School Life Project

School Life Project
Gagak Hitam : chapter 1


__ADS_3

Jonathan's Point of View


Bangun tidur kuterus mandi~. Tidak lupa menggosok gigi~, habis mandi.... Tunggu, tunggu sebentar. Ini bukan lagu anak yang berjudul "bangun tidur" karya pak Kasur. Maaf, aku akan ulangi sekali lagi.


Alarm di ponsel ku berbunyi cukup keras dan membuat ku tersadar dari dunia kapuk. Mataku yang masih susah untuk terbuka berusaha mencari ponsel dengan bantuan rabaan tanganku. Setelah kumatikan alarm, aku mengecek apakah ada notifikasi penting. "Masih jam 4 pagi ya." gumamku.


Aku bangkit dan duduk sambil terkantuk-kantuk di pinggir kasur yang telah memberikan kenyamanan ini. Mendadak ringtone ku berbunyi dan aku terkejut. "Siapa yang pagi-pagi menelepon?" pikirku. Setelah ku cek, ternyata Rina dan langsung aku terima.


"Halo. Rina, ada—"


"Ada apa, ada apa!" jawab Rina kesal. "Ada masalah besar tau! Cepat bergegas ke sekolah, aku akan menceritakan semuanya!" Dan Rina langsung menutup telepon tersebut.


Aku hanya terdiam berpikir.


Hal yang kupikirkan jika Rina yang menelepon adalah dia sengaja membangunkanku dengan alasan yang random, atau memang ada hal besar yang membuatnya panik setengah hidup. Akhirnya kuputuskan untuk sesegera mungkin memenuhi panggilannya. Setelah mandi dan menata barang-barang yang aku perlukan, aku keluar dari kamar kosku dan menguncinya.


Semua persiapan itu memakan waktu yang cukup lama. "Masih jam setengah enam, semoga Rina tidak marah-marah ketika aku disana." aku berlari menuruni tangga rumah kos dan mengarah ke sekolah. Tidak lupa aku lewat rumah Rina karena satu arah dengan lajurku ke sekolah. Kuperhatikan sebentar rumahnya dari balik pagar besi yang cukup renggang.


"Oh, dik Nathan ya? Rina sudah berangkat duluan." Sapa suara yang lembut dari balkon lantai dua yang menyadari kehadiranku.


"Terima kasih tante Dina." Sapa ku yang kemudian melanjutkan ke arah sekolah.


"Jangan panggil tante, saya masih muda lho." Jawabnya lembut diimbuhi sedikit sedih.


Tak kuhiraukan kalimat tersebut dan terus melaju ke arah sekolah. Biarpun aku bisa saja terbang menggunakan pengendalian api, tapi aku lebih memilih berlari sambil mengamati suasana jalan yang cukup rindang dan ramai. Orang-orang sudah mulai beraktifitas sepagi ini, bekerja ke kantor, membawa dagangan, ataupun mengantar anaknya sekolah.

__ADS_1


Akhirnya aku sampai ke sekolah dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Aku sudah melihat beberapa murid dan guru mulai berdatangan. Tanpa pikir panjang aku akhirnya memutuskan untuk terbang dengan mengembangkan sayap apiku untuk menuju ke ruang OSIS dan masuk lewat jendela. Disana aku melihat Rina duduk di kursi dekat meja ketua OSIS.


"Tidak sopan membuat cewe menunggu!" amuk Rina padaku.


"Aku sudah datang secepat yang aku bisa, Rina." Balasku setelah memasuki ruang OSIS dari jendela. "Memang ada masalah penting seperti apa? Kamu kok kelihatan panik."


"Para preman, mereka mulai unjuk gigi."


"Unjuk gigi? Tidak biasanya. Sepengetahuanku, mereka selalu bermain sembunyi-sembunyi agar tidak ditangkap polisi."


"Aku juga tidak tahu detailnya. Tapi kepsek mengabariku beberapa hari yang lalu. Aku sudah menyuruh Iqbal dan anggota ekskulnya untuk meneliti kebenaran informasi. Kepsek mengatakan juga padaku bahwa beliau nanti akan mengajakmu ke rapat sekolah untuk urusan ini dan menyuruhku untuk tidak mengatakan semua ini padamu sampai waktu yang tepat, dan hari itu adalah sekarang."


"Hmm, tetapi kenapa harus dirahasiakan? Jika ini memang masalah serius, apalagi tentang keamanan dan keselamatan warga Sidoarjo, kita harus turun tangan."


"Kalau untuk detailnya, tanyakan sendiri pada beliau. Yang jelas beliau akan kesini sebentar lagi."


Wilayah kekuasaan mereka pun juga tergantung dari seberapa kuat dan ditakuti geng preman tersebut. Geng terkuat di kota Sidoarjo ini adalah geng bernama "Gagak Hitam". Daerah kekuasaannya cukup luas dan meliputi pusat kota, tapi jarang mereka membuat kerusuhan.


Tapi akhir-akhir ini memang sering ada berita tentang mereka. Serangan terhadap pasar, membut kerusuhan di keramaian umum, atau bahkan sesama geng saling bertarung di tempat umum. Apalagi setelah nama "Gagak Hitam" ini mencuat di media massa. Kondisi mereka menjadi semakin liar dan membuat polisi kewalahan mengurusi mereka.


Terdengar suara ketukan terdengar setelah cukup lama aku menunggu. Mungkin itu kepala sekolah.


"Silahkan masuk." ucapku sambil menebak siapa yang datang.


"Nathan, baguslah jika kamu sudah berada di sekolah." Balas seseorang yang cukup tegap biarpun terlihat cukup tua dengan seragam batik.

__ADS_1


"Pak Indra." Sapaku sopan


"Ikut bapak ke rapat sekolah di ruang pertemuan ya. Kamu sudah dengar tentang hal ini kan? Lanjut pak Indra.


"Iya pak. Tapi kenapa harus disembunyikan dariku? Kenapa harus lewat Rina?"


"Aku tidak mau membebani kamu sementara ini, karena memang ini seharusnya bukan urusan kalian para anak muda. Tapi fakta memaksa bahwa insiden ini harus kalian tindak lanjuti." Jelas pak Indra sambil meletakkan kedua tangannya kebelakang punggung. "Semuanya akan dijelaskan setelah kita mengikuti rapat."


"Baiklah pak, saya mengerti."


"Oh iya, ajak Rina juga, Siapa tahu dia dapat membantu menjelaskan duduk permasalahan setelah mendengarnya secara langsung." Ucap pak Indra sambil pergi meninggalkan ruangan.


"Aku sudah mengabari guru yang mengajar kelas kita hari ini. Aku juga sudah mengabari teman-teman untuk segera bersiap di ruang OSIS setelah kita selesai rapat sekolah." Ucap Rina setelah selesai mengetik sesuatu di ponsel nya


"Terima kasih Rina, kamu memang cekatan dengan urusan seperti ini." Puji ku kepada Rina sambil bergegas mengikuti langkah pak Indra.


"Terserah." Jawab Rina dingin.


Setelah mengunci ruang OSIS, kami berdua pergi ke ruang pertemuan di lantai satu. Ruangan tersebut dekat dengan tangga sebelah utara gedung. Setelah sampai di ruangan tersebut. Cukup kaget aku karena bukan hanya beberapa kepala sekolah dari sekolah lain, tapi juga kapolres.


'kelihatannya ini masalah yang cukup serius sampai-sampai kepala polisi juga ikut rapat disini' Pikirku sambil mencari dimana tempat duduk. Pak Indra yang sudah duduk dikursinya memberi isyarat kepadaku untuk menemuinya dan menunjukkan tempat duduk kosong disebelahnya.


"Pak Indra, kenapa ada kapolres juga para kepala sekolah dari sekolah lain? apakah masalah ini sudah terlalu parah?" Tanyaku pada beliau setelah duduk di sebelahnya. Rina berdiri dibelakang sampingku sambil sesekali mengamati peserta rapat.


"Sepertinya begitu." Jawab pak Indra singkat.

__ADS_1


Setelah itu, moderator datang memulai membuka rapat tertutup ini.


__ADS_2