
Jonathan's Point of View
"Nathan, laporan baru untukmu!" ucap Adrian sambil membawa beberapa tumpuk kertas dan menumpuknya di mejaku.
"Lihat itu, laporan apa gunung? banyak sekali. Hahaha!" Goda Iqbal sambil mengamati mejaku yang tertumpuk oleh kertas-kertas tersebut. "Untung aku cuman mengetik disini." Lanjutnya.
"Dan yang lebih anehnya, kenapa laporannya bisa sebanyak ini? memang OSIS jadi tempat pengaduan? Jangan-jangan ada laporan untuk minta cerai juga." Jawabku yang sudah frustasi dengan tumpukan kertas ini.
"Sial! sudah jam 10! Aku pergi ke ruang ekskul ku dulu. Ada acara sebentar, nanti aku kembali lagi." kemudian Iqbal beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan ruangan.
Setelah Iqbal berpamitan dengan kami, aku melanjutkkan membaca laporan-laporan ini. Cukup melelahkan mendengar keluh kesah para warga yang di serang oleh geng preman. kami sedang melakukan penyelidikan tentang pola serang mereka dan bagaimana dampak untuk para warga sekitar.
Mereka bertarung diluar ruang dimensi, jadi jangan ditanya seberapa besar kerusakan yang sudah mereka timbulkan. Disisi lainnya, beberapa dari mereka memanfaatkan momen tersebut untuk mencuri harta benda warga.
Kami juga mencari tahu siapa saja yang ikut serta dalam peperangan ini. Kami sudah mendapat beberapa nama geng besar, seperti geng "Bola Djiwa", "Semar Mendem". "Jawi Sakti". Dalam laporanku, posisi mereka mulai terancam sebagai pemasok bahan makanan murah. Geng "Gagak Hitam" ini menyerang mereka untuk mengambil wilayah kekuasaan mereka dan mendapat keuntungan finansial dengan cara menaikkan harga bahan pokok.
"Beberapa dari geng ini ternyata membantu roda perekonomian juga ya." Ucapku kagum.
"Biarpun mereka disebut geng, mungkin mereka lebih cocok disebut pemasok." Balas Adrian.
__ADS_1
"Lain halnya dengan ini, geng yang beranggotakan sedikit sebagian berbuat onar layaknya preman, sebagian lagi malah cinta damai dan menolong sesama." Lanjutku.
Aku melirik kesana-kemari, mencari eksistensi seseorang, "Rina, si Aisyah kok nggak kelihatan daritadi? Kamu tau?"
"Dia ada rapat dengan anggota ekskul bela diri lainnya bersama kak Rosa. Apa perlu kupanggil kesini?" tanya Rina yang sibuk menata laporan di mejanya.
"Tidak usah kalau begitu. Aku hanya penasaran. Masih belum terlalu penting kok."
"Kalau begitu fokuslah terhadap laporanmu!" balas Rina bernada serius.
"Baiklah." jawabku malas.
"Geng Bandeng Presto.... Eh!? Bandeng Presto?" Ucap ku kaget sambil cekikikan. "Seriusan ini geng namanya bandeng presto? Ini nama geng apa nama makanan?" lanjutku dan kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Jonathan!!!" dengan nada tinggi. "Bisa serius sedikit?" Rina menusuk ku dengan kedua matanya.
"A-aku sudah serius di-disini, tapi laporannya malah melawak!" Balasku yang masih tertawa.
"Sudahlah Rin, tertawa sedikit untuk menghilangkan ketegangan juga tidak apa-apa kan?" jawab Adrian yang sebenarnya juga ingin tertawa, tapi menahannya sekuat tenaga.
__ADS_1
"Ada apa ini? Kenapa kok ketawa-ketawa?" tanya Iqbal yang kembali dari urusan di ruang ekskulnya.
"Iqbal, de-dengar! Ada geng yang bernama 'Bandeng Presto'. apa tidak ada nama lain?" sambil menahan tawa.
"Eh? Beneran itu geng namanya bandeng presto?" tanya Iqbal dengan heran. "Itu nama geng atau nama makanan?" lanjutnya kemudian tertawa.
"Benarkan?" imbuhku, "Mereka benar-benar kreatif."
Rina hanya melihatku sambil meletakan telapak tangan di wajahnya, kelihatannya kami memang sudah benar-benar kelewat stres sampai tertawa dengan hal seperti ini. Adrian juga tertawa kecil sambil melanjutkan membuat surat-surat penting. Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Iqbal dan Adrian pamit duluan. Sedangkan aku dan Rina masih di ruangan.
"Apa? Kamu khawatir aku lagi?" ucap Rina yang sebal karena aku melihat nya masih disini.
"Bu-bukan begitu sih." Balas ku ragu-ragu
"Jangan pedulikan aku, urus laporan itu!"
"Tapi—"
"Jonathan, FOKUS!!!"
__ADS_1