Sehangat Dekapan Mentari Pagi

Sehangat Dekapan Mentari Pagi
Jangan bilang benci nanti cinta


__ADS_3

Ceisya untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di tempat yang asing baginya dan sangat terpencil yang selama ini belum pernah di kenalnya dengan segala kesederhanaan yang sangat bersahaja sekali menurut ceisya yang dia hanya tahu dari buku yang pernah dibaca dan media selama ini dia lihat tapi ini benar dia rasakan sendiri dan lihat langsung.


Udara pagi masuk dari jendela membuatnya merasakan dingin di tubuhnya, ceisya berdiri di salah satu jendela dan berniat menutup kembali jendela itu tapi salah satu ajudan hans masuk berniat menyiapkan sarapan pagi dengan menu sederhana disesuaikan dengan dimana hans dinas.


"Maaf membangunkan istirahat kakak" ucap ajudan hans yang bingung harus memanggil ceisya apa.


Ceisya hanya tersenyum kecil sebagai balasan dan hans masuk dengan bermaksud melihat kondisi ceisya, ajudan hans meninggalkan keduanya seperti memberikan waktu untuk keduanya bersama.


"Bagaimana dengan luka mu nona ?" tanya hans dengan nada sopan pada ceisya dengan tangan berniat melihat luka di lengan ceisya.


"Sebegitu ingin tahunya kah anda dengan luka saya?" balas ceisya dengan nada masih kesal pada hans.


"Ya, aku harus tahu karena nona istri ku" ucap hans dengan santai membuat ceisya makin ingin marah pada hans.


"Ha, istri tidak salah dengar, anda dengan seenaknya meninggalkan saya setelah acara itu sekarang anda memanggil saya istri, aneh dimana hati anda saat itu !!!" ceisya seperti mengeluarkan segala kekesalan hatinya selama ini di pendamnya.


"Sepertinya anda tidak punya hati, hanya tugas yang ada dalam hati anda, tinggalkan saya sekarang !!" ceisya menangis sejadi-jadinya dan luka dari pedang kembali berdarah karena ceisya menabrak salah satu sudut lemari.


"Auw" ceisya memegang luka dan darah terlihat di telapak tangannya, hans berniat membantunya tapi ceisya melarangnya dengan tegas.


"Peduli apa anda, tinggalkan saya !!" ucap tegas ceisya pada hans, yang tidak mau meninggalkan ceisya tetap masih ingin menolongnya.


"Aku akan pergi setelah membantu mu nona" balas hans yang berniat memberikan pertolongan tapi ceisya tetap dengan keras kepalanya menolak tidak memperdulikan darah yang terus mengalir semakin deras.


"Aku janji akan pergi tapi biarkan aku menolong mu nona" pinta hans masih dengan nada yang sopan dan kali ini seperti membujuk ceisya.


"Sekali saya bilang tidak tetap tidak pergi, saya tidak butuh anda !!" ceisya semakin histeris dengan tangis yang masih menyertai kemarahannya pada hans.


Hans semakin tidak tega meninggalkan ceisya dalam kondisi yang tidak baik seperti ini, hans dengan nekat mendekat dan memeluk ceisya walaupun ada penolakan dari ceisya dengan mendorong tubuh gagah hans berkali-kali tapi tidak bergeser sedikit pun.


Karena kekuatan ceisya tidak sebanding dengan tenaga hans apalagi ceisya yang saat ini terluka, pada akhirnya ceisya menangis dalam pelukan hans yang sepertinya tahu ceisya bukan marah tapi butuh seseorang yang mau mendengarkan apa yang ada dalam hatinya saat ini.


Hans mengusap lembut kepala ceisya yang sudah mulai tenang dan sedikit mau menerima kehadiran hans yang menurutnya orang asing bagi dirinya, hans sangat memahami apa yang saat ini ceisya rasakan.

__ADS_1


Indahnya cara tuhan menyatukan sepasang insan yang sudah halal ini untuk berbaikan, suara perut ceisya yang merasa lapar ingin di berikan isi membuat ceisya malu pada hans, karena suara perutnya begitu terdengar di telinga keduanya.


Ceisya seperti merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah dirasakannya bersama mas adhi yang di cintanya, yang sekarang tidak memperdulikan keberadaannya dan bagaimana dirinya saat ini.


"Kasihan perut mu nona, minta di isi dan sepertinya cacing di dalam sana sudah mulai berdemo " canda hans dengan membawakan beberapa piring makanan yang sudah ajudannya siapkan dan membiarkan ceisya memilihnya.


"Tidak usah sungkan ini rumah mu juga nona" ucap hans yang sepertinya tahu ceisya malu.


"Nikmatilah, biar aku bantu mengobati luka mu" tiap ucap hans seperti air yang menyejukkan hati ceisya.


Ceisya dengan santai menikmati beberapa potong singkong rebus yang selama ini tidak pernah di makannya, yang menurutnya cukup enak di nikmati pagi ini walaupun sesekali meringis karena rasa perih dari luka yang hans obati dan sesekali ceisya memperhatikan hans yang dengan sabar membungkus lukanya.


"Mau istirahat atau membersihkan diri ?" tanya hans pada ceisya yang telah selesai menikmati sarapannya.


"Tapi siapa yang akan membantu saya ?" hans sudah faham dengan apa yang ceisya ucapkan maklum saja dia terbiasa ada yang melayani segala keperluannya.


"Akan ada seseorang yang membantu nona" ucap hans dengan memegang kedua tangan ceisya, dengan harapan ceisya merasa nyaman selama berada di tempat ini.


"Bukannya semua?" belum selesai ceisya menghabiskan ucapnya hans sudah membalasnya dengan memberikan ceisya tenang.


Ceisya hanya mengangguk seperti mengerti apa yang hans ucapkan, dan tidak lama gadis yang akan membantu memenuhi keperluan ceisya datang yang di temani ajudan hans.


Kenapa rasa benci itu seakan hilang yang ceisya rasakan, apakah karena perlakuan hans yang ternyata berbanding terbalik dari yang penilai ceisya selama ini, yang hans tunjukan dengan kelembutan sehingga mencairkan gunung es di hati ceisya, di tambah lagi salah satunya dengan hans menghadirkan seseorang yang membantu keperluan ceisya yang biasa hidup serba tersedia dan ada orang di dekatnya yang selalu membantunya.


"Mohon bantuannya ya, apa yang nona pinta semua keperluan nona ada di dalam ruangan ini kamu tinggal mencarinya saja" hans meminta gadis muda yang datang dengan ajudannya untuk membantu ceisya.


"Aku tinggal dulu, bila ada keperluan lain bisa panggil aku di tempat dinas" bisik hans pada ceisya sebelum keluar dari ruangan meninggalkan ceisya bersama seorang gadis muda yang belum dikenal ceisya.


Kebaikan hans dapat ceisya rasakan dengan menghadirkan gadis desa ini sangat lugu sekali terlihat dari caranya memperkenalkan diri pada ceisya.


"Siapa nama mu ?" tanya ceisya pada gadis di depannya yang masih tertunduk malu.


"Retno bu" ucap retno terdengar pelan sekali yang membuat ceisya menyuruhnya mendekat padanya.

__ADS_1


"Sini, kamu kalau berbicara dengan seseorang tidak boleh menunduk itu tandanya tidak sopan, yang benar lihat lawan bicara mu ok" ceisya memberikan pelajaran awal pada retno yang masih sangat polos menurut ceisya.


"Coba ulangi lagi siapa nama mu ?" perintah ceisya kembali bertanya pada retno.


"Retno bu" jawab retno yang kali ini sudah melihat lawan bicaranya.


"Jangan panggil bu, aku mau kamu panggil kakak atau mba ok, aku belum setua itu " pinta ceisya yang membuat retno tersenyum dan membuat ceisya juga tersenyum.


"Ih, kamu manis sekali bila tersenyum" ceisya senang melihat retno tertawa makin terlihat cantik yang ceisya lihat.


Retno tertunduk kembali mendengar ucapan ceisya dan ceisya tidak suka melihat perempuan terlalu malu sebab akan mudah di perdaya laki-laki karena terlihat lemah pikir ceisya dan kembali memberikan nasehat pada retno.


"Kamu tidak boleh malu bila didepan lawan jenis, sebab kamu akan mudah dimanfaatkan, kamu harus terlihat tidak lemah, kamu harus tunjukkan apa kemampuan mu, kamu bisa meminta ku mengajari apa yang kamu tidak bisa dan tidak tahu ok, ingat semua omongan ku ya, kamu masih muda harus kejar apa angan-angan mu yang ingin kamu raih" ceisya seperti seorang guru memberikan bekal pada muridnya.


Begitupun dengan retno merasa beruntung di pertemukan dengan ceisya yang pertama dilihatnya tidak ramah, tapi sangat cantik dan penilai itu ternyata salah besar ternyata kecantikannya sebanding dengan kebaikannya, walaupun dari tiap ucapannya terkadang tegas dan cenderung memerintah.


Ceisya meminta retno menemaninya berkeliling desa dia ingin melihat dan mengenal lingkungan sekitar tempat dinas hans, dengan senang hati retno menemaninya dengan berjalan kaki.


Sepanjang jalan yang ceisya lalui, sapaan ramah yang ceisya dapat dari penduduk sekitar membuat ceisya merasa senang ini pertama kalinya dirinya di hargai bukan karena statusnya sebab selama ini asisten rumah menyapahnya karena mereka bekerja pada keluarganya dan tahu apa statusnya.


Ceisya senang melihat banyak hal yang selama ini tidak pernah di lihatnya, seperti saat ini anak-anak yang asyik menikmati buah yang tubuh liar di pinggir jalan desa yang seperti buah cerry menurut ceisya dan anak-anak itu mengijinkan ceisya ikut menikmatinya sebab buahnya menarik perhatian ceisya.


"Benar saya boleh ikut makan?" tanya ceisya pada anak-anak itu dengan rasa penasaran pada buah itu yang terlihat manis menurutnya.


"Silakan kak" salah satu anak memberikan pada ceisya dengan menunjukkan buah yang berwarna merah menyala menandakan matang.


"Oh, iya manis enak-enak" ucap ceisya senang membuat retno tersenyum sebab ini pertama kalinya melihat orang makan buah liar tapi serasa makan buah seperti di jual di pasar pikir retno.


"Terima kasih ya" ucap ceisya dan melanjutkan jalan lagi masih di temani retno.


Waktu hampir sore dan ceisya meminta pada retno untuk kembali ke rumah dinas, dan kembali ceisya bertemu dengan pohon yang menyerupai cerry itu dan meminta retno memetiknya beberapa untuk dirinya untuk di nikmati sepanjang perjalanan pulang.


Menurut retno kebahagian tiap orang itu berbeda-beda salah satunya dengan ceisya yang begitu senangnya menikmati buah yang tumbuh liar seperti menikmati buah yang seenak buah yang biasanya ibunya belikan di pasar.

__ADS_1


Karena retno tidak tahu bagaimana kehidupan yang ceisya jalani selama ini seperti hidup di sangkar emas tanpa kebebasan yang dia rasakan, terpenuhi segala kebutuhan tapi kebebasan berpendapat dia tidak miliki.


__ADS_2