
"Tempat biasa" itu ternyata berada di taman sekolah. Adrian duduk disalah satu bangku sambil menggerakkan kakinya dengan cepat, sedangkan Iqbal berdiri dan menghadap ke lapangan sekolah dengan menaruh kedua tangan di pinggangnya. Mereka berdua menunggu kehadiran Jonathan. Begitu mereka berdua sadar Jonathan telah datang, mereka berdua langsung mendekatinya.
Jonathan terkejut dengan tingkah laku mereka, "Kalian? ada apa?"
Iqbal merespon dengan berbisik, "Mereka datang lebih cepat dari dugaan kita!"
"Pemerintah pusat juga sudah mengeluarkan perintah untuk bersiap menghadapi mereka!" sambung Adrian.
Wajah Jonathan mendadak pucat, "Seberapa cepat?"
"Tiga minggu sebelum serangan pertama." balas Iqbal.
"baiklah, aku akan segera menyampaikan ke Pak Indra. Seharusnya beliau juga sudah mendengar berita ini. Tolong juga kumpulkan para anggota OSIS lainnya!"
Jonathan bergegas pergi ke ruang kepala sekolah dengan keringat dingin. Sesampainya di depan pintu ruang kepala sekolah, dia mendengar sebuah percakapan. Jonathan memutuskan untuk mengetuk pintu terlebih dahulu dan masuk secara perlahan.
Terlihat seseorang dengan pakaian tentara angkatan darat berbincang serius dengan Pak Indra. Kehadiran Jonathan ternyata sudah ditunggu oleh kedua orang itu. Dia dipersilahkan masuk dan melanjutkan perbincangannya. Orang dari kemiliteran itu menjelaskan kondisi yang terkait saat ini.
__ADS_1
Dia menjelaskan bahwa serangan Insectanon sudah mulai terlihat jelas dan kapal induk angkasanya akan mendekat ke orbit bumi dalam waktu tiga minggu. Tidak hanya satu, tetapi empat kapal induk nya akan menyerang dari segala arah. Mereka akan melakukan serangan masal ke setiap sudut bumi.
Militer di setiap negara sudah dihubungi dan bersiap untuk berperang, tetapi ada suatu hal yang dirahasiakan sampai ada keterangan lebih lanjut. Disatu sisi, para pembawa berkah juga mulai digerakkan untuk melindungi daerah masing-masing. Pemberian kristal pengendalian juga mulai dilakukan untuk para relawan yang ingin membantu berperang atau menyelamatkan warga sipil lainnya.
Pihak militer akan mulai mengevakuasi para warga sipil dari zona yang terindikasi akan diserang seminggu sebelum serangan terjadi. Mereka juga akan mulai melakukan pertemuan ke semua sekolah khusus untuk keterangan lebih lanjut. Sampai saat itu tiba, sekolah khusus tersebut dihimbau untuk mempersiapkan murid-muridnya.
Setelah penjelasan singkat diberikan, orang militer itu berpamitan dan pergi. Pak Indra dan Jonathan terduduk lemas. Mereka bernafas tidak karuan diiringi dengan detak jantung meningkat, tidak ada kata yang terucap setelah itu. Jonathan tiba-tiba teringat sesuatu dan berpamitan ke Pak Indra untuk kembali ke ruang OSIS.
Berjalan lesu dan gemetaran, Jonathan berusaha membuat langkahnya terkesan normal di kerumunan murid-murid lainnya yang masih ceria dan riang gembira karena waktu istirahat. Terkadang ada adik kelasnya yang menyapa, Jonathan berusaha tenang dan menyapa balik dengan tersenyum.
Setibanya Jonathan di ruang OSIS, dia hanya melihat Iqbal dan Adrian tanpa ada yang lain. Jonathan bertanya kemana yang lain, Iqbal sudah menyebarkan SMS ke anggota OSIS lainnya. Sebagian besar masih ada urusan kelas dan tidak bisa ditinggal. Setelah menghembuskan nafas yang panjang, Jonathan menuju ke kursinya dan duduk. Dia menatap ruangannya dengan pandangan kosong. Iqbal dan Adrian tidak berani bertanya apapun. Suasana diruang tersebut terasa berat dan sepi.
Ruangan itu menjadi hening, ekspresi ketakutan terlihat jelas di setiap murid. Ada yang tidak percaya dan menganggap itu sebagai candaan garing. Ada yang panik dan kebingungan, sampai badannya merinding dan berkeringat dingin. Ada juga yang malah bersemangat dan bisa berada di medan tempur.
Jonathan juga akan memberikan informasi ini ke setiap kelas dengan bantuan setiap ketua kelas. Dia memberikan kesempatan kepada murid yang mau menjadi relawan untuk membantu tentara mengevakuasi warga. Jonathan tidak memaksa murid yang memiliki kekuatan untuk ikut berperang, biarpun seharusnya itu salah satu kewajiban mereka sebagai "pembawa berkah".
Tiba-tiba pintu ruang OSIS terbuka dan masuklah Pak Indra. Beliau menyadari bahwa ada rapat dan memanggil Jonathan untuk keluar sebentar. Jonathan menurut dan pergi keluar ruangan.
__ADS_1
"Ada apa pak?"
Pak Indra menjaga sikap tubuhnya dari kepanikan, "Kapan kita mulai memberitahu para murid dan guru lainnya tentang kejadian ini?"
Jonathan berpikir sejenak. "Seminggu setelah ini, tepat saat upacara bendera di hari senin."
"Baiklah, saya akan mengadakan rapat tertutup untuk para guru setelah pulang sekolah nanti."
"Silahkan pak, saya akan menyusul nanti."
Pak Indra kemudian berlalu dan Jonathan kembali ke ruang OSIS. "Ada tambahan apa lagi dari Pak Indra?" tanya Iqbal sambil menatap tajam Jonathan. "Beliau hanya bertanya kapan kita akan membeberkan berita ini, itu saja." Jawab Jonathan tenang dan kembali duduk ke kursinya.
kepanikan di ruang itu sudah mulai reda, Jonathan sekali lagi berpesan untuk bersiap dengan hal ini. Dia juga mengatakan bahwa minggu depan akan mulai menyebarkan berita ini ke semua murid di saat upacara bendera. Tindakan selanjutnya nanti akan diberitahu setelah rapat tertutup dengan para guru setelah pulang sekolah.
Jonathan mengakhiri pertemuan itu dan mempersilahkan para murid untuk meninggalkan ruang OSIS, disaat itu juga terdengar bel pulang sekolah yang lebih awal dari biasanya.
__ADS_1