
Rina Point of View
--beberapa hari setelahnya--
Seraya mengerutkan dahi, "Kamu benar Iqbal, para alien itu sudah kembali. Tapi bagaimana?"
"Mungkin itu mereka yang berhasil melarikan diri. Berita ini juga simpang-siur sumbernya. bukan hanya di wilayah kita, tapi beberapa negara juga mulai melihat mereka lagi."
"Negara? negara lain juga? Ka-kamu tidak bercanda kan?"
"Untuk apa aku bercanda dalam hal ini?"
Aku merasakan kehadiran Nathan, "Mari kita akhiri pembicaraan ini Iqbal. Aku tidak mau Nathan mendengarnya untuk sementara."
Iqbal mengacungkan jempolnya tanda mengerti kemudian merubah wajah seriusnya menjadi konyol seperti biasanya. Dia kembali ke kursinya dan menyalakan komputer, sedangkan aku mencari bacaan di rak buku. Benar dugaanku, Nathan datang membawa tumpukan laporan lagi ditemani Aisyah. Padahal aku sudah komplain dengan pak Indra untuk tidak memberikan laporan yang keterlaluan.
Mau tidak mau aku membantu Nathan membaca laporan yang tidak ada habisnya ini. Setelah kejadian itu, setidaknya lima puluh lebih laporan datang dari setiap daerah di kabupaten Sidoarjo. Bukannya menjadi damai, tapi malah kejadian yang selalu bersangkutan dengan pengendalian. Eh, laporan ini... harus segera kusembunyikan.
"Rina? ada apa?" tanya Nathan.
"Urus saja laporanmu." balasku dingin, biarpun sebenarnya aku tidak berniat seperti itu. Maaf Nathanku.
Dia sudah mulai terbiasa dengan perubahan sikapku yang cuek terhadapnya. Memang benar dulu aku orangnya ceria dan ramah seperti Aisyah. Tapi itu semua berubah ketika negara api menyerang... ehem... maaf. Aku masih tidak mengerti kenapa aku harus disuruh pak Indra cuek bebek kepada Nathan.
__ADS_1
Aku berusaha menolak mati-matian pada saat setelah diberitahu itu. Ada hal yang sengaja tidak diberitahukan kepadaku, bahkan untuk sebuah alasan, "Ini demi kebaikan nak Jonathan. Kamu sebagai teman masa kecil sekaligus kekasihnya seharusnya paham." Diatas itu semua... BAGAIMANA PAK INDRA TAHU KALAU AKU MENCINTAI NATHAN!?
Akhirnya aku hanya menurut pasrah tanpa pengecualian. Biarpun begitu, pak Indra masih memperbolehkanku bersifat normal kepada yang lain. Konyolnya... Iqbal tidak sengaja mendengar percakapan kami dan dia hanya senyum senyum gaje. "Tenang saja. Tidak bakal kubocorin ke yang lain kok, hahaha." ucapnya kemudian berlalu.
Kembali lagi ke masalah laporan. Setelah membaca semua laporan yang memakan waktu ini, aku mengirim pesan ke Iqbal untuk bertemu di atap lagi. Semoga yang lain tidak berasumsi aneh-aneh, karena akhir-akhir ini aku sering mengajak Iqbal ke atap. Untuk mengobrol masalah alien ini dan permintaan tolong dari sekolah khusus cabang Malang.
Awalnya Iqbal duluan yang keluar dari ruang OSIS dengan alasan dipanggil anggotanya, kemudian dilanjut aku yang keluar sambil membawa tas berisi laporan yang kusembunyikan tadi. Sesaat aku merasakan Aisyah menatapku dengan curiga, semoga hanya perasaanku.
Sesampainya di atap sekolah, Iqbal menungguku di salah satu bangku dengan minum susu kotak "Milk Indo".
"Ada apa lagi Rina? Sampai harus repot-repot mengajakku ke atap?"
Aku langsung menyodorkan laporan yang kusembunyikan tadi. Iqbal dengan kebingungan membaca itu. Sesekali dia mengangguk-angguk tanpa sebab.
"A-aku... masih belum sanggup."
"Memang ada apa?"
Aku tidak ingin Nathanku berurusan dengan hal ini.
Dengan gugup aku membalas, "Ba-bagaimana kalau diserahkan ke orang lain? Terus diselesaikan secara terselubung?"
"Sampai sejauh itu? Aku tahu kamu khawatir sam--"
__ADS_1
"AKU TIDAK INGIN KEHILANGAN NATHAN!" bentakku.
Iqbal dan orang yang berdiri di ambang pintu atap sekolah terkejut.
"Ah, Nur. Tolong jangan salah paham dulu." ucap Iqbal yang mulai keringat dingin.
"Tenang saja, aku tidak berniat membunuhmu kok, hehehe." Aisyah yang kemudian mendekati kami berdua, "Jadi, apa yang membuat Rina seperti itu?"
Setelah penjelasan singkat dari Iqbal, Aisyah paham kondisi yang kurasakan sekarang. Tentang laporan itu sendiri, bahwa beberapa warga mulai melihat Insectanon, nama alien serangga ini, muncul di salah satu wilayah desa sekitar gunung Arjuno-Welirang. Ketua OSIS dari sekolah khusus Malang meminta tolong untuk menginvestigasi sekaligus memberantas jika terjadi invasi lokal.
Laporan yang seharusnya sudah kami jawab beberapa hari sebelumnya, tertunda sampai mereka memutuskan untuk memberikan langsung laporan ke sekolah kami. Aisyah dengan santainya menjawab, "Kamu memang cocok jadi kekasihnya kak ketua, hehehe."
"Kali ini, biarkan Nathan yang memutuskan. Lagian juga dia memiliki teman-teman seperti kita, ya kan Nur? Dia tidak mungkin mengurus itu sendirian."
Dada ini terasa sesak, sebuah emosi kesedihan kian memuncak, "Aku tahu. aku hanya--"
Aisyah tiba-tiba memelukku. Pelukan hangatnya membuatku merasa tenang, atau mungkin karena kekuatan pengendaliannya. "Cup cup cup." Aisyah berusaha menenangkanku. Iqbal juga mendadak berdiri dari bangku dan memberi ruang untuk kami berdua. Iqbal memutuskan untuk pergi meninggalkan kami.
Terima kasih sudah berusaha menenangkanku Aisyah. Hampir saja Aisyah mendapatkan joke baru untuk menggodaku. Sesaat setelah emosiku stabil, aku mencari laporan tadi yang ternyata dibawa Iqbal. Sialan tuh anak! Berani-beraninya dia bertingkah seenaknya sendiri! Kuajak Aisyah untuk segera kembali ke ruang OSIS.
Sesampainya di ruang OSIS, Nathan dan Iqbal seperti berdiskusi memikirkan solusi tentang laporan tersebut. Nathan yang menyadari kehadiranku juga Aisyah mengajak untuk mencari solusi. Syukurlah Nathan tidak marah atau apapun padaku.
Nathan memberi isyarat kepadaku untuk memanggil Adrian untuk menghadiri rapat mendadak ini. Beberapa saat kemudian, suara ketukan pun terdengar, dari luar jendela. Ternyata Adrian yang muncul. Setelah semua anggota OSIS berkumpul, Nathan membuka rapat tertutup ini.
__ADS_1