
Ceisya Kini harus berpisah dari hans yang kembali ditugaskan di tempat yang jauh dengan medan yang tidak bisa di sebut nyaman,rasanya berat hati hans harus meninggalkan ceisya di kediaman kakeknya sebab hans tidak bisa membawa serta ceisya dalam dinas kali ini.
Begitu pun ceisya sebenarnya tidak ingin berpisah dari sisi hans tapi hans menyakinkan ceisya bahwa dirinya ditempatkan di daerah yang rawan dan keselamatan ceisya menjadi pertimbangannya pada akhirnya ceisya mengerti walaupun dengan hati sedih harus melepaskan orang terkasihnya harus jauh jauh terpisah dengannya dalam waktu yang tidak bisa di tentukan.
"Maafkan mas yah" hans mengusap kepala ceisya dan memberikan kecupan berkali-kali seakan berat meninggalkan ceisya.
Ceisya hanya bisa menahan tangis di pelukan hans,ingin rasanya ceisya berteriak melarang hans pergi tugas kali ini tapi apa daya hans adalah seorang yang sudah terikat akan janji yang menjadi seorang abdi negara yang harus siap kapan pun dan dimana pun bila negara memanggilnya harus bersedia.
"Bila ada kesempatan mas akan beri kabar" hans makin memeluk ceisya yang sudah terisak.
"Mas sayang sya" ucap hans dengan mengecup lembut bibir ceisya tanpa malu di hadapan pasukannya.
Hans menangkup wajah ayu ceisya di pandangnya sangat dalam seakan ingin mengingat setiap detail Apa yang melekat di wajah ayu ceisya yang berlinang air mata dengan pipi yang memerah karena tangis haru melepas kepergian dirinya.
"Mas cepat kembali kan?" tanya ceisya dengan terisak.
"Mas janji secepatnya kembali untuk sya" balas hans dengan mengusap lembut pipi ceisya yang basa karena air mata.
"Masa mas di lepas dengan tangis mana senyum manis sya?" pinta hans yang memegang dagu ceisya.
Dengan sangat terpaksa ceisya memberikan senyum semanis mungkin yang ceisya tunjukkan pada hans tapi air mata ceisya masih terlihat di sudut matanya tertahan.
"Kan terlihat manis,ini baru ceisyanya mas" ucap hans yang sebenarnya teriris hatinya melihat ceisya sangat sedih melepas kepergiannya.
Satu persatu pasukan masuk kedalam kendaraan yang akan mengantarkannya ke tempat berdinas,kini tinggal hans yang masih berdiri dengan tangan yang masih di genggam erat tangan ceisya.
"Pak..tolong jaga nyonya" hans meminta pada supir pribadi ceisya.
"Siap pak dengan sepenuh hati" jawab sopir pribadi ceisya pada hans.
"Ingat pesan mas jaga kesehatan jangan terlalu cape" hans meminta ceisya dengan mengusap kepala ceisya.
"Mas juga,selalu ingat sya yah" permintaan ceisya membuat hans tersenyum.
"Selalu sayang dalam tiap do'a mas ingat sya" ucap hans yang kembali membuat ceisya memeluk hans dalam tangis yang dalam.
"Pulanglah dan ingat pesan mas, assalamualaikum" ucap hans dengan mengecup kepala ceisya lembut dan berlari meninggalkan ceisya yang masih terisak dan memandang tubuh hans yang naik kedalam kendaraan disertai lambaian tangan untuk ceisya.
"Waalaikum salam,tuhan jaga dan lindungi dia" ucap ceisya yang masih berdiri memandang kendaraan yang sudah bergerak meninggal dirinya beserta istri-istri prajurit yang lain.
"Mari pak kita pulang" pinta ceisya pada sopirnya yang tidak tega melihat ceisya yang masih terlihat sedih.
"Mari nyonya" sopir membukakan pintu mobil untuk ceisya.
Dalam perjalanan pulang ceisya masih dapat mengingat senyum hans yang berusaha menghibur dirinya walaupun senyum itu terpaksa dia lakukan,ceisya tahu hans juga sama seperti dirinya tidak ingin berpisah.
Begitu pun dengan hans yang hanya bisa memandang kedepan jalan yang di laluinya tapi masih teringat dengan jelas wajah cantik ceisya yang sedih dengan air mata yang tidak berhenti mengalir saat melepas kepergian dirinya.
Nyanyian pembangkit semangat dari mulut prajurit tidak membuat hans melupakan bayangan wajah ayu ceisya tapi semakin teringat tiap momen saat bersenda gurau bersamanya adalah hal terindah dalam hidupnya.
"Sudahlah dan..nanti juga kita lupa dengan dia karena tugas" ucap salah satu prajurit pada hans seperti dia tahu hans memikirkan ceisya.
Hans hanya tersenyum tidak terucap satu patah kata pun dari bibirnya sebagai jawaban.
"Mana kamu tahu dengan apa yang komandan rasakan kamu kan jomblo" ujar yang lain yang membuat yang lain tertawa.
"Siapa bila saya ga bisa merasakan apa yang komandan rasakan..saya juga merasakan perpisahan dengan ibu saya" balasnya membela diri dengan suara bersemangat.
"Betul itu juga perpisahan pasti rasanya sama" kali ini hans menengahi berdebatan yang menurut hans tidak penting.
"Komandan saja tahu kenapa kalian tidak" ucapnya dengan senang mendapatkan dukungan dari komandannya.
"Iya..yah kita sepakat dengan mu" balas yang lain yang ingin mengakhiri perdebatan.
"Hu..percayalah pada saya" dengan percaya dirinya dia tetap membanggakan dirinya dengan sombong.
Has hanya bisa tertunduk dalam benak hans ada saja prajurit yang keras kepala dan terlalu percaya dirinya tinggi pikir hans yang menggelengkan kepala tanda dirinya kurang menyukai kesombongan
"Kenapa dan..?" tanya ajudan hans yang sepertinya tahu hans tidak begitu suka situasi ini,sebab hans memang sedikit bicara.
"Tidak apa-apa..saya baik-baik saja" balas hans dengan tersenyum.
Di tempat berbeda ceisya yang mulai merasakan kerinduan pada hans,di pandangnya layar ponsel terlihat gambar hans dan dirinya yang terlihat begitu bahagia dengan senyum.
"Kangen ya..nya?" tanya rima pada ceisya yang kebetulan membawakan potongan buah untuk ceisya.
"Sudah sampai mana yah..mas hans?" tanya ceisya pada rima yang bingung tidak bisa menjawab pertanyaan dari nyonyanya.
"Mana rima tahu nya..tuan sudah sampai mana?" jawab rima yang membuat ceisya cemberut.
__ADS_1
"Rim..kamu jahat deh" canda ceisya yang terdengar serius oleh rima.
"Maaf.." rima tertunduk lesu takut ceisya marah padanya.
"Ga..ko rim, aku cuma khawatir aja mas hans belum memberikan kabar sampai sekarang" ceisya merebahkan dirinya di kursi malas.
Dalam perjalanan pasukan mendapatkan serangan mendadak dari kelompok yang ingin mengganggu ketenteraman negeri,dan baku tembak pun terjadi beruntunglah pasukan sudah dalam pakaian lengkap dengan senjata yang siap menyerang dan membalas serangan musuh.
Soal medan memang sudah mereka kuasai tapi kesiapan pasukan yang di pimpin hans sudah pasti lebih siap.
Terdengar desing suara peluruh yang keluar dari senjata kedua belah pihak yang memecahkan telingah pertempuran terbilang sangat sengit,walaupun di tempat yang di bilang terbuka dan di pinggiran hutan yang sangat jauh dari pemukiman penduduk.
Hans sebagai komandan tidak hanya memberikan komando saja tapi juga turut membalas serangan untuk melumpuhkan lawan.
Pasukan yang dikomandani hans di secara strategi pasukan hans lebih menguasai itu.
Cukup banyak pasukan hans yang terluka begitupun dengan hans yang sudah banyak mengeluarkan banyak darah tapi masih berusaha membantu pasukannya yang terluka tanpa memperdulikan dirinya yang terluka.
"Kita harus secepatnya sampai ke tempat tujuan" ajudan hans berinisiatif memberikan perintah.
"Cari rumah sakit terdekat !" perintah hans langsung di tindak lanjuti.
Hampir dua jam lamanya perjalanan pasukan hans bisa menemukan rumah sakit terdekat dengan fasilitas yang terbilang jauh dari lengkap tapi tidak masalah pikir hans untuk tindakan sementara.
Beberapa pasukan yang terluka sudah mendapatkan perawatan dengan baik dan mereka harus di rawat inap disini.
Hans terlihat semakin pucat dan tubuhnya sudah banyak kehilangan banyak darah.
"Komandan..!!" teriak salah satu ajudan hans yang langsung menopang tubuh hans yang hampir saja menyentuh tanah.
"Suster..suster..tong komandan saya !!" teriak ajudan yang langsung di periksa dokter.
"Maaf..komandan anda harus menjalani prosedur operasi karena ada peluruh bersarang di dalam bagian tubuhnya dan tolong siapa diantara kalian yang memiliki golongan darah yang sama untuk mendonorkan sebab komandan anda banyak mengeluarkan banyak darah!" ujar dokter menjelaskan apa yang harus hans jalani.
"Baik dok..berikan yang terbaik untuk komandan saya dok.." pinta ajudan yang terlihat cemas mengkhawatirkan keadaan hans yang sudah tidak sadarkan diri.
Waktu seakan lambat berputar terlihat kecemasan dari wajah-wajah yang lelah dari beberapa orang prajurit yang menunggu diruang tunggu.
Sesekali di antara mereka melihat jam di tangannya dan tidak terlihat duduk tenang,bahkan diantara mereka masih terlihat bekas noda darah di bagian seragamnya.
"Kita berharap dia baik-baik saja" pinta salah satu prajurit yang menopang kepalanya.
"Walaupun dia tegas tapi peduli" yang lain menambahkan dengan pandangan kosong.
"Ya..kita berharap dia baik-baik saja" ucap yang lain dengan mengusap muka berharap tidak ada yang harus di khawatirkan.
Hans memang bukan siapa-siapa dari mereka kalau bukan tugas yang mempertemukan dengan mereka tapi hans menganggap mereka adalah bagian dari keluarganya tanpa melihat siapa dan apa pangkat mereka hubungan mereka sangat dekat walaupun hans sangat jarang bicara yang tidak penting mereka tahu itu.
Hans begitu dekat secara emosional dengan mereka,seakan tahu apa yang mereka butuhkan bahkan jadi teman curhat di kalah jauh dari keluarga dan siap membantu apa yang jadi kesulitan mereka baik secara materi maupun jalan keluar dari suatu masalah yang sedang mereka hadapi.
Pintu ruangan operasi terbuka,seorang dokter keluar dan menjelaskan pada ajudan hans tentang kondisi hans saat ini,terlihat wajah khawatir darinya.
Tidak begitu lama dokter meninggalkan ajudan hans setelah menepuk pundak ajudan hans dan membuat ajudan hans duduk lemas setelah mendengarkan penjelasannya.
"Gimana..?" tanya salah seorang prajurit dengan rasa ingin tahu juga mengkhawatirkan keadaan hans yang masih dalam ruang operasi.
"Dia akan baik-baik saja hanya saja harus melewati masa kritisnya" ajudan hans menjelaskan dengan wajah mengkhawatirkan kondisi hans.
"Kenapa kita bisa kecolongan" ucap prajurit dengan tertunduk lesu.
"Semuanya serba tiba-tiba" yang lain menambahkan seperti mengingat peristiwa yang batu saja dilaluinya.
Mereka di kejutan dengan suara roda tempat tidur yang di dorong dua orang perawat dari dalam ruang operasi yang akan memindahkan hans ke ruang pemulihan.
"Maaf biarkan pasien istirahat dulu" ujar salah satu perawat pada kawan seperjuangan hans yang ingin melihat kondisi hans.
Mereka hanya bisa mengikuti dari belakang untuk memastikan dimana hans di tempatkan untuk di rawat melewati masa kritisnya.
Ajudan hans meminta beberapa dari mereka untuk membersihkan diri dan memastikan yang lain sudah sampai di tempat tugas.
Tugas kali ini berat menurut ajudan hans sebab belum juga sampai di tempat tujuan sudah mengalami hal yang cukup dramatis dengan banyaknya korban kawan dan hans sebagai komandan.
Di tempat yang jauh dari hans berada,dimana ceisya merasa gelisah karena hans belum memberikan kabar padanya hingga menjelang larut malam.
Ceisya sangat mengkhawatirkan keberadaan hans saat ini, mata ceisya tidak dapat terpejam hanya bayangan wajah hans selalu nampak dibolehkan matanya.
Ceisya tidak sabar dan menghubungi ponsel milik hans tapi apa yang di dapat ponsel milik hans di luar jangkauan membuat ceisya semakin gelisah.
Ceisya teringat suatu momen dirinya pernah ketakutan dan hans datang menghampiri dirinya dan berbisik padanya.
__ADS_1
"Bila sya takut atau mengkhawatirkan sesuatu berdo'alah pada pemilik hidup pasti rasa khawatir itu akan hilang karena semua yang terjadi pasti atas kehendaknya" ucap hans menyadarkan ceisya yang berlari mengambil air wudhu dan berniat berdo'a untuk keselamatan hans.
Dan do'a tulus yang ceisya berikan pada tuhan untuk keselamatan hans yang saat ini jauh darinya.
Begitupun dengan hans dalam masa kritisnya dia seperti melihat ceisya yang selalu memanggil namanya dengan wajah ayunya dia berlari menghampiri dirinya dan ingin memeluknya
Ceisya memang prioritas dalam hidup hans setelah dirinya menikah,bisa jadi dalam memorinya hanya ceisya yang berharap dirinya ada dalam hidupnya.
"Dokter..dokter !!" teriak ajudan hans yang melihat hans sedikit membuka matanya.
"Alhamdulillah..bro,bikin gue khawatir aja" ucap ajudan hans dengan mengusap lembut tangan hans yang ada selang infus melekat disalah satu tangannya.
"Maaf bisa anda keluar sebentar " pinta dokter yang didampingi perawat memeriksa kondisi hans yang sudah melewati masa kritisnya.
"Anda patut bersyukur pada tuhan anda termasuk orang yang beruntung masih di berikan kehidupan kedua dengan kondisi anda yang terbilang kritis dan bisa melewatinya" ucap dokter setelah memeriksa hans yang sudah terlihat lebih baik.
"Terimakasih dok.." ucap hans pelan terdengar oleh dokter yang tersenyum memakluminya.
Dan tidak lama dokter keluar dari ringan hans dan meminta pada ajudan hans untuk hans tetap melalui perawatan lanjutkan diruang rawat inap.
Ajudan hans merasa senang melihat sudah sadar dan dalam keadaan baik-baik saja walaupun harus di rawat beberapa hari.
"Bro..bisa bantu beri kabar istri gue" pinta hans pada ajudannya.
"Serius mau kasih kabar bukannya nanti bikin dia khawatir dengan keadaan loe" ajudan hans mengerti permintaan hans tapi hans dalam kondisi belum baik.
"Sorry bro..gue lupa sebab selama gue tidur bayang istri gue terlihat sepertinya dia khawatir dengan keadaan gue,apalagi gue belum kasih kabar padanya" hans menjelaskan pada ajudannya yang membuat ajudannya tersenyum.
"Gue baru tahu ternyata loe bucin juga..tidak seperti yang gue lihat" terlihat hans menahan tawa karena ucapan ajudannya,dan membuat luka bekas operasi itu berasa.
"Auw.." rintih suara hans membuat ajudannya bersalah.
"Sorry bro..bukan maksud gue menggoda loe" ajudan hans mengusap bagian luka bekas operasi.
"Tak apa hanya aja..loe terlalu berlebihan menilai gue" hans menjelaskan pada ajudannya yang sudah seperti saudara juga kawan dekat buatnya.
"Sebab gue tahu siapa loe bro !" ajudan hans menjelaskan pada hans dan membuat hans tersipu malu.
"Gue turut bahagia bro.." ajudan hans mengusap tangan hans seperti memberikan dukungan.
"Ya..seperti itulah tapi tidak semudah yang loe lihat bro" ucapan hans membuat ajudan hans mengerutkan dahi,sepertinya dia berpikir banyak hal.
"Seliar itu kah dia bro?" ajudan hans meminta hans menjelaskan apa yang telah di ucapkannya.
"Memang kuda liar..dan ga sekuat itu juga bro" ucap hans semakin membuat ajudan hans penasaran.
"Maksud loe?" ajudan hans makin penasaran.
"Sebenarnya dia anak rumahan dan sangat taat akan tuhan dengan kepandaian yang terbilang diatas rata-rata akan gadis seumurnya belum lagi dia mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki gadis pada umumnya dia bisa berkuda,membantah bahkan menembak" ucapan hans membuat ajudan hans tidak percaya tapi di hut kagum juga.
"Hanya satu kekurangan yang di milikinya" hans terdiam seperti membayangkan wajah ceisya yang manja pada dirinya.
"Ha..sebegitu perfect masih ada kekurangannya serius dengan apa yang loe bilang bro ?" tanya ajudan hans semakin penasaran.
"Yah..dia terlampau manja tapi hanya pada suaminya" ucapan hans membuat ajudan hans cemberut.
"Sialan loe bro..gue udah nunggui Kirain ada kekurangan yang bagimana gitu tahunya itu hu..dasar bucin loe" balas ajudan hans yang merebahkan diri di sopa panjang.
"Emang loe kira apaan..loe pasti mikir kotor,hayo ngaku gue tahu apa isi otak loe" canda hans yang membuat ajudan hans protes.
"Sedikitpun ga ada bro,jangan suka mikir aneh-aneh loe udah solime sama gue" protes ajudan hans yang membuat hans bingung dengan ucapannya.
"Apa itu solime? seumur-umur gue baru denger" tanya hans yang membuat ajudan hans tertawa senang membalas candaan hans.
"Zholim bro !" balas ajudan hans yang tidak bisa menahan tawanya.
"Sialan loe bikin tata bahas baru sendiri melanggar hukum loe !" balas hans yang membuat keduanya tersenyum bahagia.
"Paling loe yang ditahan sebab loe atasan gue" ajudan hans kembali membalas hans.
"Lah..gue ajak loe bareng disana sebab enak di loe ga enak di gue" keduanya kembali terlihat bahagia seperti melupakan tugas di luar sana yang siap menanti.
Kedekatan hubungan hans tidak hanya dengan ajudannya saja tapi semua pasukan yang hans pimpin,bagi hans mereka semua keluarga jadi tidak ada yang di bedakan.
Terluka dalam tugas adalah biasa bagi hans,tapi ada hal yang tidak ingin hans alami dalam tugas adalah pulang dalam keadaan gagal dalam misi.
Hans selalu bertanggungjawab pada tiap misi yang di jalaninya ini yang membuat dirinya menjadi sosok yang disegani dan di takuti lawan,sepertinya dia berkawan dengan maut yang kapan saja siap merengut nyawanya dalam tiap misi yang di embannya.
Tapi ada sedikit kecemasan yang hans rasakan setelah menikahi ceisya dia merasa ada seseorang yang akan kehilangan dirinya bila dirinya tewas dalam misinya tapi dia masih ada sedikit harapan seseorang itu pasti akan bangga telah menjadi bagian dalam perjalanan hidupnya walaupun suatu saat dirinya tewas dalam tugas membela negerinya.
__ADS_1