Sehangat Dekapan Mentari Pagi

Sehangat Dekapan Mentari Pagi
Bukti kesungguhan hati


__ADS_3

Qiandra termenung memandang keluar jendela kamarnya selepas sholat subuh,nampak nyata langit pagi menampilkan pesona keagungan sang pencipta.


Sepasang tangan yang menghangatkan memeluknya dari belakang yang membuat Qiandra tersenyum tanpa membalikkan tubuhnya dia sangat tahu siapa pemilik tangan itu.


"Bunda.." ucap Qiandra pelan dan menyadarkan kepalanya di dadanya.


"Q..kamu sudah disebut wanita dewasa,apa sudah ada seseorang yang mengisi relung hati mu sayang ?" dengan tersenyum ceisya bertanya.


"Q,bingung bunda..sebab Q tidak pernah menanggapinya dengan serius keseriusan seseorang itu" sepertinya Qiandra menjelaskan apa yang dia rasakan tanpa menyebutkan nama seseorang itu.


"Memang lelaki itu menunjuk sikap serius pada mu sayang ?" tanya ceisya lagi.


"Selalu Bun..dia selalu menunjukkan sikap seriusnya,ada disaat Q butuhkan dan dia berani memenuhi tantangan untuk bisa menyakinkan Q.. menurut bunda bagaimana?" tanya Qiandra meminta pendapatnya.


"Dia lelaki yang baik sayang..kasih kesempatan bertemu ayah biar ayah yang akan menilainya" ucap Hans yang masuk tanpa permisi.


"Itu sudah dijawab ayah sayang"ceisya melepaskan pelukannya dan merangkul pundak putrinya.


"Memang dia baik Bun..dewasa sudah sering dia minta bertemu ayah cuma Q selalu mencari alasan untuk menolaknya"Qiandra mengingat bagaimana Ayres sering meminta padanya untuk bisa bertemu ayahnya.


"Lelaki yang baik akan langsung meminta atau lebih tepatnya meminang langsung pada orang tuanya bukan untuk main-main sayang" Hans menjelaskan pada putrinya.


"Tapi Q ingin memantapkan diri dulu ayah, menurut ayah sama bunda Q sudah pantas menjadi istri atau masih bocah ?" Qiandra bertanya pada keduanya.


"Q..kamu lucu sayang,dimata ayah sama bunda Q akan selalu jadi bocah walaupun sudah memiliki bocah suatu saat nanti" Hans mengusap kepala Qiandra.


"Ih..ayah,Q jadi sedih"Q memeluk Hans dengan erat.


"Katanya mau disebut istri tapi..masih peluk-peluk ayah terus" goda ceisya pada putrinya.


"Cie..cie,ada yang cemburu nih" balas Qiandra yang masih bersembunyi di dada bidang sang ayah.


"Ngapain juga cemburu sama pemilik hati yang sesungguhnya"balas ceisya pada putrinya.


"Yah..bunda tuh" rengek Qiandra tanpa malu ada Hans.


"Keduanya pemilik hati ayah" ucap Hans yang memeluk keduanya dengan erat.


"Bun.. seberapa bucin ayah sama bunda ?" tanya Qiandra tanpa malu.


"Hmm..segini,eh..ga segini" Ceisya merentangkan kedua tangannya dengan luas.


"Wih..seluas itu dan sebesar itu Bun..?" Qiandra menganggukkan kepalanya dengan tertawa lepas.


"Bongkar rahasia saja bunda" Hans mencium kening Ceisya dengan lembut.


"Kalau bunda sama ayah ?" tanya Qiandra dengan bersandar di pundak Hans.


"Bunda sok jual mahal Q..awalnya,tapi setelah tahu sayang serta cintanya ayah,ditambah rasa nyaman yang ayah berikan..bunda ga mau jauh tuh sama ayah"Hans menjelaskan dengan melirik ceisya yang cemberut karena malu.


"Ih..ayah,ga gitu ceritanya " protes ceisya dengan memukul lengan Hans menyembunyikan rasa malunya.


"Stop..stop,bunda ga boleh protes ayah aja ga protes tadi,yah boleh tahu senyaman apa sih bunda sama ayah ?" tanya Qiandra dengan polos memandang ceisya yang terlihat memerah pipinya.


"Ih..tanya sama ayah tuh,bunda ga bisa jelasin" tolak ceisya pada putrinya.


"Jelasin aja,sayang Q sudah berhak tahu kok" pinta Hans dengan kembali mencium kening Ceisya.


"Ayah tulus menyayangi bunda walaupun awalnya bunda sangat menolak dinikahi oleh ayah,sebab bunda tidak mengenal baik ayah.. awalnya bunda di pertemukan dengan ayah setelah ijab kabul..oh tidak kita pernah bertemu beberapa kali tapi saat itu bunda menjalin hubungan dengan seseorang dan ga tahu kalau akan dinikahkan dengan ayah,tapi ya..sudahlah itu masa lalu" ceisya menghentikan membahas masa lalunya.


"Kok..ga lanjut " Qiandra meminta.


"Bunda malu sayang..bunda egois saat itu


padahal ayah sangat tulus menyayangi bunda, apalagi ayah sudah beberapa kali menyelamatkan bunda dan dengan sabar sudah mencintai bunda walaupun ayah tahu saat itu bunda mencintai orang lain dan tidak mau menerima kehadiran ayah di kehidupan bunda saat itu "ceisya di peluk oleh Hans dan sesekali Hans memberikan senyuman.


"Ih..bunda jahat sama ayah" protes Qiandra dengan memeluk manja satu tangan Hans.


"Bunda ga jahat sayang,sebab ga gitu ceritanya" Hans tidak ingin putrinya salah paham pada bundanya.


"Dalam sebuah hubungan ada yang saling mencintai,tapi begitu diuji cintanya salah satu harus menyerah dan melepaskan cinta itu,itu awal kisah bunda..terus ayah hadir dalam kehidupan bunda, dengan memberikan rasa sayang dan cinta yang bunda butuhkan saat itu walaupun itu tidak mudah untuk bisa menyatukan serpihan hati yang terluka apalagi berharap untuk bisa menempati ruang kosong di serpihan hati yang luka itu sesuatu yang butuh kesabaran untuk menaklukkannya,hanya dengan rasa nyaman itu yang membuat bunda mau memberikan cintanya dan sayangnya untuk ayah..tapi dari situ kita tahu ini semua rencana yang sudah tuhan kasih untuk menyatukan cinta kita" Hans memeluk erat Ceisya dan menghujani ciuman di wajah cantiknya yang tidak pernah berubah walaupun sudah memiliki putri yang sudah menjelang dewasa.


"Ih..Q jadi terharu, so sweet "Qiandra memandang keduanya bergantian.

__ADS_1


"Bun.. sweet nya ayah seperti apa?" tanya Qiandra dengan mengusap wajah tampan sang ayah.


"Sikap manis ayah itu spontan tanpa bisa di tebak sayang" Hans hanya tersenyum mendengar ucapan sang istri.


Kedekatan dikediaman Hans dan Ceisya serta putri semata wayangnya begitu terjalin baik begitupun dengan beberapa orang yang membantu segala aktivitas dikediaman mereka di perlakukan layaknya keluarga membuat mereka nyaman bekerja bersama keluarga kecil yang berlimpah kebahagiaan.


"Maaf tuan ada tamu,tapi.. sepertinya belum pernah berkunjung kesini" ucap penjaga rumah yang membuat ceisya memandang Hans intens seperti mencari tahu.


"Terimakasih pak,suruh duduk dulu di ruang tamu..,maaf pak bisa minta bibi yang di belakang membawakan air juga kue untuk tamu di depan..maaf merepotkan, terimakasih" Hans memperlakukan orang yang membantu di rumah nyaman dan sopan.


Lelaki yang di sapa pak itu hanya mengangguk dan meninggalkan Hans yang terlihat bersiap menemui tamunya.


"Siapa sih yah..?" tanya ceisya yang tahu semua ajudan Hans begitupun dengan penjaga rumah sangat kenal mereka, kalau pun ada anggota baru Hans selalu memberitahukan untuk meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan dikediamannya,maklum Hans bucin akut.


"Kita lihat saja,siapa yang berani masuk kandang singa"jawab Hans dengan tersenyum.


"Ih..ayah, serius" rengek ceisya yang melihat suaminya berganti pakaian sedikit santai.


"Mau ikut temui atau tunggu di balik layar" goda Hans yang terlihat sangat santai.


"Ayah.." ceisya tahu kalau Hans selalu bersikap siaga untuk keluarganya.


"Ayo..hanya tamu bukan hantu"ucap Hans, namun bukan persetujuan yang Hans dapatkan melainkan penolakan dari ceisya yang enggan menemani suaminya menemui tamunya.


Betapa terkejutnya Hans,tamu yang di temuinya seorang lelaki muda dengan pakaian rapi sedikit santai dan tersenyum sopan penuh hormat,namun tidak di kenalnya.


"Assalamualaikum.. selamat siang pak" ucap lelaki muda pada Hans sopan.


Sosok lelaki penuh berkarisma yang Ayres temui tepat berdiri dihadapannya,sangat berbeda saat lelaki ini menemui putrinya yang Ayres rasakan dari auranya begitu berada didekatnya,bukan menakutkan tapi berwibawa,tegas,serta ramah itu yang Ayres nilai.


"Waalaikum salam.. selamat siang" balas hans dengan sopan pada tamunya.


"Sebelumnya maaf..ada keperluan apa anda datang ke rumah kami ?" tanya Hans masih dalam bahasa yang formal.


"Mohon maaf sebelumnya sebab kedatangan saya mengganggu waktu bapak dan keluarga, perkenalkan saya Abhivandya Ayres,saya datang ingin mohon ijin untuk mengenal lebih dekat dengan putri bapak yang bernama Qiandra Mettasha untuk menjadi pendamping hidup saya"dengan tanpa keraguan Ayres mengutarakan maksud dan tujuannya.


Hans hanya diam menyimak setiap kata yang Ayres utarakan, terlihat dengan jelas lelaki itu memiliki kesungguhan dan dengan keberanian serta tidak terlihat ada keraguan yang Hans lihat dari lelaki muda ini.


"Hmm.. sebelumnya maaf anda tidak menggangu waktu kami, karena anda tamu kami dan kami akan memperlakukan tamu kami dengan sangat baik selama anda sebagai tamu tidak ****berniat**** mengganggu ketentraman kami disini"balas Hans dengan tersenyum tapi tegas terlihat.


"Sebelumnya saya ingi tahu dari mana anda tahu kalau disini kediaman Qiandra Mettasha, dimana anda mengenalnya dan apakah dia mengenal anda ?" pancing Hans dengan memberondong banyak pertanyaan sekaligus pad Ayres.


"Mohon ijinkan saya menjawab pertanyaan bapak,saya mengenal Sha karena saya di tugaskan sebagai pembina dalam kegiatan OSIS di sekolah tempat Sha mengajar saat ini,ya..Sha mengenal saya dan saya tahu alamat ini dari pihak urusan tata usaha sekolah dimana Sha mengajar" Ayres menjelaskan.


"Oh..ok,saya cukup faham,sejauh mana anda mengenalnya dan apa anda tidak terlalu tergesa-gesa memintanya untuk menjadi teman hidup ?" dengan sangat santai Hans berucap kembali bertanya.


"Secara pribadi saya tidak banyak tahu, pribadinya sebab saya tidak berani terlalu dekat dengannya sebelum meminta ijin kepada bapak selaku walinya, tetapi selama mengenal Sha dia gadis yang baik,dan memegang prinsip yang diyakininya serta selalu menjaga nama baik sebagai wanita itu yang saya kagumi dari dirinya.. untuk soal teman hidup saya yakin sudah memikirkan baik buruknya dan menurut saya saat ini waktu yang tepat untuk lebih tepatnya saya ingin melamar putri bapak secara pribadi" Ayres masih dengan sangat hati-hati mengutarakan maksud baiknya pada Hans berharap tidak menyinggung Hans selaku orang tua Qiandra.


"Saya sangat menghargai maksud dan tujuan anda nak Ayres boleh saya panggil itu.." pinta Hans dan tersenyum ramah.


"Tidak masalah.. dengan panggilan itu, senyamannya bapak saja saya tidak keberatan" Ayres memberikan senyuman pada Hans.


"Tapi..yang akan menjalani bukan saya,ada baiknya kita tanya pada yang bersangkutan benar nak Ayres ?" tanya Hans yang tidak ingin egois.


"Saya satu pendapat dengan bapak..saya akan dengan berbesar hati mundur bila Sha tidak menginginkan hal itu" ucap ayres yang membuat Hans sedikit tidak percaya.


'Biasanya lelaki akan kecewa bila di tolak dia malah akan berbesar hati..kamu lelaki hebat, mencintai bukan berarti harus memiliki' puji Hans dengan rasa bangga pada Ayres.


"Sayang..bisa bawakan tamu ayah minum, kasihan dia kehausan nih.."goda Hans pada putrinya yang tidak tahu kalau tamunya Ayres.


Qiandra memenuhi permintaan ayahnya dengan mengantikan tugas mba yang bisanya membawakan minuman untuk tamu tapi Qiandra tidak sendirian,bunda ikut mendampingi membawakan beberapa makan ringan.


"Sayang kenapa lama?" tanya Hans pada Qiandra yang berjalan dengan fokus pada nampan yang berisikan minuman.


"Sabar yah..ini Q juga datang,si..lakan" Qiandra gugup begitu tamu yang dilihatnya seorang lelaki yang baru dijadikan pembahasan bersama kedua orangtuanya sebelum tamu itu datang.


"Terimakasih" ujar Ayres dengan tersenyum senang tidak kepalang.


'Kok..dia bisa tahu alamat rumah ini, kenapa juga harus datang kesini?' Qiandra yang biasanya selalu tegas menunjukkan siapa drinya yang mandiri,saat ini Qiandra terlihat sangat jauh berbeda dia terlihat menjadi gadis yang pada umumnya lebih tepatnya pemalu,gugup juga grogi.


"Kamu mengenalnya sayang ?" tanya ceisya yang memegang bahu Qiandra.


'Pantas dia begitu cantik,sebab bundanya juga cantik serta berkarakter' Ayres menilai bunda Qiandra yang masih terlihat cantik padahal sudah memiliki anak yang sudah memasuki usia dewasa.

__ADS_1


"Kenal Bun,hanya sebatas proposional kerja saja..tidak lebih" ucap Qiandra tanpa mengurangi rasa hormat pada Ayres.


"Oh.. begitu ya..maaf ayah kira ada" canda Hans memancing.


"Saya yang rasa suka sama Sha" jawab Ayres jujur lebih dulu menjawab.


"Ayah sungguh Q ga ada rasa apapun" Qiandra menunjukkan dua jarinya membentuk huruf V.


Hans terdiam hanya memandang Ayres dan putrinya bergantian,keduanya berkata jujur yang Hans lihat hanya ada sesuatu yang membuat Hans tersenyum sebab Q bersikap tidak seperti biasanya,dia tidak pernah menunduk bila tidak melakukan kesalahan dan hal ini bukan kebiasaannya.


'Aku tahu putri ku,kamu pun memiliki rasa yang sama hanya saja kamu malu,ini tanda kamu wanita yang baik putri ku' Hans dengan perasaan mantap dirinya harus memberikan restu untuk kebaikan anaknya.


"Bagaimana ya..nak Ayres sepertinya untuk lamaran nak Ayres bisa melihat dan mendengar sendiri, sepertinya putri saya ti.."dengan sedikit memperlambat ucapan Hans menunggu reaksi putrinya.


"Saya mohon..pak berikan restu,saya tidak akan memberikan janji tapi bukti kalau saya bersungguh hati menyayangi dan mencintai putri bapak" Ayres terlihat tanpa keraguan.


Di sisi yang lain Qiandra semakin tertunduk bahkan seperti hendak menangis menahan rasa harunya untuk pertama kalinya seorang lelaki meminta restu pada ayahnya dengan kesungguhan hati.


"Sayang bagaimana,serius Q menolak maksud baik nak Ayres ?" pinta Hans kembali bertanya dengan tatapan seorang ayah yang penuh kasih sayang tanpa penekanan tapi memberikan kebebasan pada dirinya.


"Sha.. untuk pertama kalinya aku mohon tatap mata saya,kalau kamu ragu saya akan mundur dengan ikhlas tapi bila kamu yakin kita akan sama-sama melangkah dalam ikatan halal..saya Abhivandya Ayres dengan sadar dan kesungguhan hati dan atas nama Allah ingin melamar Qiandra Mettasha binti Hans Fahreza..bersediakah engkau menjadi istri ku untuk sekarang ****dan**** hingga nanti" dengan tatapan tegas dan mata berkaca-kaca Ayres berucap dan bersimpuh dihadapan Qiandra yang disaksikan oleh kedua orang tua Qiandra.


Qiandra masih belum memberikan jawaban hanya tertunduk dengan kedua tangannya saling meremas menandakan dirinya dalam keadaan gugup.


Hans sadar betul putrinya dalam keadaan tidak nyaman dan kegundahan dalam hatinya.


"Sayang diamnya seorang gadis itu pertanda dirinya menerima lamaran seorang laki-laki.. bagaimana nama sayang ?" tanya Hans yang langsung menghampiri Qiandra dan mengusap punggung putrinya dengan sayang.


"Yah..Q serahkan semua pada ayah yang bisa menilai kesungguhan dari dirinya terhadap Q,bila ayah tidak berkenan serta tidak memberi restu serta tidak ridho atasnya, Q ikhlas ikut kata ayah" Qiandra menunjukkan sikap tegasnya walaupun dengan sekuat tenaga dia menahan air matanya berharap dia tidak menunjukkan sisi rapuhnya diharapkan Ayres.


"Ok.. keputusan akan ayah ambil, bagaimana nak Ayres bila saya.." hans menghela napas dengan kasar dan memberi jedah pada ucapanya,Ayres dapat mendengar pelepasan napas kasar itu.


"Saya akan berbesar hati.. menerima keputusan apapun pak" balas Ayres dengan tersenyum.


"Kalian berdua sudah bikin saya gugup dan ini untuk pertama kalinya saya gugup dalam memutuskan sesuatu" Hans tersenyum yang membuat ceisya juga tersenyum sebab tahu suaminya menarik ulur memainkan perasaan kedua orang yang dalam keadaan gelisah dalam menunggu sebuah keputusan.


"Kalian berdua yakin bila keputusan ini hanya menyenangkan salah satu pihak dan akan meninggalkan bekas di hati yang lain" Hans menatap keduanya.


Ayres hanya mengangguk tidak dapat berkata seperti di awal, begitupun dengan Qiandra yang hanya diam tanpa memberikan jawaban.


"Bismillah dengan memohon ijin dari Allah dengan harapan tidak ingin melukai hati kalian berdua..ayah akan memberikan jalan untuk kalian lalui bersama..buktikan kesungguhan ini dengan secepatnya datangkan kedua orangtua mu untuk meminta putriku pada ku secara resmi" ucap Hans perlahan tapi dengan penekanan setiap baris katanya.


Ayres yang terlalu serius mendengarkan dia tidak bereaksi sedikit berbeda dengan Qiandra yang langsung memeluk ayahnya.


"Terimakasih kasih yah.. untuk keputusan yang ayah ambil bila ini untuk kebaikan Q kedepannya, dengan ikhlas Q menerimanya" bisik Qiandra dengan isak tangis yang bisa diartikan bahagia dalam pelukan sang ayah.


"Bagaimana nak Ayres ?" tanya ceisya membuat Ayres terkejut sekaligus bingung melihat Qiandra yang menangis.


"Kalau memang ini yang terbaik untuk saya Bu" jawab Ayres.


"Kok..Bu,bunda dong" ucap ceisya yang ingin menggoda Ayres.


"Bunda ?" ucap Ayres bingung.


"Memang nak Ayres ga mau jadi menantu bunda ?" ucapan ceisya sedikit menyadarkan Ayres.


"Mau..mau bunda" dengan gugup Ayres menjawab.


"Selamat..teruskan perjuangan ku,ini baru awal dan ini tidak mudah" ucap Hans memeluk Ayres yang menahan haru tidak lagi bisa berkata banyak.


"Siap pak..akan saya ingat terus bahkan ini sebagai perintah bagi saya" balas Ayres dengan mendapatkan tepukan di pundak oleh Hans.


Sesaat Ayres memandang Qiandra yang menurut dirinya sangat berbeda,gadis manis itu terlihat gugup bahkan terlihat malu tidak seperti biasanya, Qiandra yang biasanya biasa saja bahkan cenderung cuek bila di perhatikan.


"Oh..ya, sampai lupa ini sekedar buah tangan" ucap Ayres menyembunyikan rasa gugupnya.


"Oh..hanya untuk Q saja kita ga di bagi nih" goda Hans mencairkan ketegangan.


"Ga.. seperti itu pak" ucap Ayres masih dengan gugupnya.


"Ayah.." ucap ketiganya bersamaan seperti mengingatkan Ayres.


"Oh..iya maaf ayah" ujar Ayres dengan malu untuk pertama kalinya.

__ADS_1


Kebersamaan untuk pertama kalinya cukup memberikan kesan hangat di hati Ayres yang baru pertama kalinya berkunjung dikediaman Qiandra,dan dengan penantian selama ini diperjuangkan tidak sia-sia.


'Benar kata sebuah pepatah: usaha tidak akan mengkhianati hasil' dengan usaha dan doa selebihnya biarlah tangan Tuhan yang bekerja untuk hasilnya'


__ADS_2