
Waktu bergulir sesuai iramanya begitupun dengan seorang Qiandra putri dari Hans yang kini bukan lagi gadis belia, dengan bertambahnya usia seseorang Qiandra semakin menunjukkan jadi dirinya yang saat ini telah lulus menjadi seorang guru dialah satu sekolah milik sang ayah.
"Sayang..jangan lupa bekal siang mu"Ceisya meminta pada putri semata wayangnya.
"Siap bunda sudah didalam tas" Qiandra selalu menyenangkan kedua orangtuanya dalam segala hal, sebab dia sadar betul hanya dirinya yang bisa membuat keduanya bahagia.
"Siap menjadi guru baru ?" tanya sang ayah yang masih aktif di kesatuannya.
"Siap dong, untuk mencerdaskan anak bangsa" balas Qiandra yang membuat Hans sang ayah sangat senang.
"Apa ada misi khusus?" tanya sang ayah yang sangat mengerti dengan putrinya.
"Ada,bagi Q belum berhasil seorang guru bila salah satu dari jumlah siswa tidak bisa memahami apa yang sudah Q jelaskan..dan hal ini membuktikan bahwa Q belum menjadi seorang pendidik yang berhasil" ucapan Qiandra membuat sang ayah bangga.
"Ayah satu pemikiran dengan mu..nak,teruskan apa yang menjadi keinginan mu..ayah dukung sepenuh hati saya" Hans memeluk Qiandra dan mengusap lembut kepala putrinya.
"Anak ayah.."ujar Ceisya sang bunda dengan mengusap lembut punggung Qiandra.
"Anak bunda juga kan" Qiandra menghadap Ceisya yang langsung mengangguk.
Bincang santai pagi hari telah berlalu kini Qiandra sudah berada di sekolah yang dulu dirinya menjadi seorang murid,mata Qiandra menyapu semua yang ada baik dari gedung,taman dan tidak terlupakan lapangan sekolah yang luas.
'Masa itu telah terlewati dengan segala kenangan indah yang tidak mungkin bisa kembali terulang' senyum seringai Qiandra tunjukkan seperti mengingat masa-masa yang telah terlewati.
"Pagi.." ucap salam pada salah satu guru yang masih sangat dia kenal.
"Pagi..Qiandra Mettasha !" ucap balasan dari sang guru seperti mengingat siapa sosok didekatnya yang dulu salah satu muridnya.
"Ya..pak saya Qiandra Mettasha,IPA 1"Qiandra mejelaskan lebih spesifik pada sang guru.
"Saya sampai pangling dengan penampilan mu sekarang Sha..terlihat semakin dewasa dan saya yang semakin tua" ujarnya dengan tertawa.
"Bapak tidak tua tapi matang secara usia" ucap Qiandra membuat sang guru tersanjung.
"Kamu paling bisa bikin saya senang Sha dari dulu"Qiandra hanya tersenyum dan menunduk.
"Ada keperluan apa kamu disini Sha?" tanya sang guru dengan rasa ingin tahu.
"Mulai hari ini saya resmi jadi guru disini pak" ucap Qiandra dengan menunjukkan rasa sopannya
"Jadi guru disini..selamat datang murid ku yang kini jadi seorang guru"sang guru menyalami Qiandra yang terlihat malu.
"Maaf..biasa saja tidak usah terlalu resmi, bagaimana pun saya masih tetap murid bapak" ucapan Qiandra membuat sang guru terharu.
Perbincangan singkat harus Qiandra sudahi karena harus menghadap kepala sekolah, kalau kepala yayasan ayahnya.
Qiandra di perkenalkan oleh kepala sekolah dengan semua dewan guru dan tata usaha juga semua orang yang mengerjakan roda sekolah.
Kini Qiandra resmi menjadi guru dan siap pemberian ilmunya didalam kelas, Qiandra mengajar sains ilmu yang sangat dia sukai dan geluti dan dia lulusan terbaik di bidangnya.
"Assalamualaikum..dan selamat pagi" ucap Qiandra yang langsung masuk kelas tanpa disadari oleh siswanya.
Jawaban salam serentak oleh siswa bersamaan"waalaikum salam,pagi Mrs"disusul dengan bisik-bisik siswa yang ingin tahu siapa dirinya.
Jam pertama digunakan untuk saling memperkenalkan diri, walaupun tidak mudah bagi Qiandra sebab siswa yang sekarang berbeda dari jamannya Qiandra.
"Bagaimana dengan status Mrs ?" tanya salah satu siswa dengan tanpa malu-malu.
"Ok..soal status,saya masih resmi diakui sebagai anak dari orang tua saya.. bagaimana?" Qiandra kembali membuat kelas riuh.
"Jadi boleh dong Mrs.. mengajukan diri jadi orang spesial Mrs" kembali kelas menjadi riuh dengan suara protes yang lain.
"Boleh-boleh asal memenuhi kriteria yang saya tentukan" balas Qiandra dengan candaan.
"Apa Mrs ?" tanya salah satu siswa lagi.
"Kamu bersedia..?" Qiandra tersenyum dengan pemikiran licik di otaknya.
"Bersedialah..demi mendapatkan seorang Mrs " dengan percaya diri siswa lelaki itu berucap.
"Ok..kamu seminggu sekali harus menyikat gigi mony.." ujar Qiandra yang membuat siswa lelaki itu berpikir.
"Siapa itu Mony" tanya siswa lelaki dengan penasaran.
"Harimau Afrika kesayangan saya" balas Qiandra yang sebenarnya hanya dalam imajinasinya saja.
"Gila..Mrs berniat membunuh saya !" dengan tegas siswa lelaki itu membalas.
"Siapa juga yang berniat membunuh kamu.. bukannya kamu yang berniat menyanggupi persyaratan yang Mrs bilang " kini siswa perempuan memberikan penjelasan.
"Mony ga doyan kok sama daging kamu sebab kamu bernyali kerdil" tegur Qiandra yang sebenarnya hanya menggodanya.
__ADS_1
"Oh..gitu ya Mrs,saya bersedia kok..Mrs" kembali siswa lelaki itu berulah.
"Persyaratan pertama kamu sudah ga menyanggupi jadi ga ada pengulangan..maaf" senyum seringai Qiandra tunjukkan yang membuat seisi kelas ramai lagi.
"Perkenalan kita sudah dulu..kita kembali pada materi pelajaran " ucap tegas Qiandra yang membuat siswa gaduh.
"Hu...hu..."suara gaduh bergema seisi kelas.
Kelas hening sesaat,saat Qiandra menjelaskan materi siswa seakan-akan terhipnotis dengan cara mengajar Qiandra yang masuk kedalam jalan pikiran mereka.
Qiandra menyampaikan materi dengan cara memberikan contoh-contoh yang terlihat nyata dalam kehidupan sehari-hari yang dapat dengan mudah di cerna oleh siswa-siswi yang dengan cepat memahaminya.
Tanpa terasa jam istirahat tiba dan Qiandra jadi buah bibir di kantin bukan hanya karena pesona kecantikannya saja tapi cara memberikan penjelasan pelajaran yang langsung disukai oleh semua siswa.
"Busyet deh..perfect pokoknya Mrs Mettasha" ujar salah satu siswa di kantin.
"Paket komplit deh.." siswa yang lain menambahkan.
Berbeda dengan Qiandra yang berbeda di ruang guru diminta oleh kepala sekolah untuk menjadi guru pendamping untuk pelatihan pelantikan pengurus OSIS yang akan di adakan di bumi perkemahan pelatihan angkatan darat hampir sama seperti waktu Qiandra menjadi pengurus OSIS.
"Mrs Mettasha bisa mendampingi..?" tanya salah satu guru yang menunjukkan sikap tebar pesonanya.
"Bisa tapi apakah saya pantas mendampingi siswa sebab saya masih guru baru disini" Qiandra tidak mau terlalu mendahului guru senior.
"Sebenarnya ini tugas Mrs.Intan berhubung Mrs.Intan harus cuti jadi Mrs.Mettasha yang saya tunjuk untuk mengantikan tugas Mrs.Intan" kepala sekolah menjelaskan.
"Kalau memang ini tugas dan perintah dari bapak tidak masalah buat saya,dan mohon bimbingannya" Qiandra menyanggupi permintaan kepada sekolah, dengan menunjukkan rasa hormat.
"Gitu dong Mrs.. kita-kita kan jadi semangat" ucap salah satu guru lelaki yang membuat Qiandra menahan sedikit napasnya dengan rasa tidak nyaman.
"Oh..ya Mrs.Mettasha sore nanti selepas jam pulang sekolah siswa yang akan menjalani pelatihan pelantikan OSIS akan mendapatkan pembekalan dari beberapa anggota angkatan darat,mohon Mrs dampingi..ya" pinta kepala sekolah pada Qiandra.
"Siap pak..akan saya jalankan perintah bapak" balas Qiandra dengan ramah.
Suka santun yang Qiandra tunjukkan membuat guru-guru yang pernah memberikan ilmunya merasa senang, sebab merasa berhasil menjadi seorang pendidik.
Mentari menunjukkan waktu menjelang senja dan siswa yang mendapatkan perbekalan terlihat sudah siap untuk menerima tugas.
"Makin cantik aja" suara lelaki yang sudah sangat lama Qiandra kenal menggodanya.
"Ucap salam pak.. assalamualaikum,bukan menggoda" tegur Qiandra yang membuat lelaki yang menunjukkan jati dirinya keluar dari persembunyiannya.
"Waalaikum salam..maaf terlalu merindu" ujarnya dengan tersenyum.
"Oh..ya sudah pasti orang tua saya selalu merindukan saya tanpa harus di tanyakan" Qiandra tidak yakin dengan ucapan lelaki yang sudah lama tidak bersua selama menempuh pendidikan di bangku kuliahnya.
Qiandra tidak lagi membalas penjelasan dari lelaki di sebelahnya yang semakin matang secara usia dan semakin berkarisma.
"Apa kamu tidak merindukan saya Sha..?" ucapan lelaki itu terdengar menggoda menurut Qiandra.
"Maaf pak saya tidak memiliki jiwa penggoda suami orang,jadi sedikitpun tidak ada perasaan yang bapak bilang barusan"balasan dari Qiandra membuat lelaki gagah juga tampan itu tertawa.
"Memang kamu tidak ada tampang penggoda tapi saya yang tergoda Sha.."dengan tawanya lelaki itu membalas.
"Bapak harus hati-hati dengan ucapan bapak.. sebab saya tidak mau disebut pelakor" dengan tegas Qiandra berucap dan berniat meninggalkan lelaki itu.
"Sha.. ternyata waktu tidak membuat kamu berubah tetap Mettasha yang tegas dengan pendiriannya,tenang kamu bukan pelakor..tapi penakluk hati" goda lelaki itu pada Qiandra lagi.
"Stop pak..,bapak harus ingat untuk apa datang kesini dengan tujuan awalnya..jadi jalankan tugas dengan baik sebab saya sekarang seorang pendidik yang akan jadi contoh untuk murid yang saya didik..ok" Qiandra sepertinya memberikan peringatan tegas kepada lelaki yang masih menunjukkan senyumnya.
"Baik Mrs..mohon ingatkan bila saya keluar dari jalurnya" ucap lelaki itu dengan menahan tawanya.
"Bisa ga sih ga senyum-senyum.."Qiandra menegur lelaki itu.
"Bisa sih tapi Mrs nya yang terlalu manis jadi susah untuk saya tidak tergoda" dengan menahan tawa lelaki itu tertunduk.
"Paling bisa bikin alasan, jelas-jelas saya hanya diam tidak menggoda bapak" sewot Qiandra dengan memerhatikan para siswa yang berbaris di lapangan.
"Jelas-jelas Mrs makin cantik jadi maaf kalau saya tergoda"goda lelaki itu lagi yang membuat Qiandra kesal dengan menunjukkan muka juteknya.
"Tolong dikondisikan tuh muka..jangan bikin saya ingin memasukkan kamu kedalam saku..sebab gemas" dengan santai lelaki itu berucap tetapi dengan sorot mata yang siap menerkam mangsa.
"Ih..nyebelin, hus..hus sana kerja" usir Qiandra yang membuat lelaki itu turun ke lapangan dengan terpaksa.
Qiandra pun pergi untuk mengambil tas miliknya untuk bersiap pulang, tentu saja selepas siswanya yang telah di bubarkan untuk pulang menyiapkan diri untuk persiapan pelantikan besok.
"Mrs..mau bareng saya ayo..saya siap antar sampai rumah dengan selamat" pinta salah satu siswa yang membawa kendaraan.
"Terimakasih..saya sudah ada yang jemput" tolak Qiandra dengan sopan.
"Tenang Mrs saya ga minta bayaran kok.." pintanya lagi dengan sedikit berharap.
__ADS_1
"Ya..saya tahu tapi saya sudah di jemput.." masih dengan sopan Qiandra menolak.
"Lain kali mau ya Mrs.." dengan memohon siswa itu meminta.
"Tapi saya tidak janji ya.."masih dengan sopannya Qiandra menolak.
Qiandra masih berdiri menunggu pak Dul yang sudah dalam perjalanan menuju sekolah,dia tidak ingin membuat pak Dul menunggu lebih nyaman dirinya yang menunggu pak Dul.
Berbeda dengan lelaki yang masih berada didalam lingkungan sekolah,yang menjadi bulan-bulanan rekan dinasnya.
"Serius itu Mettasha Kapten?" tanyanya dengan masih tidak percaya.
"Busyet deh makin cantik dan mempesona aja sih.."dengan sedikit menelan ludahnya lelaki itu berucap.
"Bisakan di kondisikan itu mata" ayres menjitak kepala anak buahnya sekaligus rekan dinasnya.
"Maaf Kapt..duh yang cemburu" balas rekan dinas dengan menahan tawa.
"Bukan cemburu tapi mengakui ada rasa suka padanya" balas Ayres menjelaskan.
"Kenapa sih Kapt masih belum mengakui kalau anda cemburu"dengan rasa ingin tahu rekan dinasnya bertanya.
"Sudahlah kalian terlalu kepo tentang perasaan saya padanya" dengan melangkah Ayres berucap.
"Serius nih..Kapt,sebab kita-kita berniat memperjuangkannya" goda rekannya pada Ayres.
"Coba aja kalau kalian berani saya beri hukuman lari lapangan lima puluh putaran,push up seratus kali dan sit up dua ratus kali dan ingat ijin cuti saya cabut" ucap Ayres yang bisa di mengerti sebagai hukuman bagi yang melanggarnya.
"Ups..takut!" teriak salah satu rekan dinas dengan menutup mulutnya.
"Gue,baru tahu kalau kapten serius juga sama tuh anak.." bisik salah satu rekan dinas.
"Gue berharap tuh anak bisa di taklukkan..biar tidak sia-sia kapten menantinya selama ini" yang lain menambahkan dengan berbisik
"Gosok terus..gue bisa dengar !!" tegur sang kapten dengan senyuman yang disamarkan.
"Kuping apa menara sinyal..denger aja" gumam yang lain dengan pura-pura memandang langit senja.
Langkah kaki tegap sang kapten menuju gerbang utama sekolah, dengan sorot matanya yang tajam memerhatikan gadis idamannya yang terlihat gelisah melihat jam di tangannya berulang kali dari jarak yang masih bisa di lihatnya.
"Masih belum di jemput ?" ucapnya yang mengejutkan Qiandra.
"Bisa ga sih pak..datang dengan tidak mengejutkan saya" dari nada bicaranya Qiandra dalam keadaan gelisah.
"Maaf..tapi saya tidak bermaksud membuat kamu terkejut" ujar Ayres dengan pelan.
Qiandra tidak ingin berdebat saat ini,dia lebih fokus pada jalanan dan sesekali melihat jam ditangannya.
"Sudah coba di hubungi ?" tanya Ayres pada Qiandra.
"Hmmm" balasan dari Qiandra yang menandakan dirinya mengkhawatirkan seseorang yang akan menjemputnya.
"Tenanglah saya akan menemani kamu Sha sampai di jemput" Ayres berusaha menenangkan Qiandra.
Senja semakin menunjukkan malam menjelang tapi seseorang yang dinanti Qiandra belum kunjung datang,rasa khawatirnya semakin menjadi.
Suara rem mobil mendadak mengejutkan Qiandra yang duduk di pos satpam di temani Ayres juga satpam sekolah.
"Maaf..mba Q,saya datang terlambat"dengan menunjukkan rasa bersalah lelaki muda menghampiri Qiandra.
Bukan kemarahan yang Qiandra tunjukkan tapi rasa khawatirnya pada seseorang dan bertanya pada lelaki muda yang tertunduk dihadapannya "Dimana pak Dul..mas Jono ?" mengharapkan jawaban dari lelaki muda itu.
"Pak Dul..harus mengantar nyonya, mba dan saya baru saja pulang mengantarkan mba Ayu belanja" lelaki yang bernama Jono menjelaskan.
"Ya..sudah cuma saya khawatir kenapa pak Dul datang terlambat itu saja"ucap Qiandra tidak ingin membuat mas Jono bersalah.
"Mari mba.."mas Jono membukakan pintu mobil untuk nona mudanya.
"Sebentar mas saya belum berpamitan.." Qiandra kembali untuk menemui pak satpam dan Ayres yang masih setia menunggu.
"Pak saya ulang dulu, terimakasih sudah menemani" ucap Qiandra sopan dan bersiap meninggalkan keduanya.
"Cuma sama pak satpam saja nih pamitnya " sindir Ayres yang tidak mau disamakan dengan pak satpam.
"Sama bapak juga lah..sudah ya pak ini sudah menjelang malam" dengan sedikit menunjukkan muka kesalnya Qiandra membalas.
"Masih kurang lama Sha..baru juga ketemu dan malam memang tidak bisa di hentikan" kicau Ayres yang sebenarnya ingin menggoda Qiandra.
"Terserah bapak sajalah.. pokoknya terimakasih sudah menemani" balas Qiandra sebelum menutup pintu mobilnya dengan senyum manis yang belum pernah Ayres lihat.
"Sama-sama..ga akan bosan saya menemani kamu Sha.. hati-hati sampai jumpa besok" ujar Ayres dengan perasaan yang sangat senang sepeninggal Qiandra.
__ADS_1
Ada segurat rasa percaya diri dari Ayres untuk bisa menaklukkan hati gadis pujaannya yang mempunyai ketegasan dengan pendiriannya dan itu tidak mudah untuk bisa menyakinkannya Ayres tahu itu.