
Aisyah Point of View
"Hei Iqbal! kak ketua kemana? seharusnya dia sudah kembali disini?" tanyaku sambil mengerjakan laporan keuangan.
"Tidak tahu." jawab Iqbal tidak peduli.
"Adrian, tahu kak ketua?" tanyaku lagi.
"Sepertinya aku melihat dia ke perpus." balas Adrian.
"Gitu dong, tak seperti Iqbal yang tidak bisa diandalkan." candaku yang kemudian pergi keluar ruang OSIS.
"Bodo aaaamaaat!" ucap Iqbal datar.
Semenjak kematian Rina beberapa hari lalu, Beberapa dari kami berubah sifat. Iqbal yang biasanya humoris jadi tukang menggerutu. Kak ketua sering hilang dari kursinya dan sekarang dia selalu menghindari pergi ke atap. Padahal biasanya ketika dia penat atau ingin bersantai, kak ketua selalu kesana.
Aku sendiri awalnya kaget ketika mendengar kematian Rina. Sekolah bahkan diliburkan sesaat untuk mengenang Rina .Sebagian dari kami dan guru menjenguk ke rumah Rina. Setelah mendengar kejadian yang sesungguhnya, Iqbal menghajar kak ketua tanpa ampun. Aku dan Adrian berhasil melerai mereka. Tetapi Iqbal masih tidak terima dengan kejadian itu.
__ADS_1
Sedangkan kak ketua hanya terdiam saja sampai sekarang. Semenjak berkelahi dengan Iqbal, kak ketua jadi sering menghindari ruang OSIS dan pergi ke tempat lain. Repotnya lagi, aku jadi merangkap sebagai bendahara dan wakil. Aku perlu mencari anggota sih, tetapi persetujuan akhir ada di kak ketua dan dia sering menghilang.
Sesampainya di perpus, aku melihat Yunita dan kak ketua duduk berhadapan. Yunita sudah pasti membaca buku, sedangkan kak ketua hanya melamun. Aku mendekatinya dan mengajak berbincang.
"Kak ketua, sampai kapan kamu gini terus?"
"Kalau bisa selamanya. Aku sudah malas untuk melanjutkan semua ini." jawab kak ketua depresi.
"Terserahlah. Daripada begini terus, bukannya lebih baik kita cari pengganti? Kita sudah kelas tiga lho kak."
"Jonathan tidak berpikir itu." jawab Yunita yang masih asik membaca buku.
"Maksudnya?"
"Mereka akan datang sebentar lagi. Kalian bersiaplah ketika itu terjadi."
Lagi-lagi jawaban yang tidak jelas dari Yunita. Dia memang orang nya misterius. Aku sering melihat dia dekat dengan Iqbal beberapa waktu sebelumnya. Sudah lah, aku harus mengejar kak ketua lagi. Setelah aku berpamitan dengan Yunita, aku pergi meninggalkannya. Yunita hanya merespon sebentar terus kembali membaca.
__ADS_1
Kira-kira kemana lagi ya kak ketua? Mungkin ke ruang kepala sekolah? Karena kak ketua sadar akan sesuatu tadi. Di tengah perjalananku ke ruang kepala sekolah, aku bertemu Iris yang membawa peralatan melukis. Aku mendekatinya dan menyapa.
"Hai Iris. Melihaaa--"
Kesedihannya terpancar jelas dari wajahnya. Iris mulai meneteskan air mata. Seketika itu juga, dia menjatuhkan semua alat lukis dan memelukku.
"Aku gagal tes kak!" tangis Iris.
Apa boleh buat, kupeluk balik cewe cengeng itu sambil mengelus-elus kepalanya. Kubuat dia merasa tenang. Iris juga masih menderita kesedihan yang sama dengan kak ketua. Padahal Iris cewe yang mungkin seceria diriku. Sekarang dia jadi mudah sedih.
Dari kejauhan kak ketua mengarah kepadaku. Kali ini wajah paniknya yang terlihat.
"Ah, Nur. Maaf tadi aku pergi tergesa-gesa. Ada hal yang perlu kubicarakan kepada kepala sekolah tadi." kata Jonathan yang menatapku memeluk Iris.
"Tidak apa-apa sih kak. Memang apa yang kak ketua pikirkan tadi?"
Jonathan menjawab dengan wajah kosong, "Takdir kelam terulang kembali."
__ADS_1