
Iqbal Point of View
Sudah kubilang aku tidak mau bernarasi di bagian ini! Kenapa kalian memaksaku? Aku lebih baik main game daripada bernarasi disini! Dah, aku pergi dulu!
Maaf para pembaca, sepertinya Iqbal tidak mau diajak kerja sama untuk sementara. Kita akan mencari penggantinya.
Jonathan Point of View
Eh, aku? bukannya... (bisik-bisik dengan Jonathan), baiklah. Apa boleh buat.
--4 hari setelahnya--
"Adrian, bagaimana dengan urusan anggota barunya?"
"Sudah beres. Beberapa anak ada yang bermasalah di nilai atau perilaku, tapi kalau itu pilihanmu, mungkin pak Indra bisa memberi mereka kesempatan."
"Baguslah, memang perlu memberikan mereka peluang." Padahal aku sebenarnya memilih secara acak.
"Terus, kapan mulai pencalonan ketua OSIS?"
"Memang calonnya sudah ada?"
__ADS_1
"Sudah dong, ini datanya."
Aku membaca laporan yang berisi calon penggantiku, riwayat nilai dan perilaku, serta ekskul yang diikuti. Sialnya, selalu saja nama cewe yang kutemui. Padahal kalau cowo jadi OSIS itu lumayan lho benefit nya. Bisa di gebet adik kelas, mudah diterima di perguruan tinggi manapun, atau bisa kabur dari pelajaran dengan alasan pekerjaan OSIS. Yang terakhir mohon jangan dilakukan ya!
"Aku akan minta pendapat dengan pak Indra masalah ini. Terima kasih atas kerja kerasnya."
"Siap ketua!"
Setelah itu aku pergi dari ruang OSIS menuju ke ruang kepsek. Ditengah perjalanan, aku bertemu adik kelasku yang namanya tertulis di calon ketua OSIS. Aurel Cindrakasih namanya. Dia menunjukan semangat dan motivasinya agar dapat mempengaruhiku untuk memilihnya. Aku hanya tersenyum pahit melihat tingkah lakunya. Semoga dia mendapat wakil yang bisa mendukungnya.
Aku berharap tidak bertemu calon ketua lainnya, atau itu akan menggangguku. Parahnya, aku malah bertemu Iqbal. Dia yang sedang asik ngemil "Cutato" itu menyadari kehadiranku dan langsung mendekatiku.
"Laporan? laporan apa?"
Tatapan jengkelnya terlihat jelas, "Serius belom kau baca?!"
"Iya."
"Kalau gitu, coba tanya Nur. Pasti disembunyikan, seperti kebiasaan Rina!" kemudian Iqbal pergi meninggalkanku.
Kupikir Iqbal akan melanjutkan menghajarku lagi karena ada kesempatan. Ternyata hanya laporan yang tidak sampai kepadaku. Sepertinya laporan itu penting sampai Iqbal bertanya kepadaku langsung. Sebaiknya segera kuurus ini dan mencari Nur untuk meminta laporan yang disembunyikan.
__ADS_1
Di depan ruang kepsek, aku melihat pak Indra keluar dari ruangannya. Segera mungkin kukejar dan berbincang dengan beliau. Setelah pembicaraan singkat, beliau menyetujui pemilihan ketua OSIS baru dan akan dirapatkan oleh guru lain. Aku minta agar pelaksanaannya dilakukan secepatnya karena dasarnya aku sudah capek dengan semua ini.
Setelah itu aku berpamitan dengan beliau dan kembali ke ruang OSIS. Aku bertemu dengan salah satu calon ketua OSIS lagi, Amanda Laksana namanya. Cewe ini lebih kalem dan tenang daripada Aurel. Dia menyapaku dengan ramah dan kubalas sapaannya. Kalau tidak salah, dia anak dari CEO perusahaan besar. Mungkin dia sudah terdidik anggun dan tenang dari keluarganya.
Calon penggantiku ternyata unik semua. Disatu sisi, aku bertemu Nur bersama Farida yang asik mengobrol. Farida yang menyadariku langsung memberitahu Nur. Kebetulan sekali, aku akan menanyakan laporan itu.
"Nur, ada laporan dari Iqbal ya?"
"Eh, kak ketua! I-iya, ada. Aku lupa memberikannya kepada kak ketua!" dan buru-buru dia pergi ke kelasnya.
"Walah, aku ditinggal. Emang Nur orangnya ceroboh seperti itu ya?" tanyaku ke farida yang juga kelihatan bingung.
"Tidak sih, bahkan jarang. Kecuali kalau ada sesuatu."
Sesuatu ya? Biarlah, aku lebih penasaran tentang apa yang dilaporkan Iqbal. Setelah menunggu beberapa menit, Nur datang dengan membawa laporan yang dimaksud. Nur memberikan dengan ekspresi ketakutan. Mungkin dia takut aku marah kepadanya karena menyembunyikan laporan seperti yang... Rina... biasa lakukan.
Sesaat setelah membaca laporan itu, Aku tersadar akan sesuatu dan meninggalkan mereka berdua menuju ruang OSIS.
__ADS_1