School Life Project

School Life Project
All Hope is Lost : Chapter 4


__ADS_3

"Jadi mereka sudah berangkat ya?"


"Iya."


Iqbal membiarkan hal itu terlewat dan pergi keluar ruang OSIS.


"Kamu titip sesuatu? Aku mau ke minimarket."


"Ambilin minuman, apapun boleh." jawab Adrian.


Suasana siang dan terik ini terasa menyengat kulit. Iqbal melewati lorong kelas dan menuruni tangga ke lantai dasar. Dia berjalan santai sambil berpikir sesuatu dan tampak seperti orang melamun. Iqbal seketika tersadar ketika dia melihat seseorang dari kejauhan. Orang itu berdiri sejenak di pintu keluar dan kemudian beranjak pergi.


Iqbal mempercepat langkahnya untuk menemui orang ini dan sesampainya disana, dia menoleh kanan maupun kiri untuk mencarinya. Orang yang dicari Iqbal sudah tidak tampak di kerumunan warga. Mungkin itu hanya seseorang yang mirip dengannya, pikir Iqbal yang kembali melanjutkan langkahnya ke minimarket.


Berkat peraturan pemerintah untuk memperbolehkan mengambil makanan dan minuman tanpa membayar mempermudah penduduknya bertahan hidup. Sebagian besar serangan Insectanon menghancurkan minimarket tersebut dan yang tersisa hanya rak bagian makanan dan minuman. Uang yang berada di kasir sudah diamankan oleh manager minimarket tersebut. Penduduk juga mengambil makanan dan minuman secukupnya lalu kembali ke pemukiman. Kalaupun terlalu rakus dan mengambil semuanya sendiri, toh juga merepotkan yang lain.


Seusai menikmati teh bersodanya, Iqbal kembali dan membawa sekotak jus jeruk. Jarak antara minimarket dan sekolah nya tidak terlalu jauh, hanya beberapa puluh meter saja. Dia hanya bosan karena menganggur dan tidak ada hal yang menarik terjadi. Sang Kapten dan kontrol pusat juga belum memberikan keterangan lebih lanjut. Kekuatan kegelapannya juga tidak bisa digunakan untuk melakukan kontruksi. Dia menghadap ke langit, melihati secuil awan yang perlahan-lahan lenyap oleh hembusan angin.


"Semoga esok hari bisa sedamai hari ini." ucap Iqbal yang terus melangkahkan kakinya kembali ke ruang OSIS.


Listrik utama dan air sudah kembali mengalir setelah sekian hari mati. Penduduk saling menolong untuk mulai melakukan pembangunan dan membersihkan puing-puing. Disaat seperti ini, jasa pengendali tanah sangat dibutuhkan. Pengendali tanah Tier I ataupun II sudah cukup kuat untuk menggeser ataupun menghancurkan bangunan agar rata dengan tanah, membawa material kesana-kemari tanpa menguras tenaga. Mereka juga dengan mudah membuat campuran semen dan pasir lebih cepat mengering. Karena merekalah, pembangunan terjadi sangat cepat.


Beberapa pengendali lainnya juga dibutuhkan untuk pekerjaan tertentu, seperti pengelasan yang membutuhkan pengendali api, pengadaan air oleh pengendali air, penerangan ketika bekerja di malam hari oleh pengendali cahaya, dan lain sebagainya.


--------------------------


Aurel dan Amanda akhirnya sampai di salah satu hotel ternama di Surabaya. Bersama Surya mereka diantar langsung ke ruang pertemuan. Di ruang tersebut sudah hadir ayah Amanda, beserta beberapa pejabat tinggi militer dan para peneliti. Aurel, Amanda dan Surya duduk di kursi yang disediakan dan pertemuan itu dimulai.


Salah satu peneliti itu memulai pertemuannya dengan penjelasan tentang dual core system yang akan mereka implementasikan ke kristal pengendali. Mereka sudah melakukan uji coba terhadap hewan percobaan, dan semuanya menunjukkan hasil yang positif. Mereka akan melakukan tahap selanjutnya dengan melakukan uji coba terhadap manusia.


Sistem inti ganda ini pada dasarnya sama seperti inti tunggal yang ada di kristal pengendali pada umumnya, hanya saja mereka bermutasi lagi didalam tubuh dan langsung menyerang DNA manusia. Efek sampingnya adalah rasa nyeri diseluruh tubuh, mual dan pusing parah, tetapi itu hanya sesaat dan berlangsung singkat. Jika berhasil, pengkonsumsi sistem inti ganda bisa setara dengan Tier III dan bisa menggunakan kedua elemen yang berbeda.


Tier III dan IV secara natural, kebanyakan hanya mengendalikan satu elemen. Kalaupun harus dipaksa mengkonsumsi kristal pendendali lain, benda itu tidak melebur. Mereka hanya menerima satu elemen saja. Beda cerita kalau pengkonsumsi tidak teridentifikasi memiliki pengendalian. Mereka dengan mudah menyerap semua kristal itu tanpa ada penolakan dari kristal lain. Namun kekuatan mereka terbatas di Tier I maupun II.


Sama halnya dengan sistem inti ganda ini. Kristal ini hanya dapat diunduh oleh orang yang tidak memiliki kekuatan pengendalian sejak lahir. Jika saja ada pengendali yang memiliki salah satu kekuatan dari kristal ini, benda itu tidak akan melebur.


Hanya saja, efek sampingnya sangat fatal jika diunduh oleh orang tua. Mereka yang memaksa melakukannya dipastikan akan terbunuh dalam proses mutasinya. Umur yang disarankan untuk menggunakan kristal ini sekitar 10 sampai 20 tahun. Para peneliti masih berupaya untuk mengurangi resiko yang diakibatkan oleh mutasi paksa tersebut.


Setelah penjelasan itu, mereka semua menatap Amanda dengan penuh yakin. Mereka membebankan semuanya kepadanya, atau itu yang Amanda tangkap dari pandangan tersebut.


Amanda berdiri dari kursinya, mengangkat kepala dengan tegak, "Aku akan melakukannya jika ini bisa membuat dunia terselamatkan!"


Ucapan tanpa ragu itu disambut oleh tepuk tangan yang meriah kemudian pertemuan itu ditutup. Amanda diberitahu oleh Surya bahwa dia tidak perlu pulang dan menginap di hotel ini, ayahnya juga perlu berbincang beberapa hal dengannya. Sedangkan Aurel diminta Surya untuk terus menemani Amanda.


Setelah obrolan Amanda dengan ayahnya, Surya mengantar Amanda dan Aurel menuju kamar hotel yang sudah dipersiapkan. Aurel terus memperhatikan Amanda yang terlihat berat hati menerima kenyataan itu. Dia ingin mengucapkan sesuatu kepadanya, namun bingung apa yang harus dia katakan. Mereka bertiga akhirnya sampai dikamar yang dimaksud. Surya membuka kamar tersebut, didalamnya terlihat dua tempat tidur terpisah dengan televisi di sisi satunya. Kamar mandi dekat dengan pintu masuk kamar, dan jendela yang menghadap ke monumen kapal selam.


Surya berpamitan kepada mereka berdua setelah memberikan kunci kamar dan berpesan agar segera beristirahat untuk esok hari. Aurel masih ragu sikap Amanda yang terlihat tertekan. Dia berpikir apa yang harus dilakukannya.


Aurel akhirnya membuka suara, "Amanda...."

__ADS_1


"Ya?"


Aurel berusaha mencari kalimat yang cocok untuk menghibur Amanda, "Aku akan menemanimu sampai akhir! Jangan khawatir!" ucap Aurel serius.


Amanda tertawa kecil, "Apa sih maksudmu? Aku tahu kamu pasti akan melakukannya!"


Mereka berdua mulai membersihkan diri masing-masing dan bersiap untuk istirahat. Lampu kamar dimatikan dan mereka membaringkan diri dikasur. Suasana kota yang terkenal ramai itu sekarang sepi dan mengantarkan Aurel terlelap secara instan. Tiba-tiba saja Aurel merasakan kehadiran Amanda ditempat tidurnya.


"Amanda? Ada apa?" tanya Aurel setengah sadar.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin berterima kasih. Kamu selalu setia menemaniku, itu saja."


"Hehehe." dan Aurel kembali tertidur.


Amanda merasa lega dan bersyukur memiliki teman yang santai seperti itu. "Kalau saja aku juga bisa sesantai dirimu, Aurel."


"Kalau saja aku bisa menggantikanmu, Amanda." ucap Aurel didalam tidurnya.


Ucapan itu membuat Amanda bahagia sekaligus berhasil membuatnya tersentuh dan menangis. Lambat-laun, mata Amanda mulai terasa berat dan memutuskan untuk mengunjungi pulau kapuk. Diluar jendela, Indira mengamati mereka dari salah satu mall diseberang hotel tersebut. Dia diberi tugas oleh ayah Amanda untuk mengawasi anaknya.


Indira menyalakan alat komunikasinya dan berbicara kepada Surya, "Yap, sepertinya mereka berdua sudah tertidur. Tidak ada yang perlu dilaporkan lagi. Ganti!"


"Siap ketua. Selalu awasi keadaan sekitar, ada kabar bahwa Cere Puroc terlihat disekitar sini." balas Surya dari balik pintu kamar Amanda dan Aurel.


"He? Kenapa Makhluk itu selalu nyusain kita sih?"


"Iya, iya! Aku tahu itu! Untung saja aku sedia kopi banyak dan berhasil tidur siang tadi! Kalau begitu, selamat bertugas!"


"Siap ketua!" dan Surya mematikan alat komunikasinya.


Mereka berdua menjaga aset berharga untuk perdamaian dunia dari serangan dadakan Insectanon sampai fajar tiba. Mereka juga dibantu oleh militer setempat untuk mengamankan hotel tersebut. Sialnya, Insectanon menyerang beberapa jam kemudian. Tembakan meriam dari Ra Elipd mengguncang hotel tersebut. Tampak juga Cere Grimlf yang mengawal Ra Elipd.


Cere Grimlf berbentuk seperti jangkrik, tetapi berjalan dengan dua kaki layaknya manusia. Terdapat mini-gun di tangan kirinya dan senjata itu tersambung dengan bentukan mesin di punggungnya. Tangan kanannya berbentuk seperti sebuah cakar yang terlapisi oleh sarung baja. Jika diaktifkan, baja tersebut mengeluarkan energi yang membentuk pisau.


"Surya! Musuh menyerang dari dua arah! Aku akan melindungi mereka dan kamu menghadapi alien itu!"


"Siap ketua!"


Sekali lagi serangan meriam berhasil ditembakkan dan mengenai kamar di sebelah sang aset itu. Hal itu membuat Aurel dan Amanda terbangun dari tidurnya kemudian bersiaga. Indira masuk dari jendela luar dan mengagetkan keduanya.


Aurel segera melompat dari kasurnya dan sudah mempersiapkan sebuah energi kegelapan di tangan kanannya, "Tenang! Tenang! Ini aku! Kita akan pergi dari sini! kalian bersiaplah dahulu!" jelas Indira.


"Kamu cewe yang mengganggu Amanda itu kan? Ada apa ini?"


"Kita bahas hal itu nanti! Intinya kita sedang diserang!" jelas Indira yang sedang mengamati Insectanon dari balkon.


Aurel menyadarkan Amanda dari tidurnya dan segera mengajaknya berganti pakaian. Setelah mereka selesai berganti pakaian Indira mengajak mereka ke lobi lantai dasar dimana sebuah mobil terparkir diluar, kendaraan itu sudah disiapkan oleh kemiliteran.


Indira menghubungi Surya, "Surya! Aset sudah diamankan dan kami segera pergi dari sini!" Setelah itu dia berpesan kepada keduanya, "Kalian berangkatlah duluan! Aku dan yang lain akan membuatkan jalan!" dilanjutkan dengan terbang kearah Insectanon berada.

__ADS_1


Mereka menggunakan mobil kecil agar mempermudah dalam bermanuver dan langsung keluar dari parkiran hotel dengan kecepatan penuh. Seekor Cere Grimlf sudah menghadang mereka dan bersiap menembak. Aurel mengarahkan telapak tangannya ke serangga itu, membuat laser kegelapan dan membunuhnya.


Setelah adegan itu, sang sopir cekatan menginjak pedal gas dan pergi. Dia menghindari serangan-serangan dari Insectanon dengan cekatan, biarpun penumpang dibelakangnya terpontang-panting. Puluhan tombak cahaya Indira terlihat melesat dan menusuk serangga pengganggu itu, memudahkan sang sopir dalam mengemudikan mobil dan menjauh dari zona perang. Akses jalan utama sudah berhasil dibersihkan oleh para militer dan pengendali dari para serangga itu. Indira mengikuti kendaraan itu dari atas dan mengawasi kalau ada serangan susulan. Surya dan yang lain berusaha menahan agar Insectanon itu tidak mengejar sang aset.


Suara bising dan ledakan itu sudah tidak terdengar lagi. Mereka sudah keluar dari zona perang dan bisa bernapas lega. Sang sopir juga dengan lihai menghindari reruntuhan dari bangunan juga lubang dijalan dan tetap membuat penumpang merasa nyaman.


"Terima kasih pak telah menolong kami!" ucap Aurel.


Sang sopir itu menjawab tanpa melepas pandangannya kedepan, "Aku hanya melakukan tugasku."


"Lalu, kita akan menuju kesana langsung?" tanya Amanda.


"Iya."


Lokasi yang dimaksud adalah laboratorium penelitian yang berada di kaki gunung Bromo di Kabupaten Pasuruan. Tempat itu berhasil selamat dari penyerbuan Insectanon, sedangkan lokasi lainnya mengalami takdir yang kelam. Sebenarnya lokasi tersebut sudah lama tidak digunakan karena fasilitasnya yang tidak diperbaharui. Namun karena kondisi terdesak, para peneliti melanjutkan percobaannya disana.


Perjalanan mereka sampai di Bunderan Waru yang rusak dan hancur. Banyak lubang di jalan raya, jalan layang patah dan tampak besi pondasinya. Bangunan disekitar lokasi itu juga hancur berantakan dan masih belum direstorasi, terlihat juga kendaraan yang terbengkelai. Tiba-tiba saja terasa gempa di sekitar mobil mereka.


Sebuah serangan muncul dari bawah tanah. Elg Gware mendorong mobil tersebut keatas dan menabrak jalan layang diatasnya. Mobil itu menabrak sisi jalan layang dan tertancap disana. Beruntung Aurel dan Amanda selamat, biarpun Amanda pingsan akibat kepalanya terbentur di kursi sopir. Nasib sial melanda sang sopir dan tubuhnya tertusuk oleh besi pondasi jalan layang, mengakibatkan dia tidak bisa bergerak.


Aurel berusaha menyadarkan Amanda kembali dengan mengguncang-guncangkan tubuhnya dan memanggil namanya.


"AMANDA! AMANDA! SADARLAH!"


Tidak ada respon dari Amanda yang membuat Aurel khawatir. Guncangan yang dia lakukan tadi juga membuat mobil bergerak-gerak, dan hampir jatuh. Aurel juga mengecek kondisi sang sopir yang menahan sakit karena besi pondasi. Indira yang melihat kejadian itu langsung melayang mengarah ke mobil itu, dan melempar tombak api ke Elg Gware yang tampak di aspal jalan. Tombak itu menusuk sekaligus membakarnya.


"Kalian tidak apa-apa? Bisa keluar dari sana?"


Aurel menjawab, "Kami tidak apa-apa!"


"Aku akan menurunkan kalian secara perlahan! Bertahanlah!"


"JANGAN! Ditubuh pak sopir tertancap oleh besi pondasi jalan layang! Aku punya ide lain!"


"Ja-ngan khawa-tirkan ak-aku!" ucap pak sopir sambil batuk darah. "Per-juangan-ku a-akan sia-sia ji-jika kalian ti-dak ber-berha-sil sam-pai disa-na!"


Aurel tertegun mendengar ucapan itu, "Ba-baiklah pak!"


Aurel membuat tembakan energi kegelapan dan menghancurkan pintu mobil itu, dia kemudian menggotong Amanda dan terjun. Aurel menurunkan Amanda dan meletakkannya di aspal sambil mengamati keadaan sekitar. Indira berusaha menahan mobil itu agar tidak jatuh dan menghubungi Surya untuk meminta bantuan sekaligus menjemputnya.


"Seharusnya para militer sudah bergerak! Kamu tunggulah sejenak." kata Indira yang masih terbang menahan mobil tersebut.


Sesaat setelah perbincangan mereka, sebuah truk militer datang dan menerobos apapun yang berada didepannya. Kendaraan itu berhenti tepat disebelah Aurel dan Amanda, lalu para personel militer mengajak mereka masuk dan sebagian menolong Indira untuk menyelamatkan sang sopir. Truk itu bergegas mengantar mereka berdua ke lokasi.


"Untung saja lokasi tersebut dekat dengan markas tentara angkatan udara! kalau tidak, bisa memakan waktu yang cukup lama untuk menjemput kalian!" canda sang sopir.


Aurel tidak bisa merespon hal itu karena khawatir dengan Amanda yang belum siuman. Setelah sekian waktu terlewati, Aurel akhirnya merespon hal itu dengan semangat.


"Terima kasih mau menjemput kami!"

__ADS_1


__ADS_2