tersebut adalah buku pelajaran eksak, seperti kimia, fisika, matematika, dan biologi. Aku agak kesusahan dengan sesuatu yang berbau mengingat, apalagi matematika. Rumus demi rumus setiap bergantinya bab dan semakin lama semakin rumit.


Rina melihatku sedang membaca komik dan berkata, "Sekarang hentikan bacaan komik mu itu dan mulailah belajar! kita akan belajar dari bab terakhir yang dijelaskan. Selesaikan soal di halaman ujian di bab itu. Jika kamu tidak mengerti, kamu bisa bertanya padaku."


"Baiklah." jawabku malas sambil menutup dan meletakkan buku komik "detektif kanon" dan mulai mengambil buku biologi yang menurutku lebih mudah.


"Hmm, ada apa ini? Kok suasana nya panas?"


Tiba-tiba ada suara datar dari seseorang yang membuka pintu ruang OSIS. Ternyata itu suara Adrian Santoso, teman akrab Iqbal di kelas. Dia bertugas sebagai pengurus Humas di jajaran ini. tampilannya yang agak tambun. aku sering menemukan dia berada duduk sambil menulis surat-surat penting di meja dekat pintu masuk ruang OSIS. dia anaknya ramah dan asik diajak bicara.


"Dingin kok, AC nya sudah menyala." sahut Iqbal dengan cepat. "Lama banget kamu Rian, sini temenin main."


"Kuat sekali kamu. Ada orang lagi pacaran, kamu malah asik-asikan main game." ucap Adrian sambil mendekat ke Iqbal.


"Mereka tidak pacaran, mereka hanya beradu cinta." jawab iqbal sambil terkikih-kikih.


"Kalau nge-game, nge-game aja ya. Gak usah banyak komentar." sahut Rina datar sambil melipat kedua tangannya.


"Nah lo, kena semprot jadinya. lu sih ngomong aneh-aneh." sesal Iqbal.


"Adrian, kamu juga gak usah ikut-ikut ya!" ancam Rina.


"Siap buk."

__ADS_1


__ADS_2