
Warna langit menjelang senja terlihat indah membuat ceisya enggan beranjak dari sudut lapangan dimana anak-anak desa menikmati permainannya menjelang awal malam mengantikan siang.
Suara setengah berteriak dari seorang ibu yang memanggil salah satu dari anak-anak yang masih asyik bermain bola dari plastik yang sudah terbilang mewah menurut ukuran mereka, permainan ini secara tidak langsung seperti melakukan dua kegiatan bermain dan berolah raga.
Suara itu memintanya menyudahi permainan mereka karena sudah menjelang waktu magrib,tapi namanya juga anak-anak masih saja melanjutkan permainannya dengan terus mengiring benda bundar itu untuk di masukkan kedalam gawang lawan.
Ceisya hanya bisa tersenyum menyaksikan pemandangan langkah ini, kebahagiaan anak-anak di tempat ini begitu sederhana tidak harus pergi ke tempat yang mewah menurutnya, cukup bisa bermain dengan kawan di tambah benda bulat dari plastik yang terbilang murah sudah cukup buat mereka, betapa senangnya mereka pikir ceisya dengan tersenyum seperti menyesali semua yang pernah di nikmatnya selama bersama keluarganya yang belum sepenuhnya memaknai kebahagia sesederhana pemikiran mereka.
Tolak ukur bahagia hanya di pandang dari status dengan kepemilikan harta yang berlimpah ternyata tidak sebanding dengan apa yang ceisya lihat hari ini.
"Mba ayo pulang nanti kita di cari" pinta retno dengan meminta ceisya meninggalkan pemandangan lapangan hijau terhampar luas.
"Kapan-kapan kita kesini lagi ya, no" pinta ceisya pada retno yang hanya mengangguk tanda menyetujui permintaan ceisya.
Dalam perjalanan pulang ceisya dan retno berbincang seputar apa yang ada di lingkungan tempat tinggal retno dan apa saja kegiatan yang biasanya di lakukan anak-anak di malam hari selain belajar tentunya.
Kembali ceisya tertarik dengan buah yang tubuh liar yang manis rasanya itu, tapi kali ini dirinya tidak ingin retno yang memetik tapi dirinya yang ingin memetiknya secara langsung, ceisya yang tidak bisa membedahkan mana buah yang boleh di makan dan mana yang tidak.
Ceisya tergoda dengan buah yang tumbuh merambat pada pohon yang menyerupai cerry itu, yang menurut ceisya pasti akan sama rasanya dan tanpa bertanya pada retno ceisya langsung memakannya.
Semua masih berjalan seperti biasa sampai ceisya masuk ke dalam ruangan pribadinya dan retno pun menyiapkan keperluan ceisya seperti biasa,namun tidak beberapa lama suara ceisya mengejutkan retno yang ketakutan karena ceisya berteriak dan tidak beberapa saat kemudian menangis tampa sebab berlanjut marah-marah yang tidak jelas keluar dari mulutnya dengan menyebutkan nama beberapa orang yang retno tidak pernah mendengarnya sebelumnya.
Perilaku ceisya seperti ini menurut retno kesurupan setan lapangan, dengan apa yang dia pahami retno pun membacakan do'a pada ceisya sesuai yang dia hafal, tapi ceisya makin menjadi dan sama sekali tidak mengenali dirinya yang baru beberapa waktu membantunya.
__ADS_1
Retno makin panik dan berlari keluar mencari bantuan orang,dan seperti kebetulan ada orang di dekatnya dan berharap membantu menyadarkan ceisya yang masih berbicara tidak di mengerti retno.
"Pak, tolong mba sepertinya kesurupan setan lapangan karena kita pulang hampir magrib" ucap retno menjelaskan pada ajudan hans yang kebetulan lewat.
Ajudan yang berniat masuk ke dalam ruangan ceisya mengurungkan niatnya sebab ceisya hampir melepaskan baju yang melekat di tubuhnya, kenapa dan ada apa dengan ceisya pikir ajudan hans.
"Ret, tolong tutup pintu dan jaga mbanya jangan kamu tinggal saya akan panggil bapak" pinta ajudan hans pada retno yang akan memanggil hans, sebab hanya hans yang bisa menolong ceisya yang seperti akan bertindak di luar batas pikir ajudan hans.
Retno menuruti perintah ajudan hans dan tidak lama hans datang dengan langkah tergesa dan membuka pintu dengan kasar, hans begitu khawatir sebab suara ceisya hampir terdengar jauh keluar ruangan seperti mengeluarkan segala beban yang selama ini dia rasakan, layaknya orang yang telah menghabiskan minuman yang memabukkan.
Hans langsung menutup kembali pintu, hans langsung merapikan baju yang ceisya kenakan dan memeriksa keadaannya tanpa menunggu lama hans sudah bisa menyimpulkan apa yang terjadi pada ceisya.
"No, mba makan buah apa?" tanya hans yang keluar dari ruangan ceisya, dan retno menjelaskan tapi hans tidak percaya dengan apa yang retno jelaskan, hans meminta ajudannya untuk memeriksa pohon itu dengan di temani retno yang ketakutan yang mengira ceisya kesurupan pohon liar yang ceisya makan tadi.
Hans tahu ceisya berhalusinasi karena memakan buah liar itu yang biasanya digunakan warga sekitar untuk menjadi umpan berburuh burung sebagai umpan jebakan.
"Apa aku seseram itu dimata mu nona ?" ucap hans dengan tersenyum yang membuat ceisya mengangguk dan menutup mata hans berharap hans tidak melihat dirinya.
Tidak lama terdengar pintu di ketik dan hans keluar, ternyata ajudan hans yang akan memberikan penjelasan pada hans dan benar saja dugaan hans, ceisya memakan buah yang menurutnya sama dengan buah liar yang bisa di makan olehnya, memang dari bentuk dan warna sangat menyerupai.
Ajudan hans memberikan obat penawarnya dan hans meminta retno bisa langsung istirahat soal ceisya dirinya yang akan mengurusnya malam ini, untuk menggantikan tugas yang biasanya retno yang kerjakannya.
Hans tahu ceisya belum membersihkan diri, dirinya bersiap membantunya tapi apa yang di dapat omelan dari mulut ceisya yang terdengar lucu oleh hans, sebab semua yang keluar dari mulut ceisya menjelekkan dirinya sepertinya tidak ada yang baik dari dirinya.
__ADS_1
Tapi hans memaklumi dan sangat menyukai semua caci maki yang keluar dari mulut ceisya di luar dari kesadarannya dan biasanya benar karena dari dalam hatinya, hal ini membuat hans semakin tahu sebenci apa ceisya pada dirinya.
Ada yang lebih membuat hans tertawa sendiri dengan apa yang ceisya ucapkan saat memaki dirinya "Anda lebih tua dari saya kenapa tidak mencari seseorang yang umurnya tidak jauh dengan anda, apakah anda ingin nanti di panggil ayah oleh orang lain bila berjalan dengan saya karena umur anda terlampau tua bila di sandingakan dengan saya" hans tertawa dan hanya bisa berkata dalam hati " tidak setua itu juga kali usia ku, dasar gadis kecil sombong kamu terlewat bangga dengan usia muda mu" hans menggelengkan kepalanya.
Dan hal lain yang terjadi lagi saat hans membantu membersihkan diri ceisya, saat hans akan membantu melepaskan pakaian yang melekat di tubuh ceisya, dan penolakan yang ceisya berikan sebab yang hans lakukan menurutnya tindakan yang tidak sopan padanya dan berpikir hans akan meminta haknya sebagai istri
"Anda sudah berani meminta hak anda sedangkan saya belum menyintai anda, maaf anda harus membuat saya jatuh cinta terlebih dulu, baru anda boleh menikmati itu" hans tertawa tanpa suara dan tetap membantu ceisya membersihkan diri dan mengantikan pakaiannya walaupun dengan celoteh yang tanpa henti dari mulut ceisya yang tidak terima dirinya di perlakukan sesuka hans tanpa persetujuannya.
"Minum obat ini biar lebih baik nona" pinta hans pada ceisya yang telah terlihat segar dan berganti pakaian tapi penolakan yang berulang ceisya lakukan.
"Saya bukan nona mu" protes ceisya yang membuat hans kembali tersenyum.
"Betul kamu bukan nona ku tapi istri dari hans fahreza" balas hans dengan berbisik di telinga ceisya yang kembali protes pada hans seperti tidak terima di jodohkan dengan dirinya.
Hans tidak hilang akal, dia memasukan semua obat yang harus di minum oleh ceisya kedalam mulutnya dengan cara mengunyahnya hingga ***** dan dia akan mentransfer kedalam mulut ceisya tanpa terlebih dahulu meminta persetujuan darinya, alhasil idenya berhasil yang membuat ceisya berteriak karena rasa pahit dari obat yang hans berikan padanya tanpa bisa menolaknya sebab bibir hans menutup mulutnya mau tidak mau obat itu harus di telannya.
Hans tahu ceisya merasakan rasa pahit dari obat yang di minumnya dengan berniat melakukan hal yang sama hans berniat memberikan madu pada ceisya lewat mulutnya, tapi ceisya lebih dulu mendorong tubuh hans dan meminum langsung madu tanpa perantara dari hans.
Hans hanya bisa tersenyum melihat tingkah ceisya yang sangat lucu menurutnya, berbeda terbalik dengan ceisya yang terlihat cemberut karena menurutnya hans mengambil keuntungan dari ketidak berdayaannya.
Entahlah siapa yang diuntungkan yang jelas ceisya sudah bisa tertidur walaupun dengan mendekap hans dalam posisi duduk, ceisya begitu erat mendekap hans seperti enggan hans meninggalkan dirinya malam ini.
Hans juga tidak ingin meninggalkan ceisya yang terlihat masih dalam keadaan belum sadar betul, ada rasa kasihan yang sangat pada diri ceisya itu hans rasakan dalam dadanya, ternyata tidak mudah jadi ceisya pikir hans dengan berganti mendekap ceisya yang sudah terlihat lelap dalam tidurnya.
__ADS_1
Malam semakin larut hans berniat memindahkan ceisya ketempat yang lebih nyaman, tapi ceisya seakan tidak ingin hans jauh darinya saat ini "Jangan tinggalkan sya, ya janji ya" ucap ceisya dalam tidur gelapnya, hans tidak tega mendengar ceisya berucap seperti itu walaupun ucapan ceisya bisa jadi cuma mengigau dalam tidurnya.
Menurut hans bisa jadi itu ucapan permintaan sebenarnya dari ceisya sebab dia terlelap dalam tidur berucap dan biasanya alam bawah sadarnya yang bekerja, bisa jadi selama ini memendam semua rasa itu entah kepada siapa pun itu yang jelas pada orang merasa dekat dengan dirinya.