School Life Project

School Life Project
Dark Past : chapter 5


__ADS_3

Jonathan Point of View


Aku masih penasaran tentang apa yang berada di dalam gua tersebut. Dari penjelasan teman-teman, alien itu berkeliling di sekitar desa. Mereka mengamati kami seperti para pemangsa kelaparan. Mereka sepertinya melakukan sebuah komunikasi dengan sesamanya di luar angkasa.


Penjelasan singkat itu membuatku semakin penasaran apa yang dilakukan mereka ketika siang seperti ini. Jadi ketika malam tiba, aku mencoba mengamatinya sendirian. Aku sadar Rina pasti membuntutiku karena dia bertugas bersama Iris. Lagipula aku akan terlihat dengan mudah jika menggunakan sayap apiku di kegelapan seperti ini.


Kuputuskan untuk pergi berjalan kaki dan berusaha mengingat-ingat rute mana yang diambil. Setelah beberapa meter jauhnya, akhirnya aku menemukan gua itu lagi. Para alien itu sepertinya sudah berkeliling seperti biasa. Gua ini terlalu gelap untuk dijelajahi. Bermodal api kecil sebagai penerangan sekitar, aku mulai masuk kedalamnya.


Suasana lembab dan dingin membuatku merinding, ditambah lagi terdengar suara para alien itu. Sesekali aku berpas-pasan dengan alien itu, buru-buru aku matikan peneranganku dan bersembunyi. Setelah beberapa saat alien itu mengamati keadaan sekitar, dia melewatiku dan meneruskan perjalanan.


Suasana tegang itu berakhir ketika aku melihat ada ruang luas di dalam gua ini. Anehnya, tempat itu ada sumber cahaya biarpun redup. Yang paling mengagetkan adalah, ada alat pemancar besar dengan teknologi futuristik layaknya film-film sci-fi. Alien-alien yang berjalan dengan kedua kaki itu terlihat seperti berdialog dengan yang lain.

__ADS_1


"Mau apa mereka? Menginvasi bumi sekali lagi? Bukannya ras mereka sudah punah berdasarkan buku sejarah?" ucapku berbisik kepada diri sendiri.


Seketika itu alat pemancar dinyalakan dan gelombangnya membuatku merasa mual. Tanpa sadar aku salah pijak dan terjatuh! Para alien itu seketika mendatangi arah suara jatuhku dan ketika mereka menemukanku, mereka langsung menyerang. Akupun berusaha kabur.


Kejadian ini benar-benar parah! Alien yang mempunyai sayap mulai berterbangan dan mengejarku, menembaki dengan ludah korosifnya. Aku juga mengepakkan sayap api dan kabur dari sini, tapi tempat sempit dan lembab ini mempengaruhi panas apiku. Aku jadi kesusahan untuk hanya menyalakan api yang cukup untuk terbang.


Berlari di kegelapan dan menghindari serangan mereka memang merepotkan, bonus hampir terjatuh karena tersandung pun juga mengganggu. Akhirnya aku bebas dari kejaran mereka dan berhasil keluar dari gua tersebut, di lain pihak, Rina dan teman-teman lainnnya sudah menunggu di depan pintu masuk gua.


Seketika itu juga para alien yang mengejarku ikut bermunculan dan langsung menyerang kami.


"Rina, kamu bisa memarahi aku nanti. Kita urus dulu alien ini dulu!" ucapku panik.

__ADS_1


Luapan marah dari Rina membuat suasana yang dingin menjadi membeku. Hawa dingin menusuk ke segala arah. Pepohonan dan rerumputan mulai membeku. Serpihan es muncul dimana-mana. Pak Budi menyuruh yang lain untuk segera menjauh dari Rina.


Pusaran angin dingin menyelimuti Rina, sekaligus membuat para alien itu melambat. Ludah korosifnya terpantul oleh hembusan angin tersebut, dan tubuh mereka mulai membeku. Rina yang masih terfokus mengumpulkan kekuatan pengendalian, kemudian membuat rapier es dan langsung menyerang mereka. Menebas tanpa ampun satu demi satu, memotong mereka layaknya tukang daging yang cekatan.


Hanya beberapa menit kemudian, tubuh para alien itu sudah tercecer kemana-mana dan setelah itu membeku sempurna. Rina yang masih berdiri dengan elegan melenyapkan senjatanya dan membuat suasana kembali normal. Sekarang aku sadar tidak akan membuat Rina khawatir lagi, karena itu sangat menakutkan!


Pak Budi kemudian berbisik kepadaku, "Kamu ini, membuat pengendali Tier IV sampai seperti itu."


Tier? Apa itu? aku tidak pernah mendengar istilah itu sebelumnya. Disaat itu juga Pak Budi memberi isyarat agar aku mengurus kemarahan Rina yang sudah memuncak.


Tanpa bisa membalas ucapannya karena aku merasakan tatapan tajam dari Rina yang siap untuk memarahiku di tengah hutan yang dingin ini. Pak Budi dan teman lainnya meninggalkan kami berdua. Setelah mereka tidak terlihat lagi, Rina mendatangiku dengan aura dingin menusuknya.

__ADS_1


Berjalan merunduk dengan cepat mengarah padaku dan *plak!* sebuah tamparan keras bersarang di pipiku. Kekuatan Rina masih belum mereda ternyata\, tamparannya membuat pipiku terasa membeku dan perih. Aku dan Rina tidak bisa bicara apapun setelah itu.


__ADS_2