School Life Project

School Life Project
All Hope is Lost : chapter 7


__ADS_3

Randi melihat tornado api yang mendaki langit itu, membakar Insectanon yang terperangkap didalamnya secara keseluruhan. Dia bergegas ke tempat kejadian dan meninggalkan rombongan truk.


"Bapak berangkatlah dahulu! Aku akan menjemput ketua!" pesan Randi kepada sang kapten dan membuat sayap cahaya kemudian melayang.


Rombongan truk itu mulai meninggalkan lokasi secepat mungkin. Aurel masih dirawat disalah satu truk itu. Dia masih merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan Amanda.


Sesampainya disana, Randi menemui kondisi Saputro yang terluka parah dan ditopang oleh Jonathan.


Jonathan merasa bersalah lagi karena melukai Saputro dengan apinya, "Randi, maafkan aku."


Randi tidak merespon permintaan maaf itu lalu membuat kekuatan cahaya penyembuh dan menyelimuti seluruh tubuh Saputro. Setelah itu baru dia membalasnya dengan tenang.


"Saputro tahu apa yang dia lakukan. Aku sudah curiga semenjak melihat tornado api itu. Tenanglah."


Jonathan terdiam mendengar jawaban dewasa itu.


"Aku akan merawat Saputro disini sampai dia pulih. Apa yang akan kamu lakukan sekarang?"


"Aku akan mencari Cere Puroc itu dan menyelamatkan Amanda!"


Randi mengingatkan, "Apakah kamu masih ingat dengan peringatan itu?"


"Tentu saja! Aku akan segera kabur begitu berhasil merebut Amanda dari tangannya!"


"Baiklah, kau mungkin bisa mengejarnya lewat terowongan yang dia buat di dalam lab. Berhati-hatilah dengan Insectanon jenis baru itu, mereka lincah dan kuat. Mereka kembali kedalam lab setelah kuhalau tadi, Sepertinya mereka mengincar sesuatu didalam."


Pesan Randi dipahami dengan baik oleh Jonathan lalu dia menjauh sedikit dari mereka sebelum kembali mengepakkan sayap apinya untuk terbang kedalam laboratorium itu. Pintu masuk lab yang terbuat dari baja itu dibiarkan terbuka dan Jonathan memasukinya dengan waspada. Diujung lorong itu terlihat ruang kosong nan gelap dan mengarah kebawah, Jonathan berpikir bahwa ini seharusnya sebuah ruang untuk lift naik dan turun.


Jonathan terjun kedalamnya itu dan mendarat didasarnya. Terlihat sebuah ruangan luas yang hancur berantakan. Serpihan kaca dimana-mana, lampu yang sebagian menyala dan menggantung bebas di kabelnya, ada juga lampu yang berkedip-kedip. Bangkai beberapa Insectanon yang digunakan sebagai uji coba berceceran. Komputer, kursi, meja dan perabotan lainnya hancur berserakan. Tampak juga Insectanon berkeliaran mencari sesuatu.


Tunggu, Insectanon berkeliaran? Itu yang seharusnya dimaksud Randi untuk berhati-hati! Sayang nya makhluk itu menyadari keberadaan Jonathan dan langsung menyerang. Jonathan mengepakkan sayap apinya dan membuat ledakan hawa panas sekaligus mempercepat dia menuju terowongan yang dimaksud.


Dia sampai di sebuah ruang luas lain dengan kotak kaca yang terletak di tengah ruangan dengan kondisi retak dan ruang pengamat disekitar tempat itu. Jonathan mencoba menyelusuri setiap ruangan untuk menemukan sebuah terowongan. Insectanon di ruang lainnya tadi berhasil mengejar Jonathan dan sekarang mereka juga mencarinya.


Sebuah ruangan dengan tempat tidur yang terpojok oleh gundukan bebatuan dan kerikil beserta lubang besar didindingnya. Tempat ini yang dimaksud Randi dan Jonathan masuk kedalam terowongan itu, mengikutinya sampai ke ujung.


Entah berapa lama dia sudah berada di dalam terowongan tersebut dan dia masih belum menemukan pintu keluar. Tiba-tiba Jonathan merasakan aliran angin yang berhembus diterowongan ini, seharusnya sudah dekat pintu keluar.


Dia muncul di tengah hutan antah berantah dan melanjutkan perjalanannya. Hutan ini terlalu padat baginya, membuat dia kesusahan melihat kedepan dan memutuskan untuk terbang. Sesampainya dilangit, Jonathan mengamati keadaan sekitar dan dia berada di dekat lautan pasir Gunung Bromo. Dia juga berhasil menemukan sesuatu yang mencurigakan berjalan dan menarik sebuah benda.


Akhirnya aku menemukanmu! 


Jonathan terbang melesat sekaligus membakar dirinya ke arah sesuatu itu. Dia juga mengumpulkan kekuatan apinya dan difokuskan ke pistol, menyebabkan kedua pistol itu membara. Lokasi ini sangat sepi dan dia bisa menggunakan kekuatan apinya dengan maksimal.


Dia menjatuhkan diri tepat didepan Cere Puroc yang dia cari selama ini, lalu menyapanya dengan beberapa tembakan kuat yang membakar apapun yang dilintasinya. Cere Puroc itu menghindar sangat cepat tanpa terhalangi oleh tubuh besarnya. Tembakan Jonathan itu juga dengan mudahnya dihindari, bahkan beberapa ditangkapnya. Biarpun tangannya terbakar, Cere Puroc itu masih tetap tenang dan tidak terlihat kesakitan.


Jonathan mengamati suatu kotak yang mirip seperti kandang ditarik oleh Cere Puroc itu, terlihat didalamnya Amanda yang tertidur. Dia sadar bahwa mengucapkan kalimat apapun juga tidak dipahami oleh Cere Puroc, namun suara berdesis itu terdengar kembali di benaknya.


(Bahasa sudah di terjemahkan) : "Tak kusangka aku diikuti oleh orang ini. Menarik sekali!"


Jonathan terganggu dengan suara itu, "Suara berisik ini lagi! Kau sebenarnya berbicara kepadaku kan? Maaf saja, tapi aku tidak mengerti apa yang kamu ucapkan!" dan dia melanjutkan serangannya.


Cere Puroc itu mengendalikan sesuatu di salah satu tangannya dan memutuskan semacam rantai energi dengan kandang yang membawa Amanda.


"Mari kita lihat seberapa kuat dirimu!"


Jonathan mendengar suara mendesis itu lagi. Dia berusaha menebak apa yang dikatakan serangga itu sambil terus menembak dua butir peluru dengan jeda beberapa detik. Serangan itu dibuat untuk menjauhkan Cere Puroc dari kandang itu. Hanya saja, Cere Puroc justru membiarkan peluru itu membakar seluruh tubuh.


Apa aku berhasil melukainya? Tidak mungkin dia menerima seranganku semudah itu!

__ADS_1


Api Jonathan itu kemudian padam dan Cere Puroc itu hanya melipat kedua pasang tangannya. Tidak ada bekas terbakar dikulitnya yang mengkilat itu. Jonathan dibuat heran dengan pertahanannya.


Suara berdesis itu terdengar di benak Jonathan lagi, "Kau masih belum mengeluarkan kemampuanmu yang sesungguhnya. Akan kupaksa kau untuk melakukannya!"


Cere Puroc itu sekali lagi mengotak-atik gelang yang berada di salah satu tangannya, munculah sepasang senjata yang berbentuk katana dan melayang di sekitar pinggulnya. Salah satu tangan nya memegang gagang katana dan secepat kilat melaju ke arah Jonathan.


Jonathan terkejut melihat serangga itu dapat bergerak secepat kilat dan berusaha mengambil jarak. Tetapi kecepatan Jonathan masih kalah jauh dan Cere Puroc itu sudah berada dibelakangnya, memukul punggung Jonathan dengan pangkal gagang katana. Jonathan terjatuh dan menggelinding sangat jauh. Dia berhasil mengendalikan diri dan berdiri kembali.


Ugrh, Sial! Tubuh sebesar itu dan dia bisa bergerak lincah!


Dia berdiri tepat di seberang kandang itu dan mencoba untuk membawanya kabur. Kandang itu terlalu berat untuknya, semua serangannya juga tidak membuat kerusakan. Baja yang digunakan Insectanon ternyata berbeda dengan baja di bumi. Jonathan mulai kehabisan ide untuk membuka kandang ini.


Disatu sisi, Cere Puroc itu berjalan mendekat sambil mengamati Jonathan yang berusaha membuka kandang itu.


"Kamu tidak akan bisa membukanya."


Suara desis itu membuat Jonathan sadar bahwa masih ada Cere Puroc dan mengambil jarak sejauh mungkin.


Apa yang harus kulakukan? Membawa benda itu jelas tidak mungkin, karena teralu berat! Atau mungkin....


Jonathan melihat kedua pistolnya dan menyadari sesuatu yang akan dia lakukan. Dia menembakkan sebuah peluru ke angkasa, peluru itu meledak seperti kembang api dan dia melakukan itu secara bertahap. Jonathan berusaha memanggil bantuan dengan menggunakan kekuatan api selayaknya suar.


Sekarang, aku hanya perlu mengulur waktu sampai mereka tiba!


Dia menatap tajam Cere Puroc dari kejauhan, lalu mulai memfokuskan kekuatannya. Kedua pistolnya mulai membara dan seluruh tangannya ikut terbakar. Tercipta sepasang sayap api lagi dipunggungnya, ledakan hawa panas juga terasa menyengat ke seluruh penjuru.


"BERSIAPLAH!"


Teriakan semangat itu disusul dengan dia terbang melesat ke angkasa. Serangan awal dimulai dengan Jonathan mengarahkan kedua pistolnya ketanah, menembak sekaligus menyeret arah peluru itu ke arah Cere Puroc. Terciptalah dinding api yang meledak-ledak mengalir ke arah alien itu.


Alien itu tidak menghindari serangan tersebut dan malah menerimanya. Serangan mutlak Jonathan masih tidak melukai serangga itu. Dia berpikir untuk membuat serangan yang lebih kuat lagi, melesat ke arah Cere Puroc dan membuat ledakan besar.


Sekuat apa alien ini? Kalau itu kulakukan dengan orang lain, mereka sudah terbakar menjadi abu!


Seusai menembak, Jonathan langsung mengambil jarak yang cukup jauh dari Cere Puroc.


Dan lagi-lagi Jonathan mendengar suara desis itu, "Sekarang giliranku!"


Alien itu mendadak lenyap dari pandangan. Jonathan berusaha fokus dan waspada terhadap serangannya. Dia sempat menyadari suara langkah alien itu dan meloncat ke samping kanan untuk menghindar. Namun gerakan Jonathan sudah di prediksi oleh serangga itu dan dia muncul di belakangnya, sekali lagi memukul Jonathan dengan pangkal katana di punggung.


Sayap apinya tidak bisa melindungi Jonathan tepat waktu dan dia terlontar sampai menabrak kandang itu sekaligus tergoncang kuat. Kejadian tersebut membuat Amanda yang pingsan menjadi siuman, sedangkan Jonathan terbaring disebelah kandang dan semua apinya padam.


"Ugh.... Dimana aku?" ucap Amanda setengah sadar.


Amanda mengamati keadaan sekitarnya yang ternyata berbeda jauh. Dia berada di dalam kandang baja dan berlokasi di sebuah padang pasir hitam dengan sebuah gunung yang tidak jauh dari lokasinya. Amanda melihat Jonathan yang berbaring di sebelah kandang. Bingung dengan kondisi tersebut, Amanda berusaha menyadarkan Jonathan.


"Kak Nathan! Kak Nathan!"


Dia bergerak mendekati dan mulai menggoyang-goyang tubuh Jonathan dengan tangannya.


"Kak! Bangun Kak! Dimana kita sekarang?"


Amanda berusaha keras menyadarkan Jonathan yang masih terbaring diluar kandang, sedangkan Insectanon itu semakin lama semakin dekat kearah mereka berdua. Amanda menyadari hal itu dan menggoyang tubuh Jonathan lebih kuat. Jonathan akhirnya siuman sekaligus menyadari bahwa Amanda telah bangkit.


"Amanda! Syukurlah kamu sudah bangun!" dan Jonathan mengambil posisi duduk.


"Kita dimana kak? Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Kita sedang di lautan pasir Gunung Bromo dan Cere Puroc berusaha menculikmu." jelas Jonathan yang menahan rasa sakit di punggungnya.

__ADS_1


"Diculik? Kenapa?"


"Entahlah."


"Apa karena aku berhasil mengunduh kristal baru itu dan membuatku berbahaya bagi mereka?"


"Kurasa... tidak."


Di sela-sela perbincangan itu, Jonathan tidak lupa menembakkan suarnya lagi. Di siang hari yang terik ini, dia berharap suarnya bisa terlihat atau terdengar di ketinggian seperti ini. Cere Puroc hanya melihat suar itu melayang ke angkasa dan meledak. Dia memutuskan untuk berhenti dan mengamati apa yang akan mereka lakukan.


"Ngomong-ngomong, kamu bisa menggunakan pengendalianmu?" tanya Jonathan ke Amanda.


"Aku... belum mencobanya."


"Aku tadi berusaha menghancurkan kandang ini, namun apiku terlalu berbahaya dan bisa melukaimu. Mungkin kekuatan barumu bisa kamu coba untuk meloloskan diri." dan Jonathan mulai berdiri. "Aku akan menahannya!"


"Tapi... itu Cere Puroc kan? Serangga yang seharusnya tidak boleh kita lawan?"


"Dan membiarkan kamu diculik olehnya? Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi! Karena kamu adalah penggantiku!"


"Siapapun kan bisa menggantikan kakak sebagai ketua OSIS! Aku tidak ingin repot-repot diselamatkan oleh kakak!"


Ini anak! Sudah ditolong susah-susah, malah ditolak! keluh Jonathan dalam hati.


"Terserah padamu saja! Yang penting sekarang, gunakan pengendalianmu untuk bebas dari kandang itu!" sambung Jonathan.


Jonathan segera melesat dan menjauhi Cere Puroc kemudian membuat apinya membara sekali lagi. Sedangkan Amanda berusaha mengendalikan kekuatan barunya, dia berhasil mengumpulkan bola angin di kedua tangannya. Sayangnya kekuatannya yang masih belum stabil membuat bola angin tersebut lenyap. Dia terus berusaha agar kekuatannya bisa dipakai.


Cere Puroc mengamati mereka berdua yang berpisah dan dia kembali ke posisi bertarung untuk menghadapi serangan Jonathan. Kali ini, dia lebih serius untuk memancing seberapa jauh kekuatan yang bisa Jonathan keluarkan. Cere Puroc mendekat sangat cepat disaat Jonathan masih mengisi kekuatannya. Dia sudah bersiap mengeluarkan serangan dengan meletakkan tangan di salah satu katana.


Jonathan menyadari gerakan itu langsung meloncat sebelum sebuah hembusan angin kuat dari katana, merobek pasir sepanjang arah tebasan dan menghamburkannya. Sayap api dibuatnya sekali lagi dan sekaligus membuat tembakan beruntun laser api yang menarget Cere Puroc. Jonathan juga tidak lupa menembakkan suar sekali lagi.


Laser itu mengejar Cere Puroc dan menghujaninya dengan ledakan beruntun. Disaat itu juga, Jonathan menembakkan beberapa timah panas ditutup dengan sepasang tembakan laser besar. Ledakan besar yang membuat lokasi sekitar menjadi gempa sekaligus terbakar. Hal itu juga membuat Gunung Bromo yang tertidur menjadi aktif.


Serangan tadi seharusnya bisa melukai kulit kerasnya! pikir Jonathan.


Tetapi, hal yang diharapkan oleh Jonathan tidak terkabul. Alien itu masih berdiri disana, tidak terluka maupun terbakar sedikitpun. Di lain pihak, gemuruh Gunung Bromo juga membuatnya khawatir jika sampai meletus dan mengeluarkan laharnya. Mau tidak mau, Jonathan harus mengurangi kekuatannya sekali lagi.


Kebosanan Cere Puroc mulai memuncak dan memutuskan menyerang balik. Diawali dengan Tebasan beruntun dari ayunan katana dan menghujani Jonathan di angkasa dengan gelombang angin. Gelombang demi gelombang berhasil Jonathan hindari, tetapi semakin lama gelombang itu semakin banyak dan berhasil melukainya.


Jonathan mencoba melawan balik dengan satu tembakan peluru yang sudah diisi penuh oleh kekuatan api. Layaknya sebuah komet, peluru itu melaju cepat dengan meninggalkan ledakan dibelakangnya. Cere Puroc menahan serangan itu dengan tebasan silang dari kedua katana. Ledakan dasyat sekali lagi mengguncang lokasi itu.


Di tengah kepulan asap itu, Cere Puroc meloncat kearah Jonathan yang tidak waspada. Gerakan asap yang terbelah itu kalah cepat dengan loncatan Cere Puroc. Hanya berjarak beberapa senti dari ujung tebasan katana, serangga itu menebas Jonathan berkali-kali, merobek setiap pakaian dan menyayat setiap bagian tubuh. Kemudian ditutup dengan satu ayunan kuat dari sarung katana, melontarkan Jonathan kembali ke darat.


Kembali ke kondisi Amanda yang akhirnya bisa mengendalikan kekuatannya dan berhasil membuat bola angin yang lebih stabil. Hanya saja, pusaran angin tersebut masih sangat lemah dan tidak bisa membuat kerusakan di kandang baja itu. Dia mulai frustasi dengan kemampuannya sendiri.


Tubuh Jonathan yang meluncur ke darat itu disadari Amanda dari kejauhan dan membuat ledakan pasir yang mencuat ke udara. Dia terkejut melihat hal itu.


"Ka-ka-kak Na-than?"


Suara Amanda terbata-bata, matanya terbelalak, keringat dingin mulai terasa mengucur dan merinding.


"Kak?"


Suara Amanda terlalu jauh untuk didengar oleh Jonathan.


 


 

__ADS_1


__ADS_2