
"Terima kasih atas kehadiran bapak-bapak sekalian dalam rapat ini." Ucap moderator sekaligus menutup acara rapat.
"Pak Indra, boleh saya kembali ke ruang OSIS?"
"Tentu saja. Tapi jangan keburu pulang. Ada seseorang yang akan berkunjung ke ruang OSIS nanti. dan ingat, tentang masalah parasit itu, sementara ini jangan ada diskusi tentang itu."
"Baiklah pak, saya permisi."
Para guru dan beberapa polisi mulai meninggalkan ruang rapat. Aku juga segera bangkit dari kursiku dan bergegas ke ruang OSIS. Namun langkahku terhenti setelah ada suara om-om yang memanggilku.
"Nak Jonathan." Sapa pak Hamdan.
Aku kemudian menoleh dan menyapa balik dengan sopan.
"Kami sangat berterima kasih atas bantuan kalian, para anak-anak berkemampuan khusus. Berkat bantuan kalian, kedamaian kota ini bisa diraih sekali lagi." Ucap pak Hamdan dan mengulurkan tangannya.
"Saya juga berterima kasih pak. Berkat bantuan bapak dan anggota polisi lainnya, kejadian ini bisa cepat berakhir." Balasku dengan sopan dan menyambut tangannya kemudian bersalaman.
Setelah berbincang-bincang kecil dengan pak Hamdan, aku melanjutkan langkahku ke ruang OSIS. Disana semua teman-temanku sudah berkumpul seperti biasa. Aisyah bermain game dengan Iqbal dan Adrian, kak Cakra membaca koran, Rina dan Yunita membaca buku bersebelahan, sedangkan kak Rosa mengamati Rina dan Yunita sambil sesekali bermain dengan boneka beruang pinknya.
__ADS_1
"Gimana rapatnya kak?" tanya Aisyah yang bermain game bersama Adrian dan Iqbal
"Yah... biarkan sisanya diurus para polisi, itu kata mereka. Kita disini akan kembali seperti pelajar biasanya." jawabku datar dan mengarah ke kursiku.
"Maksudmu, kita harus kembali belajar untuk ujian kenaikan kelas?" tanya kak Cakra.
"Iya.... Eh... ngomong ngomong tentang ujian, bukannya tinggal beberapa minggu lagi ya?" tanyaku panik.
"Biar kutebak, kak ketua belum belajar apapun kan? hehehe." Ledek Aisyah.
"Aku sibuk tentang masalah ini Nur, mau gimana lagi."
"Kalau kak Cakra dan kak Rosa sendiri gimana? Biasanya kan kelas tiga disibukkan dengan ujian-ujian gitu?" tanya ku kepada kedua kakak kelasku.
"Kalau aku sih, dapet beasiswa di Universitas Brawijaya. Jadi masa depanku terjamin."
"Umm... aku bingung sih mau kemana, maksudnya lanjut kuliah apa cari kerja." Jawab kak Rosa yang bermain-main dengan bonekanya.
"Tapi kak Rosa sudah siap dengan ujian akhir tahun kan?" tanyaku lagi.
__ADS_1
"Umm...." kak Rosa melirik ke suatu arah.
"Rosa memang kelihatan seperti orang pemalas, tapi nilai selalu diatas rata-rata terus kok." Balas kak Cakra sambil melihat kak Rosa.
"Cakra...!"ucap kak Rosa malu-malu kemudian memeluk bonekanya.
"Memang benarkan?" Ucap kak Cakra lagi.
Beberapa saat kemudian, seseorang mengetuk pintu masuk ruang OSIS. Aku mempersilahkan orang tersebut untuk masuk. Seorang bapak-bapak yang terlihat berumur kepala empat dengan kumis tipis dan wajah yang serius. Rambutnya sedikit acak-acakan dan beberapa sudah mulai memutih. Beliau menggunakan baju lengan panjang dengan motif batik mega mendung berwana biru tua dan celana kain coklat muda.
"Oh ini, para anggota OSIS." Ucapnya tenang sambil mengamati setiap kegiatan kami.
Karena panik, Iqbal, Aisyah dan Adrian mempause gamenya dan langsung menghadap ke bapak tersebut. Rina, Yunita da kak Cakra menghentikan membacanya. Sedangkan kak Rosa memeluk boneka beruangnya dengan lebih erat.
"Ada apa ya pak?" tanyaku sopan.
"Perkenalkan, nama bapak adalah Budiman Hardianto, panggil saja pak Budi. Bapak akan menjadi guru pengawas OSIS kalian!" Jawabnya dengan suara tegas dan lantang
"HAH?"
__ADS_1