School Life Project

School Life Project
Gagak Hitam : chapter 3


__ADS_3

Jonathan's Point of View


"Kamu sudah paham semua perihalnya kan?" kata pak Indra sambil berjalan meninggalkanku. "Sisanya kuserahkan kepadamu."


"Orang itu selalu saja seenaknya sendiri." Ucapku pelan dan kesal.


"Daripada mengurus hal itu, ada yang perlu dibicarakan kepada anggota OSIS." Balas Rina yang mendengar ucapanku.


"Kamu benar, teman-teman sudah berkumpul di sana?"


"Sudah."


Tak kusangka hal ini akan tiba secepat kilat, bahkan ketika aku masih menjabat menjadi ketua OSIS. Para kepala sekolah juga sudah mulai terlihat meninggalkan ruangan rapat, tetapi tidak untuk kapolres Sidoarjo. Beliau pindah posisi duduk mendekatiku.


"Nak Jonathan." sapa kapolres itu.


"Pak Hamdan." ku sapa balik.


"Maaf telah membuatmu campur tangan dengan urusan yang seharusnya kami sebagai polisi, selesaikan sendiri tanpa bantuan kalian para pelajar. Tetapi kondisi mengatakan hal yang sebaliknya." Ucap pak Hamdan dengan nada menyesal


"Tidak, tidak masalah pak. Ini memang sudah tanggung jawab kami sebagai para pelajar yang telah mendapat "berkah". Itu sudah sumpah kami sebagai hasil dari "proyek kehidupan sekolah". Jawab ku tegas.


"Terima kasih anak muda. Bapak berharap akan ada anak-anak seperti kalian di masa depan kelak."


Kemudian pak Hamdan bangkit dari tempat duduknya. Beliau menyodorkan tangannya mengajak berjabat tangan. Dengan senang hati ku kusambut sebagai penghormatan. Setelah itu beliau pergi meninggalkan ruangan. Aku dan Rina juga meninggalkan ruangan rapat dan segera menuju ke ruang OSIS. Sesampainya disana aku melihat para ketua divisi sudah berkumpul.


"Jadi, bagaimana rapatnya?" tanya Aisyah penasaran.


"Masalah ini memang cukup serius, aku dan Rina akan menjelaskan beberapa poin penting dari hasil rapat tersebut." Jawabku sambil menuju tempat duduk.


Setelah penjelasan singkat dariku dan beberapa tambahan dari Rina, mereka mulai paham permasalahan yang terjadi. Geng Gagak Hitam ini ternyata pemicu dari kekacauan akhir-akhir ini. Mereka melakukan ekspansi wilayah dengan cara menyerang geng lainnya.


Beberapa geng yang sudah terkenal dikalangannya juga akhirnya melakukan perekutan dari geng kecil maupun yang kalah. Para polisi masih belum yakin alasan kenapa mereka melakukan perang wilayah tersebut, tapi yang jelas hal ini membuat warga menjadi panik dan ketakutan.


Dari informasi yang didapat Iqbal, geng Gagak Hitam ternyata telah berganti ketua yang dulunya lebih memilih untuk bermain damai, menjadi ketua yang ambisius. Salah satu idenya yaitu tentang ekspansi wilayah membuat kekacauan dimana-mana. Perang geng akhirnya tidak terelakan dan para warga yang tidak berdosa menjadi korban.


Tidak tanggung-tanggung, mereka menggunakan kristal element yang dibeli secara ilegal, ataupun mencurinya dan digunakan untuk tujuan tersebut. Pihak kepolisian juga dibuat kewalahan karena jumlah geng Gagak Hitam yang semakin lama semakin meningkat jumlahnya, disatu sisi geng besar lainnya juga posisinya juga mulai terancam.


"Nathan, bersiaplah dengan tumpukan laporan beberapa hari lagi." Adrian memberikan peringatan.


"Ya, aku sudah bersiap untuk itu." Jawabku yakin. "Aku juga akan berkolaborasi dengan OSIS dari sekolah lain. Mereka pasti mau membantu, karena perang geng ini terjadi hampir di setiap wilayah Sidoarjo. Seperti daerah Waru, Balongbendo, Tulangan, Porong, dan Jabon. Daerah kota dan sekitarnya seperti Candi dan Buduran tidak terlalu parah karena sudah dikuasai geng Gagak Hitam, tapi kita fokus untuk menetralisir kekacauan terlebih dahulu, baru bisa bergerak untuk menyerang pusat. Keselamatan warga perlu diutamakan."

__ADS_1


"Kalian juga berhati-hati juga terhadap mereka, siapa tahu mereka mengincar kita. Karena bagi mereka, kita para pembawa "berkah" ini adalah ancaman. Jangan sampai membuat aksi yang mencurigakan sehingga membahayakan para murid disini dan dari sekolah lain." Tambah Rina.


"Jangan sampai berita ini tersebar sampai ke telinga para murid lainnya, aku tidak ingin ada kepanikan yang tidak perlu." Tambahku lagi.


"Siap ketua!!" jawab mereka antusias.


"Baik, rapat kali ini kita akhiri. Terima kasih atas partisipasinya." Ucapku dengan tenang.


Teman teman OSIS meninggalkan ruangan satu per satu. Tinggal aku, Aisyah dan Rina di dalam ruangan tersebut. Rina kembali sibuk mengetik di ponselnya, sedangkan Aisyah mendatangiku.


"Kak ketua, setelah ini, sibuk nggak?" tanya Aisyah


"Hmm, tidak juga. Ada apa memangnya?" tanyaku penasaran.


"Bisakah kakak ikut aku setelah ini, ada hal yang ingin kubicarakan." Kata Aisyah.


"Kenapa tidak kamu katakan disini saja?"


"Tidak ah, tidak asik."


Penasaran, aku pun akhirnya memutuskan untuk mengikuti Aisyah dan berpamitan dengan Rina yang masih tinggal di ruang OSIS. Aisyah tidak berbicara satu kata pun selama perjalanan. Dia hanya tersenyum tidak jelas sambil membimbingku ke arah belakang gedung sekolah. Beberapa langkah kemudian aku menyadari dia mengajakku ke gedung ekskul, dan disana sudah berdiri sesosok cewe berjilbab merah muda.


Aisyah hanya tertawa genit dan tersenyum. Dia mengajakku dan Yunita ke ruang ekskul bela diri.


"Dan, kita sampai!" ucap Aisyah gembira.


"Bisa di perjelas maksudmu Nur?"


"Hehehe. Sebenarnya aku diminta oleh Rina, tentang masalah kemampuan kakak dalam membuat senjata dari element." Jelas Aisyah dengan singkat. "Di ruang ini, ada berbagai macam bentuk dan jenis senjata. Kakak tinggal pilih senjata yang mana saja yang menurut kakak keren."


"Ah, tentang itu ya."


Aku tidak tertarik untuk menggunakan pengendalianku untuk bertarung, tetapi sepertinya aku harus mencoba. Aku mulai melihat-lihat senjata yang kupikir menarik dan mulai mencobanya. Aisyah menjelaskan setiap senjata yang kuambil dan bagaimana penggunaan serta fungsinya. Sedangkan aku bingung kenapa Yunita juga berada disini.


Setelah melihat dan mencoba beberapa senjata. Aku memutuskan mengambil dua buah pedang. Tidak tahu kenapa, aku merasakan kecocokan dengan membawa dua pedang seperti ini, mengayun-ayunkan sambil mencoba menebas dengan cepat dan kuat.


"Baik! karena kak ketua sudah memilih senjata itu,  coba aliri pedang tersebut dengan element api kakak." Ucap Aisyah sambil memperagakan hal yang sama.


"Wow, pedangnya terbakar." Ucapku kagum.


"Kemudian bayangkan jika kak ketua memegang pedang tersebut. Fokuskan setiap detail pedang, ketajamannya, panasnya, ganggangnya, panjangnya, semuanya." Jelas Aisyah sambil menciptakan cabang* cahayanya. "Yunita, kamu boleh membuka ruang dimensimu sekarang." Lanjutnya.

__ADS_1


Yunita kemudian mengangguk tanda mengerti. Tiba-tiba saja ruangan menjadi sedikit lebih gelap.


"Jika kak ketua sudah siap, sekarang waktunya untuk percobaan." Tantang Aisyah dengan wajah menyeringai.


"Baiklah!" Ucapku bersemangat dan mulai menekuk sedikit lutut kemudian mengangkat pedang sejajar dada untuk siap bertarung.


Serangan cepat Aisyah pun dimulai. Sesegera mungkin aku menangkis semua tebasan dan tusukan yang dilancarkan Aisyah. Dengan cekatan, aku menjauh dari Aisyah, dan membuat tebasan api dari pedang tersebut, namun ditolak dengan mudah oleh Aisyah.


Dia kembali memperpendek jarak denganku. Dan menyerangku dengan cukup cepat. Setelah aku cukup lama mengelak dan membalas serangannya, Aisyah dengan mudahnya melucuti kedua pedangku, dan melemparkannya cukup jauh.


"Bagaimana kak? Kamu sudah cukup merasakan pedang tersebut?"


"Ya. aku masih bisa merasakan senjata tersebut ditanganku, dan gemetar juga."


"Bagus. Sekarang bayangkan senjata itu benar-benar berada di tangan kakak sambil alirkan element nya."


Aku berusaha membayangkan kedua pedang tersebut masih menempel di tanganku. Element api di tanganku sudah mulai membentuk kedua pedang tersebut. Setelah kurasa cukup padat, aku mencoba memegangnya, "ini benar-benar seperti pedang yang tadi!" pikirku, dan mendadak Aisyah menyerangku. Dengan sigap aku langsung tangkis serangannya, ternyata apiku sudah sepadat pedang tadi.


"Wah wah, kakak belajar cepat juga ya!" Puji Aisyah kepadaku.


"Aku sendiri juga tidak percaya." Balasku sambil mengamati pedang apiku.


Aisyah mengakhiri serangannya kepadaku dan mengambil jarak. "Sekarang kakak sudah bisa memadatkan apinya, ini perkembangan yang cukup signifikan. Kakak bisa menciptakan senjata apapun sesuai dengan keinginan kakak. Cukup bayangkan, fokus, dan alirkan kekuatan tersebut dalam bentuk yang kakak sukai."


"Baiklah aku mengerti."


"Yunita, kamu bisa mengeluarkan kami sekarang."


Suasana ruangan yang cukup gelap tadi, menjadi kembali terang. Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 3 sore. Akupun berpamitan kepada Aisyah dan Yunita dan kembali ke ruang OSIS.


"Senjata yang cocok untukku apa ya? Mungkin aku perlu melakukan riset tentang ini, karena membawa dua pedang tidak terlalu cocok dengan style bertarung ku yang selalu menyerang dengan jarak jauh." Pikirku sepanjang arah menuju ke ruang OSIS. Setelah sesampainya di ruang OSIS. Aku masih melihat Rina disana.


"Rina? Kamu tidak pulang?"


"I-iya ini aku mau pulang!" Jawab Rina tergesa-gesa dan bergegas meninggalkan ruangan.


Kemudian aku mengambil tas ku di sebelah kursi ketua OSIS, dan aku melihat sebuah kertas dengan gambar dua buah pistol dan membetuk silang. "pistol? Kelihatannya cocok untukku." Gumamku sambil berterima kasih dalam hati kepada Rina. Ternyata Rina perhatian juga kepadaku.


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


*cabang = trisula yang berganggang pendek. salah satu senjata khas ilmu bela diri pencak silat.

__ADS_1


__ADS_2