Sehangat Dekapan Mentari Pagi

Sehangat Dekapan Mentari Pagi
Ih...pesonanya.


__ADS_3

Pesta bukan sembarang pesta tentunya yang di adakan oleh indra untuk sang cucu laki-lakinya, semua tertata begitu mewah serta megah melebihi waktu pesta ceisya tentunya sebab mas tama banyak kolega yang dia kenal di luar dari kolega kakek juga sang ayah tentunya.


Pesta sangat meriah dengan tamu orang-orang penting di negerinya,dan membuat siapapun yang hadir merasa di pandang orang penting sebab di pesta ini dihadiri oleh kalangan atas terutama petinggi negeri ini tentunya.


Itu menurut orang lain tapi berbeda di mata ceisya yang hanya ingin menikmati kebersamaan dengan hans yang merupakan tamu penting dan di minta kakek untuk menemani tamu sebagai perwakilan keluarga sebab sudah menjadi bagian dari keluarga besar indra tentunya.


Indra terlihat sesekali menyapa tamu dengan senyum ramah yang menunjukkan wibawanya pada kolega tentunya,dan setiap tamu merasa terhormat karena perlakuan yang indra berikan pada tamunya dengan ramah tamah.


Mas tama dan istri yang menjadi raja dan ratu sehari terlihat begitu bahagia mendapatkan ucapan selamat dari tamu yang datang, ada juga tamu yang ingin berfoto dengan keduanya sepertinya teman terdekat keduanya sebab begitu akrab terlihat.


Makin banyak tamu yang datang makin memenuhi tempat yang indra siapkan yang kebetulan pesta berlangsung dengan tema out door, sehingga memberikan ruang gerak yang luas untuk tamu yang datang memenuhi undangan indra.


Dalam pesta ini disiapkan hiburan dengan menghadirkan artis ibu kota tentunya, hans yang tidak biasa dengan hal ini hanya bisa diam dan berusaha sedikit mundur dari acara yang masih berlangsung dengan mencari udara yang sedikit segar karena sedikit tidak nyaman menurut dirinya.


"Der.., ko ga kaget sih?" ceisya yang datang dengan mengejutkan dan menghampiri hans dengan memeluk hans dari belakang tentunya.


"Ok, mas kaget ya,ayam,aayam" ucap hans yang membuat ceisya cemberut kesal sebab menurutnya tidak lucu.


"Ga, ga lucu" balas ceisya yang sudah di peluk hans hangat,berharap ceisya tidak marah padanya.


"Maaf kalau ga lucu, sebab mas tahu sya yang datang" dengan mengusap lembut rambut ceisya hans berucap.


"Sya cari mas, kenapa ada disini?" ceisya merasa aneh pada hans sebab bukannya senang ada hiburan artis ibu kota yang pengisi acaranya.


"Mas lebih suka sya yang menyanyi tapi hanya di depan mas ya, ga didepan yang lain !!" ucapan hans terdengar tegas di telinga ceisya yang membuat ceisya tersenyum tersanjung senang.


"Memang suara sya merdu gitu?" ceisya sebenarnya sekedar bertanya tapi respon hans di luar dugaan ceisya.


"Sangat merdu dan hanya untuk mas !!" dengan tersenyum hans berucap tapi membuat ceisya malu sekaligus bahagia.


Kebahagiaan keduanya tidak bisa membuat bahagia orang lain dari tempat yang tidak jauh dari keduanya,terlihat mereka begitu cemburu melihat kebahagian keduanya yang tidak ingin melihat keduanya bahagia.


Salah satunya dari anak musuh indra siapa lagi kalau bukan elang yang sebenarnya ingin memiliki hati ceisya seutuhnya tentunya, dengan mengepalkan tangannya dia terlihat sangat marah besar melihat hans begitu bahagia dengan ceisya disampingnya.


Di tempat berbeda seorang gadis yang jelas ceisya sangat mengenalnya dia adalah sepupu dari adhi dari pihak ibunya yang saat ini hadir memenuhi undangan indra, dia merasa hans merebut kebahagian mas adhi selaku kakak sepupunya.


Hans dan ceisya tidak bisa berlama-lama berdua karena kakek memintanya berkenalan dengan beberapa famili dari pihak kakek yang kebetulan saat pernikahan ceisya tidak bisa hadir dan saat ini hans di perkenalkan padanya.


Saat perkenalan dengan famili indra merasa kepalanya pusing dan terlihat indra memegang kepalanya dan dengan sigap hans memegang tubuh indra yang sedikit goyah dan bertanya padanya.


"Kenapa kek?" tanya hans pelan dengan tangan masih memegang tubuh tua indra yang masih terlihat gagah di usianya.


"Sedikit pusing" ucap indra pelan yang membuat ceisya khawatir.


"Sebaiknya kakek istirahat" pinta ceisya pada indra yang langsung menolaknya.


"Kakek masih kuat ko,kasihan tamu yang belum bertemu kakek, sepertinya kakek tidak sopan bila tidak menemuinya" ujar Indra menjelaskan pada ceisya.


"Baiklah sebaiknya kakek duduk saja biar, saya temani" hans memberikan kursi dan mempersilahkan indra duduk sedangkan hans sendiri berdiri ditemani ceisya di dekatnya.


Untuk pertama kalinya ceisya melihat seorang hans begitu ramah dan berwawasan luas berbincang membalas salah satu kolega dari kakeknya yang bertanya pada dirinya dan hans menjelaskannya dengan sangat tegas dengan bahasa yang dimengerti orang yang bertanya padanya.


Terlihat begitu mempesona pikir ceisya,yang selama ini hans di remehkan olehnya berubah menjadi seseorang yang sangat di kaguminya karena pesonanya yang berbeda dari lelaki lainnya.


Pembawaannya yang terlihat tenang tapi semakin memikat hati ceisya yang di bilang seorang wanita yang kritis dan berwawasan luas walaupun dia dalam luang lingkup terbatas sebagai gadis rumahan.


Kolega kakek di buat kagum dengan sudut pandang hans yang berpikir kedepan dalam banyak hal terutama keamanan negerinya yang banyak di pertanyakan oleh pembisnis yang ingin terus mengembangkan sayapnya.


Dalam pesta ini mas tama meminta pada kakeknya ada acara dansa yang sebenarnya kakeknya tidak menyetujuinya tapi mas tama berusaha menyakinkan kakeknya ini hal yang biasa di kalangan bisnis jadi mau tidak mau kakeknya menyetujuinya.


Pesta dansa pun berlangsung hans dan ceisya hanya jadi penonton saja tidak ingin terlibat dan hans meminta pada ceisya untuk tidak ikut serta,ceisya pun menyetujui itu.


Entah suatu kebetulan atau sudah di rencanakan oleh seseorang,ini di luar dugaan hans juga ceisya tentunya.


Seseorang yang berpenampilan begitu menggoda menghampiri hans untuk dapat menemaninya berdansa, ceisya yang sangat mengenal siapa orang yang mengajak hans berdansa.


"Boleh saya pinjam suami kak ceisya untuk menemani saya berdansa?" ucap tiara maharani dia adalah sesepuh dari adhi yang dengan senyum ramah menggoda.


Ceisya begitu terkejut dengan ucapan dan kehadiran tiara yang seperti angin topan datang menghampiri hans, ceisya hanya bisa diam sekaligus bahagia karena hans dengan sopan menolak ajakan dari tiara.


"Maaf nona, kakek lebih butuh saya saat ini" ujar hans yang mendapat dukungan dari indra yang tersenyum menyakinkan tiara yang terlihat kecewa.

__ADS_1


Sebaliknya ceisya tersenyum senang tanda menang dari tiara yang sepertinya berniat menggoda hans.


"Sepertinya ada yang senang?" tanya hans yang berbisik pada ceisya yang masih senyum-senyum sendiri.


"Ih, mau tahu aja" balas ceisya pada hans yang penasaran dengan senyum yang ceisya tunjukkan.


"Ok, mas akan cari tahu tapi jangan marah ya" goda hans yang membuat ceisya seperti cemburu dengan ucapan hans.


"Iya, iya nanti sya kasih tahu, ih mas curang" rengek ceisya pada hans yang membuat kakek ikut senang keduanya sudah makin dekat.


"Sayang kenapa tidak tinggal di tempat yang kakek siapkan untuk kalian?" tanya indra pada ceisya dan hans.


"Terlalu besar kek, kalau hanya kita berdua" ceisya berusaha menjelaskan pada indra.


"Memang kalian akan selamanya berdua?" tanya indra yang membuat ceisya malu.


"Ih, kakek sya kan jadi malu" ceisya bersembunyi di balik tubuh hans yang membuat kakek dan hans tertawa.


Kemeriahan pesta dansa tidak berlangsung lama karena ada perebutan pasangan yang tidak seharusnya terjadi dan untuk kesekian kalinya pesona hans terlihat.


Tubuh gagah hans menghampiri kedua lelaki yang siap adu jotos dengan bijak hans melerai keduanya dan mendamaikan keduanya dengan berakhir saling berpelukan juga jabat tangan dari keduanya dan kembali berdansa dengan pasangan masing-masing.


"Mas meminta apa pada keduanya sampai mereka setuju begitu saja" tanya ceisya pada hans yang baru saja mendekat ke arahnya.


"Mau tahu?" hans ingin sekali menggoda ceisya yang malam ini terlihat mengemaskan.


"Ih, mas gitu deh" rengek ceisya pada hans dengan memeluk satu tangan hans.


"Mas bilang mau berdamai atau pasangan dansanya mas bawa pulang" ucap hans yang ingin menggoda ceisya.


"Ih, mas hans jahat deh" ceisya kembali merengek pada hans yang kali ini mendapat cubitan dari ceisya karena menggodanya.


"Bener sya itu yang mas ucapakan pada keduanya" hans ingin sekali ceisya terus di godanya malam ini.


Dan keduanya tertawa bersama dalam gempita musik dansa yang meriah, tanpa keduanya sadari mata adhi bergitu menahan rasa cemburu pada hans yang sudah merebut hati ceisya dalam waktu yang terbilang cukuo singkat.


Sangat terlihat keduanya saling bertukar cerita dengan sesekali tersenyum bahagia walaupun entah apa yang keduanya bicarakan tapi adhi bisa membaca keduanya merasakan kebahagia dalam ikatan pernikahan yang kakeknya minta.


Ada yang menarik perhatian ceisya dalam pesta dansa ini, seseorang yang awalnya meminta hans menjadi pendampingnya kini berdansa dengan seseorang yang sama sekali tidak di kenalnya dan cukup menarik perhatian ceisya untuk mencari tahu siapa lelaki ini.


"Elang,bukannya nama itu yang di sebut-sebut gerombolan penculik itu" ucap ceisya dalam diam mengingat nama lelaki yang mendalangi penculikan dirinya.


"Sya,kenapa ko bengong?" tanya hans yang masih menemani kakek ceisya yang masih ramah pada tamunya.


"Sya, cape mas" ceisya berpura-pura pada hans sebab dirinya tidak yakin dengan apa yang dilihat dan didengarnya,sebab elang begitu berpenampilan elegan tapi bisa berpikiran sepicik itu pada dirinya yang tidak tahu menahu tentang bisnis kakeknya.


"Mau mas antar pulang?" pinta hans yang sepertinya tahu ceisya berpura-pura lelah pada hans.


Ceisya yang masih bingung di kejutan dengan tatapan mata elang tertuju padanya dengan sorot mata tajam seakan ingin menerkam dirinya dengan maksud tidak baik tentunya.


Ceisya tahu arti tatapan mata elang itu mempunyai maksud tidak baik tentunya pada dirinya padahal ini pertama kalinya ceisya melihat elang.


Dan dengan rasa takut ceisya bersembunyi dibalik tubuh hans yang kekar, apa yang ceisya lakukan semakin membuat hans penasaran ada apa dengan ceisya yang biasanya bersikap semaunya dan tidak ada kata takut dari dirinya kali ini berbeda yang hans rasakan.


"Sayang, lihat mas ada apa?" pinta hans semakin ingin melindungi ceisya, hans seakan tahu ceisya merasa ketakutan.


Ceisya semakin erat memeluk tubuh hans dan dengan berat hati hans meminta ijin pada kakek untuk lebih awal meninggalkan pesta dan kakek sudah di dampingi beberapa pengawal dan ayah dari mas adhi yang menemani.


Dalam perjalan pulang ceisya tidak mau lepas dari genggaman tangan hans, di dekat hans dirinya merasa sangat nyaman dan terlindungi walaupun sesekali ceisya melihat kebelakang yang membuat hans makin curiga.


"Apa yang sya takutkan?" tanya hans yang masih mengenggam erat tangan ceisya.


"Ga,mas sya aja yang takut sendiri" ceisya berusaha menyembunyikan rasa takutnya.


"Ok,sya tenang ya mas ada di dekat sya ko" hans mencium kepala ceisya lembut,menenangkan ceisya yang tersenyum.


Setelah keduanya membersihkan diri dan keduanya duduk bersantai menikmati malam dan masih terdengar sayup-sayup suara musik pesta yang masih berlangsung.


Ceisya bersandar manja di pundak hans dengan rambut yang terbungkus handuk karena masih basah.


"Boleh mas bantu mengeringkan rambut sya?" pinta hans pada ceisya yang tidak percaya hans kan melakukan itu padanya.

__ADS_1


Dan tanpa menunggu persetujuan ceisya mengusap lembut kepala ceisya dengan handuk yang masih melekat di kepalanya, ceisya sendiri duduk dihadapan hans.


Sesekali hans memberikan pijatan lembut dikepala ceisya memberikan rasa nyaman dan rileks untuk ceisya, yang membuat ceisya begitu menikmati apa yang hans lakukan pada kepalanya.


"Mas,kenapa ga buka salon aja?" goda ceisya pada hans yang kaget mendapatkan pertanyaan dari ceisya.


Ceisya merasakan kenyamanan yang hans lakukan pada kepalanya layaknya asistennya yang selalu membantunya.


"Ga,akan ada yang sanggup bayarnya sya" balas hans yang membuat ceisya mengerutkan dahinya yang menurutnya aneh.


"Memang s**eberapa besar nominal untuk membayarnya mas**?" ceisya kembali bertanya pada hans yang masih mengeringkan rambutnya.


"Ga,bisa di bayar dengan nominal sya" hans kembali menegaskan pada ceisya yang makin penasaran.


"Mana ada mas bayaran tidak dengan nominal" balas ceisya yang makin ingin tahu apa yang hans maksud.


"Ada,salah satunya ini" hans langsung mendaratkan ciuman di bibir ceisya dengan lembut dan membuat ceisya tidak bisa lagi berkata-kata hanya bisa menikmati apa yang hans berikan.


"Sudah percayakan, ada mas bilang" ucap hans setelah mengakhiri ciumannya.


Kali ini ceisya di buat tidak berdaya hanya bisa tertunduk malu dan bersembunyi di balik tubuh hans dengan memeluknya.


"D**imana ya,sya sembunyi** ?" goda hans yang tahu ceisya malu mendapatkan ciuman darinya.


"Sya, sya dimana kau ko mas di tinggal sih?" hans makin menggoda ceisya yang makin erat memeluk hans dengan handuk yang masih melekat di kepalanya.


Hans hanya bisa tertawa sendiri melihat tingkah ceisya yang salah tingkah karena ulahnya, tapi Hans senang ceisya malu tapi mau dengan apa yang di lakukannya.


"Kenapa harus malu, ini mas loh suami sya" hans mengangkat wajah cantik ceisya yang masih enggan dilihatnya karena malu.


"Dimana gadis kecil yang sombong yang mas lihat dulu?" ucap hans yang membuat ceisya memberanikan diri membalas ucapan hans.


"Sya ga sombong mas hanya memberanikan diri untuk membela diri" ceisya dengan muka masih merah diperlihatkan pada hans.


"Oh, iya kenapa mas baru tahu yah" goda hans yang tersenyum melihat wajah ceisya masih malu dan memerah.


"Iya lah sya hanya ingin membela diri" ceisya kembali mengungkapkan isi hatinya.


"Dari siapa sya" hans makin senang melihat ceisya menyakinkan dirinya benar.


"Ih,mas sya kan jadi malu" ceisya kembali ingin sembunyi di balik tubuh hans tapi hans lebih dulu mencegahnya dan kembali mencium ceisya yang tidak bisa menolaknya.


"Masih malu atau mau mas tambah lagi" hans senang sekali ceisya yang kali ini tidak lagi bersembunyi tapi tertunduk.


"Sya boleh malu dan tegas di depan orang lain tapi di depan mas sya tidak usah malu,mas mau sya yang pertama mas tahu gadis kecil sombong yang berani tapi manja di mata mas" kali ini hans memeluk tubuh ceisya dan balasan dari ceisya memeluk hans,tanpa kata keduanya dalam pelukan hangat malam.


"Mari kita tidur, bukannya sya lelah?" hans mencium kening ceisya yang sudah merebahkan diri di atas dada hans, dengan satu tangan mengusap lembut punggung ceisya.


"Mas besok masuk dinas?" tanya ceisya pada hans yang belum memejamkan matanya.


"Mas masih dapat libur dari komandan, memang ada apa sya?" tanya hans yang ingin tahu apa yang di rencanakan ceisya besok.


"Tidak ada apa-apa hanya ingin tahu saja" balas ceisya dengan santai.


"Terus kapan kita akan kembali ke tempat dinas mas?" tanya ceisya yang sudah nyaman berada disana.


"Sepertinya kita akan lama disini sya,karena beberapa bulan kedepan akan ada kunjungan kenegaraan dan rapat rutin dari tiap angkatan dan mas di minta kehadirannya" hans menjelaskan kesibukan yang harus di jalankannya pada ceisya dan berharap ceisya bisa memahaminya.


"Sesibuk itu yah mas?" tanya ceisya yang kali ini menatap manja pada hans.


"Mas mohon sya bisa memahami kesibukan yang harus mas jalani" hans sepertinya meminta pengertian dari ceisya.


"Ternyata sya harus cemburu pada pekerjaan yang mas jalani, mas bukan hanya milik sya saja tapi milik negeri ini juga" ucap ceisya memeluk tubuh hans dan menyembunyikan wajahnya di dada hans.


"Sabar ya, ini dunia yang harus mas jalani" hans mengusap lembut rambut ceisya dengan sesekali menciumnya berulang-ulang.


Ceisya hanya mengangguk sebagai jawabannya dan semakin erat memeluk hans yang menurutnya kesempatan seperti ini hans miliknya,di tempat dinas hans milik negerinya tidak bisa di ganggu.


Hans merasa senang ceisya yang manja bertahap mengerti dunianya yang bukan sepenuhnya miliknya ada yang lebih berhak atas hans yaitu negeri tercintanya.


Tapi hans seperti berjanji pada dirinya dimana ada waktu untuk berdua dengan ceisya akan sepenuhnya milik ceisya tanpa ada yang menghalanginya,sebab ceisya juga manusia butuh cinta dan perhatian darinya.

__ADS_1


Memang tugas akan tetap menjadi prioritas bagi hans tapi ceisya saat ini sudah jadi tanggungjawabnya pada keluarga dan tuhan jadi hans harus bisa menyeimbangkan keduanya dengan harapan tidak menyakiti ceisya tentunya.


Yang jelas hans akan berusaha adil untuk ceisya yang terbiasa dengan segala hal yang selalu ada apa yang dia mau,dan dengan caranya hans menerapkannya pada ceisya tanpa menyakiti ceisya tentunya.


__ADS_2