Sehangat Dekapan Mentari Pagi

Sehangat Dekapan Mentari Pagi
Ketulusan cinta yang sebenarnya


__ADS_3

Dinginnya udara pagi membangunkan ceisya yang kembali menarik selimut, tapi kalah cepat dengan hans yang lebih dulu menarik selimutnya yang berharap ceisya tidak kembali bermalas-malasan di kasur yang terbilang tidak seempuk miliknya.


"Ih, biarkan saya tidur beberapa saat lagi !" protes ceisya pada hans yang sudah terlihat segar selepas membersihkan diri dari olah raga paginya.


"Apa belum cukup tidur mu nona ?" tanya hans menggoda ceisya dengan wajah masih bekas bantal tapi terlihat cantik di mata hans.


"Apa masalah buat anda ?" protes ceisya dengan memeluk guling dengan erat yang terlihat manja di mata hans.


"Tidak, cuma kamu kalah sama ayam yang sudah keluar dari kandang" ujar hans yang ingin menggoda ceisya.


"Ih, anda jahat saya disamakan dengan ayam sih, hu !" ceisya menutup mukanya dengan batal yang di peluknya seperti anak kecil yang ngambek pada orang tuanya.


"Jadi ga mau di samakan dengan ayam terus sama siapa maunya ?" tanya hans yang duduk di ujung tempat tidur dengan tetap memperhatikan ceisya.


"Ga sama siapa-siapa, sya ya tetap sya !" balas ceisya yang sudah bangkit dari berbaringnya dengan bersandar.


"Ok, biasanya nona bangun jam berapa ?" tanya hans yang mencari sesuatu untuk mengikat rambut ceisya yang terlihat menganggu wajah cantiknya.


"Sesuka hati saya, ih apaan sih ?" ceisya menolak hans membantu merapikan rambutnya yang masih acak-acakan.


"Biar aku bantu, biar terlihat cantik" pinta hans dengan senyum tipisnya.


"Ih, ternyata anda genit ya, ih ih " teriak ceisya dengan berniat menghindar dari hans dan berlari tapi hans lebih dulu menangkap tangan lembut ceisya, dan hal yang tidak di harapkan keduanya terjadi.


Ceisya dalam dekapan hans dan hans mencium kening ceisya dengan rambut yang masih belum terikat.


"Aku bilang apa, biar aku bantu ok" ucap hans memecahkan keheningan dan berharap ceisya tidak salah mengartikan maksud baik hans.


Ceisya hanya bisa menuruti apa yang hans minta, tangan gagah hans ternyata bisa mengikat rambut ceisya dengan rapi.


"Ok, sudah selesai mau sarapan terlebih dulu atau mau mandi dulu?" tanya hans dengan menangkup wajah ceisya, mata keduanya saling bertemu membuat hans gugup ini pertama kalinya hans memandang intens ceisya.


Semakin dalam hans memperhatikan ceisya semakin mengemaskan gadis kecil yang sombong ini, dalam hati hans berkata "kamu terlalu sempurna untuk ku" hans merasa tidak pantas memiliki ceisya.


"Retno dimana?" tanya ceisya yang membuat hans tersadar dari lamunannya.


"Hari ini retno libur biar keperluan nona aku siapkan, mau apa?" tanya hans yang sudah merencanakan hari ini ingin menghabiskan waktu bersama ceisya.


"Anda tidak biasa melakukan yang saya mau !" ucap ceisya dengan wajah cemberut tidak setuju dengan apa yang hans lakukan tanpa sepengetahuan dirinya.


"Apa yang tidak bisa, coba sebutkan ?" pinta hans yang membuat ceisya malu sebab dia tidak bisa mandiri dalam hal-hal tertentu.

__ADS_1


"Ya, sudahlah biarkan saya sendiri" ceisya meninggalkan hans, sepertinya dia ingin membersihkan diri.


Hans keluar dari ruangan dan berniat menyiapkan sarapan pagi untuk keduanya, tapi beberapa orang yang bertemu dengan hans selalu menggodanya.


"Gimana bro, skornya menang telak apa seri ?" ucap salah satu dari ajudan yang menggoda hans dengan tertawa konyol.


"Apaan sih, kalian macam-macam saja memang lagi pertandingan bola !" balas hans yang bersiap membawakan beberapa potong makanan dan susu hangat untuk ceisya yang semalam tidak makan.


"Ya, gagal lagi untuk cepat dapat keponakan hu " ocehan ajudan hans dengan tingkah lucu membuat hans dan yang lain tertawa berjamaah.


Ceisya terlihat segar dengan kepala yang terbungkus handuk, sedangkan hans sudah menunggu untuk menikmati sarapan berdua.


Tercium aroma wangi dari sabun dan shampoo yang ceisya gunakan membuat hasrat laki-laki hans tergoda tapi bukan hans bila mudah tergoda, dia hanya sesekali melemparkan pandangan keluar jendela yang membuat ceisya menaruh curiga ada apa dengan lelaki yang duduk di depannya.


"Bila anda ada kepentingan lain, anda boleh pergi saya tidak masalah" ceisya seperti tahu hans tidak tenang dan langsung mengutarakan tanpa basa basi langsung pada poinnya pada hans.


"Tidak ada kepentingan hari ini aku free dan berniat mengenalkan nona dengan semua yang ada di sini" balas hans dengan tersenyum manis dan baru pertama kalinya ceisya melihatnya.


Ceisya tertunduk dan tersenyum sendiri, seakan terpesona oleh senyum manis hans dan benar baru menyadari ternyata lelaki pilihan kakeknya tidak seburuk penilaiannya selama ini.


"Ada yang aneh nona?" tanya hans yang penasaran karena tidak biasanya ceisya bersikap malu padanya.


"Sepenting itukah saya sampai-sampai anda bermaksud memperkenalkan semua yang ada di sini pada saya?" ungkap ceisya pada hans yang sepertinya menantang seorang ceisya.


"Apa dengan ini mempertegas hilangnya kebebasan saya ?" ceisya langsung menerka- nerka, akankah hans akan sama dengan keluarganya pada dirinya.


"Ha ha ha, maaf nona tidak seperti itu aku hanya ingin nona tahu seperti apa dunia ku dan siapa orang-orang yang ada disekitar ku itu saja, soal kebebasan aku yakin nona tahu batasannya dan silakan nona lakukan apa yang membuat nona happy selama tidak membahayakan nona aku akan mendukung sepenuh hati" dengan tertawa hans mengusap lembut tangan ceisya dengan tangan kekarnya.


Jawaban hans membuat ceisya merasa hidup layaknya manusia sesungguhnya yang memiliki hak sepenuhnya tidak seperti selama ini yang ceisya rasakan, sebab hingga detik ini tidak ada kabar yang menanyakan keberadaan diri dan bagaimana keadaan dirinya.


Ceisya terlihat sedih seakan-akan dia hidup sebatang kara tanpa sanak saudara, namun sedikit beruntung hans yang dinilai akan arogan dan berprilaku seenaknya ternyata sangat tulus padanya dan cenderung menuruti semua kemauan dirinya juga berusaha memenuhi kebutuhannya walaupun diluar dari apa yang ceisya minta,tapi ceisya bisa memaklumi sebab ini bukan kota besar.


Selesai menikmati sarapan hans meminta ceisya memakai pakaian yang lebih simpel sebab akan banyak laki-laki yang perlu hans perkenalkan dengan ceisya dengan harapan mereka tidak terpesona dengan penampilan ceisya.


Benar saja tidak beberapa lama ceisya sudah berjalan menelusuri beberapa barak asrama yang lebih banyak lelaki di banding wanitanya, sebenarnya hans enggan memperkenalkan ceisya tapi dia istri dari seorang hans yang memiliki kekuasan penuh sebagai pimpinan mereka mau tidak mau harus menjelaskan siapa wanita yang saat iNi dekat dalam ikatan halalnya.


Walaupun harus meredam rasa tidak nyaman dari mata liar pasukannya yang pasti terpesona dengan penampilan yang ceisya miliki tentunya salah satunya dandanan dari mereka terdengar jelas di telinga hans "sisakan satu komandan buat kami " jelas-jelas membuat nyali lelakinya berontak tapi hans masih bisa memakluminya.


Perkenalan berlanjut ketempat lain tepatnya kandang kuda sebagai salah alat transportasi pendukung operasional pada tempat-tempat yang susah di lalui kendaraan bermotor.


Ceisya sangat senang sekali saat di kandang kuda,diperhatikannya satu persatu kuda yang terlihat sangat terawat dan bersih.

__ADS_1


"Nona tertarik menaikinya?" tanya hans yang melihat ceisya mengusap salah satu kuda yang sepertinya ceisya sukai.


"Apakah boleh?" tanya ceisya yang terlihat sangat senang dan bersemangat.


"Apa yang tidak boleh untuk nona" balas hans yang langsung membuka kandang kuda dan siap di keluarkan.


Ceisya yang senang langsung memeluk dan mengusap kuda dengan lembut tanda perkenalan keduanya, hans di buat kagum oleh sikap ceisya tapi ini belum seberapa yang lebih mengejutkan lagi ceisya langsung naik ke atas punggung kuda tanpa bertanya dulu pada hans.


"Non, nona !!" panggil hans pada ceisya yang terlihat santai tidak sedikitpun rasa takut.


"Tenang saya bisa berkuda ko, boleh kita mulai?" ajak ceisya pada hans yang masih di buat terkejut oleh ceisya yang terlihat santai di atas kuda.


"Ok, nona mau kemana?" tanya hans meminta persetujuan dari ceisya yang seperti berpikir.


"Tempat yang indah pokoknya" lintah ceisya pada hans yang lebih tahu seluk beluk daerah kekuasaannya.


"Ok, hap hap, hus hus " hans memulai memacu kuda berjalan lebih dulu meninggalkan ceisya.


Saat keluar gerbang utama beberapa prajurit di buat kagum dengan kemampuan ceisya yang terbilang ekstrim untuk seorang wanita.


"Busyet, komandan ga salah pilih sudah cantik, berkuda pun bisa salut gue mah" ucapnya dengan tetap memandang keduanya yang semakin menjauh.


Ada beberapa tempat yang hans tunjukkan pada ceisya yang membuat seorang ceisya begitu mengagumi alam bebas dan betapa sempurnanya cipta tuhan yang selama ini belum dilihatnya secara langsung.


"Nona suka?" tanya hans pada ceisya yang berlari kecil mengejar kupu-kupu yang terbang bebas di padang rumput terhampar luas dengan danau kecil terlihat berair jernih.


"Suka banget !!!" teriak ceisya dari jauh membuat hans tersenyum, tapi ada rasa iba yang dalam yang hans rasakan melihat kebahagian kecil ceisya tapi bermakna besar untuk dirinya.


Tidak lama ceisya menghampiri hans yang berbaring di rerumputan memandang langit yang biru dengan awan putih tipis terlihat cerah.


"Kita kemana lagi, bukannya anda berjanji menunjukkan tempat-tempat yang indah?" pinta ceisya pada hans yang membuat hans langsung bangkit.


"Apa nona belum cape?" tanya hans sebab ceisya tidak bisa diam, ada saja yang dilihatnya seperti ingin tahu banyak.


"Saya belum cape, bukannya anda tahu nama saya kenapa anda memanggil saya dengan sebutan nona?" ceisya bertanya pada hans dengan mengusap pipi kuda lembut.


"Saya tahu,kenapa nona juga memanggil ku dengan sebutan anda?" tanya balik hans dengan serius memandang ceisya.


"Karena anda lebih tua dari saya" ceisya dengan polosnya berucap membuat hans menghampiri ceisya dan mengacak lembut kepala ceisya.


"Kamu ternyata nakal ya" ceisya hanya nyengir membuat hans senang sebab ceisya merasa nyaman di dekatnya.

__ADS_1


Kebersamaan seperti ini mendekatkan hubungan keduanya yang sebenarnya selama ini salah faham, terutama ceisya yang tidak tahu kalau hans sebenarnya berpihak pada dirinya yang di manfaatkan keluarga besarnya hanya demi keuntungan semata, memang tidak di pungkiri juga ada maksud baik walaupun kadarnya sedikit, kepolosan dan kebaikan ceisya yang mereka manfaatkan itu yang nampak di mata hans.


__ADS_2