School Life Project

School Life Project
Dark Past : chapter 4


__ADS_3

Rina Point of View


"Baiklah, mari kita mulai rapat dadakan ini. Dari semua laporan yang kubaca tadi, ada laporan dari sekolah khusus cabang Malang. Mereka meminta tolong ke kita untuk melakukan investigasi di sekitar pedesaan di wilayah kaki gunung Arjuno-Welirang. Berbagai media massa juga mulai membuat berita simpang siur tentang kemunculan Insectanon lagi."


"Ha? Tapi bukannya kita dilarang untuk membicarakan hal itu?" bisik Adrian.


"Tapi ini adalah permintaan tolong dari sekolah khusus lain. Cepat atau lambat, berita ini akan masuk ke media massa. Sepertinya ketua OSIS Malang juga masih berusaha untuk membuat masalah ini tidak sampai terdengar keluar." lanjut Nathan.


"Benar juga, jarang lho sekolah lain meminta tolong ke wilayah lainnya. Kecuali jika kondisi darurat seperti ini." sambung Aisyah.


Iqbal kemudian bertanya, "Lalu bagaimana? Mau tidak mau kita harus minta izin kepada kepsek kan?"


"Beliau pasti paham ketika membaca laporan ini." Jawabku. "Kemudian sisanya diserahkan kepada kita seperti biasa. Beliau terkadang ngeselin juga."


"Kalau benar begitu, mungkin kita bisa membuat izin yang tidak mencolok seperti wisata edukasi ke tempat itu." kata Adrian.


"Ah... ngomong-ngomong tentang itu, aku baru ingat kita kedatangan dua orang pengganti kak Cakra dan kak Rosa." sahutku.


"Benarkah? Sejak kapan mereka gabung? kenapa aku tidak diberitahu?" tanya Nathan.


"Mereka sudah lama gabung sih, cuman masih malu-malu untuk kesini, hahaha." jawab Iqbal.


"Pengganti kak Rosa adalah Irisia Novelie. Cewe centil dari ekskul seni, sedangkan kak Cakra menunjuk salah satu anggota nya yang bernama Abdulah Dwi Aryajana untuk menggantikannya. Dia tidak ikut ekskul manapun, tapi dia paling sering membantu kak Cakra untuk memilih makanan dan harga." lanjutku.

__ADS_1


"Iris? dan, siapa nama panggilan anak yang dipilih kak Cakra itu?" tanya Nathan lagi.


"Dia sering dipanggil Dwi."


Nathan akhirnya membuat keputusan, "Baiklah, Iqbal dan Adrian, tolong urus surat izin untuk pak Indra ya. Aku yakin pak Budi juga pasti akan ikut serta. Jangan lupakan beliau."


Adrian mengeluarkan kertas catatannya, "Oke, tiket jalan-jalan untuk berapa orang?"


"Aku, Rina, kamu, Iris, dan Dwi. Ditambah pak Budi sebagai pengawas."


"Heee...! Kenapa aku tak diajak?" keluh Iqbal.


"Aku juga kenapa tidak diajak, kak ketua?" tambah Aisyah.


Iqbal pun pasrah, "Hahaha, nurut aja deh Nur."


Mendadak suasana ramai tadi menjadi hening ketika Yunita memasuki ruang OSIS. Kok bisa anggota kita yang satu ini terlupakan ya?


----------------------------


Hari yang di tunggu pun datang. Kami berenam yang sudah sampai di titik pertemuan dengan perwakilan sekolah khusus cabang Malang.  Tepatnya berada di salah satu penginapan dekat tempat kejadian perkara. Kami disambut oleh cewe berseragam sekolah.


"Selamat datang teman-teman dari SMA Kartika Raya. Perkenalkan, nama saya Ivany Fibonia. Saya Perwakilan dari SMA Harapan Surya. Terima kasih sudah bersusah-payah meluangkan waktunya untuk kami."

__ADS_1


haaa... nih cewe sopannya minta ampun. Rambutnya merah menyala juga, dan body nya... dia anak sma atau wanita umur 23 tahun?


Setelah penyambutan. Dia menjelaskan berbagai hal, mulai dari kondisi sekitar sampai kondisi terkini terkait Insectanon. banyak ternak yang hilang ketika malam hari, membuat mereka ketakutan. Dari keterangan beberapa warga, beberapa Insectanon itu cukup besar. Berdiri dengan dua kaki. Sebagian juga melihatnya seperti laba-laba raksasa.


Mendadak tubuhku merinding mendengar kata laba-laba. Semoga mereka tidak berambut seperti tarantula.


Pernah ada seorang warga bertemu seperti laba-laba dengan ukuran yang lebih kecil. Ketika mereka terancam, mereka mengeluarkan seperti tentakel dari punggungnya. Seperti dugaanku, itu adalah Insectanon yang sama yang menempel pada Widya, ketua geng Gagak Hitam. Mereka membuat induk inangnya memiliki ambisi untuk menguasai suatu wilayah, atau itu yang terjadi di lapangan.


Mereka sering melihat Insectanon mulai berkeliaran di jalan umum. Sebagian juga sudah ada yang berani menyerang desa, tapi para warga dengan menggunakan kristal element berhasil menangkal mereka. Anehnya, penyerangan mereka semakin sering terjadi.


Setelah penjelasan panjang kali lebar kali tinggi, wanita... ehem, cewe yang dipanggil Nia ini berpamitan untuk bertugas di tempat lain. Kami kemudian menunggu sampai sang surya tenggelam sebelum melakukan investigasi. Lalu kami menyebar di sekitaran penginapan untuk melakukan pengamatan.


Aku dan Nathan pergi ke desa terdekat sekaligus survei tentang cerita Nia tadi. Benar saja, desa tersebut sudah tidak terlihat satu orang pun berada di luar rumah. Terkadang berduaan bersama Nathan seperti ini, rasanya seperti kencan, hehe. Tunggu, ini bukan saatnya bersantai. Ketika kami sampai di salah satu persawahan. Terlihat Insectanon sedang berkeliling.


Aku jadi teringat sebuah film sci-fi zaman dahulu. Mereka mirip dengan alien tersebut, biarpun ada perbedaan mencolok pada beberapa bagian tubuh mereka. serangga itu hanya berjalan-jalan di sekitaran sawah kemudian pergi masuk ke hutan. Kami mengikuti kemana arah serangga itu berjalan. Sampai akhirnya kami bertemu dengan gua yang cukup luas.


"Nathan, sebaiknya kita berhenti sampai sini dulu. kita sudah cukup jauh terpisah dengan penginapan kita." ucapku khawatir.


"Kamu benar. Aku akan membuat tanda agar kita bisa mengakses nya nanti pagi." balas Nathan.


Nathan menghanguskan salah satu pohon besar agar tanda nya bisa terlihat dari angkasa, setelah itu Nathan menggendongku dan terbang kembali ke penginapan. Teman-teman lain ternyata sudah menunggu lama, juga pak Budi yang sudah khawatir dengan kami berdua.


Setelah bertukar informasi terkait hal ini. kami memutuskan untuk istirahat dan melanjutkan esok hari.

__ADS_1


__ADS_2