School Life Project

School Life Project
All Hope is Lost : Chapter 1


__ADS_3

Raut muka itu terlihat sangat imut ketika sedang tidur. Kadang kala godaan untuk mencubitnya muncul, Tetapi harus bisa ditahan. Hanya saja, wajah imutnya tadi berubah seperti orang ketakutan. Ada apakah didalam mimpinya yang membuat tidak nyaman? Tubuhnya juga mulai bergerak dan bergeser. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia berusaha mengucapkan sesuatu, tetapi tertahan di tenggorokannya.


Napasnya mulai tidak teratur dan ekspresi wajahnya itu kembali panik. Dia berusaha melawan apapun yang berada dalam mimpinya. Semangatlah wahai anak muda! Semoga kamu segera kembali dari alam yang mengusik tidur nyenyakmu! Banyak yang rindu dengan kehadiranmu!


"AARRGGHH!" Gadis itu terbangun, matanya melotot, berkeringat dingin dan bernapas tidak teratur. Dia memperhatikan sekitarnya dengan waspada, bahkan dibuatnya senjata ditangan untuk melindungi diri. Dia tersadar kalau sudah berhasil kabur dari mimpi buruknya dan mulai menenangkan diri. Dia kemudian mengamati lagi kondisi sekitar yang sekarang berada di pos perawatan dan menyadari ada seseorang duduk di sebelahnya.


"Selamat pagi Nur!" Sapa Rosa yang sempat kaget dengan perilaku Aisyah.


"Selamat... pagi, Kak." jawabnya lesu.


Gadis itu menunduk, tatapannya kosong, tidak ada respon tambahan yang dia keluarkan setelah terduduk seperti itu.


Rosa khawatir dengan sikap Aisyah yang mulai melamun, "Hei, Nur, ada apa? Masih terasa sakitkah? bagian mana yang sakit?"


Gadis itu mulai tersadar dengan pertanyaan yang dilayangkan. "Hatiku kak. Kosong karena jomblo. hehehe." jawabnya santai.


"Kamu ya! Dikhawatiri malah sempat bercanda!" dan Rosa mencubit pipinya yang imut itu.


"Adu-du-duh!"


"Tapi seriusan, kamu sudah baikan?"


Aisyah mengangguk dan tersenyum. "Iya kak. Aisyah sudah kembali sadar kok, hehehe."


Namun Rosa ragu dengan jawaban itu. Tatapan Aisyah masih kosong, dia bahkan menjawab pertanyaan itu tanpa mengarahkan pandangannya ke Rosa. Ketakutan hampir meninggal yang diamplifikasi oleh mimpi buruknya benar-benar merusak jiwa Aisyah. Rosa kemudian memegang wajahnya dengan kedua tangan, menggerakkan wajah Aisyah dan mendekatkan wajahnya dengan tatapan serius. Kedua mata mereka saling bertemu.


"Nur! Beneran kamu tidak apa-apa? Kalau ada apa-apa bilang saja!"


Aisyah melirik kebawah sejenak, bingung dengan perasaannya sendiri. Apa benar dia tidak apa-apa sekarang? Memang seharusnya Aisyah seperti apa? Apa ada yang berbeda dari perilaku Aisyah saat ini?


Kegundahan hatinya terpecah ketika Aisyah mendengar suara dari seseorang yang dia harapkan akhirnya muncul sekali lagi. Secepat kilat dia melepaskan kedua tangan Rosa dan berusaha tampil ceria.


"Kak Ketua!"


Rosa hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Jonathan mendekati tempat istirahat Aisyah dan bertanya, "Nur, Bagaimana kondisimu?"


"Aisyah udah baikan kak! Makasih lho!"


Jawaban kali ini lebih "hidup" dari sebelumnya, terlihat dari keceriaan Aisyah yang berdialog bebas dengan Jonathan. Entah dia berusaha menyembunyikan ketakutannya, atau merasa nyaman karena kehadiran orang itu. Apapun alasannya, bagi Aisyah, Jonathan adalah orang yang spesial dan dia tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya.


Aisyah penasaran dengan suatu hal dan mulai bertanya kepada Jonathan, "Kak Iqbal bagaimana?"


"Dia sudah kembali bertugas dengan Aurel dan Amanda. Kuserahkan urusan ini kepadanya. Sedangkan kamu pingsan kelewat lama. Teman-teman jadi khawatir."


"Memang selama apa?"


"Sekarang saja sudah pukul 3 sore."


Aisyah hanya melakukan "hehehe" khas nya untuk menutupi bahwa dia sebetulnya kaget karena sudah pingsan selama itu. Jonathan mulai bercerita bagaimana dia dan teman-teman melakukan penyelamatan. Kisah itu diawali ketika Iqbal terakhir berkomunikasi dengan Adrian. tepatnya pukul 9 malam.


Jonathan yang mendengar alaram dan berita susulan yang dibawa Amanda, langsung bergegas kearah kontrol pusat. Disana dia meminta keterangan bungker sektor mana saja yang diserang. Mereka mengatakan sudah ada regu penolong di setiap sektor untuk membantu evakuasi, ada juga yang berani untuk tinggal didalam dan menghalau sampai semua warga berhasil diselamatkan.

__ADS_1


Kalimat terakhir itu membuat Jonathan curiga terhadap dua orang yang diduga adalah Aisyah dan Iqbal. Jonathan kembali mendengar ada serangan lain di sektor 14. Bersama Adrian dan Iris, dia menuju kesana untuk melakukan penyelamatan warga.


Sesampainya di lokasi, Elg Gware sudah berhasil menginvasi bungker tersebut dan banyak korban jiwa. Jonathan ditemani lainnya berusaha melawan dan berhasil menumpas para serangga itu. Tempat ini tidak di isolasi karena dekat dengan pintu keluar. Jonathan bertanya kembali apakah dua orang tersebut bisa dihubungi apa tidak, dan mereka menjawab tidak karena efek isolasi.


Jonathan berpikir hal lain yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkan kedua temannya itu. Adrian sebagai pengendali tanah inisiatif membuat gelombang seismik di dalam terowongan yang dibuat serangga itu. Siapa tahu kedua orang itu berusaha keluar dan melewati tempat ini. Setelah berbekal lampu menerangan, mereka bergerak masuk.


Sesekali Adrian membuat gelombang seismik untuk mendeteksi sesuatu dengan menghentakkan kakinya. Sesaat kemudian terjadi gempa yang kuat, dan itu bukan dari kekuatan Adrian, melainkan dari arah lain yang sangat kuat. Adrian yang merasakan getaran itu sempat merinding. Dia menyarankan untuk segera bergegas menemui Iqbal dan Aisyah, karena ada bahaya yang mengancam nyawa mereka.


Sekali lagi terjadi gempa yang lebih kuat dari sebelumnya. Adrian melindungi Jonathan dan Iris dengan membuat lapisan batu untuk menahan reruntuhan. Khawatir kekuatan yang menyebabkan gempa kuat itu mendekat ke arah kedua temannya, Adrian membuat gelombang seismik lagi untuk melihat kondisi sekitar dan kembali menyusuri terowongan itu. Sampai akhirnya langkah mereka terhenti di sebuah tumpukan batu.


Adrian sekali lagi membuat gelombang dengan menghentakkan kakinya, dan dia bisa merasakan ada beberapa pasang kaki berdiri diatas tanah. Tiga pasang kaki itu bergerak dengan cepat dan terkadang diam, sedangkan dua pasang kaki itu terasa gemetar karena ketakutan. Lalu suara keras terdengar dibalik bongkahan batu.


Adrian mengatakan untuk bersiap melakukan serangan kejutan terhadap apapun yang berada dibalik batu ini, Jonathan dan Iris mengangguk dan mulai bersiap dengan menyiapkan senjata mereka masing-masing. Jonathan memberi arahan untuk memperkuat pistol apinya dengan kekuatan angin milik Iris. Adrian membuat gelombang seismik untuk terakhir kalinya dilanjut dengan membuat gerakan seperti orang membuka dua pintu besar.


Bongkahan batu tersebut berhasil dibelah oleh Adrian dan terlihat suasana diseberang cukup terang karena bola cahaya Aisyah. Jonathan melihat serangga besar yang sedang mencekik Aisyah dari kejauhan. Dia langsung melayangkan tiga tembakan yang mengarah ke kepala serangga itu. Timah panas itu berhasil ditangkap dengan mudahnya. Namun peluru itu membara dan membakar tangan Cere Puroc.


Iris menyerang dengan melempar beberapa cincin angin kearah tangan yang mencengkram leher Aisyah. Cere Puroc itu hanya berdiam diri dan mengamati gerakan Iris sampai akhirnya memutuskan untuk membanting Aisyah lalu membuatnya tidak menyadarkan diri. Iris dengan cepat membuat sepatu angin dan mengambil Aisyah lalu segera menjauh dari serangga itu. Adrian mencari Iqbal di sekitar bebatuan itu dan menggotongnya berdiri. Jonathan ragu melanjutkan serangannya dan memilih untuk mengamati.


Cere Puroc itu masih mengamati mereka semua. Mengeluarkan suara desisan yang terdengar di dalam hati, dan kemudian pergi meninggalkan mereka tanpa menyerang balik. Aisyah didapati telah pingsan, sedangkan Iqbal berhasil menyadarkan diri biarpun terasa sakit di seluruh tubuhnya akibat menghantam bebatuan dengan keras. Iris berusaha meringankan rasa sakit Iqbal dengan hembusan angin penyembuhnya dan kemudian dilanjutkan membuat hal yang sama kepada Aisyah.


Keadaan Aisyah terlihat parah dengan bekas pukulan yang mengotori pakaian di perutnya. Tinju tersebut sangat keras sampai membuat lubang melingkar di bagian belakang pakaian. Terlihat darah disekitar mulut Aisyah. Melihat kondisi itu, Jonathan langsung mengepakkan sayap apinya dan menggendong Aisyah untuk keluar dari terowongan itu. Iqbal berjalan tertatih-tatih digotong digotong Adrian, Sedangkan Iris melanjutkan penyembuhan.


Mendengar cerita itu, Aisyah akhirnya paham alasan kenapa dia berbaring di tempat tidur ini.


"Sekarang istirahatlah sejenak. Masih banyak hal lain yang menantimu kedepan." tambah Jonathan.


Aisyah memberikan hormat kepada Jonathan, "Siap Kak Ketua!"


"Aku pamit dulu ya, ada hal lain yang perlu kulakukan. Kak Rosa, tolong jaga Aisyah ya!"


"Apaan sih Kak Rosa ini!"


Mereka saling melempar senyum. Keceriaan sekali lagi terpancar dari keduanya, terlebih lagi dari Rosa yang ragu dengan kondisi Aisyah. Namun dia bisa kembali tenang dan bersyukur. Baginya, Aisyah sudah seperti adik kandung.


Aisyah tampak kembali bersemangat, tetapi dia harus membendungnya untuk sementara. Kondisi tubuhnya masih belum pulih total. Rasa sakit dari serangan di perutnya masih terasa dan itu sangat mengganggu.


Jonathan kembali ke kontrol pusat bersama Adrian untuk memenuhi sebuah panggilan dari sang kapten. Mereka berhasil mengidentifikasi Cere Puroc yang seharusnya tidak ikut dalam penyerangan ini. Spesies Cere berjenis Puroc ini sejatinya adalah prajurit terkuat Insectanon. Mereka punya kecerdasaan dan kekuatan melebihi manusia.


Sedangkan yang disinggung oleh sang kapten pada pertemuan sebelum insiden di bungker itu adalah Cere Pasita. Mereka jenis serangga yang dapat mengkontrol tubuh inangnya ketika kondisi sudah mulai sekarat. Serangga itu juga mempengaruhi pola pikir induk semang sesuai keinginan.


Jonathan mengingat-ingat kejadian ketika dia melawan Widya, ketua dari geng Gagak Hitam. Cere Pasita itu muncul dipunggungnya dan mulai menyerang ketika Widya sudah melemah. Sayangnya, ketika tubuh tersebut sudah dikendalikan, maka secara tidak langsung induk semangnya sudah meninggal.


Sang Kapten juga memperingatkan, apapun yang terjadi jangan melawan Cere Puroc. Kabur adalah jalan terbaik yang bisa dilakukan.  Masih belum terlihat jelas apa motif dibalik kemunculannya. Selama ini masih belum ada yang berhasil melawannya, bahkan anak-anak pembawa berkah yang sekelas Mutant.


Tunggu, sekelas mutan? Berarti dia juga muncul di negara lain? Pertanyaan selanjutnya, apakah dia satu-satunya, atau masih ada Cere Puroc yang lain? Kalau mereka berjumlah besar, kenapa tidak mengerahkan mereka saja? Bumi sudah binasa dari awal dan tidak perlu repot menyerang bertahap seperti ini. Tetapi mereka tidak melakukannya. Sebenarnya apa yang mereka incar?


Pikiran tadi terlintas di benak Jonathan dan membuatnya asik berpikir sendiri sampai Ardian menepuk pundaknya.


"Hei, Nathan. Pertemuannya sudah selesai." bisik Adrian.


"Eh? Hah? Serius?"


Jonathan linglung dengan keadaan sekitarnya, orang-orang itu mulai beranjak pergi. Adrian mengajaknya kembali ke ruang OSIS. Dia hanya menuruti ajakan itu dan mengikuti.

__ADS_1


Jonathan masih asik memikirkan hal tadi dan meminta pendapat Adrian, "Adrian, bagaimana menurutmu tentang Cere Puroc dan spesies Cere lainnya?"


"Hmm, bisa diperjelas lagi pertanyaanmu?"


Maksudku, spesies Cere kan ada beberapa macam jenis. Beberapa dari mereka tidak ada di buku sejarah. Yang berhasil terekam kekuatannya adalah yang melakukan penyerangan ke bumi 50 tahun silam kan? Bagaimana jika Cere berjenis lain yang sekuat Puroc ikut bergabung? Mereka dengan mudah melenyapkan kita dan menguasai bumi!


"Tapi mereka belum melakukannya kan? Kau terlalu memikirkannya!" jawab Adrian santai dilanjut dengan tertawa bebas.


Aku bertanya kepada orang yang salah, pikir Jonathan.


Mereka berdua terus berjalan dan akhirnya sampai di ruang OSIS. Disana terdapat Aurel yang sedang asik membaca buku bersama Amanda.


"Lho, hanya kalian berdua? Kemana Iqbal?" tanya Adrian sambil mengarah ke depan komputer Iqbal.


"Kak Iqbal keluar sebentar membeli... atau tepatnya mengambil makanan dari minimarket." jawab Aurel.


"Oh, begitu. Kalian sibuk apa sekarang?"


"Menganggur sih. Belum ada perintah lanjutan dari orang itu."


"Iya juga, tadi pertemuannya hanya memberi peringatan untuk kabur jika bertemu dengan Cere Puroc."


Amanda mulai penasaran dengan nama itu, "Memang sekuat apa sih serangga itu sampai harus ditakuti? Bukannya mereka--"


Jonathan memotong ucapan Amanda dengan membentak dan memukul meja, "Makhluk itu hampir membunuh Iqbal dan Aisyah!"


Semua mata tertuju pada Jonathan. Amanda memang tidak peduli dengan Insectanon. Tetapi ke-apatis-an nya sudah terlalu jauh. Dia menyadari bahwa ucapannya salah, hanya saja dia masih berkeyakinan bahwa semua Insectanon itu sama saja.


"Maafkan Amanda kak, dia memang kurang paham dengan kejadian ini." sesal Aurel.


Amanda berbisik, "Aurel, apa maksud--"


Aurel mengedipkan sebelah matanya dan berhasil menghentikan ucapan Amanda. Dia berusaha untuk mengembalikan kondisi yang kondusif. Amanda memilih untuk tidak melanjutkan pembicaraannya lagi dan memutuskan untuk pergi dari ruangan. Aurel mengikuti Amanda setelah berpamitan dengan Adrian dan Jonathan.


Napas panjang terdengar dari arah Jonathan. Dia memutuskan untuk mencari tempat duduk dan memikirkan apa yand dia perbuat tadi. Tidak pernah dia membentak seorang gadis seperti itu.


Jonathan menunduk dan menahan kepalanya dengan kedua tangan, "Apa aku tadi kelewatan?"


"Kalau dari sudut pandangku sih, tidak." jawab Adrian. "Amanda itu orangnya "Jika aku tidak melihat, maka aku tidak percaya", semacam itu. Jadi dia kurang memahami apa yang kita hadapi sekarang." lanjutnya.


Mendengar jawaban itu, Jonathan merasa sedikit lega, "Semoga saja begitu."


Beberapa saat kemudian, datanglah Iqbal dengan satu tas plastik yang penuh dengan cemilan.


"Ini pesana--"


Ucapannya terputus ketika melihat Jonathan dan Adrian yang berada di dalam  ruang OSIS tersebut.


Iqbal berjalan masuk dan meletakkan tas itu di atas meja."Lah, Aurel dan Amanda kemana? Kalian juga ngapain disini?"


"Nathan ingin mencari dokumen penting, makanya dia mengajakku kesini, sedangkan kedua cewe itu pergi ke toilet." jawab Adrian.


Jonathan tahu kalu Adrian hanya membuat alasan untuk menghindari pertengkaran. Dia akhirnya berpura-pura mencari dokumen di lemari dan berpose layaknya memikirkan sesuatu. Iqbal dengan mudahnya dikelabui oleh Adrian, atau mungkin dia percaya saja pada sahabatnya.

__ADS_1


"Kalau sudah mendapatkan dokumen itu, segeralah pergi." lanjut Iqbal.


__ADS_2