School Life Project

School Life Project
Gagak Hitam : chapter 2


__ADS_3

Iqbal's Point of View


 


Beberapa hari sebelumnya


"Kak Iqbal, aku dapat berita baru!" seru seorang adik kelas cewe yang masuk ke ruang ekskul jurnalistik.


"Semoga ini bukan berita tentang preman lagi." Balasku malas sambil bermain game.


"Biarlah, lagian berita itu kan lagi hot-hotnya. Udah terpampang di halaman depan koran pagi ini." Jawab kakak kelas yang rebahan di lantai dan sedang asik bermain ponsel.


"Apa aku perlu kembali mencari berita lain?" ucap cewe itu dengan nada memelas.


"Tidak usah, aku cuman bosan mendengar berita itu terus menerus." Keluhku yang memang beberapa akhir ini sering terjadi kekacauan yang diakibatkan para geng preman tersebut. "serangan di daerah sini lah, begal di sono lah, pemalakan di situ lah, dimana-mana selalu susah. Lalu, berita apa yang kamu bawa hari ini?"


"Aku mendapat sebuah nama, yaitu geng "Gagak Hitam". Dari informasi yang kudapatkan, mereka geng yang cukup menguasai wilayah Sidoarjo ini. Mulai dari wilayah Gedangan, dekat wilayah bunderan Aloha, sampai Tanggulangin sebelum danau lumpur Lapindo. Wilayah Suko juga mereka kuasai sampai jalan lingkar timur."


"Serius?!" tanyaku kaget. "Geng tersebut cukup besar juga cakupan wilayahnya. Pusat kota juga juga termasuk wilayah kekuasaannya." Lanjutku sambil mempause game.


"Tapi kok aku tidak pernah mendengar nama mereka ya?" tanya kakak kelas yang akhirnya bangkit setelah mendengar berita ini. "Seharusnya jika geng ini cukup besar, tahun-tahun sebelumnya aku sudah mendengar mereka."


Muncul suara misterius "onii-chan, onii-chan."


"Hoi, Iqbal. ringtone mu bunyi tuh." Respon kakak kelas yang sedikit jijik mendengarnya.


"Wew, ngagetin saja nih ringtone. Kira-kira dari... eh Rina, bentar ya guys." kemudian aku keluar ruangan.


"Halo, Rin. ada apa? Kenapa tiba-tiba menelponku?"


"Bisakah kamu menemui ku di ruang OSIS sekarang kalau senggang?."


"Siap buk!" jawabku dan kemudian menutup panggilan tersebut dan kembali ke ruang ekskul.


"Siapa kak?" tanya adik kelas.


"Si Rina, tidak biasanya dia nelpon. Biasanya dia cuman SMS atau WutsApp gitu, kelihatannya penting. Aku pamit dulu deh." pamitku kepada mereka berdua sambil mengambil tasku


"PC nya boleh kupakai nih?" tanya kakak kelas.

__ADS_1


"Yang penting jangan di close game 'Planet Ocean' ku, belum aku save. Kecuali kalau kakak bisa save-in." ucapku yang kemudian meninggalkan ruangan.


"Oke"


Di hari rabu siang ini memang cukup membosankan. Pak Slamet tadi juga gak masuk kelas, bu Indah minta ijin ada pertemuan guru. Jadi kuhabiskan waktuku di ruang ekskul sambil main game. Itung-itung cerita di game itu cukup menarik, buat bahan referensi cerita. Setelah sampai di ruang OSIS, aku masuk ruangan dan melihat Rina yang terlihat merenung cukup dalam


"Rin, ada apa? Gak biasanya kamu merenung seperti itu." tanyaku khawatir karena memang jarang Rina seperti itu, apalagi Rina tidak bersama Jonathan. "Diputusin ama Nathan?" lanjutku dengan menggoda.


"Tidak, tidak seperti itu." Jawab Rina tenang tanpa merespon godaanku. "Pak Indra menceritakan sesuatu padaku tentang permasalahan di sekitar sekolah." Lanjut Rina.


"Biar kutebak, masalah geng preman? Dan geng Gagak Hitam ini?" jawabku sambil duduk di kursi dekat meja komputer yang biasa kupakai.


"Anak jurnalis memang cepat mendengar berita ya."


"Lebih tepatnya, barusan adik kelasku yang memberitahuku barusan, sebelum kamu telpon. Lalu apa masalahnya."


"Pak Indra tidak memperbolehkan aku mengatakan ini kepada Jonathan."


"Oooookeeee...." respon ku datar tapi juga sedikit bingung "Terus?"


"Sedangkan ini masalah yang cukup serius, aku tidak mengerti kenapa harus disembunyikan dari Jonathan. Tapi anehnya, aku boleh memberitahu berita ini ke anggota OSIS lainnya dengan syarat jangan sampai ke telinga Jonathan." Jelas Rina dengan sedikit sebal.


"Coba carikan informasi tentang mereka, siapa geng Gagak Hitam ini, apa motifnya, strukturalnya, semua yang bisa kamu peras dari mereka. Pak Indra juga akan mengadakan rapat tertutup dengan para guru dari sekolah lain, dan kemungkinan ada bantuan dari kepolisian juga jika ini memang dianggap sudah terlalu parah."


"Baiklah buk! Serahkan kepada ketua ekskul jurnalistik ini, dan juga sebagai ketua divisi dokumentasi!" Ucapku dengan semangat dan antusias dengan memberi hormat ke Rina.


"Terima kasih Iqbal." Jawab Rina sedikit lega. "Ingat, jangan sampai Jonathan tau tentang ini semua. Kamu boleh memberitahu anggota lainnya."


 


 


Hari ini


"Onii-chan onii-chan." suara notifikasi ponsel ku berbunyi dan membuat penduduk kelas menoleh ke arahku.


"Iqbal, kamu lupa meng-silent­ ­ponselmu?" respon bu Indah yang sedang menerangkan rumus pitagoras dan membuat seluruh murid tertawa mendengarnya.


"Maaf buk, lupa tadi." Balasku malu-malu dan kemudian mengecek pesan tersebut.

__ADS_1


"Aku tahu kamu punya adik cewe, tapi jangan biarkan aibmu tersebar begitu." Goda bu Indah dan membuat seluruh murid tertawa kemudian menyuruh para murid untuk kembali fokus ke pelajaran


Tanpa peduli dengan candanya, aku membaca pesan tersebut di WutsApp. "dari Rina, apaan ya?" gumamku. Setelah kubaca dengan detail semua isi pesannya, Rina berpesan untuk siaga dan sesegera mungkin ke ruang OSIS. Rina akan memberi kabar lanjutan jika rapat yang diadakan telah usai diselenggarakan. Setelah itu aku mematikan ponselku dan tidak lupa mengaktifkan silent mode.


Dengan dibunyikan bel pertanda pelajaran selesai, jadwal mengajar matematika oleh bu Indah telah usai. Setelah beliau merapikan mejanya dan meninggalkan ruangan, aku, Adrian dan Yunita berangkat menuju ke ruang OSIS. Untung jadwal pelajaran kami ini adalah yang terakhir. Aku dan Adrian menghabiskan waktu untuk mengobrol sesuatu, masalah game, dan juga topik pelajaran terakhir, sedangkan Yunita berjalan di sampingku sambil menunduk.


"Yun, ngomong dikit lah." godaku.


"tentang?" tanya Yunita.


"Sesuatu lah, pelajaran kek, hal yang kamu senangi kek, kakek kek, atau masalah tentang geng preman yang akhir-akhir ini kek, apalah gitu."


Yunita hanya terdiam tanpa menjawab apapun


"Yah." sesalku yang berusaha mengajak Yunita berbicara, dan dihadiahi kegagalan "Aku ingat sesuatu, kamu kan suka membaca? Aku ada banyak novel di ruang OSIS. Cek aja di rak bukunya, siapa tau kamu tertarik."


"Baiklah, akan kucoba." Jawab Yunita masih menunduk.


Setelah menaiki anak tangga dan sampai lantai tiga, kami melihat sosok cowo tinggi berambut pendek dengan warna abu-abu dan kami mengenali cowo tersebut.


"kak Cakra!" sapa Adrian.


"Kalian ternyata. Di WutsApp sama Rina juga?"


"Iya kak. By the way, selamat ya atas juara 1 lomba basket se-kabupaten kemarin. Itung-itung buat mengharumkan nama sekolah ini, hahaha. Aku nonton langsung dari stadion pas final." Pujiku terhadap kak Cakra yang memang ketua tim basket sekaligus ketua ekskul.


"Sungguh?" ucap kak Cakra heran. "Seharusnya aku bisa melihatmu di bangku penonton beserta teman-teman lainnya." tambahnya dengan nada ragu.


"Sebenarnya aku menonton secara ilegal sih, aku ajak Yunita menonton pertandingan kakak di ruang dimensinya. Sebagai gantinya aku memberikan koleksi novel yang dia sukai dan membacanya disana."


"Bukannya ruang dimensi tidak bisa melihat orang diluarnya?"


"Ruang dimensi Yunita beda dari kebanyakan pengendali kegelapan, benar kan Yun?"


Yunita mengangguk polos.


"Lain kali coba saja kita masuk ruang dimensinya Yunita, kalian pasti terkejut. aku pertama kali masuk juga kaget." Ajakku kepada kak Cakra dan Adrian.


Tidak terasa langkah kami menuju ruang OSIS telah sampai. Setelah membuka pintu, aku melihat Aisyah dan kak Rosa mengobrol berdua. Kami pun masuk dan menyapa mereka berdua, sambil menunggu berita lanjutan dari Rina.

__ADS_1


__ADS_2