
Ditengah perjalanan, earphone Jonathan kembali bersuara. Kali ini suara Adrian.
"--than, dimana kamu? Kita akan melakukan Briefing."
Jonathan langsung membalasnya, "Aku tadi mencoba mendekat ke roket besar itu. Aku akan kembali kesana segera." dan kemudian menutup perbincangan.
Daerah kota yang dilewati Jonathan disaat dia kembali, semuanya rusak parah. Tiang listrik rubuh, bangunan dan rumah hancur tanpa sisa, tak terkecuali perabotan didalamnya. Kendaraan juga tidak luput dari keganasan Insectanon, Mereka memakan kendaran itu dengan lahap dan menyisahkan 'remah-remah'.
Semakin dekat dengan pos Jonathan, terlihat ribuan kristal yang tertancap ditanah dengan insectanon dibawahnya. Jonathan sempat berpikir bahwa hujan kristal Adrian memang efisien, tapi akan membutuhkan waktu untuk melenyapkan kristal itu kalau bukan Adrian sendiri atau pengendali yang memiliki kekuatan setara.
Terlihat juga para pengendali lain yang mulai memusnahkan tubuh alien tersebut. Sesampainya Jonathan di alun-alun dimana Monumen Sidoarjo berdiri, dia langsung pergi ke tenda informasi untuk mendengar beberapa keterangan. Disana juga ada Adrian dan beberapa pengendali lain dan tentara.
Dilansir dari kantor pusat, setelah dilakukan perhitungan, Insectanon baru saja mengeluarkan 5% dari kekuatan tempurnya. Mereka masih memiliki armada tempur yang belum diluncurkan. Tidak hanya itu, Insectanon yang sudah lama berada di Bumi juga masih belum bergerak. Mereka diberi pesan untuk selalu bersiaga.
Sang kapten pemimpin operasi ini mulai membuka suara, "Serangan ini sebenarnya sama dengan apa yang terjadi 50 tahun lalu. Jika kita bisa bertahan lebih lama, kita harus bersiap dengan yang terburuk."
Jonathan mengacungkan tangan dan bertanya, "Apa alasan mereka menyerang kembali pak?"
Pertanyaan itu membuat sang kapten berpikir sejenak. "Kami tidak tahu apa motif sesungguhnya dari penyerangan mereka, apakah mereka mengincar sumber daya atau tempat tinggal."
Orang-orang didalam tenda itu saling berbisik membuat asumsi. Takut, keraguan, dan panik terlihat jelas di setiap ekspresi yang mereka buat. Mendadak ada salah seorang yang muncul dan mendekat ke sang kapten. Setelah berbisik singkat, sang kapten langung berteriak.
"Kalian semua kembali ke posisi masing-masing! Serangan kedua akan dimulai!"
Orang-orang itu berhamburan keluar dan kembali ke posisi mereka. Informasi lanjutan akan di siarkan lewat alat komunikasi. Informasi yang didapat beberapa waktu kemudian adalah, muncul ratusan armada pesawat kecil dan beberapa pesawat induk dari angkasa.
pesawat kecil itu mengawal pesawat induk untuk mendarat. Entah apa yang mereka bawa di pesawat induk tersebut, mereka dilarang mendarat apapun yang terjadi. Mereka yang dapat terbang segera ikut untuk menghadang, Sedangkan yang lain melakukan tembakan ke arah udara.
__ADS_1
Setelah pesan itu berakhir, Jonathan langsung saja mengepakkan sayap api dan terbang menembus awan mendung tersebut. Dia melihat pesawat jet dari kejauhan milik militer, di atas kepalanya terlihat beberapa kilauan layaknya bintang jatuh. Lambat laun cahaya itu semakin jelas membentuk seperti sebuah pesawat. Desain pesawat itu baru pertama kali Jonathan lihat.
Pesawat Jet milik militer itu sampai ke posisi Jonathan dan melintasinya. "Sepertinya masih banyak lagi regu pesawat yang menyusul." ucapnya dengan melihat sekitar dan menutup telinga. Siapa juga yang betah mendengar pesawat jet dengan kondisi terbang sedekat itu.
Jonathan menyadari sesuatu, dia tidak bisa terbang lebih tinggi lagi. Jonathan bukan pesawat jet yang sudah memiliki tabung oksigen. Apalagi bertarung di kondisi kadar oksigen tipis dan dingin. Itu sama saja dengan bunuh diri. Akhirnya Jonathan hanya bisa pasrah menunggu sampai pesawat alien itu sampai di zona yang lebih aman dan melihat pesawat militer saling beradu misil dan laser.
Dari yang Jonathan lihat, pertempuran udara ini memang tidak seimbang. Puluhan pesawat militer melawan ratusan drone dan kapal induk alien. Beberapa misil terlihat meledak di udara, membuat semacam asap untuk membutakan. Di satu sisi, serangan dari pesawat militer masih terus berlanjut berkat radar yang sudah di upgrade. Dengan mudah mereka meledakkan sejumlah Drone dan mulai menyerang kapal induk.
Sebuah perisai muncul dan melindungi kapal induk tersebut. Tidak ada satupun misil maupun laser yang dapat menembus dinding pelindung itu. Drone yang masih terbang bebas mulai mengincar kembali pesawat yang kebingungan dengan perisai itu. Semakin lama, mereka sudah mulai mencapai lapisan troposfer bumi. Akhirnya Jonathan berani untuk ikut bertarung.
Seketika itu juga, Jonathan langsung terbang menuju kapal induk alien dan mulai menyerang. Dibuatnya api di telapak tangan, dibakarnya sekuat mungkin dan kemudian diledakkan. Ledakan tersebut lalu diserap oleh tangan kanan dan dipukulkan ke perisai tersebut. Alhasil, ledakan gelombang panas tercipta dan mengguncang pelindung tersebut.
Perisai tersebut seketika bergetar sesaat, kemudian kembali stabil.
"Sial, kupikir bisa kubuat overheat!" Ucap Jonathan yang mengambil jarak setelah melakukan tinju apinya. "Kalau begini terus, mereka bisa mendarat!"
Tidak hanya satu yang muncul, tetapi beberapa lagi yang terlihat. Mereka mulai turun satu persatu sambil mulai menembakkan roket ke udara. Roket-roket yang ditembakkan itu meledak di angkasa, dan berubah menjadi serpihan roket kecil dan meledakkan apapun yang dibawahnya. Sebagian dari roket itu juga meledak dan membuat asap.
Jonathan melihat Adrian yang sudah bersiap dengan meriam lebih besar dari sebelumnya, dan sekarang ada sepasang. Meriam tersebut ditembakkan berkali-kali, meluncurkan bongkahan kristal tajam dan siap menusuk serangga raksasa itu. Adrian juga berusaha membuat pelurunya agar mudah dihindari oleh pesawat militer.
Terdengar suara di alat komunikasi Jonathan. "--sssttt, bzzt,--than,ha--, bzzt."
"Sepertinya seseorang menghubungiku, tapi kenapa sinyalnya seperti ini?" lalu Jonathan terbang melintasi awan tebal nan gelap dibawahnya. Awan ini sebelumnya tidak segelap ini pikir Jonathan. Dibawah awan itu terjadi hujan yang tidak terlalu deras. Mungkin karena dari pagi terjadi mendung, sekarang saatnya hujan.
Serangga besar itu berhasil mendarat, dan beberapa drone mulai melindunginya. Serangga itu membentangkan sayapnya, terlihat puluhan pelontar roket lagi dan meluncurlah roket-roket tersebut. Menghancurkan apapun yang berada disekitar. Meriam di kepalanya juga terlihat sedang mengisi kekuatan.
Meriam Adrian dirubah arahnya ke serangga itu, sesegera mungkin untuk dibuntu dengan bola kristal. Pengendali lain juga berusaha mendekat dan menyerang, tetapi para drone itu selalu menghalangi. Beberapa kali tembakan kristal itu juga selalu berhasil digagalkan dengan cara dihancurkan dengan misil, ataupun drone itu menabrakkan diri.
__ADS_1
Sekali lagi alat komunikasi bersuara, "--than, bu--,ban--, cep--"
Jonathan melepas benda tersebut karena mengganggunya, "Kenapa alat komunikasinya menjadi separah ini? Sebaiknya aku fokus untuk menghadang Elg Blastea saja!." dan dia terbang menuju serangga itu.
Di lain pihak, Adrian berusaha menggunakan alat komunikasinya yang sepertinya rusak karena suatu sebab. "Halo, Jonathan? Dimana ka--" ucapannya terhenti ketika ia melihat bola api melayang cepat ke arah Elg Blastea itu. "Oh, baguslah!"
Sesaat setelah Jonathan berada tepat di depan meriam Elg Blastea, tembakan kuat terjadi. Tanpa berpikir panjang, Jonathan langsung membuat sayap api untuk melindunginya. Tembakan meriam tersebut sangatlah kuat dan membuat Jonathan terpental sangat jauh. Bagusnya, tembakan tersebut berhasil ditahan.
Adrian yang melihat adegan tersebut langsung meleburkan kedua meriam besarnya, melakukan peregangan sejenak. "Sekarang giliranku." ucapnya perlahan. Adrian yang bersemangat itu menghentakkan kakinya ke tanah dengan kuat, sesaat kemudian, dia terlontar jauh. Dia mengulangi hal tersebut sampai mendekat ke serangga besar.
Adrian yang berhasil mendekat seketika disambut oleh tembakan beruntun dari Minigun Elg Blastea. Dia berusaha menahan serangan tersebut sambil mencari titik lemahnya. Seluruh tubuh serangga itu dibalut dengan exoskeleton yang keras. Adrian mencoba mengecek bagian abdomen*. Sialnya, semua tubuh yang seharusnya lunak itu terganti oleh baja dan senjata.
"Bagian serangga yang lemah dimana ya? Aku harus belajar biologi lebih dalam lagi" ucapnya kebingungan. "Coba kuserang bagian abdomennya."
Adrian berkolaborasi dengan pengendali sekitar untuk membuka celah dan mendekat. Dia bersiap dengan membuat baju perang yang terbuat dari kristal dan kemudian maju. Puluhan roket seketika mendatangi Adrian ketika dia mulai berusaha mendekat. Sejumlah roket berhasil dihindari, namun juga ada yang berhasil mengenainya.
Dia masih tetap tegar dan berusaha maju. Adrian juga disambut oleh ratusan peluru dari minigun sekitar. Sampailah Adrian tepat dibawah abdomen Elg Blastea, lalu dia memposisikan diri, menggerakkan tangan seraya mengangkat sesuatu. Dia mengulangi hal tersebut meskipun beberapa roket berhasil meledak diri disekitarnya.
Tak goyah dengan ledakan yang terus menerus diterima, Adrian terus menerus melakukan gerakan mengangkat itu sampai dia merasa cukup. Kemudian, gerakan itu ditutup dengan mengangkat kedua tangan, menyatukannya, dan memukulkan ke tanah. Terasa gempa yang kuat disekitar Elg Blastea, dan muncul puluhan batuan kristal dengan ujung lancip, menusuk setiap tubuh serangga itu.
Sekali lagi Adrian memukul tanah, batuan kristal itu tumbuh semakin panjang dan menusuk semakin dalam. Dia mengulang pukulan itu sampai batuan kristal itu menembus abdomen Elg Blastea dan membuatnya berhenti bergerak. Serangga itu akhirnya menghentikan serangan dan orang-orang mulai bersorak.
Kabar buruknya, meriam dari Elg Blastea lain meluncur cepat, membinasakan apapun yang dilewatinya dan menghancurkan Monumen Sidoarjo.
-------------------------------------------------------
__ADS_1
*Abdomen : bagian perut serangga, terdapat di belakang. Terkadang tertutupi bersama sepasang sayap untuk beberapa jenis serangga.